Ficool

Chapter 406 - Laser dari Ufuk Timur

Pagi di markas X.A.R.A berjalan seperti biasa.

Teknisi berlalu-lalang.

Zero sedang menyetel ulang inti stabilisasi Nexus.

Lira membaca hasil pemindaian langit.

Arabels berada di ruang observasi, mencatat pergerakan satelit.

Storm berdiri di koridor lantai atas, memandang keluar jendela besar.

Langit tampak cerah.

Ia memejamkan mata sejenak.

Ada sesuatu.

Bukan suara.

Bukan getaran biasa.

Tapi tekanan pada ruang itu sendiri.

Seperti benang tipis yang ditarik dari kejauhan—mengarah lurus padanya.

Mata Storm terbuka.

"Arabels!" panggilnya keras.

Di ruang observasi, Arabels menoleh terkejut.

Belum sempat ia bertanya—

Storm sudah berlari.

Langkahnya cepat, mantap, tanpa penjelasan.

Alarm belum berbunyi.

Radar belum memberi peringatan.

Namun insting ruangnya sudah menjerit.

Ia mencapai ujung koridor, lalu—

Melompat keluar dari gedung X.A.R.A tanpa ragu.

Beberapa staf yang melihat hanya sempat berteriak kecil.

Tubuh Storm melayang turun beberapa meter—

Lalu ia melihatnya.

Cahaya tipis di ufuk timur.

Bukan seperti sinar matahari.

Terlalu lurus.

Terlalu stabil.

Terlalu terfokus.

Sinar itu membelah udara dengan kecepatan ekstrem—langsung menuju posisi Storm sebelumnya di lantai atas.

"Targetnya… aku."

Dalam sepersekian detik—

Armor Scarlet Skycrimson menyelimuti tubuhnya.

Kilatan merah menyala di udara.

Storm mengepalkan tangan kanannya.

Tidak ada waktu untuk menghindar.

Jika ia menghindar, sinar itu akan menghantam markas X.A.R.A.

Ia memutar tubuhnya di udara—

Dan meninju tepat ke arah datangnya sinar.

BRAAAKKK!

Benturan cahaya dan baja menciptakan ledakan energi di langit pagi.

Gelombang kejut menyebar seperti lingkaran transparan, mengguncang jendela-jendela gedung sekitar.

Sinar laser itu terpecah menjadi serpihan cahaya, lalu menghilang.

Storm terdorong beberapa meter ke belakang di udara, namun ia menstabilkan dirinya.

Asap tipis mengepul dari sarung tangan armornya.

"Serangan jarak sangat jauh…" gumamnya.

***

Dari kejauhan—

Di luar batas kota H2700.

Di atas bukit tinggi yang menghadap kota—

Seorang sosok besar berdiri dengan tubuh setengah mekanis.

Lengan kanannya berubah bentuk menjadi meriam energi panjang yang masih menyala samar.

Matanya merah dingin.

Terminator Demon berucap:

"Konfirmasi," suaranya terdengar mekanis melalui saluran komunikasi.

"Target berhasil bereaksi dalam 0,7 detik."

Di belakangnya, beberapa sosok berdiri dalam bayangan.

Lgris menyeringai tipis.

"Dia masih cepat seperti biasa."

Marika menyilangkan tangan.

"Dan dia memilih menahan serangan."

Rizen mengamati data gravitasi di udara.

"Dia melindungi gedung itu."

Franskeinteins berdiri sedikit terpisah, ekspresinya tak terbaca.

"Fase pertama berhasil," katanya datar. "Kita sudah memastikan lokasinya."

***

Kembali ke langit H2700—

Storm melayang diam.

Matanya menyipit ke arah asal sinar.

Ia tidak bisa melihat jelas dari jarak sejauh itu.

Namun ia tahu.

Ini bukan serangan acak.

Ini terarah.

Hanya ada satu pihak yang memiliki teknologi serta koordinasi seperti ini.

"APH…"

Di bawahnya, sirene mulai berbunyi.

Arabels berlari keluar gedung bersama Zero dan Lira.

"Storm!" teriak Arabels.

Storm mendarat perlahan di tanah depan markas.

Armor merahnya masih aktif.

Ia menatap ke arah timur dengan tatapan yang jauh lebih dingin dari pagi tadi.

More Chapters