Ficool

Chapter 86 - Langkah Pertama Menuju Konsekuensi

Dengan gerakan cepat namun terukur, Kaivan membereskan barang-barangnya dari meja kerja. Tangannya tetap tenang, tetapi matanya kosong. Ia bahkan tidak sekali pun menoleh ke arah teman-temannya yang kini membeku dalam diam, tenggelam dalam ketegangan yang menggantung di udara.

Radit yang berdiri paling dekat bersandar pada meja, matanya menyipit menatap Kaivan. "Hei, kamu mau ke mana?" tanyanya, setengah khawatir, setengah bingung.

Kaivan berhenti sejenak. Senyum tipis menyentuh bibirnya, lebih seperti usaha menutupi kegelisahannya daripada benar-benar tersenyum. "Ada urusan yang harus aku selesaikan di Purwakarta. Jangan tunggu aku."

Radit melangkah maju dan meraih lengan Kaivan. "Apa yang sebenarnya terjadi? Kamu tidak seperti biasanya."

Kaivan menepuk bahunya. Suaranya rendah namun tegas. "Nanti aku jelaskan." Lalu ia pergi. Pintu tua di belakangnya tertutup pelan, meninggalkan gema perpisahan yang terasa terlalu tiba-tiba.

Langkahnya menuju stasiun terasa berat namun pasti. Dunia di luar tetap bergerak seperti biasa, tetapi di dalam dirinya semuanya telah terbalik. Di dalam kereta, ia duduk di dekat jendela. Langit senja yang merah menyelimuti pepohonan yang bergoyang seperti disiram cahaya api, tetapi hatinya bergejolak dalam badai yang tak kunjung reda.

Irama lembut kereta menjadi musik latar bagi kekacauan di dalam dirinya. Tatapannya tidak lagi tertuju pada pemandangan yang melintas. Ia justru terperangkap dalam bayang-bayang pilihannya sendiri yang kini mulai mengental menjadi penyesalan. Tome itu telah menuntunnya tanpa ragu. Namun sekarang, kegelapan mulai mempertanyakannya.

Purwakarta menyambutnya dengan kehangatan yang justru terasa menusuk. Matahari tenggelam perlahan. Setiap langkah yang Kaivan ambil terasa semakin berat ketika ia tiba di tempat yang tertulis dalam perintah Tome. Ini bukan sekadar tempat untuk menyerah. Ini adalah altar konsekuensi.

Ponselnya berdering. Nama di layar: Raphael. Seolah masa lalu datang untuk menagih utangnya.

"Kaivan?"

Suara di ujung sana tenang namun dalam. Bukan suara seorang saudara, bukan pula teman dekat. Hanya dua sisa manusia yang dilemparkan takdir ke persimpangan yang sama.

Kaivan menarik napas panjang. "Aku butuh bantuanmu," akhirnya ia berkata. Pelan, tetapi tajam seperti peluru yang menembus keheningan.

Mereka bertemu di sebuah stasiun yang sepi. Senja telah turun. Malam perlahan merayap di antara langkah kaki mereka yang sunyi. Kaivan mendekat dengan bahu berat, menggenggam tasnya seolah seluruh hidupnya berada di dalamnya. Cahaya lampu stasiun menggurat garis pucat di wajahnya.

Raphael berdiri diam, setengah tertelan bayangan. Matanya tajam, membedah Kaivan tanpa kata. Tidak ada yang berbicara. Hanya udara dingin yang mengisi ruang yang tak berani mereka ucapkan.

Kaivan berhenti di depannya. Napasnya kasar, tubuhnya lelah, tetapi hatinya terasa jauh lebih berat. Keheningan menggantung di antara mereka seperti tali yang ditarik tegang.

Lalu dengan suara serak, ia memecahnya.

"Kamu lihat berita hari ini?" gumamnya. Matanya sempat terangkat sekejap sebelum kembali jatuh.

Raphael menyilangkan tangan, wajahnya sulit dibaca, tetapi tatapannya tajam.

"Motor yang dicuri itu? Anak pejabat?"

Kaivan menelan ludah. Tangannya mencengkeram tali tas semakin kuat. Ia menarik napas panjang, tetapi tidak membawa ketenangan.

"Ya... itu aku."

Sesaat dunia terasa membeku. Raphael tidak berkata apa-apa, tetapi matanya menyipit dan rahangnya menegang.

"Aku butuh uang," bisik Kaivan. "Untuk menebus Tome Omnicent. Motorku sendiri sudah hilang... jadi... aku menggadaikan yang itu."

Raphael memandang rel kereta yang gelap, lalu kembali menatapnya. Wajahnya menyimpan campuran kekecewaan dan rasa iba.

"Kamu tahu kamu sudah membuat kesalahan," katanya pelan. "Bukan karena kamu mencuri, tapi karena dari siapa kamu mencurinya."

Kaivan mengangguk lemah. Matanya jatuh ke tanah seolah di sanalah pengampunan mungkin terkubur.

Ia membuka tasnya. Dari dalam, ia mengeluarkan Tome Omnicent, sebuah buku yang kini terasa lebih berat daripada harga apa pun yang pernah dibayarnya.

Ia membalik halaman-halamannya. Kata-kata mulai bersinar lembut, seperti hati nurani yang membisikkan kebenaran yang tak bisa lagi ia hindari.

"Buku ini bilang aku harus pergi ke polisi," gumamnya. "Memberitahu semuanya. Tentang ledakan itu... dan tentang motor itu."

Raphael memandangi temannya lama sekali. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat Kaivan sebagai pemimpin atau anak nekat. Ia melihat seorang pria yang akhirnya memilih memikul dosanya sendiri daripada terus berlari dari takdir.

Kaivan menutup Tome Omnicent perlahan.

Lalu ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah karambit hitam. Pegangannya terukir halus, bilahnya dingin dan melengkung tajam. Cahaya redup stasiun berkilau tipis di sepanjang sisinya.

"Aku akan pergi ke polisi," katanya tenang namun mantap. "Tolong simpan ini untukku. Aku tidak bisa membawanya ke sana."

Raphael menerima senjata itu dengan kedua tangan. Logamnya dingin, tetapi beban yang dibawanya terasa lebih berat dari baja.

Ia menatapnya sejenak sebelum kembali menatap Kaivan.

"Kamu yakin? Tidak ada cara lain?"

Mata Kaivan tidak lagi goyah.

"Aku mengikuti petunjuk buku ini. Mungkin memang begini jalannya. Ini bukan lagi soal benar atau salah... tapi bagaimana aku melangkah ke depan."

Raphael tidak berkata apa-apa. Di depannya berdiri seseorang yang memilih menebus kesalahannya, bukan melarikan diri.

Ia menarik napas panjang.

"Kalau begitu lakukan dengan benar," katanya pelan. "Aku akan ada di sini kalau kamu membutuhkanku."

Kaivan mengangguk, lalu berbalik pergi. Langkahnya mantap, bahkan ketika bayangannya perlahan larut ke dalam malam yang semakin pekat.

Kantor polisi Purwakarta berdiri dalam kesunyian, diterangi lampu kuning keras yang memotong udara seperti pisau. Dindingnya melemparkan bayangan panjang, dan udara terasa tebal serta dingin.

Kaivan melangkah masuk. Jantungnya berdentum seperti genderang perang, tetapi wajahnya tetap tenang. Ia tahu langkah kecil ini akan membawanya ke jalan yang tidak memiliki jalan kembali.

Di meja depan, seorang petugas yang tampak berantakan menatapnya dengan waspada. Seorang remaja kurus dengan potongan rambut mangkuk dan tangan yang sedikit gemetar.

"Ada yang bisa saya bantu?" tanya petugas itu datar.

Kaivan menarik napas dalam, berusaha menenangkan getaran di jarinya.

"Saya... ingin memberikan pernyataan. Tentang serangan teroris kemarin."

Untuk sesaat, kantor polisi itu membeku.

Suara ketikan berhenti. Telepon mendadak sunyi. Semua mata beralih kepadanya.

Seorang petugas senior berdiri dari kursinya. Rambut di pelipisnya telah memutih. Ia melakukan panggilan dengan suara pelan namun mendesak, sementara tatapan tajamnya tidak pernah lepas dari Kaivan.

Dalam hitungan menit, kabar pengakuan itu sampai ke telinga gubernur.

Di sebuah kantor redup di tempat lain, sang gubernur meletakkan penanya. Suaranya di telepon terdengar tajam dan segera.

"Tahan dia. Aku sedang menuju ke sana."

"Ikut kami," kata petugas lain.

Kaivan hanya mengangguk. Langkahnya ringan, namun berat oleh apa yang dibawanya.

Mereka membawanya menuju ruang interogasi.

More Chapters