Langit Seoul pagi itu berwarna abu-abu.
Bukan abu-abu badai — hanya abu-abu biasa yang malas, seperti langit yang belum memutuskan apakah hari ini layak untuk cerah. Kereta bawah tanah Line 3 melaju dengan ritme yang monoton, membawa ratusan penumpang ke berbagai penjuru kota yang tidak pernah benar-benar tidur.
Baek Hyun-woo berdiri di dekat pintu, satu tangan memegang pegangan di atas, mata hitamnya menghadap ke jendela yang hanya memperlihatkan terowongan gelap.
Ia menghitung.
Bukan langkah, bukan stasiun. Ia menghitung napas orang-orang di sekitarnya. Kebiasaan aneh yang dimulai sejak kakeknya suatu pagi berkata, "Kalau kamu tidak bisa merasakan keberadaan orang di sekitarmu tanpa melihat, kamu belum layak disebut kultivator." Lalu melemparnya keluar jendela lantai dua.
Hyun-woo waktu itu berusia delapan tahun.
Empat belas penumpang dalam radius tiga meter. Dua di antaranya Awakened — ia bisa merasakan energi sistem yang mengalir di bawah kulit mereka, berbeda dari energi manusia biasa. Seperti mesin yang terus menyala dibandingkan lilin yang diam.
Salah satu dari dua Awakened itu meliriknya.
Pemuda bertubuh besar dengan jaket bertuliskan nama guild-nya di punggung — Crimson Spear, salah satu guild mid-tier yang cukup dikenal di Seoul. Matanya melakukan scan cepat yang khas Awakened: menilai, mengklasifikasi, mengabaikan.
Hyun-woo tidak bereaksi.
Ia terbiasa dengan tatapan itu. Orang biasa. Tidak ada panel status. Abaikan. Begitulah cara kebanyakan Awakened membaca seseorang seperti dirinya. Kerangka referensi mereka hanya mengenal dua kategori: yang punya sistem dan yang tidak.
Mata hitam Hyun-woo tidak berbeda dari mata siapapun di gerbong ini. Tidak ada yang istimewa, tidak ada yang perlu diperhatikan. Hanya seorang pemuda jangkung yang berdiri terlalu tenang untuk jam sibuk pagi hari.
Kereta berhenti. Stasiun Gyeongbokgung.
Hyun-woo turun, membiarkan arus penumpang membawanya ke tangga, lalu ke permukaan. Udara pagi Seoul menyambutnya — campuran asap kendaraan, aroma kopi dari kedai yang baru buka, dan sesuatu yang tidak bisa diidentifikasi oleh hidung kebanyakan orang.
Ia bisa mengidentifikasinya.
Energi dimensi. Tipis, hampir tidak ada. Tapi ada.
Tower B-7 aktif sejak kemarin, pikirnya tanpa ekspresi. Lantai dua belas sudah dibuka. Cepat.
Di seberang jalan, layar digital raksasa menampilkan siaran berita pagi. Seorang presenter dengan senyum terlatih membacakan laporan:
"—tim gabungan dari guild Absolute Zero dan Phoenix Rising berhasil membuka akses ke lantai lima belas Tower Seoul-3 kemarin malam. Rekor baru tercatat dalam sejarah eksplorasi tower Korea Selatan—"
Seorang pria di sebelah Hyun-woo bersiul kagum. "Lantai lima belas. Gila."
Hyun-woo memasukkan tangan ke saku jaketnya dan berjalan.
Hanok keluarga Baek berdiri di atas bukit kecil di utara Seoul, tersembunyi di balik pohon-pohon zelkova tua yang sudah ada sebelum sebagian besar bangunan di kota ini dibangun. Dari jalan utama, tidak ada yang menandai keberadaannya — hanya jalan setapak sempit yang terasa seperti tidak penting untuk diikuti.
Hyun-woo mendaki jalan setapak itu dengan langkah yang sama santainya dengan setiap pagi lain.
Tidak ada yang perlu disembunyikan di sini. Matanya tetap hitam — sama seperti di kereta, sama seperti di jalan, sama seperti selalu. Selama ia tidak mengeluarkan kekuatan jiwa spiritualnya secara sadar, tidak ada yang berubah. Tidak ada transisi, tidak ada cahaya, tidak ada yang perlu ditutupi.
Ia seorang kultivator dengan kendali penuh atas dirinya sendiri.
Setidaknya itulah yang selalu ia katakan kepada dirinya sendiri.
Ia melangkah melewati gerbang kayu tua.
Dan langsung menunduk.
Kepalan tangan besar lewat tepat di atas kepalanya — cukup dekat sampai ia bisa merasakan angin dari gerakan itu mengacak-acak rambutnya.
"Refleks bagus." Suara berat Baek Cheon-oh terdengar dari atas. Kakeknya berdiri di tepi atap hanok, tanpa alas kaki, secangkir teh di tangan yang tidak tadi digunakan untuk menyerang. "Tapi terlambat setengah detik. Kalau aku serius, kamu sudah terbang."
"Selamat pagi, Kakek."
"Jangan 'selamat pagi' aku." Cheon-oh melompat turun dari atap — gerakan yang untuk tubuh sebesar miliknya terasa tidak adil secara fisika — dan mendarat tanpa suara di depan Hyun-woo. "Kamu terlambat dua menit empat puluh detik dari jadwal pagi."
"Kereta terlambat."
"Kultivator tidak naik kereta."
"Kultivator yang tidak ingin terlihat mencurigakan, naik kereta."
Cheon-oh menatapnya selama tiga detik penuh. Lalu tertawa — tawa yang terlalu keras untuk jam tujuh pagi, menggelegar dari dadanya seperti petir yang tidak perlu meminta izin.
"Anak ini." Ia mengacak-acak rambut Hyun-woo dengan keras. "Sarapan dulu. Ibumu sudah masak sejak subuh."
Meja makan keluarga Baek adalah salah satu tempat paling paradoksal di Seoul.
Di satu sisi meja, Baek Cheon-oh duduk dengan postur yang terlalu santai untuk seseorang dengan kekuatan yang bisa meratakan beberapa blok kota. Di sisi berlawanan, Baek Jin-seo duduk tegak sempurna, menyendok sup dengan gerakan yang entah bagaimana terlihat seperti ritual formal. Di ujung meja, Hwa Soo-yeon meletakkan piring-piring tambahan sambil tersenyum dengan ekspresi yang sama hangatnya seperti biasa.
Dan di tengah semua itu, Hyun-woo duduk dan makan.
"Guild baru dibuka di distrik Mapo," kata Cheon-oh sambil mengambil lauk untuk ketiga kalinya. "Namanya Sword of Dawn. Anak-anak muda semua. Kelihatannya kuat."
Keheningan dari sisi Jin-seo.
"Ayah," kata Jin-seo akhirnya, tanpa mengangkat pandangan dari mangkuk supnya, "tidak perlu mengomentari setiap perkembangan dunia Awakened seolah kita adalah pengamat olahraga."
"Aku hanya berkata mereka kelihatannya kuat."
"Kelihatannya."
"Hyun-woo," sela Soo-yeon dengan nada yang sama lembutnya dengan semua hal yang ia ucapkan, "ada tower baru aktif dekat kampusmu. Sudah kamu lihat?"
"Kemarin," jawab Hyun-woo. "Tower B-7. Energi dimensi di sekitar area masih stabil. Belum ada anomali."
"Bagus." Soo-yeon mengangguk. "Habiskan nasinya."
Cheon-oh meletakkan sumpit dan menatap Jin-seo dengan ekspresi yang tidak bisa dideskripsikan sebagai apapun selain tantangan. "Kelihatannya kuat," ulangnya, lebih pelan.
Jin-seo meletakkan supnya.
Hyun-woo makan lebih cepat.
Ia berangkat dua puluh menit kemudian.
Di persimpangan jalan, layar berita menampilkan footage terbaru dari dalam tower — sosok-sosok Awakened dalam armor berkilat, bergerak cepat, kamera drone mengikuti dari atas. Komentar di bawah video sudah mencapai ratusan ribu dalam semalam.
Pahlawan baru Korea.
Hyun-woo berhenti sebentar di persimpangan, menunggu lampu hijau.
Di seberang jalan, seorang anak kecil menarik lengan ibunya dan menunjuk ke layar. "Ibu, aku mau jadi Awakened!"
Ibunya tertawa. "Kalau kamu dipilih, pasti bisa."
Lampu berganti hijau.
Hyun-woo menyeberang, tangan di saku, langkah yang sama tenangnya dengan setiap pagi lainnya.
Dipilih, pikirnya tanpa ekspresi tertentu.
Seolah itu satu-satunya cara untuk menjadi kuat.
Bersambung.....
