Ficool

Chapter 5 - 4. Masa Lalu Kenan Dan Kiara (part 4)

Malam datang lebih cepat dari yang seharusnya. Lampu di ruang kerja Mahendra masih menyala, memantulkan cahaya hangat yang terasa kontras dengan dinginnya suasana di dalam ruangan itu. Kali ini bukan berkas-berkas yang menjadi pusat perhatiannya; tumpukan dokumen tetap terbuka di atas meja, rapi seperti biasa, namun tidak satu pun disentuh. Tangannya diam di atas permukaan kayu itu, jemarinya tidak bergerak, seolah kehilangan arah, sementara pikirannya terus kembali pada satu hal yang sama, pada satu momen kecil yang seharusnya tidak berarti sebesar ini: cara Kiara menggenggam lengan seragam Kenan, sederhana namun terlalu jelas, seolah itu adalah tempat paling aman di dunia, sesuatu yang seharusnya adalah miliknya.

Bukan marah.

Bukan juga sekadar kehilangan.

Sesuatu di antara keduanya.

Ia menarik napas pelan, dalam, lalu menghembuskannya perlahan, mencoba menetralkan sesuatu yang tidak bisa ia namai dengan tepat. Namun anehnya, ia tidak merasa marah, tidak seperti yang ia bayangkan, tidak seperti yang seharusnya, dan itu justru membuat semuanya terasa lebih berat. Yang ada justru sesuatu yang lebih rumit, lebih sunyi, sebuah rasa asing yang perlahan tumbuh di dalam dadanya, tidak tergesa, tapi juga tidak bisa dihentikan, campuran antara kehilangan yang tidak pernah ia sadari sebelumnya dan kelegaan yang tidak ingin ia akui, bahkan pada dirinya sendiri.

Tidak sepenuhnya salah.

Tidak juga sepenuhnya benar.

Dan itu yang paling mengganggu.

Di sisi lain, jauh dari ruangan itu, Kenan berdiri di balkon rumahnya, masih mengenakan seragam yang sama seperti sejak pagi, kainnya bergerak pelan tertiup angin malam. Lampu kota berkelip samar di kejauhan, namun tidak cukup untuk mengalihkan pikirannya dari apa yang terus berputar di dalam kepalanya. Malam terasa terlalu sunyi, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kesunyian itu tidak menenangkan. Pikirannya tidak kacau karena tugas atau perintah, melainkan karena satu suara kecil yang terus terngiang tanpa henti, sederhana namun tidak bisa diabaikan.

"Janji?"

Satu kata.

Namun terlalu berat.

Rahangnya mengeras tipis saat ia menatap lurus ke depan, seolah mencoba mengembalikan dirinya pada keadaan semula. Ia tidak terbiasa membuat janji, terlebih janji yang tidak memiliki tujuan jelas, yang tidak berkaitan dengan strategi, apalagi kepada seorang anak kecil. Namun justru karena itu, kalimat itu terasa semakin mengikat, semakin menetap di benaknya, seperti sesuatu yang tidak bisa ia tarik kembali meskipun ia ingin.

Ia tidak biasa seperti ini.

Tidak untuk hal sekecil itu.

Tidak untuk seseorang seperti itu.

Langkah pelan terdengar dari dalam rumah, lembut namun cukup untuk menarik Kenan kembali ke realitas. "Masih belum tidur?" suara Nana terdengar dari ambang pintu, tenang seperti biasa, tanpa tekanan, tanpa tuntutan, namun tetap memiliki bobot yang tidak bisa diabaikan. Kenan menoleh, menemukan Nana berdiri dengan pakaian rumah sederhana, rambut tergerai alami, wajahnya datar dalam cara yang sulit dibaca.

"Kamu jarang seperti ini."

"Seperti sedang memikirkan sesuatu."

Bukan tuduhan.

Kenan tidak langsung menjawab. Ia hanya mengalihkan pandangannya kembali ke luar, membiarkan kalimat itu menggantung tanpa balasan. Nana tidak memaksa, tidak pernah, namun sebelum ia berbalik pergi, ia sempat berkata pelan, suaranya tetap tenang namun meninggalkan jejak yang tidak bisa diabaikan.

"Sudah malam, tidak usah terlalu banyak berpikir," bisik Nana pelan, suaranya lembut hampir menyatu dengan sunyi yang menggantung di dalam kamar. Ia memeluk Kenan dari belakang, lengannya melingkar dengan hati-hati di pinggang pria itu, seolah tidak ingin mengganggu, namun juga tidak ingin membiarkannya sendirian di dalam pikirannya sendiri. Dagu Nana bertumpu ringan di bahu Kenan, sementara napasnya hangat, kontras dengan dinginnya udara malam yang masuk samar dari celah jendela.

Kenan tidak langsung merespons.

Ia tetap berdiri di tempatnya, menatap ke luar tanpa benar-benar melihat apa pun. Sorot matanya jauh, terlalu jauh, seolah pikirannya masih tertinggal di tempat lain di lorong panjang kantor, pada suara tawa kecil yang tidak seharusnya menetap dalam ingatannya selama ini.

Pelukan Nana mengerat sedikit.

Pelan.

Hampir tak terasa.

"Dan hati-hati dengan sesuatu yang kau putuskan," lanjutnya lirih, suaranya tidak menekan, tidak juga menuntut, tapi cukup dalam untuk sampai ke tempat yang tidak bisa dijangkau oleh logika. "Pertimbangkan selalu."

Biasanya itu yang paling sulit dilepas.

Dan seringkali… sudah terlambat saat disadari.

Langkah Nana menjauh setelah itu, meninggalkan Kenan sendiri lagi di balkon, bersama malam dan pikirannya. Ia tidak langsung bergerak, tidak kembali masuk, hanya berdiri diam, dengan bayangan seorang anak kecil yang tersenyum lebar hanya karena sebuah janji sederhana, sesuatu yang seharusnya ringan… namun kini terasa terlalu nyata untuk diabaikan.

Dan tanpa ia sadari—

ia mulai menunggu hari esok.

Tanpa alasan jelas.

Tanpa perintah.

Namun tetap ia lakukan.

Keesokan harinya, suasana ruang kerja terasa sedikit berbeda meskipun tidak ada yang benar-benar berubah secara kasat mata. Kiara sudah duduk lebih awal dari biasanya, kakinya berayun pelan tanpa henti, matanya sesekali melirik ke arah pintu lalu kembali ke buku gambar di tangannya. Ia menggambar dengan serius, lebih fokus dari biasanya, menciptakan empat sosok dalam satu kertas—satu tinggi, satu sedang, satu kecil, dan satu lagi sedikit lebih kecil, dengan garis yang tidak rapi namun penuh makna yang tidak ia sadari sendiri.

Menunggu.

Dengan cara yang sederhana.

Namun sangat jelas.

Langkah kaki terdengar dari luar, tegas dan teratur, ritme yang terlalu familiar untuk tidak dikenali. Kiara langsung mengangkat wajahnya, cepat, matanya berbinar sebelum ia sempat menyembunyikannya. Pintu terbuka perlahan, dan di sana Kenan berdiri, tanpa perlu berkata apa pun, kehadirannya saja sudah cukup untuk mengubah suasana ruangan itu.

Ia datang.

Seperti yang dijanjikan.

Tanpa perlu diingatkan.

Kiara langsung berdiri dari kursinya, hampir menjatuhkan buku gambarnya, lalu berlari beberapa langkah kecil tanpa ragu. "Paman datang," ucapnya ringan dan tulus, seolah itu adalah sesuatu yang pasti terjadi. Di balik meja, Mahendra memperhatikan semuanya dalam diam, lebih tenang dari sebelumnya, namun kali ini berbeda—ia tidak hanya melihat, tidak hanya menilai, tidak lagi menahan.

Ia mulai memahami.

Perlahan.

Dan akhirnya… membiarkan.

Beberapa hari setelah itu, pagi datang dengan suasana yang jauh berbeda dari biasanya. Tidak ada langkah santai di lorong rumah dinas, tidak ada tawa kecil yang menyelinap di antara percakapan singkat. Udara terasa lebih dingin, lebih kaku, seolah bahkan waktu pun berjalan lebih pelan dari seharusnya. Mobil dinas yang berhenti di depan rumah membawa mereka ke satu tempat yang selama ini hanya menjadi latar samar dalam kehidupan Mahendra—rumah sakit militer, tempat di mana seragam dan wibawa tidak lagi cukup untuk menahan apa yang terjadi di dalam tubuh seseorang.

Perjalanan itu sunyi.

Terlalu sunyi.

Kenan duduk di kursi depan, tegap seperti biasa, namun kali ini tidak sepenuhnya tenang. Sesekali ia melirik ke kaca spion, melihat sosok kecil di kursi belakang yang duduk di samping Mahendra, menggenggam tangan ayahnya tanpa banyak bicara. Kiara tidak bertanya apa pun. Ia hanya diam, sesekali menatap keluar jendela, seolah mencoba memahami perubahan suasana yang tidak biasa ini dengan caranya sendiri.

Sederhana.

Namun terasa.

Rumah sakit militer Plamonia berdiri dengan kesan yang sama seperti bangunan militer lainnya, kokoh, teratur dan tanpa banyak ornamen yang tidak perlu. Lorongnya panjang, bersih, dan terlalu rapi, dipenuhi langkah-langkah yang teratur serta suara instruksi yang ditahan dalam nada rendah. Tidak ada kepanikan yang terlihat, tidak ada kekacauan, namun justru itu yang membuatnya terasa lebih berat, semua berjalan seperti biasa, bahkan ketika sesuatu yang tidak biasa sedang terjadi.

Kiara berjalan di samping Kenan kali ini.

Tangannya tidak lagi memegang ayahnya.

Melainkan seragam Kenan.

"Paman… ini tempat apa?" tanyanya pelan, suaranya lebih rendah dari biasanya.

"Rumah sakit," jawab Kenan singkat, namun nadanya lebih lembut dari biasanya. "Ayahmu mau diperiksa."

Kiara mengangguk kecil.

"Supaya cepat sembuh?"

Kenan tidak langsung menjawab.

Hanya satu detik.

"…iya."

Pendek.

Namun cukup untuk membuat Kiara kembali diam, menerima jawaban itu tanpa curiga, tanpa prasangka, seperti anak kecil pada umumnya yang percaya bahwa semua akan baik-baik saja selama orang dewasa mengatakan demikian.

Mahendra dibawa masuk ke ruang pemeriksaan setelah beberapa prosedur awal yang berjalan cepat dan teratur. Seorang dokter militer yang sudah tidak asing baginya berdiri di dalam, wajahnya tenang, namun ada sesuatu di balik ketenangan itu sesuatu yang terlalu profesional untuk disebut cemas, namun juga terlalu berat untuk diabaikan.

Kenan dan Kiara menunggu di luar.

Pintu tertutup.

Dan suasana berubah.

Di dalam ruangan itu, Mahendra duduk di atas tempat periksa, seragamnya masih rapi, namun kini tidak lagi menjadi simbol kekuatan yang tak tergoyahkan. Dokter di depannya membuka berkas medis, matanya bergerak cepat membaca hasil pemeriksaan terbaru, sebelum akhirnya menarik napas pelan.

"Pak Mahendra," ucapnya hati-hati, nada suaranya tetap profesional, namun jelas memilih kata dengan lebih teliti. "Kondisi jantung Bapak menunjukkan perkembangan yang tidak kita harapkan."

Mahendra tidak terkejut.

Tidak benar-benar.

Ia hanya menatap lurus ke depan, menunggu kelanjutan kalimat itu tanpa menyela.

Dokter melanjutkan, kali ini lebih jelas. "Bapak mengalami gagal jantung kongestif. Jantung Bapak sudah tidak mampu memompa darah secara optimal, dan dari hasil terakhir… fungsi jantungnya menurun cukup signifikan."

Hening.

Pendek.

Namun padat.

"Seberapa parah?" tanya Mahendra akhirnya.

Langsung.

Tanpa berputar.

Dokter menutup berkas itu perlahan, lalu menatapnya dengan lebih serius. "Jika kita lihat dari hasil ekokardiografi terakhir, fraksi ejeksi jantung Bapak berada di bawah normal secara signifikan. Ini menunjukkan bahwa kemampuan pompa jantung Bapak sudah sangat melemah."

Mahendra tidak bergerak.

Tidak bereaksi.

"Dan kondisi ini… bersifat progresif," lanjut dokter itu. "Artinya, tanpa penanganan intensif, akan terus memburuk seiring waktu."

"Penanganannya?" tanya Mahendra lagi.

"Obat-obatan bisa membantu memperlambat," jawab dokter jujur. "Namun untuk tahap seperti ini… kita juga harus mulai mempertimbangkan opsi yang lebih serius."

Mahendra menatapnya.

Diam.

"Seperti?"

Dokter menarik napas pelan.

"Transplantasi jantung… atau tindakan lanjutan yang sifatnya invasif."

Kalimat itu jatuh begitu saja.

Tanpa dramatis.

Namun beratnya terasa memenuhi seluruh ruangan.

Mahendra akhirnya mengalihkan pandangannya sedikit, bukan karena terkejut, tapi karena sesuatu di dalam dirinya mulai menyusun ulang kenyataan yang selama ini ia tahan. Untuk pertama kalinya, ada jeda yang lebih panjang dalam dirinya, bukan karena ia tidak mengerti, tapi karena ia terlalu mengerti.

"Berapa lama?" tanyanya pelan.

Pertanyaan yang sebenarnya sudah ia tahu jawabannya tidak akan sederhana.

Dokter tidak langsung menjawab.

Hanya beberapa detik.

"Sulit dipastikan, Pak," ujarnya akhirnya. "Tapi… dengan kondisi saat ini, kita tidak bisa lagi berbicara dalam hitungan panjang."

Hening kembali turun.

Lebih berat dari sebelumnya.

Mahendra mengangguk kecil.

Sekali seolah itu cukup.

Di luar ruangan, Kiara masih duduk diam di kursi tunggu, kakinya tidak lagi berayun seperti biasanya. Tangannya memegang ujung seragam Kenan, lebih erat dari sebelumnya, seolah tanpa sadar ia mencoba mencari sesuatu yang bisa ia genggam di tengah suasana yang tidak ia mengerti sepenuhnya.

"Paman…"

Kenan menoleh.

"Lama ya?"

"…sebentar lagi."

Jawaban yang sama namun kali ini terasa berbeda.

Dan di balik pintu yang tertutup itu, sebuah kenyataan yang selama ini hanya berupa kemungkinan yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa lagi dihindari.

Mobil dinas itu kembali melaju meninggalkan halaman rumah sakit, membelah jalanan sore yang mulai padat dengan ritme yang tetap stabil, seolah tidak terpengaruh oleh apa pun yang baru saja terjadi. Dari luar, semuanya terlihat sama—kendaraan berlalu-lalang, langit mulai berubah warna, dan suara kota perlahan kembali hidup. Namun di dalam mobil itu, suasananya berbeda. Lebih hening. Lebih padat oleh sesuatu yang tidak terucap. Mahendra duduk di kursi belakang, tubuhnya sedikit bersandar, satu tangannya terletak di paha sementara yang lain diam di sampingnya. Di sebelahnya, Kiara tidak lagi memandang ke luar jendela seperti saat berangkat tadi. Kali ini, matanya tertuju pada satu hal—ayahnya. Terus-menerus. Diam. Mengamati dengan cara yang tidak lagi sepenuhnya polos.

Tidak banyak bergerak.

Tidak banyak bicara.

Hanya… memperhatikan.

Kenan yang duduk di depan menangkap itu dari pantulan kaca spion. Awalnya hanya sekilas, tapi kemudian ia menyadari bahwa tatapan itu tidak berpindah sejak mereka keluar dari rumah sakit. Ada sesuatu yang berubah menjadi halus, tapi jelas. Sudut bibirnya terangkat sedikit, lalu ia menghembuskan napas pendek, hampir seperti tawa kecil yang ditahan.

"Ada apa?" tanyanya ringan, tanpa menoleh, namun cukup untuk memecah keheningan yang terlalu lama menggantung.

Kiara tidak langsung menjawab.

Hanya satu detik.

Dua detik.

Lalu, tanpa peringatan, ia bergeser mendekat dan langsung memeluk Mahendra erat, kedua lengannya melingkar di tubuh ayahnya dengan kekuatan yang tidak biasa untuk ukuran seorang anak kecil. Gerakannya cepat, refleks, seolah keputusan itu sudah lama terbentuk di dalam dirinya tanpa ia sadari.

"Ayah…" suaranya pelan, sedikit teredam di dada Mahendra. "Ayah harus rajin minum obatnya dokter ya…"

Mahendra sedikit terkejut.

Sangat kecil.

Namun terasa.

"…biar dadanya tidak sakit lagi," lanjut Kiara, kali ini lebih pelan, hampir seperti bisikan, tapi cukup jelas untuk membuat udara di dalam mobil itu terasa berubah.

Hening.

Pendek.

Namun berat.

Mahendra tidak langsung bergerak. Tangannya yang tadi diam perlahan terangkat, ragu sesaat, sebelum akhirnya mendarat di punggung kecil itu. Hangat. Nyata. Ia menarik napas pelan, lebih dalam dari biasanya, seolah ada sesuatu yang tertahan di dadanya bukan rasa sakit, tapi sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak ia duga akan datang dari anak sekecil ini.

"Kamu dengar, ya…" gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada bertanya.

Kiara mengangguk kecil dalam pelukannya.

"Iya… Ayah sering pegang dada… terus diam," ucapnya jujur, polos, tanpa beban, tanpa menyadari betapa dalam kalimat itu menembus.

Mahendra menutup matanya sebentar.

Hanya sebentar.

Lalu membuka kembali, kali ini dengan ekspresi yang lebih tenang, lebih lembut dari sebelumnya. Tangannya mengusap pelan punggung Kiara, ritmenya lambat, menenangkan.

"Ayah tidak apa-apa," ucapnya akhirnya, suaranya rendah, hangat, dengan keyakinan yang sengaja ia bentuk untuk didengar oleh anak itu. "Cuma sedikit capek saja."

Kiara tidak langsung melepas pelukannya.

Masih erat.

Seolah tidak sepenuhnya percaya.

Mahendra tersenyum tipis, lalu sedikit menarik tubuh Kiara agar bisa melihat wajahnya. Jemarinya mengusap rambut anak itu dengan pelan, merapikannya tanpa sadar.

"Ayah kuat," lanjutnya lebih lembut. "Kamu tidak perlu khawatir."

Kalimat itu sederhana.

Namun penuh usaha.

Di kursi depan, Kenan tidak berkata apa-apa lagi. Tawa kecilnya sudah hilang sejak tadi, digantikan oleh keheningan yang berbeda, lebih dalam, lebih sadar. Matanya kembali lurus ke depan, namun sesekali masih melirik ke kaca spion, memperhatikan dua sosok di belakang itu tanpa ikut campur.

Mobil itu terus melaju.

Membawa mereka pulang.

Namun sesuatu di dalamnya sudah berubah

pelan, hampir tak terlihat,

tapi pasti.

More Chapters