Ficool

Chapter 402 - Syarat di Luar Nalar

Malam kembali turun di atas kota H2700.

Lampu-lampu gedung menyala seperti gugusan bintang buatan manusia.

Di puncak tertinggi markas X.A.R.A—

Storm duduk sendirian.

Kakinya menggantung di tepi bangunan.

Angin malam berhembus pelan, menggerakkan rambutnya.

Wajahnya tenang.

Namun pikirannya tidak.

Ia menatap langit.

Bintang-bintang tampak jauh.

"Ibu…"

Kata itu masih terasa asing.

Beberapa detik berlalu dalam diam.

Lalu ia berbicara pelan, bukan pada dunia—

Tapi pada sesuatu di dalam dirinya.

"Velora."

Keheningan.

Lalu suara itu muncul, bukan terdengar di telinga… melainkan langsung di kesadarannya.

"Kau memanggilku. Manusia"

Suaranya halus, dingin, dan tidak sepenuhnya manusia.

Storm tidak menoleh.

"Aku ingin bertanya padamu."

"Apa tentang hidupmu yang suram itu?"

"Bukan."

Storm memejamkan mata.

"Tentang kekuatan ruangku."

Angin berhenti sesaat.

"Apa aku bisa menggunakan teleportasi tanpa batasan?"

Beberapa detik tidak ada jawaban.

Lalu Velora berbicara.

"Tanpa batas jarak?"

"Ya."

"Tanpa batas dimensi?"

"Ya."

"Tanpa koordinat tetap dan tanpa jejak energi?"

Storm membuka mata.

"Itu yang kumaksud."

Hening.

Kemudian Velora tertawa pelan.

Bukan mengejek. Lebih seperti mengetahui sesuatu yang sudah lama jelas.

"Kau meminta kekuatan yang bahkan para penguasa ruang tidak kuasai sepenuhnya."

Storm menatap cakrawala kota.

"Aku membutuhkannya."

"Untuk apa kau menginginkannya?"

Storm terdiam.

Untuk menghadapi musuh yang belum muncul.

Untuk pergi tanpa terlacak APH.

Untuk tidak pernah terlambat lagi.

Untuk bisa kembali… jika ia mau.

"Aku hanya ingin tidak terikat jarak."

Velora memahami lebih dari yang diucapkan.

"Teknik teleportasimu saat ini masih terikat hukum ruang lokal."

Storm mengepalkan tangannya perlahan.

"Aku tahu itu."

"Itu sebabnya kau merasa sulit menggunakannya dalam pertempuran skala besar. Kau masih membuka celah, bukan memerintahkannya."

Storm tidak membantah.

Ia masih "meminta izin" pada ruang.

Bukan menguasainya.

"Lalu bagaimana caranya?"

Beberapa detik sunyi.

Lalu Velora menjawab dengan nada yang lebih dalam.

"Kau harus mengambilnya."

"Apa maksudmu?"

"Ada makhluk dimensi yang lahir dari retakan ruang itu sendiri."

Langit malam di atas Storm seakan sedikit bergetar.

"Makhluk yang tidak berjalan… tidak terbang… tidak berpindah."

"Ia ada di semua titik sekaligus."

Storm menoleh sedikit, matanya menyipit.

"Makhluk teleportasi."

"Benar."

Jantung Storm berdetak lebih berat.

"Di mana dia berada?"

Velora tidak langsung menjawab.

"Makhluk seperti itu tidak hidup di dunia ini. Ia hidup di antara dunia."

Storm berdiri perlahan.

"Kalau aku mengalahkannya?"

Suara Velora menjadi lebih tajam.

"Bukan sekadar mengalahkan."

"Kau harus merebut intinya."

Angin malam berputar kecil di sekitar Storm.

"Apa merebut paksa…?"

"Kekuatan semacam itu tidak diwariskan."

"Ia hanya bisa diambil dengan paksaan."

Keheningan jatuh di antara mereka.

Storm menatap langit.

"Bagaimana jika gagal?"

Velora menjawab tanpa ragu.

"Tubuhmu akan terpecah di antara koordinat ruang."

Storm tersenyum tipis.

"Risikonya sepadan."

"Kau bahkan belum sepenuhnya pulih dari melawan monster rendahan."

"Aku tidak akan melakukannya sekarang."

Ia menatap tangannya sendiri.

"Mungkin suatu hari."

Velora terdiam beberapa saat.

Lalu suaranya kembali.

"Semakin banyak kekuatan yang kau ambil… semakin tipis batas antara dirimu dan kehampaan."

Storm tidak menjawab.

Angin kembali normal.

Lampu kota tetap berkelip seperti biasa.

More Chapters