Ficool

Chapter 228 - Tepuk Tangan di Tengah Salju

"A... aku tidak pernah menaruh itu di sana, Pak."

"Aku juga tidak memeriksa truk itu setelah keluar dari gudang..."

Angin malam menyusup melalui rangka helikopter, bercampur dengan deru baling-baling yang memekakkan telinga. Kabut tipis menyelimuti langit. Salju turun lebat di atas hutan pinus yang berdiri seperti para penjaga kuno di sisi jurang. Dataran tinggi itu terasa jauh dan tidak nyata. Bau bahan bakar serta udara beku menekan dada setiap orang yang berada di sana.

Levan menatap ke bawah menembus salju yang beterbangan. Truk hijau tua itu terus melaju, semakin kecil di antara pepohonan hitam yang bergoyang diterpa angin. Jejak rodanya mengukir luka panjang di atas hamparan putih, seperti goresan pada tubuh bumi itu sendiri.

"Sial... setelah ini aku ingin laporan lengkap. Satu pun tidak boleh terlewat," gumamnya dengan mata yang membara dingin.

Dari kursi pilot, seorang prajurit menoleh.

"Pak, tiga kilometer di depan ada turunan curam dan jurang yang sangat dalam. Kalau mereka terus melaju..."

"Mereka akan jatuh," sambung Levan pelan. "Dan dia bahkan tidak tahu apa yang menunggunya."

Di dalam truk, tubuh Elara menegang. Udara di dalam kabin sama dinginnya dengan dunia luar. Napas mereka berubah menjadi kabut putih.

Matanya membesar saat melihat lereng tajam di depan dan kilauan samar jurang yang tertutup kabut.

"Kaivan! Ada tebing di depan!" serunya sambil mencengkeram dasbor.

Kaivan tidak menjawab. Tatapannya tetap lurus ke depan. Pupil matanya bergetar. Ia menggenggam kemudi seolah sedang menantang takdir itu sendiri.

Di atas mereka, helikopter menukik tajam. Getarannya mengoyak udara dan menciptakan pusaran salju yang menelan jalan. Dalam manuver cepat dan presisi, helikopter itu melesat ke depan lalu memotong jalur truk dengan kecepatan mematikan.

Di ambang pintu kabin, Levan berdiri tegak. Angin menghantam jaket taktisnya sementara rambutnya berkibar liar. Ia menarik sebuah senjata berbentuk tabung dari rak persenjataan helikopter.

RPG-7.

Gerakannya tenang, seolah ia telah melakukan hal itu ribuan kali. "Berikan RPG itu padaku."

Seorang perwira menyerahkan peluncur roket tersebut. Levan menerimanya tanpa ragu lalu melangkah menuju pintu yang terbuka, membiarkan badai salju menghantam tubuhnya. Dengan gerakan yang terlatih, ia memasukkan proyektil ke dalam peluncur.

"Kaivan... gajiku pasti dipotong habis setelah ini," gumamnya sambil memperlihatkan senyum tipis di wajah yang membeku.

Ia mengangkat peluncur itu dan membidik tebing di depan jalur truk.

Roket itu meluncur. Jejak cahaya jingga membelah malam.

Ledakannya mengguncang lembah yang tertutup salju. Tebing itu pecah berkeping-keping. Batu dan salju runtuh bersamaan seperti murka seorang dewa.

Dinding putih raksasa bercampur reruntuhan menghantam jalan dan menutup jalur truk sepenuhnya. Di balik kaca depan, mata Kaivan membelalak.

Tidak ada waktu untuk berpikir. Hanya bertindak.

Ia melirik Elara yang membeku di kursi penumpang.

"Pegangan erat!" teriaknya sambil menarik sabuk pengaman Elara dan menguncinya rapat.

Elara hanya mengangguk. Tubuhnya bergetar oleh adrenalin.

Kaivan membanting kemudi ke kiri. Ban-ban kehilangan cengkeraman. Truk itu meluncur menuruni lereng es, berputar liar seperti peluru yang kehilangan arah.

Truk itu terguling.

Sekali.

Dua kali.

Logam menjerit.

Kaca pecah.

Ban mengoyak salju.

Elara menjerit.

Kaivan mengatupkan gigi.

Tubuhnya terhempas keras oleh sabuk pengaman, tetapi kedua tangannya tidak pernah melepaskan kemudi.

Waktu seolah berhenti. Di dalam pikirannya yang berpacu cepat, segalanya melambat.

Truk itu berputar di udara. Pecahan kaca berhamburan seperti salju. Dan di tengah kekacauan itu, ia melihat sesuatu.

Sebuah kesempatan.

Dengan kecepatan yang nyaris tidak wajar, ia melepaskan sabuk pengamannya.

Tubuhnya terlempar ke dalam gravitasi yang tidak stabil.

Tepat ketika atap truk menghantam tanah, Kaivan meraih sabuk Elara dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Tubuh mereka terangkat ke udara. Waktu melambat.

Di belakang mereka, truk itu terus berguling seperti raksasa besi yang jatuh dari langit.

"Kaivan!"

teriak Elara, namun suaranya ditelan deru angin.

Ia tidak menjawab. Matanya hanya tertuju pada hamparan salju di bawah sana. Tempat mereka akan jatuh.

Dan mungkin... bertahan hidup.

Tubuh mereka menghantam salju tebal dengan dentuman berat.

Serpihan putih beterbangan ke segala arah. Di belakang mereka, truk itu menghantam dasar lembah dan berhenti dengan kasar. Tidak hancur sepenuhnya. Namun remuk dan terpelintir.

Kaivan dan Elara terbaring di atas salju.

Berat.

Hancur.

Namun masih hidup.

Malam membentangkan keheningannya di atas padang putih yang tak berujung. Bulan pucat menggantung di langit, menatap ke bawah dengan mata yang dingin. Udara menggigit hingga ke tulang, menyusup melalui setiap celah pakaian mereka.

Lalu...

Deru helikopter menghancurkan kesunyian itu. Seperti gema kematian yang turun dari langit. Helikopter militer itu menukik tajam. Bagaikan elang baja yang sedang memburu mangsanya.

Baling-balingnya berputar liar, mengangkat salju menjadi pusaran putih. Mesin mengaum dan mengguncang udara yang membeku.

Di bawahnya terbaring dua sosok.

Napas mereka bercampur dengan kabut pucat yang melayang di antara serpihan salju yang terus turun.

Elara terbatuk lemah sambil menggigil. Rambut panjangnya kusut dan menempel pada wajahnya yang penuh memar serta goresan.

Di sampingnya, Kaivan perlahan mengangkat kepala.

Pandangannya kabur. Ia menatap cahaya merah dari lampu helikopter yang berputar di langit. Napasnya pendek-pendek.

Dadanya naik turun dalam irama yang kacau.

Di antara rasa sakit dan tekad. Pintu helikopter terbuka dengan bunyi logam yang keras. Sosok berwibawa melangkah keluar.

Levan.

Ia melompat turun tanpa ragu. Bayangannya memanjang di bawah sorotan lampu. Sepatunya menyentuh salju tanpa suara. Seolah bumi sendiri sedang menahan napas.

Jas putihnya berkibar diterpa badai salju. Ia berdiri tegak, dan matanya yang tajam membelah malam yang membeku.

Suara tepuk tangan pelan bergema dari sarung tangan hitamnya. Mengejek keheningan.

"Mengesankan," katanya datar dengan suara berat. "Kau jauh lebih berbahaya daripada yang kuduga, Kaivan."

Kaivan mencoba berdiri. Tubuhnya bergoyang. Darah mengalir dari pelipisnya, menodai salju putih dengan warna merah yang pekat.

More Chapters