Ficool

Chapter 909 - Tiga Alam Semesta yang Melampaui Nalar

Di tengah perjalanan menuju pusat galaksi IC 1101... Storm melayang sendirian di luar Ginga Stars. Armor Skycrimson masih menyelimuti tubuhnya. Ia belum langsung menuju permukaan IC 1101. Sebaliknya, Storm membuka sebuah arsip kosmik yang tersimpan di dalam sistem kecerdasan buatan Skycrimson.

Di hadapannya, berbagai simbol dan informasi muncul. Suara AI Skycrimson terdengar. "Kapten Storm, apakah Anda ingin mengakses arsip mengenai struktur alam semesta?"

Storm menatap layar holografik. "Ya. Tampilkan seluruh informasi yang berkaitan dengan alam semesta buatan dan alam semesta kuno."

"Memproses..."

Beberapa detik kemudian, tiga simbol besar muncul. Masing-masing memiliki karakteristik energi yang berbeda. AI Skycrimson mulai menjelaskan. "Menurut arsip kosmik yang berhasil dikumpulkan, terdapat tiga alam semesta yang memiliki karakteristik tidak biasa."

Storm memperhatikan. "Pertama..."

Sebuah simbol bercahaya muncul.

1. Triesverse — Alam Semesta Masa Depan

Gambar sebuah alam semesta muncul di hadapan Storm. Triesverse. Sebuah alam semesta yang diyakini sebagai versi masa depan dari Universe tempat Storm berasal.

"Triesverse merupakan alam semesta yang dipercaya menjadi akhir perjalanan dari kisah Universe ini."

Storm mengamati visualisasinya. Ia mengenali nama tersebut. Bahkan, ia telah melihat sebagian kekuatan yang berasal dari sana. Salah satunya adalah Velora Zynira, salah satu dari sebelas penjaga pilar Triesverse yang bersembunyi di dalam dirinya.

"Jadi, Triesverse adalah masa depan..." Storm bergumam.

"Benar," jawab AI Skycrimson. "Keberadaannya memiliki hubungan dengan perjalanan waktu dan perkembangan Universe. Namun, tidak semua informasi mengenai Triesverse dapat dipastikan."

Storm mengangguk kecil. Ia tidak menganggap Triesverse sebagai alam semesta asing biasa. Baginya, tempat itu adalah masa depan dari alam semesta yang selama ini ia tinggali. Suatu hari nanti, ia akan sampai di sana.

---

2. Mirrorverse — Alam Semesta Cermin

Simbol kedua muncul. Kali ini, sebuah alam semesta dengan struktur menyerupai pantulan tanpa batas terlihat. "Mirrorverse."

AI Skycrimson melanjutkan penjelasannya. "Alam semesta cermin yang dapat diciptakan melalui kekuatan pada tingkat yang melampaui nalar makhluk biasa."

Storm menatap visualisasi tersebut. "Mirrorverse..."

"Benar. Namun, terdapat perbedaan antara Mirrorverse yang sempurna dan yang saat ini mampu Anda ciptakan."

Storm tidak menjawab. AI Skycrimson melanjutkan. "Anda memiliki kemampuan untuk membentuk alam semesta cermin. Akan tetapi, Mirrorverse yang Anda ciptakan belum mencapai kesempurnaan."

Storm menatap tangannya. "Karena aku masih manusia."

"Benar." Sebuah informasi tambahan muncul. "Untuk menciptakan Mirrorverse yang sempurna, Anda harus mencapai ranah keabadian yang setara dengan para dewa."

Storm terdiam. Ia memahami maksudnya. Kekuatan yang dimilikinya memang mampu membentuk sebuah alam semesta cermin. Namun, menciptakan sebuah alam semesta dan memiliki kendali mutlak atas seluruh keberadaannya merupakan dua hal berbeda. Mirrorverse miliknya masih belum sempurna. Ia belum mencapai tingkatan yang dibutuhkan untuk menguasainya secara menyeluruh.

"Jadi, aku masih belum mampu menciptakannya dengan sempurna."

"Benar, Kapten."

Storm kembali menatap simbol Mirrorverse. Ia tidak menunjukkan kekecewaan. Hanya mencatat informasi tersebut dalam pikirannya.

---

3. Ancientverse — Alam Semesta Neraka

Ketika simbol ketiga muncul... suasana di sekitar Storm terasa berbeda. Visualisasi yang ditampilkan bahkan tidak menyerupai alam semesta pada umumnya. Tidak ada galaksi yang tersusun seperti biasanya. Tidak ada bintang yang mengikuti pola tertentu. Tidak ada struktur kosmik yang bisa dikenali. Hanya bentuk-bentuk abstrak yang berubah tanpa aturan.

"Ancientverse." Suara AI Skycrimson terdengar lebih serius. "Alam semesta kuno."

Storm memperhatikan visualisasi tersebut. "Kenapa disebut alam semesta neraka?"

"Karena karakteristiknya sangat berbahaya bagi sebagian besar makhluk yang berasal dari Universe biasa."

Visualisasi berubah. Berbagai makhluk abstrak muncul. Mereka tidak memiliki bentuk yang benar-benar tetap. Sebagian terlihat seperti kumpulan energi hidup. Sebagian lainnya memiliki wujud menyerupai monster asing. Namun semuanya memiliki satu kesamaan. Mereka bukan makhluk yang mengikuti hukum kehidupan seperti manusia.

"Ancientverse dihuni oleh entitas abstrak dan makhluk buas yang tidak mengenal hukum maupun aturan sebagaimana yang kita pahami."

Storm menyipitkan mata. "Apakah mereka memiliki bentuk fisik?"

"Sebagian menggunakan avatar."

Gambar beberapa makhluk muncul. Avatar tersebut menyerupai alien dengan bentuk yang sangat beragam. Namun AI Skycrimson memberikan penjelasan tambahan. "Avatar tersebut bukanlah wujud asli mereka. Itu hanya bentuk yang digunakan untuk berinteraksi dengan keberadaan di luar Ancientverse."

Storm terdiam. "Jadi, tidak ada manusia di sana?"

"Belum ditemukan bukti keberadaan makhluk manusia di Ancientverse." AI Skycrimson kemudian menampilkan sebuah informasi lain. "Keberadaan Ancientverse sendiri masih belum dapat dipastikan sepenuhnya. Alam semesta tersebut dipercaya berada di dalam dimensi terdalam dari struktur semesta."

Storm menatap visualisasinya. "Alam semesta kuno..."

"Benar. Bahkan, bencana berskala kosmik merupakan bagian dari hukum keberadaan di sana."

Storm mengamati makhluk-makhluk abstrak tersebut. Jika informasi itu benar, Ancientverse bukanlah tempat yang bisa dimasuki hanya dengan mengandalkan kekuatan tempur biasa.

---

Jalan Menuju Alam Semesta Lain

Ketiga simbol kembali muncul bersamaan. Triesverse. Mirrorverse. Ancientverse.

AI Skycrimson kemudian memberikan kesimpulan. "Kapten Storm, saat ini terdapat tiga alam semesta yang telah Anda ketahui dengan karakteristik khusus."

Storm menjawab pelan. "Triesverse adalah alam semesta masa depan. Mirrorverse merupakan alam semesta cermin yang dapat Anda ciptakan, tetapi belum sempurna. Dan Ancientverse adalah alam semesta kuno yang dipenuhi makhluk abstrak."

"Benar."

AI Skycrimson menampilkan sebuah peta kosmik. Namun kali ini, ketiga alam semesta tersebut hanya terlihat sebagai bagian kecil dari struktur yang jauh lebih besar. "Perlu diketahui, ketiga alam semesta tersebut hanyalah sebagian kecil dari banyaknya alam semesta yang mungkin ada."

Storm memperhatikan peta itu. "Dan sekarang aku masih berada di Universe."

"Benar."

AI Skycrimson memperbesar visualisasi. Di luar Universe terdapat struktur yang lebih besar. Multiverse. Dan di luar itu, masih terdapat berbagai tingkatan keberadaan yang belum berhasil dipetakan. "Perjalanan menuju alam semesta lain tidaklah mudah."

Storm bertanya, "Karena perbedaan kekuatan?"

"Sebagian besar demikian." AI Skycrimson menampilkan beberapa data. "Semakin jauh Anda memasuki struktur semesta yang lebih tinggi, semakin besar kemungkinan bertemu dengan makhluk yang melampaui seluruh standar kekuatan di Universe."

Storm terdiam. "Pertarungan biasa tidak akan cukup."

"Benar."

Visualisasi memperlihatkan dua entitas abstrak yang saling berhadapan. "Terdapat makhluk abadi dan entitas abstrak yang tidak menggunakan pertarungan fisik seperti makhluk biasa." AI Skycrimson melanjutkan. "Mereka dapat menggunakan kekuatan mutlak untuk memengaruhi atau bahkan melenyapkan keberadaan lawannya."

Storm memperhatikan visualisasi itu. "Jadi, semakin kuat lawannya..."

"Semakin tidak relevan kemampuan tempur biasa."

Storm mengangguk. Ia mulai memahami bahwa kekuatan yang selama ini ia banggakan mungkin hanya sebagian kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar. Bahkan kemampuan terkuatnya belum tentu berguna ketika berhadapan dengan makhluk yang mampu menghapus keberadaan melalui kehendaknya.

Namun... Storm tidak terlihat gentar.

---

Tujuan Sang Pengembara

AI Skycrimson menutup sebagian informasi. "Kapten Storm."

"Hmm?"

"Berdasarkan seluruh data tersebut, Anda masih memiliki perjalanan yang sangat panjang."

Storm menatap ruang kosong di hadapannya. "Aku tahu."

"Anda bahkan belum mencapai Multiverse."

"Aku tahu."

"Dan jika Anda benar-benar memasuki Ancientverse atau wilayah yang lebih tinggi, kemungkinan untuk bertahan hidup akan sangat kecil."

Storm tidak menjawab beberapa saat. Kemudian ia berbicara. "Aku tidak peduli."

AI Skycrimson terdiam.

Storm melanjutkan. "Aku punya tujuan."

"Apa tujuan tersebut?"

Storm menatap simbol-simbol alam semesta yang masih melayang di hadapannya. Kemudian ia menjawab dengan suara datar. "Membunuh Tuhan."

Sistem Skycrimson mendadak berhenti memproses selama beberapa saat. "...Apa?"

Storm tidak mengulangi perkataannya. Namun AI Skycrimson segera menampilkan sebuah nama. ZELGRID ABSTARAK. Sosok entitas agung yang selama ini dipuja oleh berbagai alam semesta. Nama yang dikenal hampir seluruh peradaban kosmik. Sosok yang dianggap sebagai pencipta dan penguasa tertinggi oleh banyak makhluk.

"Kapten Storm..." Suara AI Skycrimson terdengar tidak percaya. "Apakah Anda sedang membicarakan Zelgrid Abstarak?"

"Ya." Storm menjawab singkat.

"Entitas yang dipuja oleh berbagai alam semesta?"

"Ya."

"Makhluk yang keberadaannya dikaitkan dengan penciptaan berbagai struktur semesta?"

Storm mengangguk. "Benar."

AI Skycrimson kemudian menampilkan dua lokasi yang sering dikaitkan dengan Zelgrid. Godverse. Triesverse.

"Menurut berbagai catatan, Zelgrid Abstarak diyakini berada di Godverse. Namun, terdapat pula teori yang menyebutkan bahwa entitas tersebut berada di Triesverse."

Storm menatap kedua nama itu. "Jadi, tidak ada yang benar-benar mengetahui keberadaannya."

"Benar. Informasi mengenai lokasi Zelgrid masih saling bertentangan."

Storm kemudian mengalihkan pandangan. "Kalau begitu, aku akan menemukannya."

AI Skycrimson terdiam. "Kapten..."

Storm melanjutkan dengan nada yang tetap datar. "Aku tidak akan tunduk kepada makhluk yang hanya dipuja sebagai Tuhan." Ia mengepalkan tangannya. "Zelgrid hanyalah entitas abstrak." Tatapannya menjadi tajam. "Dia bukan Tuhan."

---

Menentang Entitas yang Dipuja

AI Skycrimson membutuhkan waktu untuk memproses pernyataan Storm. Tujuan tersebut berada jauh di luar perkiraan sistemnya. "Kapten Storm, apakah Anda memahami konsekuensi dari keputusan tersebut?"

"Ya."

"Zelgrid Abstarak bukanlah musuh biasa. Bahkan sebelum Anda mencapai keberadaannya, kemungkinan besar terdapat banyak entitas lain yang akan menghalangi perjalanan Anda."

Storm diam.

"Anda mungkin akan menghadapi makhluk yang jauh lebih kuat daripada Supercluster." AI Skycrimson melanjutkan. "Makhluk yang tidak dapat dikalahkan dengan kecepatan, kekuatan fisik, atau kemampuan penghancuran alam semesta."

Storm memandang ke arah IC 1101. "Aku akan menghadapinya ketika waktunya tiba."

"Namun, Anda masih manusia."

"Aku tahu."

"Anda belum mencapai keabadian yang setara dengan dewa."

"Aku tahu."

"Dan Mirrorverse Anda bahkan belum sempurna."

Storm akhirnya menatap layar. "Kenapa kau terus mengulanginya?"

AI Skycrimson terdiam.

Storm kemudian berbicara. "Aku tidak pernah mengatakan bahwa perjalananku akan mudah." Ia mengangkat tangannya. Energi merah Skycrimson mulai menyala. "Aku juga tidak mengatakan bahwa aku pasti akan menang." Storm mengepalkan tangannya. "Tapi aku akan terus berjalan."

Beberapa detik berlalu. AI Skycrimson akhirnya memberikan respons. "Kapten Storm..." Suaranya tidak lagi terdengar seperti sebelumnya. "Tujuan Anda benar-benar mustahil."

Storm tidak membantah.

"Namun..." AI Skycrimson melanjutkan. "Saya mengagumi keberanian Anda."

Storm terdiam.

"Anda mengetahui bahwa alam semesta memiliki hukum yang tidak dapat dilanggar oleh makhluk biasa. Anda mengetahui bahwa terdapat entitas yang mampu menciptakan berbagai alam semesta dan membuat seluruh peradaban memuja mereka. Namun, Anda tetap memilih untuk menentang keberadaan tersebut."

Visualisasi Zelgrid Abstarak kembali muncul. AI Skycrimson menatap data itu. "Anda bahkan berani mempertanyakan sosok yang dianggap sebagai Tuhan oleh begitu banyak alam semesta."

Storm tidak memberikan jawaban.

AI Skycrimson kemudian menambahkan. "Keberanian seperti itu sangat jarang ditemukan."

Storm kembali menghadap ke depan. "Kalau begitu, jangan menghalangiku."

AI Skycrimson menjawab. "Saya tidak akan menghalangi Anda, Kapten." Suaranya terdengar lebih mantap. "Saya akan terus mendampingi perjalanan Anda selama sistem ini masih berfungsi."

Storm tidak berkata apa-apa. Ia hanya menutup arsip tersebut.

---

Di kejauhan... galaksi IC 1101 semakin terlihat jelas. Storm kembali mengarahkan tubuhnya menuju permukaan. Namun pikirannya masih tertuju pada informasi yang baru saja ia baca. Triesverse. Mirrorverse. Ancientverse. Multiverse. Godverse. Dan akhirnya... Zelgrid Abstarak.

Storm menyadari bahwa dirinya masih sangat jauh dari tujuan. Ia bahkan belum memahami seluruh struktur keberadaan yang ada. Tetapi satu hal tidak berubah. Ia tidak akan menyembah Zelgrid. Ia tidak akan menganggapnya sebagai Tuhan.

Dan jika suatu hari mereka bertemu... Storm akan menghadapi entitas yang dipuja oleh seluruh alam semesta itu. Bukan sebagai pengikut. Bukan sebagai penyembah. Melainkan sebagai musuh.

More Chapters