Ficool

Chapter 3 - Bab 2 — Tiga Anak dari Tiga Dunia

1. Gadis Kecil yang Tidak Bisa Diam

Sejak umur tiga tahun, Jiang Jiuyue sudah menunjukkan satu hal:

Dia tidak bisa dikurung.

Paviliun Langit Biru boleh memiliki formasi pelindung terkuat…

tapi tidak ada formasi yang bisa menahan keinginan Jiuyue untuk kabur.

Setiap kali Jiang Li bertapa, setiap kali para penjaga lengah…

*Saat usia Jiuyue 7 tahun,Tao dan Tang Yi 9 Tahun

> Tap. Tap. Tap.

Jiuyue kecil itu sudah memanjat pagar batu

dengan gerakan yang bahkan murid dewasa pun akan kagum melihatnya.

Rambut pendeknya melambai, matanya berkilau nakal.

"Aku cuma mau lihat awan!" teriaknya.

Dan setiap kali…

> "JIU YUE! Turun!!"

Jiang Tao—yang dua tahun lebih tua dari Jiuyue—sudah lari pontang-panting mengejarnya.

Wajah Tao merah, nafas ngos-ngosan,

sementara Jiuyue berdiri di atas pagar seperti rubah kecil yang sedang bangga pada dirinya sendiri.

"Aku tidak akan jatuh, Tao! Lihat, aku seku—"

BRUK!

Tao menubruknya dari belakang sebelum dia melompat lebih jauh.

"Kalau kamu mati, Paman akan menguliti aku! Turun!!"

Jiuyue hanya tertawa keras.

> Sesulit apapun dunia kelak, masa kecilnya selalu penuh cahaya.

Cahaya itu bernama Jiang Tao.

---

2. Anak Lembah Awan Dalam

Di sekte lain, Lembah Awan Dalam, seorang anak laki-laki kecil hidup jauh berbeda dari Jiuyue.

Namanya Tang Yi.

Ia pendiam, tubuhnya lemah, dan bela dirinya selalu tertinggal jauh.

Banyak murid kecil mengejeknya:

"Tubuh lembek!"

"Putra pemimpin sekte kok lemah begitu?"

"Kamu hanya cocok baca buku!"

Tang Yi hanya menunduk, mengenggam ujung pakaiannya.

Ia tidak berani membalas.

Ia hanya ingin hari berlalu tanpa membuat ayahnya kecewa.

Namun suatu hari… nasib membawanya ke Paviliun Langit Biru.

Ayahnya, Tang Yanjun, hendak bertemu Jiang Li,

dan Tang Yi ikut—meski hanya berdiri diam di belakang.

Ia berjalan perlahan di pelataran, sendirian…

hingga tiga anak laki-laki dari sekte tamu lain mengepungnya.

"Eh—lihat siapa ini."

"Putra pemimpin sekte yang cuma bisa baca mantra penyembuhan!"

Tang Yi memeluk buku kecilnya erat-erat.

"A—aku tidak ingin bertengkar…"

"Siapa yang suruh kau bicara?"

Salah satu menampar buku di tangan Tang Yi hingga jatuh di tanah.

Yang lain mendorong bahunya.

Tang Yi menggigit bibirnya.

Matanya berkaca-kaca namun ia tetap diam.

Sampai sebuah suara lantang meledak:

> "BERANINYA KALIAN!"

---

3. Pertemuan Pertama

Jiang Jiuyue melompat dari dahan pohon.

Benar-benar melompat—seolah ia adalah siluman kecil.

Rambutnya acak-acakan, wajahnya kotor tanah,

tapi sorot matanya… menyala seperti bara.

"Jika berkelahi, lawan yang setara!

Kalian bertiga lawan satu anak lemah? Memalukan!"

Ketiga anak itu melangkah mundur.

Jiang Tao datang terlambat dan langsung panik.

"JIU YUE! Kamu memanjat pohon lagi?! Ayahmu—"

"Tao, diam. Ini penting!"

Jiuyue mendorong Tao ke belakang seperti menggusur sebuah tiang kayu.

Ia berdiri di depan Tang Yi, melindunginya dengan tubuh kecilnya.

Tang Yi tertegun.

Anak ini…

yang bahkan ia tidak kenal…

berani berdiri untuknya?

"H-hei… dia hanya Tang Yi, masa perlu—"

BUK!

Jiuyue menendang salah satu anak tepat di lutut, membuat mereka jatuh.

"Pergi kalau tidak mau kupukul lagi!"

Ketiga anak itu kabur sambil memaki.

Tao menghela napas panjang sambil menutupi wajahnya.

"Aku akan mati muda kalau terus begini…"

---

4. Tunas Rasa Suka yang Pertama

Setelah semuanya tenang, Jiuyue berjongkok mengambil buku kecil yang jatuh.

Ia menepuk-nepuk debunya

lalu menyodorkannya pada Tang Yi dengan senyum cerah seperti bunga liar setelah hujan.

"Nih. Jangan biarkan orang lain merusaknya lagi."

Tang Yi memegang buku itu… perlahan.

"Terima kasih…"

Suaranya lembut, hampir tidak terdengar.

Jiuyue mencondongkan tubuh.

"Kamu memang lemah, ya?"

Tang Yi tersentak dan menunduk.

"Tapi," kata Jiuyue sambil tersenyum lebar,

"kamu tidak jahat. Orang baik itu langka. Aku suka!"

Wajah Tang Yi memanas.

Bukan karena dia dipuji…

tetapi karena anak ini—yang begitu bebas dan terang—

mengatakan "aku suka" tanpa ragu, tanpa malu, tanpa maksud apa pun.

> Saat itulah Tang Yi jatuh cinta.

Diam-diam. Dalam. Dan selamanya.

Tao menepuk pundak Tang Yi sambil menggerutu:

"Hati-hati. Dia memang begitu pada semua orang. Jangan baper."

Tapi Tang Yi hanya tersenyum kecil.

Aku tahu, pikirnya.

Tapi aku tetap… menyukai dia.

Pertemuan Takdir di Hutan Larangan

7. Gadis Liar yang Sulit Dikurung

Hari itu, para penjaga Paviliun Langit Biru kembali dibuat pusing.

Jiang Jiuyue berlari sekencang angin,

melemparkan buah-buahan kecil ke arah para penjaga sambil tertawa.

"Kejar aku kalau bisaaa!"

"Jiu Yue! Berhenti! Ayahmu akan—"

"Ayahku sedang rapat! Tidak ada yang bisa menangkap aku!"

Tao mengejar di belakang sambil berteriak panik:

"Jiu Yue! Jangan kabur jauh-jauh! Kamu mau kita berdua mati dimarahi Paman?!"

Namun Jiuyue tidak mendengar apa–apa.

Ia hanya melihat dunia luas… dan ingin mendekatinya.

Dan di satu tikungan kecil…

Ia melewati barisan bambu

…dan salah langkah masuk ke wilayah yang tidak boleh dilewati siapapun:

Hutan Larangan di belakang Paviliun Langit Biru.

---

8. Tersesat… dan Tertarik

Jiuyue berhenti setelah menyadari tidak ada Tao atau suara penjaga.

Hutan itu sunyi.

Udara dingin, namun terasa lembut.

Cahaya matahari hampir tidak sampai ke tanah.

"Eh… aku di mana?"

Alih-alih takut, mata Jiuyue justru berbinar:

"Waaah… tempatnya indah!"

Ia berjalan lebih dalam, mengikuti aliran energi yang terasa hangat—tidak seperti energi sektenya.

Sampai ia tiba di sebuah area yang dipenuhi akar hitam…

dan di tengahnya berdiri sebuah pohon besar dengan aura kelam namun agung:

Pohon Kehancuran — tempat Shi Liu bersemayam.

---

9. Pertemuan Takdir

Di bawah pohon itu…

Ada seekor rubah kecil berwarna perak gelap

dengan sepuluh ekor kecil yang belum berkembang penuh.

Ia tidur dengan tubuh meringkuk, bulunya bercahaya redup seolah menyimpan bintang-bintang.

Jiang Jiuyue terpana.

Matanya membulat penuh kekaguman.

"…Cantik sekali…"

Ia berjongkok perlahan.

Tidak ada rasa takut—hanya rasa suka yang polos dan murni.

Dengan tangan kecilnya,

ia menyentuh bulu rubah itu…

dan bulunya terasa hangat, seperti menyentuh malam berbintang.

Rubah itu—Shi Liu—merasakan sesuatu mengalir dalam dirinya.

Pecahan jiwa yang hilang.

Energi itu… ada di anak ini.

Kelopak matanya bergetar.

Ia perlahan membuka mata—warna merah tua yang seperti bara.

Namun saat ia bangkit…

Tidak ada siapa pun.

Hanya daun yang jatuh.

Jejak langkah kecil… memudar.

Shi Liu sempat merasakan kehangatan yang menakutkan familiar—

Pecahan jiwaku… kembali? Atau… direnggut?

Ia menggeram pelan, tubuh kecilnya bergetar antara marah dan lemah.

---

*Peluit yang Berbunyi untuk Pertama Kali

Di luar hutan, kekacauan terjadi.

"Nona Jiang hilang!" teriak salah satu penjaga paviliun.

"Tuan akan membunuh kita semua!"

"Tao, kau lihat dia ke mana?!"

Tao benar-benar pucat.

"Aku… kehilangan dia…"

Tang Yi yang sedang berkunjung dengan ayahnya mendengar percakapan itu.

Wajahnya langsung berubah drastis—panik, takut, cemas bercampur jadi satu.

Ia memegang peluit burung yang tergantung di lehernya.

Jangan tiup sembarangan, kata Jiuyue.

Tiup hanya kalau kamu benar-benar perlu.

Tang Yi menggigit bibirnya.

Jiuyue hilang… dia sendiri… dia mungkin ketakutan…

Dengan tangan gemetar, Tang Yi meniup peluit itu.

"Fiuuuuuuuuuuu—"

Suara melengking memenuhi udara.

*Sementara itu di kediaman Jiang—

"APA?!"

Suara Jiang Li, kepala keluarga Jiang, mengguncang udara. Para pelayan membeku, penjaga menunduk, dan pengurus rumah hanya mampu gemetar.

"Putriku… membuat keonaran lagi?" Jiang Li menatap para penjaga yang baru kembali, matanya merah oleh amarah dan kekhawatiran. "Kalian biarkan dia kabur sampai masuk ke dalam Hutan Kabut Dalam?! Apa otak kalian ditinggal di gerbang?!"

Para penjaga langsung berlutut.

"Maaf, Tuan! Nona Jiuyue berlari tanpa arah—kami sudah mengejar, tapi saat bertemu bin—"

"Diam!" bentak Jiang Li, suaranya bergetar. "Kalian bahkan tidak tahu seberapa berbahayanya tempat itu."

Namun setelah letupan amarah itu, bahunya perlahan merosot. Ada kesedihan di balik tatapan tajamnya.

"…Dia pasti ketakutan," gumamnya sangat pelan.

Salah satu pengurus rumah memberanikan diri bertanya, "Tuan… apakah kita harus mencari Nona Jiuyue lagi?"

Jiang Li menatap jauh, ke arah hutan. Rasa menyesal perlahan muncul — ia terlalu keras, terlalu mengekang. Anak itu memang nakal… tapi juga kesepian.

"…Cari dia," ucap Jiang Li lirih namun tegas. "Kalau dia terluka, kalian semua…"

Ancaman itu tidak selesai, tapi semua orang sudah mengerti.

---

*Jiuyue Mendengar

Di dalam hutan larangan, Jiuyue menghentikan langkahnya.

Telinganya menangkap suara peluit itu—jelas, memanggil, sedikit gemetar.

Ia langsung berdiri.

"Kakak Tang Yi…?"

Wajahnya berubah serius untuk pertama kalinya.

Tanpa menoleh lagi pada pohon hitam atau rubah misterius itu,

ia berlari sekencang yang ia bisa.

Ranting-ranting mengenai tubuhnya, tetapi ia tidak peduli.

Ia harus keluar.

Ia harus pergi ke suara itu.

Ia harus memastikan Tang Yi baik-baik saja.

Peluit itu… adalah janji.

Dan Jiang Jiuyue bukan anak yang suka mengingkari janji.

---

…Jiuyue Berlari Keluar dari Hutan, dan Tang Yi Merasa Napasnya Kembali

Setelah bertemu Shi Liu yang tertidur di bawah Pohon Kekacauan… setelah merasakan aura aneh yang membuat kulitnya merinding… dan setelah mendengar peluit burung Tang Yi dari kejauhan, Jiuyue akhirnya kembali berlari menembus kabut ungu kehijauan hutan larangan itu.

Kakinya tergores ranting.

Rambutnya kusut.

Napasnya memburu.

Namun ia terus berlari, mengikuti suara peluit yang terputus-putus —

tiuup… tiuuup…

tiuup…

Tang Yi meniup peluit itu dengan panik, matanya memerah, tubuhnya gemetar.

"Yue Yue… tolong… jangan apa-apa…"

Ia tak tahu kenapa hatinya terasa sangat sesak.

Padahal mereka masih kecil.

Tapi bayangan Jiuyue hilang entah ke mana membuat dunia Tang Yi seakan ikut retak.

Langkah kaki ringan itu terdengar sebelum sosok kecil berlari keluar dari hutan. Dedauan basah masih menempel di rambut Jiang Jiuyue, wajahnya memerah karena lelah dan gugup. Namun begitu matanya menangkap bayangan yang menunggunya di tepi jalan setapak…

Tang Yi.

Pemuda itu berdiri kaku sejak tadi, jantungnya nyaris pecah menahan cemas. Begitu melihat Jiuyue muncul, tubuhnya sungguh seperti kehilangan tulang—rasa lega membuatnya hampir jatuh berlutut.

"Yue Yue!" serunya.

Jiuyue tersentak, lalu tersenyum lebar seperti biasa—meski senyum itu sedikit bergetar. "Kakak Tang Yi! Aku tidak hilang kok, cuma… tersesat sedikit."

Tang Yi langsung meraih bahu gadis itu, matanya memeriksa setiap inci tubuhnya.

"Kau kotor, lecet, dan hampir diburu penjaga dari kediaman besar Jiang… Itu bukan 'tersesat sedikit', Jiuyue."

Gadis itu mengerjap, kebiasaan nakalnya muncul lagi. "Hehe… tapi aku masih hidup kan?"

Tang Yi menghela napas sangat panjang, seolah melepaskan seluruh kecemasan semalam. "Jangan lakukan itu lagi. Kau membuatku—" Ia terdiam, tenggorokannya mengeras. "—kau membuatku takut setengah mati."

Untuk pertama kalinya hari itu, Jiuyue menunduk, jemari kecilnya mencubit ujung baju. "Maaf… Aku hanya ingin kabur sebentar. Mereka selalu mengurungku. Ayah juga… Ah, sudahlah."

Tang Yi menatapnya, penuh iba dan frustrasi. Namun ia tahu, Jiuyue bukan tipe yang suka dihakimi. Jadi ia hanya mengangguk dan berkata lembut,

"Ayo pulang dulu. Kita bersihkan luka-lukamu."

Jiuyue tersenyum tipis—senyum yang jarang muncul, lebih tenang, lebih… manusia.

Mata kecil Tang Yi langsung berkaca-kaca — sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

"Aku… aku pikir… kau tak akan kembali…"

Jiuyue tersenyum lebar, menghapus air mata di pipi Tang Yi dengan punggung tangannya.

"Dasar bodoh. Aku kan janji akan datang kalau kau tiup itu."

Tang Yi mengangguk keras, wajahnya memerah, napasnya terisak sedikit.

Ia langsung memeluk Jiuyue erat-erat, seolah takut gadis itu akan hilang lagi.

"Kau bau tanah…" keluh Jiuyue, tapi tidak menolak.

---

…Namun Kedamaian Itu Tak Bertahan Lama

Beberapa menit kemudian, suara berat yang sangat dikenali keduanya terdengar.

"JIU—YUE!!!"

Keduanya menegang.

Dari balik pohon-pohon besar, Jiang Li — pemimpin Paviliun Langit Biru — muncul dengan wajah gelap dan aura tekanan spiritual yang membuat dedaunan di sekitarnya berguguran.

Di belakangnya, para penjaga pucat pasi.

Jiang Li menatap Jiuyue dari kepala sampai kaki.

Rambut kusut.

Kotor penuh tanah.

Baju robek sedikit.

Luka gores di lengan.

Sementara Tang Yi masih memeluknya.

Mata Jiang Li berkedut.

"…kau. Lagi."

Jiuyue tersenyum kaku. "Ayah… hai?"

"HAI? Kau pikir ayahmu ini apa? Burung pipit di atap?! Kau masuk hutan larangan, Jiang Jiuyue!"

Tanah bergetar sedikit karena tekanan spiritualnya.

Para penjaga mundur tiga langkah.

Tang Yi cepat-cepat melepaskan pelukannya dan berdiri tegap, meskipun lututnya gemetar.

"T-Tetua Jiang… itu… i-ini salah saya… saya yang—"

"Berani-beraninya kau mengambil alih kesalahan putriku?"

Jiang Li mendelik. "Jangan kira aku tidak tahu kalau dia menyeretmu dalam semua kekacauannya!"

Jiuyue langsung meraih tangan ayahnya.

"Ayah, jangan marah pada Tang Yi! Aku yang kabur! Aku yang masuk hutan! Tang Yi sama sekali tidak tahu!"

Jiang Li mengusap wajahnya lelah.

"Yue'er… berapa kali ayah bilang… dunia luar itu berbahaya."

"Aku tahu…"

"Tidak. Kau tidak tahu."

Jiang Li menatap luka di lengan anaknya dan wajahnya mengeras.

Tapi kemudian…

Ia menarik napas panjang, melepaskan sebagian tekanan spiritualnya.

Suaranya melembut.

"Ayah hanya… tidak mau kehilanganmu."

Jiuyue terdiam.

Tang Yi menatap Jiang Li dalam-dalam.

Untuk pertama kali, ia mengerti kenapa Jiuyue selalu disembunyikan.

Dan entah kenapa… itu membuatnya ingin melindungi gadis itu lebih keras lagi.

Jiang Li akhirnya mengangkat Jiuyue ke pangkuannya meski gadis itu berontak.

"Aku bisa jalan sendiri!!"

"Diam."

"Ayah jahat!!"

"Benar. Dan akan lebih jahat kalau kau kabur lagi."

Para penjaga menunduk, menahan tawa takut.

Tang Yi mengejar langkah mereka.

"T-Tetua Jiang! Saya… boleh ikut mengantar?"

Jiang Li meliriknya.

"Tidak. Kau pulang dan belajar bela diri."

Tang Yi menunduk. "B-baik…"

Tapi sebelum Jiang Li pergi, Jiuyue menoleh dan mengacungkan peluit ke arah Tang Yi.

"Aku dengar peluitmu tadi! Jadi, kalau kau butuh aku lagi, tiup saja!"

Tang Yi menggenggam peluit itu sekuat tenaga.

Dan di belakang Jiang Li yang mulai menjauh, Jiuyue melambai kecil sambil tersenyum.

Tang Yi merasakan hatinya menghangat…

dan tekad dalam dirinya semakin kokoh:

"Aku akan menjadi kuat. Aku akan melindunginya, suatu hari nanti."

_

More Chapters