Ficool

Chapter 2 - 1. Masa Lalu Kenan Dan Kiara

Langit sore menggantung kelabu di atas kompleks rumah dinas militer, seolah menahan hujan yang tak kunjung jatuh. Deretan rumah tampak rapi dan seragam, namun salah satunya terasa berbeda, lebih sunyi, lebih dingin, seperti ada sesuatu yang perlahan menghilang dari dalamnya. Rumah itu milik Kolonel Mahendra Pratama. Di halaman depannya, sebuah mobil dinas berhenti dengan halus, memecah kesunyian yang terlalu lama bertahan.

Pintu mobil terbuka, dan seorang pria muda turun dengan langkah tegap yang sudah terlatih. Seragamnya rapi tanpa cela, garis bahunya kokoh, sepatu militernya berkilat memantulkan cahaya redup sore itu. Wajahnya tenang, tapi matanya tajam terbiasa membaca situasi bahkan sebelum ia benar-benar masuk ke dalamnya. Kenan Aryasatya. Saat itu, ia masih seorang perwira muda, bawahan langsung Mahendra, namun caranya berdiri sudah menunjukkan bahwa ia bukan orang biasa.

Ia mengetuk pintu dua kali, singkat dan disiplin, tanpa ragu. Tak lama, pintu dibuka oleh seorang ajudan yang langsung memberi hormat begitu melihatnya. "Silakan masuk, Letnan," ucapnya pelan. Kenan mengangguk singkat, lalu melangkah masuk tanpa banyak bicara. Begitu ia melewati ambang pintu, suasana rumah itu langsung terasa bersih, rapi, tapi terlalu hening untuk rumah yang seharusnya dihuni oleh keluarga.

Langkah Kenan terdengar jelas di lantai, seakan setiap bunyinya memantul di dinding yang kosong. Tidak ada suara televisi, tidak ada percakapan, bahkan tidak ada tanda kehidupan selain napas orang-orang di dalamnya. "Pak Mahendra menunggu di ruang kerja," ujar ajudan itu lagi. Kenan hanya mengangguk, lalu berjalan menuju pintu yang sedikit terbuka di ujung lorong.

Ia mengetuk pelan sebelum masuk. Di dalam, Mahendra duduk di balik meja kerjanya, tubuhnya masih tegap seperti biasanya, namun ada sesuatu yang berbeda, wajahnya terlihat lebih pucat, dan cara ia bernapas sedikit lebih berat, seperti menahan sesuatu yang tidak ingin diperlihatkan. "Masuk," ucapnya singkat. Kenan langsung berdiri tegap di hadapannya. "Selamat sore, Pak." Mahendra mengangguk, lalu menunjuk kursi di depannya. "Duduk."

Percakapan mereka dimulai seperti biasa, formal, terstruktur dan tanpa emosi. Mereka membahas laporan operasi, pergerakan pasukan, keputusan strategis yang harus segera diambil. Suara mereka datar dan tegas, seperti dua prajurit yang berbicara dalam bahasa yang sama—bahasa tanggung jawab dan disiplin. Kenan menjelaskan dengan rinci, sementara Mahendra mendengarkan sambil sesekali mencatat, mengoreksi, atau memberi arahan singkat.

Namun di tengah penjelasan itu, Mahendra tiba-tiba berhenti. Tangannya yang memegang pena terdiam di atas kertas, tidak bergerak. Hening kecil muncul di antara mereka, dan bagi orang lain mungkin itu terlihat sepele tapi tidak bagi Kenan. Ia langsung menangkap perubahan itu. "Pak?" panggilnya pelan, masih menjaga nada formalnya. Mahendra menarik napas panjang, terlalu panjang untuk sekadar lelah biasa, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Tidak apa," katanya singkat, tapi suaranya tidak sekuat biasanya. Ada jeda. Dan untuk pertama kalinya, Kenan tidak melanjutkan laporan. Insting militernya mengatakan ini bukan sekadar kelelahan.

"Bapak sedang tidak fit?" tanyanya akhirnya. Suaranya tetap tenang, tapi ada perhatian tipis yang tidak bisa ia sembunyikan. Mahendra tersenyum samar, senyum yang terasa lebih seperti penerimaan daripada penolakan. Ia menatap meja di depannya sejenak, seolah memilih kata yang tepat.

"Jantung," ucapnya pelan. "Dokter bilang… tinggal menunggu waktu."

Kalimat itu tidak diucapkan dengan dramatis. Justru sebaliknya terlalu datar, terlalu tenang. Tapi justru itu yang membuatnya terasa berat, menggantung di udara tanpa perlu ditambah apa pun. Kenan tidak langsung menjawab. Rahangnya sedikit menegang, namun ia tetap menjaga sikapnya. "Masih bisa ditangani, Pak," katanya, mencoba tetap rasional.

Mahendra menggeleng pelan, matanya masih tidak beranjak dari meja. "Sebagai prajurit, kau tahu… ada hal-hal yang tidak bisa kita lawan, sekeras apa pun kita mencoba." Nada suaranya tidak pahit, tidak juga marah—hanya… pasrah.

Di luar ruangan itu, tepat di balik pintu yang tidak sepenuhnya tertutup, seorang gadis kecil duduk diam di lantai. Kiara. Usianya baru sepuluh tahun, tubuhnya kecil, kedua tangannya memeluk lututnya sendiri. Ia tidak benar-benar menguping, ia hanya terbiasa berada dekat ayahnya, bahkan saat tidak dipanggil. Tapi hari itu, ada sesuatu yang berbeda. Suara ayahnya terdengar lebih pelan. Lebih berat. Lebih… jauh dari biasanya.

"Kau tahu aku punya anak perempuan, kan?" suara Mahendra terdengar lagi dari dalam. Kenan mengangguk. "Kiara, Pak." Mendengar namanya disebut, kepala kecil itu sedikit terangkat. Ia diam, tapi kini lebih fokus mendengarkan.

"Dia masih kecil," lanjut Mahendra, suaranya berubah. Tidak lagi seperti seorang kolonel. Lebih seperti… seorang ayah. "Terlalu kecil untuk mengerti kalau ayahnya mungkin tidak akan ada saat dia dewasa nanti." Di balik pintu, jari-jari Kiara mencengkeram kain bajunya tanpa sadar.

"Perempuan itu sudah pergi," lanjut Mahendra, kali ini dengan nada yang lebih rendah. "Dan aku… tidak pernah benar-benar pandai jadi ayah yang hangat." Ia tertawa kecil, tapi tidak ada lucu di sana. "Tapi dia tetap anakku. Satu-satunya yang kumiliki."

Ruangan kembali hening. Hening yang lebih berat dari sebelumnya. Kenan tidak menyela. Ia hanya duduk, mendengarkan, memahami bahwa percakapan ini sudah tidak lagi tentang pekerjaan.

Mahendra akhirnya menoleh padanya. Tatapannya berubah tidak lagi sekadar atasan kepada bawahan. Ada sesuatu yang lebih dalam di sana. Lebih personal. "Kenan."

"Siap, Pak."

"Kalau suatu hari nanti aku benar-benar tidak ada…" suaranya merendah, "…aku ingin kau menjaga Kiara."

Waktu seolah berhenti sejenak. Bahkan suara napas pun terasa lebih pelan. Di luar, Kiara membeku di tempatnya, meski ia tidak sepenuhnya mengerti arti kata-kata itu.

"Aku tidak meminta banyak," lanjut Mahendra, kini menatap lurus ke mata Kenan. "Cukup pastikan dia tidak sendirian. Cukup pastikan… dia tidak jatuh di dunia yang keras ini."

Kenan menarik napas perlahan. Ini bukan perintah militer. Ini bukan tugas biasa. Ini… sesuatu yang jauh lebih berat.

"Saya akan menjaganya, Pak," jawabnya akhirnya. Suaranya rendah, tapi mantap.

Mahendra menatapnya lama, lalu mengangguk kecil. "Karena aku percaya padamu."

Di balik pintu, Kiara perlahan berdiri. Ia tidak benar-benar mengerti apa yang baru saja terjadi. Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada rasa asing yang muncul di dadanya—takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat ia pahami sepenuhnya.

Sore itu tetap kelabu. Hujan akhirnya turun perlahan, membasahi halaman rumah yang sunyi itu.

Dan tanpa disadari siapa pun sebuah janji telah terucap.

Janji yang suatu hari nanti… tidak hanya akan ditepati, tapi juga berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap dari yang pernah mereka bayangkan.

Beberapa hari setelah percakapan itu, rumah Kolonel Mahendra tidak lagi terasa seasing sebelumnya, setidaknya setiap kali satu sosok tertentu datang. Mobil dinas yang sama kembali berhenti di halaman, dan seperti biasanya, langkah kaki yang tegas itu memasuki rumah tanpa banyak suara. Namun kali ini, ada satu hal yang berbeda.

Begitu pintu terbuka, sepasang mata kecil langsung berbinar.

"Paman Kenan!"

Suara itu ringan, polos, dan penuh antusiasme. Kiara kecil berlari dari arah ruang tengah dengan langkah cepat yang sedikit ceroboh, rambutnya yang terurai bergoyang mengikuti gerakannya. Ia langsung berhenti tepat di depan Kenan, mendongak dengan senyum lebar yang terlalu tulus untuk dunia yang keras seperti tempat pria itu berasal.

Kenan yang biasanya kaku hanya menatapnya sebentar, seolah butuh waktu sepersekian detik untuk beradaptasi dari dunia militer ke dunia kecil milik anak itu. Lalu, tanpa sadar, sudut bibirnya sedikit terangkat.

"Pelan-pelan," ucapnya singkat.

Namun Kiara tidak peduli. Ia sudah lebih dulu menarik ujung lengan seragam Kenan, matanya berbinar penuh rasa penasaran. "Paman bawa apa lagi hari ini?" tanyanya tanpa basa-basi, nada suaranya penuh harap seperti anak kecil pada umumnya.

Kenan menghela napas pendek, hampir seperti kebiasaan. Ia membuka tas kecil yang ia bawa, lalu mengeluarkan sesuatu, sebuah kotak kecil berwarna cerah. Mata Kiara langsung membesar.

"Untukmu."

Hanya dua kata. Tapi cukup untuk membuat wajah kecil itu langsung bersinar.

Kiara menerimanya dengan kedua tangan, seperti menerima sesuatu yang sangat berharga. Ia membukanya dengan hati-hati, lalu tersenyum lebar saat melihat isinya. "Cokelat!" serunya senang, tanpa bisa menyembunyikan kebahagiaannya.

Dari dalam rumah, Mahendra yang memperhatikan hanya menggeleng pelan, namun ada senyum tipis di wajahnya. "Kau terlalu memanjakannya," ucapnya dari kejauhan.

Kenan berdiri tegap lagi, seolah kembali ke posisinya semula. "Hanya kebetulan, Pak."

"Hmm," gumam Mahendra, tidak benar-benar membantah.

Namun Kiara tidak peduli dengan percakapan orang dewasa itu. Ia sudah sibuk membuka bungkus cokelatnya, lalu dengan polosnya mengangkat satu potong ke arah Kenan. "Paman mau?"

Kenan terdiam sejenak.

Ia menatap tangan kecil itu, lalu menatap wajah Kiara yang menunggu dengan sabar. Ada sesuatu yang aneh, sesuatu yang jarang ia rasakan di medan perang atau ruang rapat.

Pelan, ia menggeleng. "Untukmu saja."

Kiara mengerucutkan bibirnya sedikit, lalu tanpa ragu memasukkan cokelat itu ke mulutnya sendiri. "Enak banget," gumamnya dengan pipi menggembung, seolah ingin memastikan Kenan menyesal tidak ikut mencicipi.

Hari itu, untuk pertama kalinya, Kenan tidak langsung menuju ruang kerja.

Ia duduk di ruang tengah.

Bersama seorang anak kecil.

Awalnya canggung. Jelas. Seorang pria militer yang terbiasa dengan perintah dan strategi kini duduk berhadapan dengan dunia kecil yang penuh hal-hal sederhana seperti gambar, mainan, dan cerita-cerita yang tidak ada hubungannya dengan perang.

"Aku gambar ini," kata Kiara tiba-tiba, menunjukkan sebuah kertas dengan coretan warna-warni. "Ini aku… ini Ayah… ini Paman."

Kenan sedikit mengernyit. "Itu aku?"

Kiara mengangguk cepat. "Iya! Yang tinggi itu Paman!"

Kenan menatap gambar itu beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Garisnya berantakan. Proporsinya tidak masuk akal. Tapi entah kenapa… ia tidak merasa ingin mengoreksi.

"Hm."

Hanya itu responsnya tapi Kiara tetap tersenyum, seolah itu sudah cukup.

Waktu berjalan tanpa terasa. Percakapan ringan itu terus berlanjut, meskipun lebih banyak Kiara yang berbicara dan Kenan yang mendengarkan. Tentang sekolahnya. Tentang teman-temannya. Tentang hal-hal kecil yang bagi dunia luar mungkin tidak penting tapi bagi anak itu, semuanya berarti.

Kadang, Kiara tertawa sendiri.

Kadang, ia bertanya hal-hal aneh.

Dan entah sejak kapan, Kenan mulai menjawab lebih dari satu kata.

"Paman kerja apa sih?" tanya Kiara suatu hari.

"Menjaga negara."

"Capek?"

"…tidak."

"Bohong," Kiara langsung menyahut. "Paman pasti capek."

Kenan terdiam. Lalu tanpa sadar, ia menghembuskan napas kecil.

"Sedikit."

Kiara tersenyum puas, seolah merasa menang.

Hari-hari seperti itu mulai berulang.

Setiap kali Kenan datang, Kiara akan selalu menjadi orang pertama yang menyambutnya. Kadang berlari, kadang hanya berdiri di ujung lorong menunggu. Dan setiap kali itu pula, tanpa disadari, langkah Kenan selalu melambat sedikit saat memasuki rumah itu seolah ia tahu, seseorang sedang menunggunya.

Kadang, Mahendra sengaja membiarkan mereka di ruang tengah lebih lama.

Kadang, Kiara diajak ke kantor.

Di sana, di antara meja dan berkas, dunia militer yang dingin terasa sedikit berbeda saat ada suara tawa kecil yang tidak seharusnya ada di tempat itu.

"Jangan lari," kata Kenan suatu kali saat Kiara berlari kecil di lorong kantor.

"Tapi bosan!" jawab Kiara tanpa berhenti. Kenan akhirnya menghela napas, lalu untuk pertama kalinya ia berjongkok di depannya.

"Aku temani."

Kiara langsung diam matanya membesar sedikit, lalu perlahan tersenyum.

"Janji?" Kenan menatapnya sebentar, lalu mengangguk.

"Janji."Dan tanpa ada yang benar-benar menyadari kapan tepatnya hubungan itu terbentuk, bukan hanya antara bawahan dan anak atasannya.

Bukan hanya antara orang dewasa dan anak kecil.

Tapi sesuatu yang lebih dekat.

Lebih personal, seperti paman dan keponakan.

Seperti seseorang yang tanpa sadar mulai menjadi tempat pulang. Dan jauh di masa depan, kenangan-kenangan sederhana itu akan menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit untuk dilupakan.

More Chapters