Ficool

Chapter 2 - Batch 1:Misteri Pabrik Ikan Minyak

Lima puluh lima tahun telah berlalu sejak dunia kehilangan kewarannya.

​Di ketinggian stratosfer yang kini sesak oleh anyaman kabel internet nirkabel antar galaksi, sosok Bayangan Tanpa Nama itu akhirnya memiliki eksistensi legal. Di atas kartu identitas luar angkasanya, terukir satu nama singkat yang dingin: Ss.

​Tak ada lagi air mata untuk Fluffy. Ss kini duduk tenang di dalam kokpit roket pribadinya—sebuah mahakarya teknologi yang digerakkan oleh mesin berbahan bakar keringat dingin tupai. Untuk menyentuh daratan, ia harus melewati perhitungan navigasi yang sangat presisi: 19 jam dibagi 500.000. Secara matematis, perjalanan itu hanyalah sebuah kedipan mata sebesar 0,13 detik.

​WUSH!

​Sebelum sempat Ss menyelesaikan satu kedipan, roketnya menghantam daratan dengan dentuman halus di sebuah wilayah yang dikenal sebagai Papua Zz. Begitu pintu kokpit terbuka, sebuah cakrawala industri yang ganjil membentang di depan matanya. Sebuah logo raksasa berbentuk Tupai berdiri angkuh di atas gerbang utama, menyambut kedatangannya.

​Itulah Pabrik Ikan Mas Buatan. Sebuah tempat di mana air adalah benda terlarang. Di sana, jutaan ikan mas diciptakan bukan dari telur, melainkan dari kucuran minyak kental—sebuah warisan kelam dari "Insiden Sendok" 55 tahun silam yang kini telah dikomersilkan secara massal.

​Ss melangkah turun. Sepatunya tenggelam dalam aspal yang memiliki tekstur lengket seperti selai kacang. Sambil menatap asap pabrik yang membubung dalam bentuk segitiga sempurna, ia menggumamkan sebuah pertanyaan filosofis yang baru:

​"Hmm... Jadi sekarang, apa yang bisa terbang tapi memakai sepatu bot yang belum dicuci selama 55 bulan?"

​Seketika, seolah mendengar sebuah mantra terlarang, sekawanan Tupai Pekerja berseragam montir menyerbu keluar dari gudang. Mereka tidak membawa kunci inggris atau alat berat. Di pundak kecil mereka, terpikul berpasang-pasang sepatu bot kulit dengan aroma yang mampu melumpuhkan seekor gajah dalam radius dua kilometer. Itu adalah aroma murni dari 55 bulan tanpa sentuhan sabun.

​Para tupai itu mendekat, menyodorkan sepatu-sepatu busuk itu ke hadapan Ss dengan penuh kesantunan. "Cicit! (Makan bareng, Bos?)" tawar mereka melalui bahasa isyarat kumis yang rumit.

​Ss segera menutupi hidungnya dengan sikut, wajahnya sedikit mengkerut. "Tidak, terima kasih. Saya sedang menjalani diet kulit samak."

​Kecewa karena penolakan itu, para tupai tersebut tidak membuang waktu. Mereka memulai pesta pora di tempat. KRAUK! NYAM! Gigi-gigi kecil mereka menghancurkan karet dan kulit tua itu dengan beringas, seolah-olah sedang mengunyah biskuit cokelat yang renyah.

​Namun, kegembiraan itu terhenti secara mendadak.

​Dari langit Papua Zz yang berwarna ungu neon, meluncur seekor Katak yang menentang segala hukum biologi. Katak itu tidak melompat; ia melayang stabil di udara berkat dua helai bulu burung elang yang menempel di punggungnya. Meski hanya dua helai, daya angkatnya tampak jauh lebih perkasa dibanding mesin Boeing mana pun.

​Sang Katak mendarat dengan ekspresi murka yang sangat nyata, meski wajahnya hanya seukuran koin. "KROAK! (ITU SEPATU KANTOR SAYA!)" teriaknya dalam frekuensi yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang jiwanya sudah melintasi batas logika.

​Dengan gerakan kilat, Katak itu merangsek maju, merebut paksa sepatu botnya yang sudah bolong-bolong akibat digerogoti. Dengan sisa harga diri yang ada, ia memasukkan kaki mungilnya ke dalam bot raksasa yang hancur itu. Ia berdiri dengan goyah, menyeret sepatu rusak itu di atas genangan minyak ikan mas yang kental.

​Ss tidak bergerak sedikit pun. Ia hanya mematung, menatap langit di mana cahaya fajar mulai menyingsing dengan aneh—menampilkan matahari yang berbentuk persis seperti telur mata sapi.

​"Bulan sudah pagi," ucap Ss dengan nada datar sembari merogoh saku pakaiannya yang kosong. "Artinya... Katak adalah kodok yang digunakan sebagai telepon. Turru ru turu... Turru ru turu..."

​Tanpa ragu, ia mengangkat kaki dan menempelkan jempol kakinya ke telinga, seolah-olah sedang menunggu jawaban dari seorang operator di ujung dimensi yang lain.

More Chapters