Ficool

Chapter 394 - Malam di Bawah Bintang

Risveyland masih menyisakan bekas luka besar.

Kawah raksasa berkilau samar diterpa cahaya bulan. Retakan tanah membentang seperti urat-urat kering di dataran luas itu. Namun malam perlahan membawa ketenangan.

Zero mematikan mesin Cluster 29-334 sepenuhnya.

"Kita tidak mungkin kembali ke kota sekarang," katanya sambil melihat kondisi Storm. "Wilayah ini masih perlu dipantau."

Jester menjentikkan jarinya, beberapa kartu Arkananya berubah menjadi rangka tenda instan.

Napstylea membantu memasang pengaman perimeter energi rendah di sekeliling area mereka.

Lira mengumpulkan sampel kristal es yang belum sepenuhnya mencair.

Akhirnya, beberapa tenda berdiri mengitari area yang relatif aman di pinggir kawah.

Api kecil dinyalakan—bukan untuk menghangatkan, tapi untuk memberi cahaya di tengah hamparan luas yang sepi.

Storm duduk bersandar pada batu besar, tubuhnya masih terasa berat. Tidak ada denyut dingin yang biasanya ia rasakan.

Arabels duduk di sampingnya.

Langit malam sangat jernih setelah badai tadi.

Tanpa awan, tanpa petir.

Hanya bintang-bintang yang bersinar terang, lebih jelas dari biasanya karena jauh dari cahaya kota.

"Risveyland jadi seperti observatorium alami," kata Arabels pelan.

Storm mengangkat pandangannya.

Bintang-bintang berkelip tenang.

"Apa kau masih mengingat nama-nama mereka?" tanya Storm.

Arabels tersenyum kecil.

"Yang itu, di atas kawah… Vega. Yang sedikit ke kiri, Altair. Dan di sana—Deneb."

Ia menunjuk satu per satu dengan lembut, matanya berbinar lebih terang daripada api kecil di dekat mereka.

Storm memperhatikan, bukan hanya bintangnya—

Tapi ekspresinya.

"Langit tetap sama," lanjut Arabels, "Meskipun di bawahnya selalu ada perang."

Storm terdiam.

Beberapa jam lalu, langit itu dipenuhi petir dan meteor es.

Sekarang, seolah tak pernah terjadi apa-apa.

"Kak Rem hampir tidak bangun lagi tadi," bisik Arabels pelan.

Storm menoleh sedikit.

"Tapi aku bangun."

"Itu bukan jawaban yang menenangkan."

Hening sejenak.

Angin malam berhembus ringan, membawa aroma tanah yang mulai mendingin.

"Mungkin aku akan lebih lemah untuk sementara."

Arabels menggeleng pelan.

"Kak Rem tidak pernah lemah. Hanya… terlalu sering menanggung semuanya sendiri."

Storm menatap bintang paling redup di ujung cakrawala.

"Aku hanya tidak ingin orang lain terluka karena aku."

Arabels mengikuti arah pandangnya.

"Bintang yang paling redup seringkali yang paling jauh," katanya lembut. "Tapi bukan berarti sendirian."

Kata-kata itu menggantung di udara malam.

***

Di kejauhan, terdengar suara Jester yang tertawa kecil bersama Napstylea. Zero berjaga dalam diam. Lira masih sibuk mencatat sesuatu di perangkat kecilnya.

Mereka semua ada di sini.

***

Malam itu, bukan sebagai petarung.

Bukan sebagai Ice Emperor.

Hanya sebagai seseorang yang duduk memandang langit bersama gadis yang mencintainya.

"Besok," kata Arabels pelan, "Kita kembali ke X.A.R.A?"

Storm mengangguk tipis.

"Ya. Masih banyak yang harus kita lakukan."

Langit tetap bersinar.

More Chapters