Ficool

Chapter 87 - Seseorang Berbohong di Ruangan Itu

Putih. Dingin. Sebuah meja tunggal, dua kursi, dan cahaya menyilaukan yang jatuh lurus dari atas. Bayangannya terbelah di permukaan meja, sementara kelelahan tertulis jelas di wajahnya. Ia duduk diam. Napasnya pendek dan dangkal.

Pintu terbuka.

Dua petugas masuk. Yang satu lebih tua, dengan mata dalam yang tak mudah digoyahkan. Yang lainnya lebih muda, tajam dan waspada, setiap gerakannya presisi. Mereka duduk di hadapannya, seolah menimbang jiwanya dalam diam.

Petugas senior berbicara lebih dulu. Suaranya berat, namun tenang.

"Mulai dari awal. Bagaimana kamu tahu tentang ledakan itu?"

Kaivan mengangguk pelan. Ia menarik napas, lalu mulai bicara dengan suara serak namun terkendali.

"Awalnya karena rasa ingin tahu. Mereka menyebutnya ketulusan. Kupikir itu hanya semacam filosofi spiritual. Tapi aku salah. Mereka adalah sindikat teroris."

Petugas yang lebih muda menyipitkan mata, tetap diam. Tatapannya seperti pisau bedah yang menguliti setiap kata.

"Saat aku sadar siapa mereka sebenarnya, aku mencoba pergi... tapi mereka tidak membiarkan siapa pun keluar. Siapa pun yang berbalik akan dianggap musuh."

"Lalu ledakan itu?" sela petugas senior, nada suaranya tidak berubah, tetapi bobot pertanyaannya terasa menekan.

Kaivan menundukkan pandangan.

"Mereka mulai panik. Beberapa orang yang tersadar membuat kekacauan. Di sana ada bahan peledak. Aku tidak bisa menghentikannya. Semuanya meledak. Aku tidak tahu akan separah itu."

Sunyi.

Kedua penyelidik saling bertukar pandang. Tidak ada kecurigaan yang jelas, tetapi juga belum ada kepercayaan penuh.

Petugas muda itu akhirnya berbicara. Suaranya tajam.

"Kalau begitu kenapa kamu datang ke sini? Kenapa tidak kabur saja?"

Mata Kaivan berubah dingin namun mantap.

"Karena aku tidak ingin lari. Aku ingin ini berakhir. Aku ingin membantu menghentikan mereka. Tidak boleh ada lagi yang mati."

Di luar ruangan, interkom berdengung pelan. Para petugas lain mendengarkan dengan wajah tegang ketika mereka mulai menyadari bahwa ini lebih dari sekadar pengakuan.

Seorang penyelidik yang lebih tua menegakkan tubuhnya di kursi.

"Kami akan menyelidiki ini lebih jauh," katanya tenang namun tegas. "Tapi kami perlu tahu. Apakah ada orang lain yang terlibat?"

Pertanyaan itu menggantung di udara seperti bilah tajam.

Kaivan mengepalkan tangannya, menatap meja. Ketika akhirnya ia mengangkat wajah, tekad menyala di matanya.

"Banyak. Tapi aku tidak tahu siapa mereka."

Petugas perempuan muda itu sedikit mencondongkan tubuh ke depan. Suaranya lembut namun menusuk.

"Kaivan, informasi ini bisa menyelamatkan banyak nyawa. Kamu yakin tidak mengenal siapa pun?"

Ia menggeleng perlahan.

"Tidak ada waktu untuk saling mengenal. Semuanya berjalan cepat... dan rahasia."

Langkah kaki berat terdengar dari lorong. Udara di ruangan menegang.

Pintu terbuka.

Seorang pria dengan jas rapi masuk, membawa aura otoritas yang kuat. Gubernur Heri.

"Saya Heri," katanya memperkenalkan diri dengan suara dalam dan tenang.

Ia duduk di hadapan Kaivan.

"Saya ingin mendengar ini langsung dari kamu."

Kaivan menundukkan kepala. Bahunya tegang.

"Saya... tidak tahu apakah ini keputusan yang benar. Tapi saya ingin bebas dari tempat itu."

Heri mengangguk perlahan, tatapannya tetap tertuju pada Kaivan.

"Kalau begitu bantu kami. Apa tujuan mereka? Di mana mereka akan menyerang?"

Kaivan menarik napas panjang. Ketika ia kembali mengangkat mata, suaranya sedikit bergetar namun jelas.

"Target mereka... Konferensi Asia Afrika di Bandung."

Ruangan itu seketika membeku.

Pulpen berhenti bergerak. Napas tertahan. Hanya Heri yang tetap tenang, meskipun sorot matanya menunjukkan sesuatu yang lain. Ini jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.

Di tengah ketegangan itu, ruang interogasi seakan menelan cahaya. Lampu redup menggambar bayangan keras di wajah Kaivan yang lelah.

Gubernur Heri berdiri di depannya, memancarkan wibawa yang tak tergoyahkan.

"Dalam satu sisi," kata Heri dengan suara tegas namun lembut, "kamu sudah menyelamatkan banyak nyawa."

Tatapan hormat itu membuat Kaivan terdiam. Ia tak pernah membayangkan akan diakui oleh seseorang seperti seorang gubernur.

Namun momen itu tidak berlangsung lama.

"Namun," lanjut Heri, nada suaranya berubah, "bagaimana dengan perdagangan emas ilegal yang kamu lakukan?"

Jantung Kaivan berdentum keras.

Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan muncul. Meski begitu, ia tetap menatap Heri dan memaksa dirinya tenang.

"Apakah salah mengubah barang sisa menjadi sesuatu yang bernilai?" suaranya rendah namun stabil.

Heri menatapnya lama dalam diam yang berat.

Akhirnya ia menjawab dengan nada terukur.

"Tidak. Tapi yang melanggar hukum adalah melakukannya tanpa izin. Menurut Undang Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah."

Sesaat Kaivan merasa seperti disambar kenyataan. Ia lega karena tidak sepenuhnya salah, namun tetap dihimpit tanggung jawab.

Heri melangkah lebih dekat dan meletakkan tangan kuat di bahu Kaivan.

"Kamu sudah menyelamatkan kota ini, Kaivan. Tapi semuanya harus tetap berada dalam hukum. Ini bukan hanya tentang apa yang sudah kamu lakukan... tapi tentang apa yang akan terjadi setelahnya."

Kaivan mengangguk perlahan.

Di matanya, kelelahan dan tekad saling berpadu. Ia mengerti bahwa perjalanannya masih jauh dari selesai.

Ia tidak hanya memikul dosa masa lalu. Kini ia juga membawa harapan rapuh tentang apa yang masih bisa diselamatkan.

Pintu besi berderit pelan, memotong kesunyian.

Seberkas cahaya dari lorong menyelinap masuk, memperlihatkan wajah Kaivan yang setengah tertutup bayangan.

Seseorang masuk.

Arman, anggota dewan kota yang dikenal dengan ketenangannya yang dingin dan senyum setajam pisau.

Di belakangnya, dua sosok muda mengikuti.

Darius, putranya, berdiri tegap dengan mata yang menyala oleh kemarahan. Buku jarinya berderak di udara, rahangnya terkunci oleh hasrat balas dendam.

Di sampingnya, Tania berjalan perlahan. Rambut cokelat panjangnya menutupi sebagian wajahnya. Tatapannya samar namun menusuk. Rapuh di permukaan, namun tajam seperti bilah tersembunyi.

Gaunnya kusut. Kehadirannya sunyi seperti bayangan.

Kaivan duduk di kursi logam dengan kedua tangan terkunci di atas meja. Kemeja hitamnya tergantung longgar di tubuh kurusnya.

Matanya melebar sesaat ketika melihat Tania.

Lalu kembali tenang.

Namun denyut nadinya berdegup liar seperti api yang menjalar.

Tania...

Pikirannya bergetar, mencicipi pahitnya aroma pengkhianatan.

Arman berbicara lebih dulu.

Suaranya tenang namun tajam.

"Saya Arman. Ini putra saya, Darius. Kami datang... untuk memastikan keadilan tidak buta."

Tatapannya tajam seperti kaca.

"Ini berkaitan dengan sepeda motor yang dicuri."

Kepala polisi melangkah maju. Nadanya dingin dan presisi.

"Siapa yang melakukan pencurian ini?"

Darius melangkah ke depan dan menunjuk tajam.

"Dia! Anak itu! Dia memukulku dan mencuri motorku!"

Suaranya menggelegar. Namun di balik amarah itu terselip sesuatu yang terasa seperti hafalan. Lebih seperti tuntutan daripada kebenaran.

Kaivan membalas tatapannya tanpa suara. Kecurigaan berkilat di matanya seperti bara yang hampir padam namun siap menyala.

Rahangnya mengeras.

Bibirnya tertutup rapat, menelan badai yang berputar di dalam dirinya.

Namun sebelum satu kata pun keluar...

Isak tangis memecah ruangan.

Pelan pada awalnya. Lalu semakin keras.

Semua mata beralih pada Tania.

Tubuhnya gemetar. Tangannya menutupi wajahnya.

Suaranya pecah di tengah ruangan, bergetar namun disengaja.

"Dia... mengambil kunci motor pacarku... Aku melihatnya setelah dia... memperkosaku..."

More Chapters