Ficool

Chapter 395 - Kembali ke Orbit

Fajar menyapu Risveyland dengan cahaya keemasan.

Kabut tipis menggantung di atas kawah raksasa, memantulkan sinar matahari pagi menjadi kilau. Bekas meteor es kini hanya menyisakan cekungan besar yang perlahan mencair di beberapa sisi.

Tenda-tenda mulai dibongkar.

Zero sudah lebih dulu memeriksa sistem Cluster 29-334.

"Mesin stabil. Sedikit gangguan magnetik semalam, tapi tidak ada kerusakan serius," lapornya.

Lira menyimpan sampel kristal es terakhir ke dalam kapsul transparan.

"Fenomena pembekuan massal ini akan jadi laporan penelitian yang panjang…"

Jester meregangkan tubuhnya lebar.

"Yah, tugasku di sini selesai. Naga lima kepala tumbang, dunia tidak jadi kiamat."

Napstylea menatap kota H2700 dari kejauhan. Asap tipis masih terlihat dari beberapa distrik yang rusak akibat serangan awal naga.

"Kota butuh pengawasan ekstra," katanya tegas. "Kita tidak tahu apakah rasnya benar-benar berhenti sampai di sini."

Storm berdiri lebih tenang pagi itu, meski jelas belum sepenuhnya pulih. Tidak ada hawa dingin yang biasa mengelilinginya. 

"Aku serahkan kota pada kalian," ucap Storm pada Jester dan Napstylea.

Jester tersenyum tipis.

"Tenang saja. Psywars tidak akan lengah."

Napstylea menatap Storm beberapa detik lebih lama.

"Jangan memaksakan diri lagi."

Storm hanya mengangguk.

Tanpa banyak kata, Jester memanggil kapal Arkananya kembali. Kartu-kartu berputar membentuk kendaraan udara ramping. Napstylea melesat ke langit dengan armor silvernya.

Mereka menuju kota.

Menuju markas Psywars.

Menjaga kedamaian yang baru saja dipertahankan dengan susah payah.

***

Storm, Arabels, Zero, dan Lira menaiki Cluster 29-334.

Mesin menyala.

Pesawat terangkat perlahan dari dataran Risveyland, meninggalkan kawah besar yang kini menjadi saksi bisu perang semalam.

Di dalam kabin, suasana lebih tenang.

Arabels duduk di samping Storm.

"Kak Rem yakin sudah cukup kuat untuk kembali ke aktivitas X.A.R.A?"

Storm menatap jendela, melihat Risveyland mengecil di bawah mereka.

"Aku tidak perlu kekuatan untuk melihat bintang."

Arabels tersenyum kecil mendengar jawaban itu.

Zero dari kokpit menambahkan,

"Dan X.A.R.A bukan hanya tentang kekuatan. Kita membangun sesuatu yang lebih besar dari sekadar perang."

Lira mengangguk.

"Mungkin pengetahuan tentang makhluk seperti naga semalam bisa membantu kita memahami ancaman luar bumi lebih jauh."

Semesta ternyata lebih luas dan lebih rumit dari yang terlihat dari satu planet kecil.

Cluster 29-334 menembus awan.

Tak lama, menara dan kubah besar markas X.A.R.A terlihat di kejauhan—kilau logamnya memantulkan cahaya pagi.

Markas astronomi dunia.

Tempat manusia menatap langit, bukan untuk bertarung… tapi untuk memahami.

Pesawat mendarat.

Begitu pintu terbuka, aktivitas pagi para teknisi dan ilmuwan menyambut mereka.

More Chapters