Ficool

Chapter 1 - Batch 0:Prolog

​Di ketinggian 230 kilometer di atas permukaan laut, tepat di titik di mana atmosfer Bumi menyerah dan luar angkasa mulai sombong, terdapat sebuah wilayah bernama Papua Nenkeu. Di sini, udara adalah barang mewah yang harus dipesan melalui aplikasi ojek online dua minggu sebelumnya—itu pun jika driver-nya punya roket yang cukup bensin.

​Di tengah kesunyian hampa udara yang dinginnya sanggup membekukan rindu, berdirilah seorang Bayangan Tanpa Nama.

​Ia sedang berduka.

​Di hadapannya, tergeletak Fluffy. Seekor ikan mas koki yang malang. Fluffy baru saja tewas lima puluh lima detik yang lalu karena matanya copot akibat tekanan udara, lalu menempel kembali secara terbalik. Sebuah kematian yang artistik, namun tragis.

​Si Bayangan memegang senjata pamungkasnya: sebuah sendok makan stainless steel standar warteg.

​Kring… Kring… Kring…

​Bunyi sendok beradu dengan tanah beku kosmik itu bergema hanya di dalam kepalanya, karena suara tidak merambat di sini. Di tengah ritual penguburan Fluffy, sebuah pemikiran filosofis mendadak muncul dan menghantam otaknya lebih keras dari meteorit.

​"Tunggu dulu," gumamnya, suaranya parau seperti radio rusak. "Kalau dipikir-pikir… apa yang keras, bisa dimakan, tapi bisa jadi minyak? Apa itu?"

​Pertanyaan itu menggantung, lebih berat dari satelit cuaca yang kebetulan lewat di atas kepalanya. Sendok di tangannya diam. Fluffy yang bermata terbalik juga diam.

​Tiba-tiba, seekor Tupai Stratosfer melesat dari balik batu meteorit. Tupai itu mengenakan kacamata aviator mini dan syal rajutan, seolah-olah dia sedang bersiap untuk kencan di nebula terdekat. Dengan gerakan kungfu tingkat dewa, si Tupai merebut sendok dari tangan Bayangan Tanpa Nama.

​"Hei! Itu sendok buat ngubur Fluffy!" teriak si Bayangan.

​Si Tupai tidak peduli. Baginya, logam adalah karbohidrat kompleks.

​KRAUK!

​Tupai itu menggigit gagang sendok seolah itu adalah kerupuk udang renyah. Nyam… nyam… nyam… Logika fisika menangis melihat pemandangan ini. Logam dingin itu tertelan dalam sekali teguk.

​Si Bayangan mundur selangkah. "Kamu… makan sendoknya? Terus Fluffy gimana?"

​Tupai itu berhenti sejenak. Matanya mendadak berbinar aneh. Dari dalam perutnya, terdengar bunyi mesin diesel tahun '80-an yang sedang mencoba starter di pagi buta. Bruk… Bruk… Groook…

​Lalu, keajaiban (atau kutukan) terjadi.

​Cairan kental berwarna keemasan mulai mengucur deras dari mulut si Tupai. Baunya campuran antara bensin, margarin cair, dan sedikit aroma melati yang menyesakkan.

​"Itu… Minyak?"

​Ya. Itu adalah Minyak Mentah Kualitas Super (RON 100). Reaksi antara asam lambung purba si Tupai dan stainless steel warteg menciptakan bahan bakar fosil instan. Minyak itu membanjiri tanah, dan secara tragis, menggenangi jasad Fluffy. Kini, Fluffy tidak hanya mati karena hampa udara, tapi juga sedang digoreng mentah-mentah dalam minyak mentah.

​BURP!

​Si Tupai bersendawa asap hitam, melempar sisa kepala sendok yang penyok, lalu kabur mencari garpu untuk hidangan penutup.

​Si Bayangan Tanpa Nama berdiri terpaku. Ia menatap botol minumnya, lalu menatap genangan minyak itu.

​"Jadi…" jawabnya pada pertanyaan filosofisnya tadi. "Apa yang keras tapi bisa dimakan dan jadi minyak? Sendok. Kalau dimakan tupai stratosfer."

​Ia menghela napas, mulai menyendok minyak emas itu ke dalam botolnya. "Setidaknya, aku tidak perlu beli bensin untuk roket pulang nanti."

​Fluffy dibiarkan di sana. Menjadi monumen abadi bagi absurditas alam semesta di ketinggian 230 Kilometer.

More Chapters