Ficool

Chapter 396 - Tawaran yang Ditolak

Pagi di markas X.A.R.A terasa lebih sibuk dari biasanya.

Beberapa layar raksasa di lobi utama menampilkan rekaman samar kilatan cahaya dari arah Risveyland semalam. Para teknisi berbisik pelan, ilmuwan berjalan cepat dengan tablet di tangan.

Begitu Storm, Arabels, Zero, dan Lira memasuki gedung utama—

Mereka tidak hanya disambut oleh staf.

Di ujung aula, tiga sosok telah menunggu.

Aryes Wilston, pemimpin X.A.R.A, berdiri dengan sikap tenang seperti biasa.

Di sampingnya, Violys Delstin, dengan tatapan tajam penuh analisis.

Dan satu sosok lain yang jarang terlihat langsung di markas ini—

Grayrat Heavely.

Walikota kota H2700.

Pria paruh baya berambut perak rapi, mengenakan setelan gelap dengan pin lambang kota di dadanya.

Arabels sedikit terkejut.

"Pak walikota…?"

Storm berhenti beberapa langkah dari mereka.

Tatapan Storm dan Grayrat bertemu.

Beberapa detik hening.

Namun tidak ada aura interogasi.

Tidak ada tekanan politik.

Grayrat justru melangkah maju lebih dulu.

"Atas nama kota H2700," katanya dengan suara berat namun tulus, "Saya berterima kasih."

Storm tidak langsung menjawab.

Grayrat melanjutkan,

"Ini bukan pertama kalinya kau berdiri di antara kota ini dan kehancuran. Dan saya tahu… tidak semua tindakanmu mudah diterima oleh sebagian pihak."

Aryes melirik Storm sekilas, mengerti maksud kalimat itu—Aksrega United, APH, pengawasan, laporan yang tak pernah berhenti.

"Tapi semalam," lanjut Grayrat, "Jika bukan karena keputusanmu memancing makhluk itu ke Risveyland… korban akan jauh lebih besar."

Lobi utama menjadi sunyi.

Beberapa staf X.A.R.A yang lewat berhenti mendengarkan.

Storm akhirnya berbicara pelan.

"Kota itu bukan milik saya."

Grayrat tersenyum tipis.

"Justru karena itu kau melindunginya tanpa pamrih."

Violys menyilangkan tangan.

"Data kerusakan menunjukkan pengalihan medan tempur menyelamatkan minimal dua distrik padat penduduk."

Zero berbisik pelan pada Lira,

"Statistik selalu mendukung fakta."

Grayrat menarik napas panjang.

"Karena itu," katanya mantap, "Saya ingin menawarkan sesuatu secara resmi."

Arabels menoleh cepat ke Storm.

Aryes hanya mengamati tanpa menyela.

"Tuan Rem," ucap Grayrat, "Saya ingin kau menjadi bagian dari struktur kepemimpinan kota H2700. Bukan sebagai simbol, bukan sebagai alat politik… tapi sebagai pelindung resmi. Petinggi keamanan khusus."

Beberapa staf terkejut mendengarnya.

Menjadi petinggi kota berarti legitimasi.

Perlindungan hukum.

Otoritas.

Tidak lagi diburu atau dipertanyakan setiap saat.

Hening panjang menyelimuti aula.

Storm menatap lantai sejenak.

Lalu ia mengangkat pandangannya.

"Jika saya menerima," katanya tenang, "Maka setiap keputusan saya akan terikat pada meja rapat dan izin tertulis."

Grayrat tidak membantah.

Storm melanjutkan,

"Saya bergerak cepat karena saya tidak menunggu perintah."

Arabels memperhatikan ekspresinya.

Tidak ada kesombongan di sana.

Hanya kejujuran.

"Saya bukan pejabat," lanjut Storm.

"Saya hanya seseorang yang kebetulan berada di tempat yang salah… atau mungkin tempat yang tepat."

"Jadi itu jawabanmu?"

Storm mengangguk pelan.

"Saya menolak."

Tidak ada nada menantang.

Hanya keputusan yang sudah bulat.

Beberapa orang mungkin menganggapnya bodoh.

Menolak posisi dengan kekuasaan dan perlindungan.

Namun Grayrat justru tersenyum kecil.

"Saya sudah menduganya."

Ia mengulurkan tangan.

"Terlepas dari jabatan, kota ini berutang padamu."

Storm menatap tangan itu beberapa detik.

Lalu menjabatnya.

Sebuah pengakuan tanpa kontrak.

Tanpa gelar.

Aryes akhirnya berbicara,

"Dengan begitu, X.A.R.A tetap menjadi 'rumah resmimu' untuk saat ini."

Violys menambahkan dengan nada ringan,

"Kami masih punya kapal antar bintang yang menunggu untuk benar-benar aktif."

Arabels tersenyum lega.

Storm mungkin menolak kekuasaan—

Namun ia tidak berjalan sendirian.

Grayrat berbalik pergi setelah beberapa kata formal terakhir.

Ketika pintu aula tertutup kembali, suasana menjadi lebih ringan.

Zero menyeringai.

"Menolak jadi petinggi kota? Itu level yang langka."

Storm mengangkat bahu tipis.

"Aku tidak cocok duduk terlalu lama."

More Chapters