Ficool

Chapter 5 - Bab 5: Satu Tarikan Napas

Sosok berjubah putih berdiri tegak di tengah gua.

Usianya sekitar dua puluh lima tahun. Pedangnya ramping, bersih, dan memancarkan cahaya dingin. Aura di sekelilingnya stabil dan padat—tingkat Pembentukan Inti awal.

Bagi kultivator biasa, ini adalah tembok yang tidak mungkin dilewati.

Matanya menatap Li Yun dengan rasa ingin tahu, bukan kemarahan.

"Menarik," katanya pelan. "Tidak ada inti spiritual. Tidak ada aliran meridian yang jelas."

Ia mengangkat pedangnya sedikit.

"Tapi kau masih berdiri."

Li Yun tidak menjawab.

Dada kirinya naik turun perlahan.

Ia bernapas.

"Namaku Bai Shun," lanjut pria itu. "Murid inti Sekte Langit Putih."

Pedangnya menunjuk lurus ke Li Yun.

"Warisan ini milik sekte. Menyingkirlah dengan patuh. Aku bisa memastikan kematianmu cepat."

Li Yun menelan ludah.

Tangannya kosong. Tubuhnya masih lemah. Logikanya berteriak untuk lari.

Namun suara bayangan itu masih terngiang di benaknya.

Jalanmu tidak butuh teknik.

Cukup… bernapas.

Li Yun menarik napas lebih dalam.

Udara di gua bergetar.

Bai Shun menyipitkan mata.

"Apa yang kau—"

Ia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.

Li Yun melangkah maju satu langkah.

Tidak cepat. Tidak kuat.

Namun tekanan udara di depan Li yun tiba-tiba mengeras, seperti dinding tak terlihat.

BOMM—!

Bai Shun terpental ke belakang, menghantam dinding gua.

"APA?!"

Ia bangkit dengan cepat, wajahnya berubah serius. Pedangnya berkilau, dan puluhan bilah cahaya putih terbentuk di udara.

"Teknik Pedang Awan Terbelah!"

Cahaya menukik turun.

Li Yun refleks mengangkat tangannya—lalu berhenti.

ia Menghebumbuskan nafas.

Udara di sekelilingnya berputar, berlapis-lapis, membentuk pusaran lembut. Pedang cahaya itu masuk… lalu kehilangan momentum, hancur menjadi kilauan tak berbahaya.

Bai Shun membeku.

"Itu… bukan teknik."

Untuk pertama kalinya, ada ketakutan di matanya.

Li Yun sendiri gemetar. Setiap tarikan dan hembusan napas terasa seperti menarik beban gunung. Ruang Napas di dadanya mulai terasa panas—terlalu penuh.

Kalau aku teruskan…

Bai Shun menyerang lagi, kali ini dengan niat membunuh.

Pedangnya menusuk lurus ke jantung Li Yun.

Detik itu—

napas Li Yun terhenti.

Seluruh gua sunyi.

Lalu—

HUUU—

Satu hembusan nafas pendek keluar dari dada Li yun.

Bukan ledakan.

Bukan cahaya.

Hanya tekanan murni.

Pedang Bai Shun retak di udara.

Tubuhnya terhenti, lalu terlempar seperti daun kering, menghantam tanah dan berguling beberapa kali sebelum berhenti—tak sadarkan diri.

Sunyi kembali menyelimuti gua.

Li Yun terhuyung, jatuh berlutut. Darah mengalir dari hidung dan telinganya. Ruang Napas di dalam dadanya bergetar liar, nyaris runtuh.

Ia menang.

Namun hampir mati.

Di saat kesadarannya mulai memudar, suara langkah kaki terdengar dari lorong samping gua.

Pelan. Ringan.

Seorang perempuan keluar dari bayangan.

Jubah hitam kehijauan. Rambut panjang diikat longgar. Matanya tajam, seperti sudah menonton semuanya sejak awal.

Ia memandang Bai Shun yang tak sadarkan diri, lalu Li Yun.

"…jadi ini Pewaris Napas Langit," gumamnya.

Ia berlutut di depan Li Yun dan tersenyum tipis.

"Kalau aku tidak muncul sekarang," katanya ringan,

"kau akan meledak dari dalam dalam tiga tarikan napas lagi."

Li Yun memaksakan senyum lemah.

"Kalau begitu… cepatlah."

Perempuan itu tertawa kecil.

"Tenang," katanya sambil mengangkat tangannya.

"Aku bukan musuhmu."

Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai,

Li Yun Pingsan dengan damai.

More Chapters