Ficool

Chapter 123 - Pria yang Mengira Dirinya Telah Menang

Kaivan tidak berhenti. Ia berlari mengejar, memaksa tubuhnya terus bergerak meski rasa sakit menggigit tanpa ampun. Napasnya tersengal, luka-lukanya berteriak, namun api dalam tatapannya tak sedikit pun meredup.

Namun William bukan lawan biasa. Bahkan saat dilemahkan oleh Omnicent, instingnya tetap setajam pisau. Ia menerobos lorong-lorong sempit dengan kecepatan mengerikan, mencari perlindungan, atau sekutu. Langkah kakinya bergemuruh, seperti genderang yang mengumumkan akhir.

Kaivan mencapai ambang pintu, tetapi tubuhnya terhenti. Ethan berdiri di sana, mata terbelalak saat ia berjuang menahan Isabel, yang mengamuk hebat di bawah kendali Omnidream.

Kaivan meletakkan tangan yang mantap di bahunya, lalu berbisik cepat, "Tahan dia. Jangan biarkan dia menyakiti siapa pun."

Ethan mengangguk, meski gejolak batin memelintir hatinya. "Aku mengerti." Ia melangkah maju mendekati Isabel, yang mengayunkan tangan secara liar, tubuhnya melawan segala sesuatu di sekitarnya. Ethan tidak gentar. Ia tahu, ini bukan Isabel yang ia cintai, dan ia tidak akan membiarkannya tenggelam lebih dalam.

Kaivan berbalik dan kembali berlari menyusuri koridor mengejar William, meski ia tahu ini tidak akan berakhir dengan cepat. William mungkin bisa lolos untuk saat ini, tetapi pertarungan ini masih jauh dari selesai. Tome of Omnicent kini berada di tangannya, dan rahasia yang dikandungnya bisa menjadi satu-satunya harapan untuk mengakhiri mimpi buruk ini.

Sementara itu, di bagian lain markas, William melaju dengan amarah yang membakar segala yang dilewatinya. Kehadirannya saja sudah cukup untuk membuat siapa pun yang berani menghalangi tersingkir. Ia bergerak lurus menuju medan pertempuran yang masih berlangsung.

Felicia dan Rapi masih bertarung sengit. Meski kelelahan, Felicia bergerak dengan ketajaman lincah, tubuh rampingnya menari di udara. Setiap ayunan dari Rapi yang raksasa menghancurkan beton seperti kaca rapuh, namun Felicia selalu lolos sesaat sebelum hantaman itu tiba, selalu sedikit lebih cepat. Raut frustrasi mulai terlihat di wajah Rapi.

William tiba di tengah kekacauan. Tatapannya langsung terkunci pada sosok Rapi yang menjulang. Amarahnya kembali menyala. Kaivan telah mempermalukannya, pasukannya runtuh, dan kini Rapi pun belum menyelesaikan tugasnya.

"Rapi!" suara William menggema di aula yang hancur.

Rapi menoleh cepat. Sekilas kelegaan muncul di matanya, yakin bahwa William datang untuk membantunya. "Syukurlah kau masih hidup," katanya terengah.

Namun ekspresi William tidak menyisakan kehangatan. Ia mencengkeram rambut Rapi dan menarik kepalanya ke bawah, memaksa wanita besar itu tersandung. Suaranya terdengar seperti baja yang membara.

"Kalau aku memanggilmu, kau menjawab. Jangan buat aku menyesal merekrutmu."

Kata-kata itu menembusnya. Rapi gemetar, hanya mampu menundukkan kepala. "Maaf… tidak akan terulang lagi," bisiknya, suaranya kehilangan nyala.

Di seberang puing-puing, Felicia mengamati. Ada kilatan tajam di matanya, ketertarikan.

Ini bukan sekadar otoritas. Ini dominasi. Ini kendali mutlak.

Dan jika Rapi bisa terguncang hanya karena tekanan, maka ia bukan monster tak tergoyahkan yang selama ini ditakuti Felicia.

Sebelum Felicia sempat bereaksi, William dengan cepat menarik pistol dari sakunya, halus, cepat, tanpa ragu.

"Ini alasanmu mengabaikan perintahku?" geramnya. Satu tarikan pelatuk pun menyusul.

Ledakan menggelegar merobek udara. Peluru melesat ke arah Felicia. Namun ia bergerak secepat kilat, mengangkat tongkat logamnya dengan presisi nyaris tak masuk akal.

CLANG! Percikan cahaya meledak dari benturan itu. Dampaknya mengguncang lengannya, tetapi Felicia tidak mundur selangkah pun. William, yang beberapa saat lalu menyunggingkan senyum mengejek, kini membeku. Matanya melebar.

"Keras kepala seperti biasa," gumamnya, menyarungkan kembali senjatanya.

Felicia tidak menjawab. Tatapannya tetap terkunci padanya, dingin dan tajam.

"Baiklah. Kau kumaafkan," ujar William ringan, lalu melirik Rapi. "Tangani dia."

Nada suaranya santai, seolah ini hanya tugas biasa. Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik menuju pintu keluar.

Namun langkahnya terhenti saat suara dalam dan penuh amarah menggema di aula.

"WILLIAM!"

Kaivan berdiri di ujung koridor. Napasnya berat, keringat mengalir di pelipis, namun matanya menyala. Amarah mendorong setiap langkahnya.

Felicia, yang masih bertarung melawan Rapi, menoleh sejenak. Napasnya tersengal, tetapi suaranya tetap jelas.

"Dia ke arah luar!" teriaknya.

Kaivan menyipitkan mata, mengunci pandangan pada siluet William yang menjauh. Otot-ototnya menegang, siap mengejar, tetapi ia sempat berhenti, melirik kembali ke arah Felicia. Ia menarik napas panjang.

"Felicia! Setelah ini selesai, aku perlu bicara denganmu. Ini penting!"

Suaranya bergema di lorong yang hancur. Dunia seakan berhenti sekejap. Jantung Felicia berdegup lebih cepat, bukan karena pertarungan, melainkan karena beratnya kata-kata itu. Kaivan bukan orang yang berbicara sembarangan. Jika ia bilang penting, maka itu benar-benar penting.

Senyum tipis terlukis di bibir Felicia. Harapan berkilau di matanya, mengalirkan kekuatan baru ke seluruh tubuhnya.

"OKE! AKU AKAN MENYELESAIKANNYA!" teriaknya, penuh semangat.

Genggamannya menguat pada tongkat logamnya. Kuda-kudanya menjadi kokoh. Matanya menyala seperti bara, tak ada yang akan menghentikannya sekarang.

Felicia melesat maju. Kakinya menghantam lantai, tubuhnya melaju seperti hembusan angin. Tongkatnya membelah udara, nyaris tak terlihat.

CLANG! Rapi terhuyung mundur, kehilangan keseimbangan. Felicia tidak memberinya waktu bernapas. Ia berputar, melancarkan serangan berikutnya yang bahkan lebih cepat.

Sementara itu, Kaivan terus berlari mengejar William. Namun ada sesuatu yang terasa janggal, William tidak menuju pintu keluar. Ia justru berbelok, menjauh dari ruang bawah tanah tempat pertempuran sebelumnya terjadi.

Kaivan menyipitkan pandangan. Apa yang kau rencanakan, William?

Koridor gelap membentang di depan, lampu neon yang berkedip menjadi penunjuk jalan bagi pengejaran Kaivan. Di ujung sana, ia melihat William mulai melambat. Di hadapannya tergeletak tubuh-tubuh anak buahnya.

Sebagian tak sadarkan diri. Sebagian lainnya tak bernyawa, leher mereka tertembus, darah menggenang membentuk pola yang mengerikan.

Mata William membelalak. Napasnya tersendat. Rasa takut merayap naik di tulang punggungnya.

"Tidak mungkin… tidak mungkin…" bisiknya. "Mereka hanya anak-anak SMA… bagaimana bisa…"

Tangannya gemetar. Pikirannya retak oleh pemandangan itu. Seseorang yang ia remehkan telah mengubah markas ini menjadi pembantaian sunyi.

Untuk pertama kalinya, William merasakan ketakutan.

More Chapters