Ficool

Chapter 51 - Di Bawah Langit yang Sama, Bukan Jalan yang Sama

"Kenapa semuanya harus serumit ini?" gumamnya. Pertemuan yang tiba-tiba, pengakuan yang tertunda, dan dua gadis yang kini ada dalam hidupnya—semuanya terasa seperti teka-teki yang tidak pernah ia minta.

Langkah kaki lembut memecah keheningan. Felicia muncul mengenakan piyama biru muda, rambut panjangnya jatuh lembut di bawah cahaya bulan, sosoknya terlihat seperti siluet rapuh. Di sampingnya berjalan Thivi, tenang namun cerah, mengenakan pakaian tidur bermotif bunga.

"Kaivan, kamu di sini? Harusnya kamu istirahat," suara Felicia lembut, namun menyimpan kekhawatiran.

Kaivan mengembuskan asap perlahan. "Kalian juga harusnya tidur."

Thivi duduk di dekat tepi atap, menyalakan rokoknya sendiri. "Aku cuma penasaran. Kamu kelihatan seperti memikul terlalu banyak di pikiranmu."

"Thivi, sekali saja kamu tidak bisa lebih peka?" potong Felicia, duduk di sisi Kaivan. Tatapannya menembusnya, bukan karena marah, tapi karena putus asa mencari kebenaran. "Kalau ada yang mengganggumu, bilang saja."

Kaivan terdiam. Matanya tenggelam dalam bayangan, sebelum kata-kata akhirnya keluar. "Semuanya terjadi terlalu cepat. Buku itu… perjalanan ini… dan kalian berdua. Rasanya seperti aku tenggelam tanpa kesempatan untuk bernapas."

Thivi mendekat, ekspresinya tegas. "Kami juga tidak siap. Tapi kita sudah sejauh ini, tidak ada jalan untuk mundur."

Felicia mengangguk, suaranya stabil. "Kami di sini untukmu. Apa pun yang terjadi, kamu tidak sendirian." Tangannya menyentuh lengannya dengan ringan, kecil namun nyata.

Kaivan menatap mereka berdua. Untuk pertama kalinya malam itu, beban di dadanya terasa sedikit berkurang.

"…Terima kasih," bisiknya. Lembut, namun cukup kuat untuk bergema di bawah langit luas.

Saat ia membuka Tome Omnicent, kata-kata samar berkilau di halaman: Selanjutnya, Kaivan harus melakukan perjalanan ke timur. Pergilah sendiri, dalam sepuluh hari terakhir.

Desahan kecil lepas dari bibirnya. "Sepertinya aku harus pergi ke timur. Sendirian," gumamnya, lebih seperti meyakinkan dirinya sendiri daripada siapa pun.

Felicia, yang berdiri di sudut, melangkah maju. Gerakannya tenang, tapi matanya menyimpan badai yang tak terucap. "Aku ingin ikut denganmu, Kaivan," katanya pelan, namun penuh tekad. "Kalau sesuatu terjadi, kita bisa saling melindungi."

Kata-katanya rapuh, namun menekan berat, seperti bisikan yang membawa guntur. Tatapannya tak pernah goyah, dipenuhi harapan sekaligus takut kehilangan.

Namun sikap Kaivan tetap teguh. Matanya dalam, suaranya pelan tapi pasti. "Tidak, Felicia. Aku bisa menangani ini sendiri."

Ia menoleh sebentar sebelum menambahkan, "Besok, kamu urus workshop. Kalian berdua harus tetap di sini. Istirahat yang cukup."

Nada suaranya lembut, namun tak memberi ruang untuk bantahan. Seolah dunia sedang runtuh, namun ia tak punya pilihan selain tetap berdiri tegak.

Wajah Felicia goyah. Di balik diamnya tersimpan luka. Ia mencari-cari celah dalam keyakinan Kaivan. Akhirnya, ia berbisik, "Aku tidak mau kamu pulang dalam keadaan hancur lagi… seperti waktu kamu melawan Julian."

Sebelum ia sempat melanjutkan, tawa kecil lepas dari bibir Thivi, memecah malam seperti angin nakal. Matanya berkilau jahil.

Kaivan mengernyit. "Hancur?" gumamnya. Kenangannya berkilat, tapi yang muncul hanya luka lebam… yang justru disebabkan oleh Felicia.

Ia menoleh, menatap Felicia dengan mata penuh tanya. Pertanyaan yang tak terucap menggantung di udara malam yang dingin.

Thivi tertawa lepas, suaranya menggema seperti petir yang bermain-main. "Bukannya kamu yang bikin dia lebam waktu itu, Felicia?" godanya, membiarkan kebenaran menggantung di udara seperti lelucon yang terlalu tajam untuk diabaikan. Tawanya memecah ketegangan, mekar seperti bunga di akhir musim gugur.

Felicia tertawa malu, menggaruk tengkuknya saat pipinya memanas. "Itu… benar sih…" akunya pelan. Namun lalu suaranya berubah, lebih dalam, lebih jujur. "Aku cuma tidak mau dia terluka lagi. Dia harus berlatih lebih keras… supaya suatu hari nanti bisa melindungiku." Kata-katanya keluar seperti doa, setengah bercanda, setengah permohonan.

Malam memeluk mereka, dingin namun entah kenapa terasa menenangkan. Tak lama kemudian, mereka kembali ke dalam kamar. Felicia dan Thivi meringkuk bersama di tempat tidur Kaivan, sementara Kaivan sendiri berbaring di sofa sederhana ruang tamu, membiarkan teman-temannya tidur hangat di ruang yang dulu miliknya.

Fajar menyelinap lembut ke dalam rumah, menyentuh sudut-sudut dengan cahaya. Dari dapur, suara Teteh Kira terdengar seperti lonceng pagi. "Bangun, kita harus bersiap-siap." Kehadirannya membawa ketenangan sunyi yang memenuhi udara.

Felicia bergerak, berguling malas sebelum membuka mata mengantuknya. Thivi sudah duduk tegak, rambutnya berantakan, namun senyumnya mekar seperti matahari pagi. Ia meregangkan tubuh, menghela napas panjang, lalu berjalan pelan menuju ruang tamu.

More Chapters