Ficool

Chapter 17 - Bab 17: Paradoks Kebebasan

Tiga bulan setelah Ija mengambil alih otoritas sebagai Administrator, realitas baru yang ia bangun berjalan cukup stabil. Namun, sebagai sesama makhluk yang memiliki "kehendak bebas", Ija menyadari bahwa memberikan kebebasan pada triliunan entitas di galaksi adalah pedang bermata dua.

Di dek utama kapal The Anomaly, Ija duduk sambil menatap layar monitor yang menampilkan berbagai titik api konflik di Sektor 7 dan Sektor 9.

"Tuan, tingkat kejahatan meningkat 400 persen," lapor Xora, yang kini memiliki tubuh fisik berupa android dengan kecerdasan yang sangat manusiawi. "Sejak kau menghapus batasan 'Sistem Kepatuhan', penduduk di Planet Vespera mulai melakukan perang saudara hanya untuk memperebutkan akses ke sumber daya."

Ija memijat pelipisnya. Ia tidak lagi memakai jubah hitam misteriusnya, melainkan jaket kasual yang membuatnya tampak seperti pemuda biasa—meskipun aura di sekelilingnya tetaplah aura penguasa galaksi.

"Dulu mereka tidak bertarung karena diprogram untuk patuh," gumam Lyra yang sedang mengasah pedangnya di sudut ruangan. "Sekarang mereka bertarung karena mereka ingin bertarung. Ini ironis, Ija."

"Itulah harga dari kehendak bebas," sahut Aria lembut. Ia baru saja kembali dari planet medis, membawa laporan tentang wabah baru yang muncul karena ketidakstabilan data yang tersisa dari simulasi lama.

Scarlett masuk ke ruangan dengan wajah serius. "Ija, ada tamu. Dia tidak datang lewat gerbang teleportasi, dia datang lewat celah dimensi yang bahkan Xora tidak bisa lacak."

Ija berdiri. "Tamu? Di wilayah kekuasaanku?"

Di ruang tunggu, berdiri seorang pria dengan pakaian serba putih—sangat kontras dengan estetika galaksi Ija. Pria itu tidak terlihat seperti robot, namun ia tidak memiliki "tanda kehidupan" apa pun di sistem sensor Ija.

"Siapa kau?" tanya Ija dingin.

Pria itu tersenyum, sebuah senyuman yang terasa sangat asing. "Aku hanyalah seorang pengamat, Ija. Kau telah merusak keseimbangan. Kau pikir kau sudah bebas karena telah mengalahkan Arsitek? Kau salah. Kau hanya baru saja membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar."

"Ancaman dari luar simulasi?" tanya Ija, matanya memancarkan cahaya emas.

"Bukan ancaman. Sebuah pengadilan," jawab pria itu sebelum tubuhnya menguap menjadi jutaan partikel cahaya.

Ija terdiam. Ia baru saja menyadari bahwa tugasnya sebagai Administrator belum selesai. Jika dunia ini sudah nyata, maka dunia ini kini menjadi bagian dari rantai kosmik yang lebih besar—dan mereka baru saja menarik perhatian pihak yang seharusnya tidak diganggu.

"Xora," panggil Ija.

"Ya, Tuan?"

"Siapkan koordinat untuk lompatan ke The Great Void. Kita tidak bisa membiarkan pengadilan itu datang ke sini. Kita yang akan mendatangi mereka."

Lyra, Scarlett, dan Aria menatap Ija. Mereka tahu, kedamaian hanyalah ilusi singkat.

"Kau tidak akan pergi sendiri," kata Scarlett sambil memasang sarung tangan tempurnya.

Ija tersenyum tipis. "Tentu saja tidak. Kita punya 183 bab lagi untuk memastikan dunia ini tidak runtuh, kan?"

More Chapters