Ficool

Chapter 910 - Menantang Dua Penguasa Kosmik

Gugus galaksi Abell 2029 kembali bergetar. Di tengah hamparan galaksi yang luas, dua sosok melesat dengan kecepatan luar biasa. Cahaya putih keemasan menyelimuti tubuh salah satunya. Sementara sosok lainnya dikelilingi kehampaan hitam.

Corona Borealis. Soul Void 900.

Keduanya meninggalkan medan pertarungan sebelumnya dan bergerak menuju satu titik. Storm. Ketika Storm sedang melesat menuju IC 1101, tiba-tiba ruang di hadapannya dipenuhi dua energi yang sangat besar.

*BOOOOM! *

Storm menghentikan gerakannya. Dua sosok muncul di hadapannya. Corona Borealis berdiri dengan pedang kosmiknya. Soul Void 900 berada tidak jauh darinya, diselimuti energi Void.

Storm memandang keduanya secara bergantian. "Jadi, kalian menghadangku?"

Corona Borealis tidak langsung menjawab. Ia mengamati armor merah Skycrimson yang menyelimuti tubuh Storm. "Manusia..."

Soul Void 900 tertawa kecil. "Menarik. Seorang manusia datang ke wilayah ini."

Storm tidak menunjukkan reaksi. Namun Corona Borealis justru terlihat serius. "Mustahil."

Soul Void 900 menoleh kepadanya. "Apa maksudmu?"

Corona Borealis mengarahkan pandangannya kepada Storm. "Tidak mungkin manusia biasa bisa mencapai wilayah yang mendekati Cosmic Web." Ia menggenggam pedangnya. "Manusia adalah ras terlemah di Universe. Mereka memiliki batas kehidupan, keterbatasan fisik, dan ketergantungan terhadap berbagai hukum alam."

Soul Void 900 mengamati Storm lebih teliti. "Namun, dia berdiri di sini." Ia menyeringai. "Sepertinya manusia ini bukan manusia biasa."

Corona Borealis mengangguk. "Aku juga merasakannya." Energi Storm tidak seperti energi manusia pada umumnya. Ada sesuatu yang tersembunyi di balik tubuhnya. Sesuatu yang sulit dipahami.

Storm mengangkat tangan kanannya. Energi merah berkumpul di sekeliling lengannya. Kemudian—

*SHUUUAAAH! *

Sebuah pedang raksasa muncul. Pedang Ashura. Enam lengan energi terbentuk di belakang tubuh Storm. Masing-masing memancarkan tekanan kosmik yang berbeda.

Corona Borealis langsung mengarahkan pedangnya. Soul Void 900 juga memperkuat lapisan kehampaan di sekeliling tubuhnya.

Namun Storm justru berbicara dengan santai. "Aku tidak punya waktu untuk kalian." Ia mengarahkan Pedang Ashura kepada kedua sosok tersebut. "Aku sedang menuju IC 1101." Storm berhenti sejenak. "Jadi, jangan menghalangi jalanku."

Soul Void 900 tertawa. "Dan jika kami tetap menghalangimu?"

Mata Storm menatapnya. "Aku akan membunuh kalian berdua."

Suasana mendadak hening. Corona Borealis tidak langsung memberikan tanggapan. Seorang manusia... baru saja mengancam dua entitas yang berada pada tingkatan kekuatan luar biasa. Satu adalah Supercluster yang menjaga wilayah Cosmic Web. Satu lagi adalah pemimpin Cosmic Void yang mampu menginvasi gugus-gugus galaksi. Namun Storm tidak menunjukkan sedikit pun keraguan.

"Manusia yang sombong." Soul Void 900 mengangkat tangannya. Energi Void mulai berputar di sekelilingnya. "Kau bahkan tidak memahami siapa yang sedang kau hadapi."

Storm memutar Pedang Ashura. "Aku tidak perlu memahami kalian."

Corona Borealis melangkah maju. "Manusia, dengarkan aku." Cahaya dari tubuhnya semakin terang. "Jika kau terus maju, kau akan memasuki konflik yang tidak bisa kau pahami."

Storm menatapnya. "Kalau begitu, minggirlah."

Corona Borealis terdiam.

Soul Void 900 kemudian tertawa lebih keras. "Hahaha! Corona Borealis, sepertinya kita bertemu dengan makhluk yang sangat menarik." Ia menatap Storm. "Dia bahkan tidak takut kepada kita."

Corona Borealis tidak tertawa. Ia masih mengamati Storm. Ada sesuatu yang membuatnya berhati-hati. Bukan hanya karena energi Storm. Melainkan karena manusia tersebut seolah tidak memiliki naluri untuk menghindari keberadaan yang jauh lebih kuat darinya.

---

Pengamatan dari Kejauhan

Jauh dari lokasi tersebut... di antara hamparan galaksi yang jaraknya mencapai miliaran tahun cahaya, empat sosok sedang melayang. Zero. Xyros Sealactive. Meracles Agyctive. Recluster Nxc-13.

Mereka baru saja merasakan benturan energi dari tiga sosok tersebut. Zero memperhatikan layar pemindainya. "Apa yang sedang dilakukan Storm?"

Xyros melihat ke arah kejauhan. Ia segera mengenali dua energi yang berdiri di hadapan Storm. "...Corona Borealis."

Meracles terkejut. "Supercluster?"

Recluster kemudian mengamati energi hitam di sampingnya. "Dan yang satunya..."

Xyros menjawab dengan serius. "Soul Void 900."

Mereka semua terdiam. Zero kembali melihat layar. "Storm sedang menghadapi keduanya?" Tidak ada yang menjawab. Mereka melihat sendiri Storm mengangkat Pedang Ashura di hadapan dua entitas tersebut.

Meracles langsung berbicara. "Itu gila!"

Recluster mengangguk. "Bahkan jika kita semua bersatu, belum tentu kita mampu memberikan perlawanan berarti terhadap mereka."

Xyros mengepalkan tangannya. "Corona Borealis bukan lawan biasa." Ia kemudian menatap Soul Void 900. "Dan Soul Void 900 adalah pemimpin Bootes Void. Kekuatan Void miliknya mampu mengancam keberadaan berbagai gugus galaksi."

Zero terdiam cukup lama. Ia mengenal Storm. Ia tahu Storm selalu mencari lawan yang kuat. Namun kali ini... Storm benar-benar sedang menantang sesuatu yang berbeda. Bukan sekadar petarung kuat. Melainkan dua entitas yang berada jauh di atas standar kekuatan yang pernah mereka hadapi.

"Storm..." Zero bergumam. "Apa yang sebenarnya kau pikirkan?"

---

Kembali di hadapan kedua entitas tersebut...

Storm masih berdiri dengan Pedang Ashura di tangannya. Enam lengan energi di belakang tubuhnya bergerak perlahan.

Corona Borealis mengangkat pedangnya. Soul Void 900 mulai membentuk pusaran kehampaan. Keduanya tidak lagi menganggap Storm sebagai manusia biasa. Namun mereka juga tidak berniat membiarkan manusia tersebut berjalan begitu saja.

Corona Borealis akhirnya berbicara. "Jika kau ingin melewati kami..." Cahayanya semakin terang. "...buktikan bahwa kau memang pantas berada di sini."

Soul Void 900 tersenyum. "Dan jangan berharap bisa keluar dengan mudah."

Storm menatap keduanya. Kemudian ia mengangkat Pedang Ashura. "Baik." Energi merah menyelimuti seluruh tubuhnya. "Kalau begitu..." Storm mengarahkan pedangnya ke depan. "...kalian berdua akan menjadi penghalang pertama yang kuhancurkan."

More Chapters