Langit H2700 cerah.
Tidak ada awan.
Seolah bahkan cuaca pun memilih berpihak hari itu.
Storm berdiri kaku di depan cermin ruangan persiapan.
Ia mengenakan jas hitam sederhana, potongan elegan tanpa banyak ornamen. Tidak ada armor. Tidak ada simbol kekuatan.
Hanya dirinya.
"Ini terasa lebih sulit daripada menghadapi naga lima kepala," gumamnya pelan.
***
Di sisi lain gedung—
Arabels berdiri dikelilingi cahaya lembut lampu kristal. Gaun putih keperakan yang ia kenakan berkilau seperti debu bintang.
Rambutnya terurai rapi.
Ia menatap refleksinya sendiri dengan napas sedikit gemetar.
"Ini nyata…"
Acara pertunangan diadakan di aula utama X.A.R.A yang telah diubah total.
Panel astronomi raksasa di langit-langit menampilkan proyeksi galaksi berputar perlahan.
Lampu-lampu kecil digantung seperti konstelasi buatan.
Megah.
Terlalu megah bagi Storm dan Arabels yang mengira acara ini akan sederhana.
Aryes berdiri di dekat panggung kecil dengan ekspresi puas.
"Kadang simbol itu penting," katanya ringan pada Violys.
Violys menyilangkan tangan.
"Dan kadang kau terlalu menikmati momen publik."
Zero memeriksa sistem proyeksi dengan satu mata robotnya.
"Kalau mau megah, sekalian saja megah."
Lira tersenyum kecil sambil mengamati simbol kuno yang diukir di lantai—lambang perjalanan dan arah bintang.
Jester muncul dengan mantel khasnya, kartu Arkana berputar pelan di sekelilingnya seperti hiasan hidup.
"Aku tidak menyangka Tuan Rem. Tidak, maksudku Tuan Storm akan berdiri di panggung tanpa berniat bertarung," katanya santai.
Napstylea berdiri di sampingnya dengan armor silver nonaktif.
"Untuk sekali ini… biarkan dia bertarung melawan rasa gugupnya saja."
Di antara para tamu—
Seorang gadis berdiri sedikit di belakang.
Seren Wils. Ia mengenakan gaun sederhana, namun matanya berbinar.
Ia belum pernah berbicara langsung dengan Storm.
Namun hari ini, ia melihatnya bukan sebagai siluet merah di langit—
Melainkan sebagai manusia.
Tak jauh darinya, Rasar berdiri tenang seperti biasa, kacamata hitamnya tetap terpasang.
Robert tidak hadir.
Namun pengaruhnya terasa melalui pengamanan dan pengawasan yang tetap rapi tanpa mencolok.
Musik mulai dimainkan.
Storm berdiri di depan.
Ketika Arabels melangkah masuk—
Seluruh aula terasa hening sesaat.
Storm terdiam.
Ia pernah menghadapi badai petir.
Pernah berdiri di tengah kehampaan dimensi.
Namun melihat Arabels berjalan ke arahnya saat itu—
Itu membuat jantungnya berdetak lebih keras daripada semua pertempuran.
Arabels tersenyum kecil.
"Kamu terlihat tegang, Storm."
"Kau terlihat… bersinar," jawab Storm jujur.
Aryes berdehem pelan, mengambil peran sebagai perwakilan resmi.
"Hari ini bukan sekadar perayaan," ucapnya lantang namun hangat. "Ini adalah simbol bahwa bahkan mereka yang berjalan di antara bintang dan pertempuran… tetap memilih untuk terhubung."
Violys mengangguk tipis.
"Navigator dan Pelindung," gumamnya.
Zero berbisik pada Lira, "Judul yang cocok."
Lira tersenyum.
Storm dan Arabels berdiri berhadapan.
Tidak ada sumpah panjang.
Tidak ada kata-kata dramatis.
Hanya keputusan.
"Aku mungkin tidak selalu berada di tempat yang aman," kata Storm pelan, cukup untuk didengar Arabels.
"Aku tahu."
"Aku mungkin harus melawan dunia."
"Aku tahu."
Storm menatapnya dalam.
"Dan aku tidak bisa menjanjikan kedamaian."
Arabels tersenyum lembut.
"Aku tidak butuh dunia yang tenang. Aku hanya ingin berdiri di sampingmu ketika dunia itu bergetar."
Beberapa detik hening.
Storm menghela napas pelan.
"Kalau begitu… tetaplah di sisiku."
Arabels mengangguk.
"Selalu dihatiku."
Tepuk tangan menggema di aula.
Jester mengangkat kartu Arkana, menciptakan hujan cahaya kecil di udara.
Zero memicu efek proyeksi galaksi berputar lebih terang.
Napstylea tersenyum tipis, jarang terlihat selembut itu.
Seren menatap dengan mata berbinar.
Siluet merah di langit malam kini berdiri di bawah cahaya bintang buatan—dan terlihat manusia.
Rasar memperhatikan tanpa ekspresi, namun dalam diam ia memastikan satu hal:
Nama Wilson mungkin tidak diambil.
Namun warisannya—dalam bentuk tekad dan pilihan—tetap hidup.
***
Malam semakin larut.
Langit asli di luar aula memperlihatkan bintang-bintang sungguhan.
Storm dan Arabels berdiri di balkon, menjauh sejenak dari keramaian.
"Ini lebih besar dari yang kuduga," kata Storm.
"Tidak perlu malu gitu," jawab Arabels ringan.
Angin malam berhembus.
