Ficool

Chapter 6 - Bab 6: Debu di Atas Bilah Emas

Ruang bawah tanah Fasilitas Delta itu kini terasa seperti sebuah kotak besi yang siap meledak. Suhu udara menurun drastis, bukan karena mesin pendingin, melainkan karena kehadiran dua entitas yang memiliki tekanan jiwa luar biasa. Di satu sisi, Ye Chen berdiri dengan pedang emasnya yang mendesis, membelah partikel udara di sekitarnya. Di sisi lain, Ling Feng berdiri dengan santai, namun setiap embusan napasnya seolah-olah membawa berat dari sebuah gunung purba.

Dr. Aris, dari balik kaca monitor di ruang kontrol yang kini mulai retak, menatap layar dengan mata terbelalak. "Aktifkan semua sensor! Aku ingin data akurat tentang frekuensi energi pemuda itu! Ye Chen adalah mahakarya kita yang paling murni, dia tidak mungkin kalah dari seorang bocah Keluarga Ling!"

Namun, di dalam ruangan itu, Ye Chen tidak merasa seperti seorang mahakarya. Ia merasa seperti seekor kelinci yang sedang diawasi oleh seekor naga langit. Ia menggenggam gagang pedangnya lebih erat, hingga buku-buku jarinya memutih.

"Aku telah menghabiskan dua puluh tahun di bawah air terjun es hanya untuk memahami satu garis tebasan," Ye Chen memulai, suaranya berat dan bergema. "Aku tidak peduli siapa kau, tapi di depan Niat Pedang-ku, semua kesombonganmu akan terbelah!"

Ye Chen melangkah maju. Seketika, lantai baja di bawah kakinya tergores secara otomatis oleh angin tajam yang keluar dari tubuhnya. Ia mengangkat pedangnya setinggi dada, membiarkan cahaya emas menyelimuti seluruh ruangan. Cahaya itu begitu terang hingga Dr. Aris harus menyipitkan mata untuk melihat monitor.

Ling Feng menatap cahaya itu dengan tatapan yang sangat menghina. Dalam pikirannya yang merupakan sisa-sisa memori Penguasa Alam Atas, ia segera membedah hierarki dangkal yang selama ini diagung-agungkan oleh para praktisi di planet ini:

* Tahap Manifestasi (Pedang Aura): Level dasar bagi mereka yang baru bisa mengalirkan Qi ke benda mati. Pedang mereka akan bersinar atau mengeluarkan hawa panas. Di dunia modern, ini adalah standar bagi para pengawal elit dan pembunuh bayaran tingkat tinggi.

* Tahap Niat (Sword Intent): Seperti posisi Ye Chen saat ini. Mereka tidak lagi hanya mengandalkan kekuatan otot, tapi sudah memiliki "Tekad" yang bisa memengaruhi mental lawan. Di tahap ini, sebuah tebasan bisa membelah peluru atau beton tanpa menyentuh fisiknya secara langsung. Bagi praktisi Bumi, ini adalah puncak Kelas Emas.

* Tahap Kesatuan (Heart Sword): Sebuah tingkatan legenda yang dianggap mustahil dicapai sebelum usia seratus tahun. Tahap di mana pedang dan tubuh adalah satu kesatuan tanpa celah. Hanya mereka yang berada di Kelas Raja yang konon bisa menyentuh ambang pintu ini.

* Tahap Kehampaan (Void Blade): Dongeng kuno bagi manusia Bumi. Membunuh tanpa pedang, memotong hanya dengan pikiran. Sebuah konsep yang dianggap fiksi oleh catatan sejarah mana pun.

Ling Feng mendengus sinis, tawa kecilnya terdengar sangat meremehkan di tengah keheningan yang mencekam itu.

"Kau bangga berada di Tahap Niat, Ye Chen? Kau merasa telah mencapai puncak karena pedangmu bisa bersinar seperti lampu jalanan?" Ling Feng melangkah perlahan, setiap pijakannya membuat lantai baja melengkung sedalam lima sentimeter. "Bagiku, kau hanyalah anak kecil yang baru belajar cara memegang ranting pohon. Kau bilang itu Niat Pedang? Biar kutunjukkan padamu apa yang ada di atas Tahap Kehampaan yang kalian anggap sebagai dongeng dewa itu."

Ling Feng melepaskan sedikit saja auranya. Tidak ada cahaya emas yang norak, tidak ada angin yang berputar gila. Hanya sebuah kesunyian yang mencekam, seolah-olah seluruh atom di ruangan itu mendadak menjadi sangat tajam dan siap menyayat siapa pun yang berani bernapas.

"Di duniaku, ada satu tahap yang disebut [Titik Nadir Pedang]," ucap Ling Feng dengan suara rendah yang menggetarkan jiwa Ye Chen hingga ke akar-akarnya. "Di mana seluruh alam semesta—bintang, planet, hingga debu sekalipun—adalah pedangku. Setiap helai rambutku bisa memenggal kepala naga jika aku menghendakinya. Kau ingin bertarung denganku? Kau bahkan belum layak menjadi batu asahan untuk pedangku yang patah."

Ye Chen berteriak karena tekanan batin yang tak tertahankan. Ia melesat maju, kecepatannya melampaui apa yang bisa ditangkap oleh kamera keamanan tingkat tinggi. Pedangnya membentuk busur cahaya emas yang sempurna, sebuah teknik mematikan bernama "Matahari Terbelah". Serangan ini seharusnya bisa memotong gedung pencakar langit menjadi dua bagian.

KLANG!

Suara itu bukan suara daging yang robek, melainkan suara dentingan dua logam suci yang beradu.

Seluruh orang di ruang kontrol terdiam. Ye Chen mematung dengan mata hampir keluar dari kelopaknya. Ling Feng tidak menghindar, tidak juga menarik senjata. Ia hanya mengangkat dua jarinya—telunjuk dan jari tengah—dan menjepit bilah pedang emas Ye Chen tepat di tengah ayunannya.

"Teknikmu terlalu banyak kotoran," ucap Ling Feng datar. "Kau terlalu fokus pada cahaya di luar, hingga kau lupa bahwa pedang sejati seharusnya gelap dan sunyi sebelum ia meminum darah musuhnya."

Dengan satu sentakan ringan dari jarinya, Ling Feng mengirimkan gelombang Darah Qi Tingkat 2 ke dalam bilah pedang tersebut.

PRANGGG!

Pedang emas mahakarya Ye Chen hancur berkeping-keping, menjadi ribuan serpihan yang memantul di lantai baja. Ye Chen terlempar ke belakang, dadanya terasa seperti dihantam oleh palu godam raksasa. Ia terkapar di lantai, memuntahkan darah segar yang kini mulai kehilangan rona keemasannya akibat guncangan energi Ling Feng.

"Nadi... nadi pedangku... hancur..." gumam Ye Chen dengan suara yang hancur.

Ling Feng tidak mempedulikannya lagi. Ia berjalan menuju tabung vakum di tengah ruangan. Di sana, di dalam wadah yang dikelilingi oleh ribuan sensor Bio-Gene, terdapat sebuah benda yang nampak seperti rongsokan besi hitam berbentuk gagang pedang.

Namun, saat tangan Ling Feng mendekat, gagang pedang itu mulai bergetar hebat. Sensor-sensor di ruangan itu meledak satu per satu akibat radiasi energi yang tidak stabil.

"Jadi kalian mencoba membedah 'dia' dengan mesin-mesin bodoh ini?" Ling Feng meremas kaca anti-peluru itu hingga hancur menjadi debu.

Saat jemarinya menyentuh gagang hitam itu, sebuah ledakan energi berwarna ungu gelap menyapu seluruh Fasilitas Delta. Seluruh lampu padam, sistem komputer mati total, dan raga Ling Feng seolah-olah menyatu dengan kegelapan yang paling dalam.

"Selamat datang kembali, kawan lama," bisik Ling Feng.

Gagang pedang itu merespons dengan mengeluarkan dengungan rendah yang membuat seluruh gedung itu bergetar. Ling Feng merasakan koneksi kuno yang kembali tersambung. Meskipun pedang ini masih patah dan hanya menyisakan gagangnya, namun dengan benda ini di tangannya, Ling Feng kini memiliki otoritas penuh atas hidup dan mati di planet ini.

Ia menoleh ke arah kamera pengawas yang masih menyala di sudut ruangan menggunakan baterai darurat. Ia tahu Dr. Aris sedang melihatnya.

"Beri tahu para tuanmu di Bio-Gene," ucap Ling Feng dengan senyum yang paling mematikan. "Bilah pedangku masih tersebar di tangan kalian. Aku akan datang mengambilnya satu per satu. Dan setiap kali aku mengambil satu kepingan, aku akan membayar kalian dengan nyawa."

Ling Feng berjalan keluar dari reruntuhan laboratorium itu, meninggalkan Ye Chen yang masih shock dan fasilitas jutaan dollar yang kini hanyalah kuburan besi. Di tangannya, gagang pedang hitam itu seolah-olah haus akan darah untuk membangun kembali bilahnya yang hilang.

More Chapters