Langit Jakarta di penghujung tahun 1990 selalu punya cerita yang nggak ada habisnya.
Bukan cuma tentang gedung-gedung yang mulai menjulang tinggi atau deru kendaraan yang kian padat, tapi juga tentang aroma senja yang khas, bercampur baur sama wangi petrichor abis hujan sore, dan kadang, bau asap knalpot bemo yang lewat.
Buat Dirgantara, atau yang akrab disapa Dirga, langit itu adalah kanvas bisu yang nyimpan segala rahasia, termasuk rahasia hatinya yang kala itu masih polos, belum terjamah sama rumitnya perasaan.
SMA Bhakti Jaya, tempat Dirga ngabisin hari-harinya, adalah miniatur dari Jakarta itu sendiri. Ada hiruk pikuk, ada tawa riang, ada juga drama-drama kecil yang nggak pernah absen. Dirga, dengan rambut belah tengah yang sedikit gondrong—gaya yang lagi hits kala itu—dan kemeja putih yang selalu kusut dengan dua kancing teratas terbuka, adalah tipikal siswa yang paling ditakuti sekaligus paling dihormati.
Dia bukan populer karena jago pelajaran atau punya senyum ramah, melainkan karena dia ketua Geng Elang Malam, geng motor paling disegani di seantero Jakarta Timur.
Reputasinya udah kayak legenda, bahkan pernah denger cerita kalau guru BP yang coba mukul dia, malah balik dihajar habis-habisan sampai bokap nyokapnya turun tangan ke sekolah.
Nggak ada yang berani macem-macem sama dia, termasuk guru-guru.
Sore itu, kayak biasa, Dirga duduk di bangku panjang kantin yang udah kosong melompong. Cuma ada Bi Sumi, penjaga kantin, yang lagi beresin sisa-sisa dagangan.
Di tangannya tergenggam sebatang rokok kretek, asapnya mengepul tipis, sementara matanya menatap kosong ke arah gerbang sekolah, nungguin anak buahnya yang biasanya udah siap sedia nganterin dia pulang.
"Dirga, belum pulang, Nak?" sapa Bi Sumi, suaranya serak tapi hangat.
Dirga noleh, senyum tipis. "Belum, Bi. Nungguin si Jono sama si Gareng.
Bi Sumi terkekeh.
"Ada-ada aja lo ini. Jangan sampe kemaleman, nanti dicariin Ibu.
"Santai, Bi!" balas Dirga, lalu balik fokus ke gerbang.
Dia suka momen-momen kayak gini, tenang, damai, dan seolah waktu berhenti sejenak. Di tengah kesunyian itu, sebuah suara lembut memecah lamunannya.
"Permisi, bangku ini kosong?"
Dirga sedikit terlonjak, lalu noleh. Matanya langsung ketemu sama sepasang mata bening yang mancarin keraguan.
Di hadapannya berdiri seorang gadis, seragam putih abu-abu yang sedikit kebesaran, rambut hitam panjang yang dikepang dua, dan sebuah tas ransel usang yang keliatan berat.
Wajahnya mungil, dengan poni rata yang nutupin dahinya.
Dia adalah Kirana, siswi baru kelas 10 yang baru pindah dua minggu lalu.
Dirga tahu dia, Kirana kelas 10B, sementara dia sendiri kelas 11A. Beda kelas, tapi satu sekolah.
Belum pernah interaksi langsung, tapi Dirga sering denger namanya disebut-sebut karena kecantikannya yang kalem.
"Eh, iya, kosong kok, santai aja," jawab Dirga, sedikit canggung. Dia ngegeser rokoknya biar gadis itu bisa duduk.
Kirana senyum tipis, lalu naro tasnya di samping bangku dan duduk dengan hati-hati.
Dari gerak-geriknya, Dirga bisa ngerasain aura pemalu yang kuat dari gadis itu, tapi entah kenapa, ada sesuatu yang bikin dia penasaran.
"Makasih ya," ucap Kirana pelan.
"Sip," balas Dirga, lalu balik natap gerbang, nyoba ngusir kecanggungan yang tiba-tiba nyelimutin.
Tapi, entah kenapa, kehadiran Kirana di sampingnya bikin sore itu kerasa sedikit beda, lebih hidup, mungkin?
Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Dirga sesekali ngelirik Kirana dari sudut matanya.
Gadis itu nggak ngapa-ngapain, cuma duduk tegak, natap lurus ke depan, seolah lagi nungguin sesuatu, atau seseorang.
"Nungguin jemputan, ya?" tanya Dirga, akhirnya memberanikan diri.
Kirana sedikit kaget, lalu noleh padanya.
"Iya. Bokap gue masih di kantor."
"Oh, gitu," Dirga ngangguk-ngangguk.
"Biasanya jam segini kantin udah sepi banget, lho. Lo nggak takut sendirian?"
"Iya gue tahu," Kirana senyum lagi, kali ini lebih lebar. "Tapi gue suka di sini. Adem, terus bisa ngelihat orang-orang pulang.
Dirga ngerasa ada koneksi kecil yang terjalin. "Gue juga. Suka ngelihat orang-orang pulang dari sini. Kayak nonton sinetron gratis.
Kirana ngikutin arah pandang Dirga ke gerbang sekolah. "Ramai ya sore ini. Banyak cerita kayaknya.
"Banget," sahut Dirga. "Kayak sinetron yang berubah-ubah tiap hari, nggak pernah tamat.
"Iya, sinetron yang nggak pernah tamat," tambah Kirana, suaranya kedengeran lebih santai. Obrolan kecil itu berlanjut, mereka ngobrolin hal-hal sederhana: pelajaran yang ngebosenin, guru-guru yang galak, lagu-lagu yang lagi populer di radio, sampe film-film Warkop DKI yang selalu berhasil bikin ngakak.
Dirga nemuin kalo di balik sikap pemalunya, Kirana adalah gadis yang cerdas dan punya selera humor yang unik.
Dia juga punya cara pandang yang menarik tentang banyak hal, termasuk tentang kehidupan sekolah yang menurut Dirga cuma gitu-gitu aja.
"Lo suka musik apa?" tanya Dirga.
"Macem-macem sih.
Tapi lagi suka banget sama Dewa 19. Album Format Masa Depan itu gila abis," jawab Dirga antusias. "Lo?"
"Gue suka KLa Project. Lirik-liriknya puitis," kata Kirana, matanya menerawang. "Terus, gue juga suka lagu-lagu Barat. Kayak Bon Jovi, Guns N' Roses.
"Wah, selera kita nyambung!" seru Dirga, ngerasa makin akrab. "Nanti kalo ada kaset baru, gue pinjemin deh. Tapi lo juga harus pinjemin gue kaset KLa Project.
Kirana ketawa kecil. "Boleh. Gue juga punya beberapa kaset yang mungkin lo suka. Nanti gue bawa besok.
Percakapan mereka ngalir gitu aja, tanpa beban. Dirga ngerasa nyaman di deket Kirana.
Gadis itu nggak banyak omong, tapi setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu punya makna.
Dia bukan tipe gadis yang suka nyari perhatian, tapi kehadirannya justru narik perhatian Dirga, bikin dia lupa sama rokok kreteknya yang udah mati.
Nggak kerasa, langit udah bener-bener gelap. Lampu-lampu kantin mulai dinyalain, dan Bi Sumi udah selesai sama kerjaannya.
"Dirga, Kirana, ati-ati ya pulangnya," pamit Bi Sumi.
"Iya, Bi!" jawab mereka serempak.
Nggak lama kemudian, sebuah mobil sedan tua berwarna biru berhenti di depan gerbang sekolah. Kirana berdiri.
"Itu bokap gue," katanya. "Gue duluan ya, Dirga.
"Oke. Ati-ati ya, Kirana," ucap Dirga.
Kirana ngangguk, lalu ngambil tasnya dan jalan menuju gerbang. Sebelum bener-bener ngilang, dia sempet noleh ke belakang, ngelambain tangan ke Dirga. Dirga bales lambaian itu, dan sebuah senyum tipis terukir di bibirnya.
Setelah Kirana pergi, kantin balik sunyi. Tapi, kesunyian itu kini kerasa beda. Ada sesuatu yang ketinggalan, sesuatu yang hangat dan nyenengin. Dirga balik natap langit malem yang bertaburan bintang.
Dia nggak tahu kenapa, tapi dia ngerasa ada sesuatu yang baru aja dimulai. Sebuah perasaan yang belum pernah dia rasain sebelumnya.
Nggak lama kemudian, suara deru motor mulai terdengar. Jono dan Gareng, anak buahnya, datang dengan motor RX-King mereka.
"Sorry, Bos, telat dikit. Tadi ada urusan sama anak sekolah sebelah," kata Jono, sambil nyengir.
Dirga cuma ngangguk, lalu naik ke motornya. Meninggalkan kantin dan langit malam yang kini terasa lebih berarti.
Malam itu, pas Dirga pulang ke rumah, dia nggak langsung ngebuka komik Dragon Ball-nya. Dia justru duduk di teras, natap langit yang sama, tapi dengan perasaan.
yang beda. Nama Kirana muter-muter di benaknya, seolah udah terukir di setiap sudut pikirannya. Dia inget tawa kecil gadis itu, matanya yang bening, dan cara ngomongnya yang lembut.
Dirga tahu, ini bukan sekadar pertemuan biasa. Ada sesuatu yang istimewa dari Kirana, sesuatu yang perlahan-lahan mulai ngubah cara pandangnya tentang banyak hal, termasuk tentang cinta. Dia nggak tahu apa yang bakal terjadi selanjutnya, tapi satu hal yang pasti: langit tahun 1990 itu, kini nggak cuma nyimpen rahasia senja, tapi juga nama seorang gadis yang baru aja masuk ke dunianya. Dan Dirga, dengan segala kepolosannya yang tersembunyi di balik sikap bad boy-nya, siap nyambut setiap babak baru yang bakal terbentang
