Ficool

Chapter 6 - BAB 6 - Di Luar Garis

Pintu tower terbuka dari dalam.

Tidak ada yang menekannya — pintu itu bergerak sendiri, seperti tower mengenali bahwa yang di dalamnya sudah selesai untuk malam ini dan mempersilakan mereka keluar dengan cara yang hampir terasa seperti kesopanan. Delapan figur melangkah keluar satu per satu ke udara malam Seoul yang tiba-tiba terasa terlalu lebar setelah jam-jam di dalam ruang yang sempit dan gelap.

Hyun-woo keluar terakhir.

Yang menyambut mereka bukan ketenangan.

Lampu sorot militer menyala bersamaan, menerangi seluruh area keluar tower seolah matahari memutuskan muncul di waktu yang salah. Teriakan komando. Suara langkah boot di atas aspal. Dalam dua detik, delapan laras senjata diarahkan ke arah pintu tower — prosedur standar yang Hyun-woo sudah baca dalam laporan protokol militer Korea untuk insiden tower kelas darurat.

"Identifikasi diri! Tangan terlihat!"

Jun-hee mengangkat tangannya lebih dulu, bergerak ke depan dengan cara yang menunjukkan ia sudah melakukan ini sebelumnya. "Seo Jun-hee, Absolute Zero, ID eksplorasi KR-A-0047! Tim enam orang plus dua tambahan — semua keluar dengan selamat!"

Ketegangan di perimeter turun beberapa derajat tapi tidak sepenuhnya hilang.

Seorang perwira dengan tanda pangkat mayor berjalan maju, wajahnya mengekspresikan campuran antara lega dan marah yang khas seseorang yang baru saja menyadari situasinya tidak seburuk yang ia takutkan tapi jauh lebih rumit dari yang ia inginkan.

"Komunikasi terputus selama dua puluh tiga menit," katanya kepada Jun-hee. "Prosedur evakuasi sudah diaktifkan. Kenapa tidak ada sinyal darurat yang keluar?"

"Gelombang energi dimensi dari tower memutus semua komunikasi," jawab Jun-hee. "Kami sudah menduga ini tapi timing-nya lebih cepat dari proyeksi."

Mayor itu mengangguk — mencatat, memproses — lalu matanya beralih ke dua figur yang bukan bagian dari tim Absolute Zero.

Ke Yeon-ji lebih dulu. "Iron Vanguard?"

"Cha Yeon-ji, pengamat eksternal guild, Mayor." Yeon-ji menjawab dengan nada yang sudah kembali ke profesionalisme penuhnya. "Masuk dalam kapasitas evakuasi darurat sesuai protokol pasal tujuh belas."

Mayor itu menuliskan sesuatu. Lalu matanya berpindah ke Hyun-woo.

Berhenti.

Scan yang sama — menilai, mengklasifikasi. Tapi tidak seperti Awakened di kereta atau Jun-hee di dalam tower, mata mayor ini bukan mata seseorang yang mencari panel status. Ini mata seseorang yang terlatih membaca ancaman dari cara seseorang berdiri.

Dan cara Hyun-woo berdiri — tangan di saku, postur santai, ekspresi yang tidak menceritakan apapun — tidak cocok dengan kategori manapun dalam daftar ancaman standar mayor itu. Yang membuatnya lebih mencurigakan, bukan kurang.

"Kamu?"

"Baek Hyun-woo." Tidak ada jabatan, tidak ada afiliasi, tidak ada penjelasan tambahan.

"Guild?"

"Tidak ada."

Mayor itu menatapnya lebih lama. "Kartu identitas Awakened?"

"Bukan Awakened."

Satu detik keheningan yang kualitasnya berbeda dari keheningan-keheningan sebelumnya malam ini.

"Kamu masuk ke dalam tower aktif," kata mayor itu dengan nada yang sudah menemukan tujuannya, "tanpa status Awakened, tanpa afiliasi guild, tanpa otorisasi militer—"

"Dan keluar dengan membawa tim enam orang yang komunikasinya terputus," potong Jun-hee. Bukan agresif — hanya faktual. "Dengan selamat, Mayor."

Mayor itu menutup mulutnya.

Membuka lagi. Menutup lagi.

Hyun-woo menunggu dengan kesabaran yang tidak punya tepi.

"Kamu akan diminta memberikan keterangan," kata mayor itu akhirnya. "Malam ini."

"Tentu," jawab Hyun-woo.

Tenda komando didirikan di sisi barat perimeter — cukup jauh dari tower untuk berfungsi sebagai zona aman, cukup dekat untuk masih dalam jangkauan pengawasan. Di dalamnya, Hyun-woo duduk di kursi lipat di satu sisi meja logam, seorang kapten intelijen militer di sisi lain, dan satu perekam audio di antara keduanya.

Yeon-ji ada di tenda sebelah menjalani proses yang sama.

Jun-hee sudah selesai lima belas menit yang lalu — statusnya sebagai Awakened rank A-plus dengan rekam jejak bersih mempersingkat prosesnya secara signifikan.

"Kamu masuk tower pukul berapa?" tanya kapten itu.

"Sekitar pukul sembilan malam."

"Bersama siapa?"

"Cha Yeon-ji dari Iron Vanguard."

"Motivasinya?"

Hyun-woo mempertimbangkan jawabannya selama satu detik. "Ada tim yang terjebak di dalam. Komunikasi terputus. Saya masuk untuk membantu."

"Tanpa otorisasi."

"Tanpa otorisasi," konfirmasi Hyun-woo dengan nada yang tidak menyiratkan penyesalan maupun pembelaan.

Kapten itu menuliskan sesuatu. "Laporan dari anggota tim Absolute Zero menyebutkan kamu terlibat langsung dalam pertempuran di lantai sembilan dan tiga belas. Tanpa sistem. Tanpa skill Awakened yang teregistrasi."

"Benar."

"Bagaimana?"

"Latihan bela diri."

Kapten itu mendongak dari catatannya. Menatap Hyun-woo. Lalu kembali ke catatannya dengan ekspresi seseorang yang sudah memutuskan untuk menuliskan apa adanya dan membiarkan orang lain yang memutuskan apa artinya.

"Ada hal lain yang ingin kamu tambahkan?"

"Tidak."

"Baik." Kapten itu menekan tombol perekam. "Wawancara selesai pukul 23.47. Kamu tidak boleh meninggalkan Seoul dalam tujuh puluh dua jam ke depan, Baek Hyun-woo. Ada kemungkinan wawancara lanjutan."

"Mengerti."

Hyun-woo berdiri, merapikan kursi lipat itu kembali ke posisi semula — kebiasaan kecil yang ibunya tanamkan sejak ia bisa berjalan — dan berjalan keluar dari tenda.

Di luar, Jun-hee menunggunya.

Bukan Yeon-ji — Yeon-ji masih di dalam. Jun-hee berdiri dengan lengan bersilang dan ekspresi yang sudah memutuskan untuk berhenti berpura-pura tidak punya pertanyaan.

"Kamu punya waktu?" tanyanya.

"Untuk apa?"

"Kopi." Singkat. "Dan percakapan yang tidak direkam."

Hyun-woo melirik ke arah tenda wawancara, lalu ke jam di pergelangan tangannya — hampir tengah malam, kereta terakhir sudah lewat, dan kakeknya sudah pasti tahu ia belum pulang karena kakeknya selalu tahu segala sesuatu yang tidak perlu ia ketahui.

"Boleh," katanya.

Bersambung.....

More Chapters