Ficool

Chapter 2 - Chapter 2

Gerbang Kota Odelia menjulang tinggi di hadapanku bagaikan raksasa batu yang siap menelan dompet siapa pun yang berani masuk. Bau kota ini adalah campuran antara aroma roti panggang, kuda, dan... entah kenapa, bau ketiak prajurit yang sedang berjaga.

"Jangan bengong, Pahlawan Panci. Tutup mulutmu, lalat bisa bersarang di sana," tegur Elena sambil terus berjalan dengan langkah yang anggun namun sangat cepat.

Aku mengerjap, buru-buru menyusulnya sambil memeluk panci hitamku erat-erat. "Nona Elena, apa semua orang di sini bawa senjata sebesar itu?" tanyaku sambil menunjuk pedang raksasanya.

"Ini Odelia, Rian. Kota para petualang. Di sini, kalau kau tidak membawa senjata, kau dianggap sebagai 'makanan gratis' bagi pencopet atau succubus jalanan."

"Succubus jalanan? Wah, kedengarannya tidak sebu—"

Kiplak!

Elena memukul bagian belakang kepalaku dengan sarung pedangnya. "Jangan berpikir mesum. Mereka akan menghisap energimu sampai kau terlihat seperti kismis kering dalam tiga menit."

[Ding!] [Peringatan: Hormon Anda terdeteksi meningkat 0.5%.] [Saran: Ingatlah wajah Anda di cermin sebelum berharap terlalu tinggi.]

"Sistem sialan! Berhenti menghinaku!" teriakku dalam hati.

Saat kami sampai di gerbang utama, seorang penjaga dengan zirah yang terlihat lebih berat dari beban hidupku menghentikan kami.

"Identitas," katanya datar.

Elena mengeluarkan sebuah lencana perak dengan lambang sayap dan pedang. Si penjaga seketika berdiri tegak, melakukan hormat militer yang sangat kaku hingga aku takut lehernya patah.

"Komandan Elena! Selamat datang kembali! Dan... siapa orang yang mencurigakan di belakang Anda ini?" Penjaga itu menatapku seolah aku adalah tumpukan sampah yang bisa bicara.

"Dia pembantuku. Namanya Rian. Dia... sedikit kurang waras, tapi bisa memukul slime dengan alat dapur," jawab Elena tanpa ekspresi.

"Hah?! Kurang waras?!" protesku.

Penjaga itu menatap panciku, lalu menatap wajahku, dan akhirnya mengangguk paham. "Ah, saya mengerti. Tipe-tipe 'pahlawan gadungan' yang stres karena gagal ujian masuk akademi ya? Baiklah, pajaknya 5 keping perunggu."

"Pajak apa?" tanyaku bingung.

"Pajak Napas bagi Pendatang Baru Tanpa Lisensi," jawab si penjaga santai.

"Napas saja dipajaki?! Dunia ini kapitalis sekali!" Aku merogoh saku celanaku, hanya untuk menemukan permen karet bekas dan debu. Aku menatap Elena dengan tatapan memelas. "Nona Elena... pinjam dulu seratus?"

Elena menghela napas, sebuah suara yang terdengar seperti keputusasaan murni. Dia melemparkan kepingan koin ke penjaga itu. "Ayo cepat masuk sebelum aku berubah pikiran dan meninggalkanmu jadi tukang sapu jalanan."

Kota Odelia sangat ramai. Kereta kuda berlalu lalang, para pedagang berteriak menawarkan ramuan yang katanya bisa menumbuhkan rambut dalam semalam, dan di tengah alun-alun, ada patung seorang ksatria yang sedang menusuk naga.

Kami berhenti di depan sebuah bangunan megah dengan papan nama kayu bertuliskan: GUILD PETUALANG: TEMPATMU MATI DENGAN TERHORMAT (ATAU KAYA).

"Dengar, Rian," Elena berbalik, menatapku serius. "Aku membawamu ke sini bukan karena aku baik hati. Aku butuh orang untuk misi eksplorasi ke Reruntuhan Kuno besok. Jika kau bisa mendapatkan Lisensi Petualang hari ini, kau ikut denganku. Jika gagal, kau silakan cari makan dengan menjual pancimu itu."

"Tenang saja, Nona Elena. Di dunia lamaku, aku ini raja game RPG! Ujian lisensi seperti ini pasti kecil!" kataku penuh percaya diri.

[Ding!] [Mendeteksi Kepercayaan Diri yang Tidak Berdasar.] [Quest Baru Aktif: "Lulus Ujian Tanpa Membuat Malu Harga Diri Manusia".] [Reward: Peta Kota dan Sabun Mandi (Karena Anda bau).] [Penalty: Gelar "Pecundang Abadi" akan terkunci selamanya.]

Aku masuk ke dalam Guild dengan langkah tegap. Di dalam, suasana sangat riuh. Para petualang berotot sedang minum bir, ada penyihir yang sedang merapikan jubahnya, dan di meja resepsionis, duduk seorang gadis cantik dengan telinga kucing. Catgirl! Ini benar-benar Isekai impian!

Aku mendekati meja itu. "Nona, aku ingin mendaftar jadi pahlawan!"

Gadis telinga kucing itu menatapku dari bawah ke atas, lalu berhenti di panciku. Dia menghela napas, telinganya layu. "Meja pendaftaran koki ada di gedung sebelah, Kak."

"Bukan! Ini senjataku!" kataku sambil menghantamkan panci ke meja. TANG!

Seluruh ruangan seketika hening. Semua mata tertuju padaku.

"Apa itu barusan? Bunyi panci?" bisik seorang petualang berjanggut besar. "Dia mau masak di sini?" tanya yang lain.

Wajah Elena memerah bukan karena malu romantis, tapi karena dia benar-benar ingin menenggelamkan kepalaku ke dalam tong bir terdekat. Dia menutupi wajahnya dengan tangan. "Aku tidak kenal dia... aku tidak kenal dia..." gumamnya.

"Aku mau tes lisensi!" teriakku lagi, berusaha menjaga martabat.

Gadis resepsionis itu menggaruk telinganya. "Baiklah... Kakak Panci. Silakan berdiri di depan 'Bola Kristal Pengukur Potensi' ini. Letakkan tangan Kakak di sana, dan kita lihat apakah Kakak punya mana atau kekuatan spesial."

Aku melangkah ke arah bola kristal besar di sudut ruangan. Ini dia. Momen di mana kekuatanku yang tersembunyi akan meledak dan membuat semua orang sujud menyembahku.

Aku meletakkan tangan kananku. Aku memejamkan mata, berkonsentrasi pada energi di dalam tubuhku. Ayo, bangkitlah naga hitam! Bangkitlah kekuatan kegelapan!

Bola kristal itu mulai bergetar. Cahaya putih mulai muncul.

"Lihat! Dia punya bakat!" teriak seseorang.

Cahaya itu semakin terang, semakin silau, dan tiba-tiba...

PUFF.

Bola kristal itu mengeluarkan suara seperti kentut dan cahayanya berubah menjadi warna cokelat kusam. Di atas bola itu, muncul tulisan melayang: [BAKAT: MENCUCI PIRING & SURVIVAL TINGKAT RENDAH].

Tawa meledak di seluruh ruangan Guild. Para petualang sampai memukul-mukul meja karena geli.

"Mencuci piring?! Hahahaha! Hei, Nak! Berapa tarifmu untuk membersihkan piring di markas kami?" teriak seseorang sambil melempar kepingan koin padaku.

Aku berdiri mematung. Harga diriku hancur berkeping-keping lebih halus daripada MSG.

Namun, saat tawa mereka memuncak, sesuatu terjadi. Sistem di depanku tiba-tiba berubah warna menjadi merah pekat selama satu detik.

[Ding!] [Glitch Terdeteksi...] [Menyembunyikan Statistik Asli...] [Memaksakan Status "Ampas" demi Keamanan Dunia...]

Aku tidak melihat pesan itu karena aku terlalu sibuk meratapi nasib. Tapi Elena, yang sedari tadi memperhatikan dari jauh, menyipitkan matanya. Dia melihat bola kristal itu retak sedikit di bagian bawah, seolah-olah bola itu baru saja menahan tekanan yang luar biasa besar untuk tidak meledak.

"Sudah cukup!" Elena berjalan maju, auranya yang dingin seketika membungkam tawa semua orang. Dia menarik kerah bajuku. "Dia lulus. Dia punya bakat 'Survival', itu cukup untuk jadi pembawa barangku."

Gadis resepsionis itu gemetar. "T-tapi Komandan, statusnya hanya..."

"Tulis saja dia lulus, atau aku akan melaporkan sanitasi gedung ini pada dewan kota," ancam Elena.

"B-baik! Ini lisensi sementara Anda, Kak Rian!"

Aku menerima kartu kayu kecil itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih, Nona Elena. Kau penyelamatku."

"Diamlah. Kau berutang banyak padaku," bisik Elena tajam. "Sekarang ayo pergi. Aku lapar, dan kau harus memasak sesuatu dengan panci itu untuk membuktikan kau bukan beban murni."

Saat kami berjalan keluar, aku menoleh ke belakang sebentar. Bola kristal tadi sekarang benar-benar hancur menjadi debu.

[Corruption Meter: 0.05%] [Catatan: Kemarahan adalah bumbu terbaik, tapi jangan sampai gosong.]

Aku merinding tanpa alasan. Mungkin aku butuh jaket, pikirku polos, tidak menyadari bahwa sesuatu yang sangat gelap sedang merayap di dalam jiwaku.

More Chapters