Ficool

Chapter 227 - Di Antara Jurang dan Laras Senapan

"Kaivan... kenapa kau melakukan ini?"

tanyanya pelan. Suaranya memecah keheningan. Ia menoleh ke arahnya dengan mata yang dipenuhi kebingungan.

"Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan? Kami tidak pernah berniat menyakitimu."

Kaivan tetap diam. Hanya suara mesin yang menjawab, menggeram seperti badai yang jauh.

Beberapa detik berlalu sebelum ia berbicara. Suaranya rendah, sedingin baja.

"Mungkin kalian tidak pernah menyakitiku secara langsung," katanya. "Tapi aku tidak bisa mempercayai kalian. Ada sesuatu yang lebih berharga daripada semua janji kalian."

Tatapannya mengeras.

"Teman-temanku."

Nada suaranya perlahan meninggi, seperti arus yang berubah menjadi badai.

"Kalian melakukan eksperimen pada mereka, bukan? Serum khusus. Pelatihan militer. Mereka bahkan bukan pengguna Tome sepertiku. Jadi sebenarnya apa yang sedang kalian rencanakan?"

Kata-katanya mengguncang Elara. Wajah wanita itu menegang. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar. Setelah menarik napas yang gemetar, ia mencoba menjawab.

"Tidak seperti itu... Kaivan. Kami tidak pernah berniat..."

Namun suaranya terpotong.

Gemuruh keras mengguncang langit. Baling-baling helikopter mengoyak malam, diikuti sorotan cahaya putih yang menembus tirai salju dan mengunci posisi truk mereka.

Kaivan melirik kaca spion, lalu menatap langit.

"Mereka menemukan kita," gumamnya tenang namun tegas sambil mempererat genggamannya pada kemudi.

Helikopter besar itu melayang rendah di atas mereka. Lampu sorotnya menyapu tanah, menandai mereka seperti hewan buruan. Dari pengeras suara, sebuah suara berat membelah malam seperti pisau.

"KAIVAN! HENTIKAN KENDARAAN ITU SEKARANG! AKU ULANGI, BERHENTI SEKARANG JUGA ATAU KAMI AKAN MENGAMBIL TINDAKAN!"

Kaivan mengenali suara itu.

Levan.

Bukan hanya seorang ilmuwan, melainkan bayangan yang selama ini berdiri di balik fasilitas tersebut. Agen rahasia yang pernah membawa mereka ke Georgia, dan kini datang bukan untuk bernegosiasi.

Di dalam helikopter, Levan berdiri di dekat pintu yang terbuka. Jaket taktisnya berkibar diterpa angin. Satu tangannya menggenggam pengeras suara, sementara tangan lainnya mencengkeram bingkai pintu. Matanya yang tajam seperti elang mengawasi truk yang melaju di bawah sana.

"KAIVAN! KELUAR DARI KENDARAAN ITU! KAMI TIDAK AKAN MENGHUKUMMU!"

Kaivan mengatupkan giginya lalu membanting kemudi ke kanan.

Truk itu berbelok tajam menuju jalur sempit yang tertutup salju, dipenuhi akar pohon dan batu-batu besar. Tubuh Elara terdorong ke depan hingga sabuk pengamannya menegang.

"Kaivan, apa yang kau lakukan?! Jalan ini..."

"Aku tahu," potong Kaivan cepat. "Ini satu-satunya cara keluar dari sorotan mereka."

Ban-ban truk menyemburkan lumpur dan salju. Ranting-ranting pohon mencakar kaca depan, meninggalkan goresan panjang berwarna keperakan di bawah cahaya lampu. Deru baling-baling terus mengejar mereka, tetapi hutan pinus perlahan menelan cahaya helikopter.

Levan mengatupkan rahangnya.

"Dia tidak mengenal medan ini."

Di dalam kabin, Elara gemetar. Guncangan keras dan suara mesin menghantam dadanya tanpa henti. Namun yang membuatnya benar-benar pusing bukanlah perjalanan itu.

Melainkan kepastian yang ia lihat di mata Kaivan.

Mata itu sudah tidak sama seperti sebelumnya.

Angin malam bertiup dari utara, membawa kabut abu-abu yang menari di antara pepohonan hitam. Daun-daun bergetar pelan, berbisik seperti arwah yang tersesat. Udara membeku, dan setiap embusan napas pecah menjadi kristal-kristal kecil.

Truk tua berwarna hijau kusam meraung menerjang badai. Rodanya mencengkeram lapisan es, membentuk jalur berkelok yang hampir tertelan salju. Lampu depannya yang kekuningan hanya mampu menembus kabut beberapa meter ke depan, memperlihatkan bayangan batang pohon dan tebing gelap. Getaran mesin mengguncang seluruh kabin.

Elara mencengkeram dasbor semakin erat.

Sementara itu, Kaivan menatap lurus ke depan. Dingin. Fokus. Seolah ia bukan hanya sedang menembus hutan, melainkan juga menembus takdirnya sendiri.

Kaivan duduk tegak di balik kemudi. Tubuhnya yang kurus menegang, menyatu dengan kendaraan yang dikendalikannya. Matanya menyipit, tertuju lurus ke depan. Keringat dingin mengalir di pelipisnya dan bercampur dengan napas yang membeku.

Sesekali ia melirik kaca spion, menangkap kilatan cahaya helikopter yang terus mengejar.

"KAIVAN! BERHENTI! KAU TIDAK AKAN BISA MELARIKAN DIRI!"

Suara Levan meledak dari pengeras suara, bergema di antara tebing dan hutan pinus, membelah malam yang membeku.

Sorotan helikopter menembus badai salju dan menghantam kaca depan truk. Kaivan mengangkat satu tangan untuk melindungi matanya.

Bayangan Elara bergetar di sampingnya. Tubuhnya condong ke depan, bibirnya terkatup rapat, dagunya bergetar. Udara di dalam kabin membeku oleh ketegangan.

Kaivan menggeram lalu mengarahkan truk kembali ke jalan utama. Ban-ban sempat tergelincir, tetapi ia berhasil mengendalikannya lagi.

Salju turun semakin lebat.

Pandangan mereka perlahan memutih.

Setiap serpihan salju menghantam kaca seperti pecahan kecil. Jalan di depan terus menanjak menuju tikungan tajam yang mengarah ke jurang.

"Kaivan!"

Elara berteriak.

"Kau tidak bisa terus seperti ini! Kita tidak mungkin menghindari mereka selamanya!"

Kaivan tidak menjawab.

Tangannya mencengkeram kemudi begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Di balik kaca yang berkabut, bayangan helikopter terus menari di langit, memutar pusaran salju.

Lalu suara Levan kembali terdengar.

"Apa yang sedang kau lakukan, Kaivan?! Kami tidak pernah berniat menyakitimu! Kau hanya membuat semuanya menjadi lebih buruk!"

Nada suaranya berubah.Bukan sekadar sinis. Melainkan lelah.

Dan sedikit dipenuhi penyesalan. Seolah bahkan dirinya sendiri sudah tidak sepenuhnya percaya pada misi yang ia jalankan. Kaivan melirik Elara sesaat, lalu meraih senapan di sampingnya.

Ia mengangkatnya dan mengarahkannya ke helikopter.

Klik.

"Kosong..." gumamnya.

Ia mengguncang senapan itu. Tidak ada peluru.

"Kaivan! Ada jurang di depan!" teriak Elara. Wajahnya pucat pasi.

Kaivan menurunkan senjata itu. Matanya menyapu area bawah dasbor.

Lalu ia melihatnya. Sebuah granat tua yang dibungkus kain, tersembunyi setengah badan di balik kotak peralatan. "Sebuah granat...?"

bisiknya.

Jarinya bergerak cepat menarik pin pengaman. Udara malam yang membeku menerobos masuk saat ia membuka jendela. Dalam satu gerakan tajam, ia melempar granat itu ke arah tumpukan batu di tepi jalan.

"Pegangan!"

teriaknya.

BOOOOM!

Ledakan besar mengguncang tanah. Batu, asap, dan salju meledak ke udara, lalu runtuh ke arah jurang di depan. Truk berguncang hebat hingga kaca depannya retak. Elara menjerit dan menundukkan tubuhnya.

Kaivan menginjak pedal gas hingga penuh. Mesin meraung.

Truk itu melompat di tepi jurang. Waktu seolah berhenti.

Salju beterbangan di bawah roda-roda kendaraan. Truk itu terangkat, melayang di antara api dan kabut. Dalam sepersekian detik yang terasa abadi itu, hanya suara napas Kaivan yang tersisa.

Tajam.

Pahit.

Dan hidup.

Truk itu menghantam sisi seberang dengan dentuman logam yang menggelegar. Ban belakangnya hampir terlepas dari tanah, tetapi Kaivan memutar kemudi ke kiri dengan kendali yang nyaris sempurna.

Kendaraan itu berguncang liar. Lalu stabil kembali.

Mereka selamat.

Untuk saat ini.

Napas Kaivan terengah-engah. Dadanya naik turun seperti mesin uap yang dipaksa bekerja tanpa henti.

Elara membungkuk ke depan sambil gemetar. Di belakang mereka, helikopter masih melayang di udara, terpaksa berhenti karena jalur di depan terlalu sempit untuk dilalui.

Di atas sana, Levan menatap ke bawah. Otot di pipi kirinya berkedut.

"Kenapa ada granat di dalam truk itu?!" bentaknya di tengah raungan mesin helikopter.

Para awak saling bertukar pandang dengan wajah panik.

More Chapters