Ficool

Chapter 52 - Sebelum Ada yang Bertanya Ke Mana Ia Pergi

Kaivan masih terlelap, beristirahat dengan damai di atas sofa. Thivi mendekat dengan langkah hati-hati, menurunkan jarinya perlahan hingga menyentuh lembut bibirnya, seperti embun yang menyapa ujung daun.

"Kaivan, ini sudah pagi… bangun, ya," bisiknya pelan, suaranya nyaris seperti alunan lagu.

Mata Kaivan bergetar sebelum perlahan terbuka, kilatan terkejut samar terpancar di dalamnya. Wajah mereka begitu dekat, hanya terpisah jarak napas. Untuk sesaat, tatapan mereka saling mengunci dalam diam, seolah waktu ikut berhenti.

"Uh… maaf," gumam Thivi gugup, buru-buru menjauh. Pipi gadis itu terasa menghangat saat ia mencoba menyembunyikan debar jantungnya dengan senyum canggung.

Kaivan mengusap wajahnya, mengembuskan napas pelan. "Nggak apa-apa. Makasih sudah bangunin," ujarnya lirih, lalu bangkit sambil merapikan rambutnya dengan jari.

Di ruang makan, aroma sarapan pagi menyebar hangat. Felicia dan Teteh Kira sibuk menyiapkan makanan, sementara ibu Kaivan duduk di ujung meja, memperhatikan mereka dengan tatapan tenang dan penuh kasih. Saat Thivi bergabung, senyum cerianya seolah menerangi ruangan, merajut harapan di awal hari yang sunyi.

Pagi menyapa dengan ketenangan—hening, namun damai. Felicia menuangkan teh, uap hangatnya membentuk bayangan pucat di udara.

"Kita harus berangkat lebih pagi. Masih banyak yang harus dikerjakan di workshop," katanya lembut, kata-katanya terasa seperti doa untuk hari panjang yang menanti.

Kaivan masuk, jemarinya bergerak cepat di layar ponsel. Ekspresinya tajam, seolah sedang menyiapkan diri untuk perang.

"Frans, datang ke rumahku. Antar Felicia dan Thivi ke workshop dulu," perintahnya melalui telepon.

Ibunya menatapnya, setengah geli, setengah khawatir. "Masih SMA, tapi sibuknya sudah kayak menteri saja," godanya, meski sorot matanya menyimpan kegelisahan.

Felicia tersenyum kecil. "Kami lagi ngerjain proyek, Bu. Sekarang tim kami sudah enam orang."

"Iya! Dan seru banget!" sahut Thivi ceria, matanya berbinar.

Kehangatan itu tampaknya cukup menenangkan ibu Kaivan. Ia mungkin belum sepenuhnya mengerti, tapi ia memilih untuk percaya.

Tak lama kemudian, Frans datang.

"Pagi! Ayo berangkat, tim para pemimpi!" serunya ceria dari kursi pengemudi.

Felicia dan Thivi melangkah keluar, siap berangkat. Namun sebelum mereka sempat masuk ke mobil, Kaivan muncul. Langkahnya mantap, namun aura wibawa terasa menekan di sekelilingnya.

"Felicia, kita berangkat sekarang."

"Iya, Kaivan!" jawab Felicia cerah, tetapi langkahnya sempat ragu saat Kaivan menambahkan,

"Aku nyusul pakai motor. Kalian jalan duluan."

Thivi memiringkan kepala, curiga. "Kamu mau ke mana, Kaivan?"

Ia hanya tersenyum tipis. "Ada yang harus aku urus. Tenang saja."

Tak ada penjelasan lebih lanjut. Hanya senyum yang menyimpan rahasia.

Mesin motor meraung, merobek keheningan pagi. Ia mengenakan helm, menengadah sesaat ke langit, lalu menarik napas dalam. Putaran pertama gas bukan hanya menandai kepergiannya, tapi juga awal dari pilihan yang tak akan pernah bisa ia tarik kembali.

Di belakangnya, Thivi dan Felicia berdiri memperhatikan. Meski rasa ingin tahu membara di hati, keduanya memilih mempercayai keputusan Kaivan. Thivi memaksakan senyum kecil, mengangkat tangan memberi lambaian samar.

"Jangan lama-lama, ya," katanya ringan, meski matanya menyimpan sedikit kecemasan.

Kaivan menoleh, memberikan senyum tipis namun tulus. "Nggak akan. Aku janji."

Felicia, dengan tangan bersedekap, menatapnya sejenak sebelum berbalik menuju mobil. Ia mengangguk singkat—diam, namun penuh kekhawatiran. Frans, yang sudah duduk di balik kemudi, melambaikan tangan santai.

"Kita jalan dulu ya, bro. Jangan lupa mampir ke workshop nanti."

Kaivan hanya mengangguk, lalu mengalihkan pandangannya ke jalan di depan. Mobil perlahan menjauh, membawa Felicia dan Thivi menuju workshop tempat mereka biasa menghabiskan hari.

Sementara itu, Kaivan memutar gas motornya pelan. Angin pagi menarik beberapa helai rambut yang lolos dari bawah helmnya. Tujuannya jelas: sebuah rumah mewah di distrik utara, tempat seorang wanita tua tinggal.

Di tengah denyut kota…

Kota tetap hidup bahkan sejak pagi buta. Gedung-gedung tinggi seolah menggores langit, jalanan dipenuhi arus kendaraan yang tak pernah benar-benar berhenti, dan orang-orang bergegas menjalani hidup mereka. Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang terasa janggal—seperti arus bawah yang tidak pada tempatnya.

Di dalam sebuah kafe mewah di pusat kota, dua pria berpenampilan rapi duduk berhadapan di meja marmer yang mengilap. Cahaya redup menari di atas cangkir kopi hitam mereka.

"Hei, kamu dengar rumor itu?" tanya salah satu dari mereka—pria berjas hitam dengan wajah tajam dan sikap waspada. Suaranya rendah, berat, seolah membawa rahasia besar. Ia meletakkan sendoknya dan menatap lawan bicaranya dengan serius.

Pria satunya—berkumis tipis dengan mata penuh kehati-hatian—mengangkat alis.

"Maksudmu apa?" tanyanya singkat, meski rasa penasaran jelas terdengar dalam nadanya.

More Chapters