Ficool

Chapter 5 - Bab 4 Jejak yang Tidak Seharusnya Ada

Kabut menelan langkah Shi Liu.

Namun lembah utara tidak pernah benar-benar sunyi bagi makhluk sepertinya. Tanah, batu, bahkan udara—semuanya berbisik. Dan bisikan itu kini berantakan, seperti jejak yang dipaksa ada oleh kehendak asing.

Langkahnya berhenti.

Shi Liu menurunkan pandangan ke tanah yang retak samar. Di sana, tersisa denyut halus—lemah, hampir tak terasa bagi makhluk lain.

Namun baginya…

Itu jelas.

Pecahan jiwanya telah beresonansi.

"Bukan artefak," gumamnya dingin.

"Bukan teknik."

Jemarinya menyentuh udara. Getaran tipis menjalar ke tulangnya, ke inti eksistensinya.

"…seorang manusia."

Nada suaranya turun satu tingkat. Lebih berbahaya.

Manusia seharusnya tidak mampu menyentuh sesuatu setua itu. Bahkan para kultivator tingkat tinggi pun akan hancur hanya dengan mendekat. Namun jejak ini—

—rapi.

—bersih.

—seolah diterima, bukan dipaksa.

Shi Liu berhenti sebelum jejak itu benar-benar menghilang.

Ia tahu satu hal:

Pecahan jiwanya tidak pernah meninggalkan jejak tanpa alasan.

Ia berdiri memunggungi arah barat laut, seolah kehilangan minat. Aura rubah ekor sepuluh di dalam dirinya diturunkan—bukan dipadamkan, melainkan disamarkan. Seperti api yang ditutup abu: tak terlihat, tapi panasnya tetap ada.

"Jika kau ingin tetap bersembunyi," gumamnya datar,

"maka aku akan memberimu alasan untuk keluar."

Ia mengangkat satu jari.

Tanah bergetar ringan.

Bukan serangan.

Bukan pemanggilan.

Melainkan resonansi palsu—getaran yang meniru denyut pecahan jiwanya saat masih utuh.

Shi Liu menyesuaikan aliran napasnya.

Semua emosi ditekan turun, dikunci di lapisan terdalam kesadaran. Yang tersisa hanyalah kalkulasi.

Jejak inti batin itu kembali berdenyut—lemah, terputus-putus. Bukan karena takut, melainkan karena ditarik dari jarak jauh.

Shi Liu tidak menggunakan altar lama lagi.

Terlalu mudah dikenali.

Ia mengubah pendekatan.

Dengan dua jari, ia memotong udara, meninggalkan garis ruang yang hampir tak terlihat. Garis itu tidak menyerang, tidak menyerap—hanya menandai.

Penanda jiwa.

Begitu pecahan jiwanya bereaksi, penanda itu akan menempel. Tidak peduli seberapa jauh atau dalam persembunyiannya.

"Resonansi sudah cukup," gumam Shi Liu.

Ia menurunkan tekanan aura secara drastis—menciptakan ilusi bahwa proses penarikan telah gagal. Getaran altar meredup, lingkaran cahaya retak, lalu runtuh sepenuhnya.

Kabut kembali tenang.

Seolah tidak ada apa-apa.

Namun justru di situlah perangkapnya.

Inti batin yang terpisah tidak akan diam ketika merasa ikatan diputus secara tidak wajar. Nalurinya akan memaksa sumbernya untuk bergerak—mendekat, menilai, atau memperbaiki.

Shi Liu duduk bersila di tengah lembah, punggung tegak, mata terpejam.

Ia memasuki kondisi menunggu aktif.

Tidak berburu.

Tidak mengejar.

Membiarkan target yang merasa aman… mengambil keputusan sendiri.

Beberapa tarikan napas berlalu.

Lalu—

penanda jiwa bergetar.

Sangat ringan.

Namun cukup.

Sudut bibir Shi Liu bergerak tipis.

"Dapat."

Ia membuka mata.

Arah barat laut—tiga puluh langkah dari posisinya—udara terdistorsi satu kedipan terlalu lambat untuk disebut alami.

Itu bukan kemunculan.

Itu penyesuaian posisi.

Shi Liu berdiri, langkahnya tenang, sudut serang sudah terbentuk di benaknya.

Ia tidak berniat berbicara.

Tidak berniat memperingatkan.

Target telah keluar.

Inti batin telah merespons.

Langkah berikutnya hanya satu:

pengambilan.

--

Hari itu langit cerah, angin membawa aroma tanah hangat dari lembah kecil di luar pemukiman. Tawa pecah di antara pepohonan, ringan dan tidak terbebani apa pun.

Jiu Yue terlihat jauh lebih muda dibanding sosok di hadapannya.

Usianya sembilan belas tahun—tubuhnya ramping, bahu belum sepenuhnya lebar, namun posturnya tegak alami. Rambut hitamnya panjang sebahu, sedikit berantakan akibat tarikan energi tadi, beberapa helai menempel di pipi yang pucat. Wajahnya halus, masih menyisakan garis remaja, namun sepasang matanya tajam—jernih, keras kepala, dan penuh api yang belum tahu arah.

Pakaiannya sederhana: jubah latihan berwarna abu muda dengan ikat pinggang kain gelap. Tidak ada lambang sekte mencolok—menandakan ia belum berada di puncak jalur kultivasi, hanya seseorang yang seharusnya belum terlibat dalam konflik sebesar ini.

Jika Tao dan Tangyi ada di sini, perbedaan itu akan langsung terlihat.

Tang Yi, dua puluh satu tahun, bertubuh paling tinggi di antara mereka bertiga. Bahunya lebar, lengan kuat akibat latihan fisik bertahun-tahun. Wajahnya tegas dengan rahang jelas, alis tebal, dan ekspresi yang biasanya santai namun berubah serius saat bertarung. Rambutnya diikat tinggi, praktis—tipe orang yang akan maju paling depan tanpa banyak berpikir. Dia hanya tersenyum saat melihat dan berbicara pada Jiu Yue.

Sedangkan Tao, juga dua puluh satu tahun, memiliki perawakan lebih ramping dari Tao, namun gerakannya selalu ringan dan terkontrol. Wajahnya tampan bersih, mata sedikit menyipit dengan senyum yang sering tampak menggoda—tipe yang suka menggoda Jiu Yue saat bermain, namun diam-diam paling peka terhadap perubahan kecil. Rambutnya hitam legam, diikat rapi setengah, jubahnya selalu tampak paling terawat.

Biasanya—

Jiu Yue berdiri di antara mereka berdua,

lebih muda,

lebih ceroboh,

sering dikejar saat petak umpet dan ditertawakan saat tertangkap.

Hari ini mereka mendapat izin dari ketua sekte, Jiang Li — Ayah Jiang Jiu Yue untuk bermain di luar paviliun

"Jiu Yue—kau kelihatan!"

suara Tangyi menggema, disusul tawa Tao yang lebih keras.

"Aku belum ketahuan!" balas Jiu Yue cepat, sambil berlari menjauh.

Mereka sedang bermain petak umpet—permainan kekanak-kanakan yang entah bagaimana masih mereka pertahankan meski usia Tangyi dan Tao sudah dua puluh satu. Jiu Yue menyelip di antara semak dan bebatuan, lalu berjongkok di balik pohon tua yang batangnya terbelah dua.

Ia menahan napas, menekan punggung ke kulit kayu.

Sunyi.

Langkah kaki menjauh. Suara tawa memudar.

Jiu Yue tersenyum kecil—

lalu—

dadanya mendadak panas.

Bukan rasa sakit biasa.

Panas itu muncul dari dalam, tepat di pusat dadanya, lalu menyebar cepat seperti api yang disiram minyak. Jiu Yue terkejut, refleks mencengkeram pakaiannya.

"Apa—"

Napasnya terputus.

Inti batinnya bergejolak.

Bukan aliran energi yang kacau seperti saat latihan gagal. Ini lebih dalam. Lebih primitif. Seolah sesuatu yang selama ini tidur… ditarik paksa untuk terjaga.

Detak jantungnya melonjak.

Dunia di sekelilingnya meredup sesaat. Suara angin menjadi jauh, tawa Tangyi dan Tao terdengar seperti dari balik air.

Jiu Yue berlutut.

Setiap tarikan napas terasa berat, seakan ada tekanan tak terlihat yang menarik ke satu arah—jauh… sangat jauh… ke tempat yang bahkan belum pernah ia datangi.

"Apa.... yang terjadi?" gumamnya, suara nyaris tak keluar.

Ia tidak tahu apa itu.

Tidak tahu penyebabnya.

Yang ia tahu hanya satu hal yang membuat tengkuknya dingin:

inti batinnya sedang merespons sesuatu di luar kendalinya.

Panas itu datang berdenyut—sekali… dua kali…

lalu berhenti mendadak.

Jiu Yue terengah, keringat dingin membasahi pelipisnya.

Beberapa detik berlalu sebelum dunia kembali fokus.

"Jiu Yue?" suara Tangyi terdengar mendekat.

"Kau benar-benar bersembunyi atau pingsan di sana?"

Jiu Yue cepat berdiri, meski lututnya masih lemas. Ia menarik napas dalam, memaksa aliran energi kembali stabil—atau setidaknya terlihat stabil.

"Kakak Tang Yi—Aku di sini," jawabnya, berusaha terdengar normal.

Ia melangkah keluar dari persembunyian.

Tangyi dan Tao tidak melihat apa pun yang aneh—

tidak melihat jejak panas yang masih tersisa di dadanya,

tidak tahu bahwa sejak detik itu…

sesuatu di dalam diri Jiu Yue telah mulai bergerak menuju takdir yang belum ia pahami.

--

Malam turun pelan.

Api lentera menggantung di luar rumah, cahayanya bergoyang tertiup angin. Jiu Yue sudah lama berbaring, mata terpejam, napasnya teratur—atau setidaknya ia memaksa napasnya terdengar teratur.

Lalu—

dadanya terbakar.

Jiu Yue tersentak bangun.

Ia duduk tegak, satu tangan langsung mencengkeram dada. Panas itu jauh lebih kuat daripada siang tadi. Tidak menyebar—melainkan berputar, terkunci di satu titik, seperti pusaran kecil yang mencoba membuka sesuatu dari dalam.

Napasnya tersengal.

Inti batinnya bergejolak keras, alirannya melonjak tanpa perintah. Jalur energi yang biasanya patuh kini saling bertabrakan, menciptakan tekanan yang membuat penglihatannya berkunang.

"Bukan sekarang…" bisiknya.

Namun panas itu tidak peduli.

Tarikan muncul lagi.

Lebih jelas.

Lebih tegas.

Bukan sekadar arah—melainkan keharusan.

Jiu Yue bangkit dari ranjang, langkahnya goyah. Ia meraih dinding untuk menahan tubuhnya sendiri ketika dunia terasa miring. Di luar, malam begitu sunyi, seolah seluruh desa sedang tertidur lelap dan hanya ia yang terjaga.

Setiap detak jantung menarik inti batinnya sedikit lebih jauh.

Ke utara.

Selalu ke utara.

Ia menggertakkan gigi, memaksa energi turun, menekan gejolak itu dengan teknik pernapasan yang ia kuasai. Untuk beberapa detik, panasnya melemah.

Lalu—

melonjak balik.

Lebih kasar.

Jiu Yue terhuyung dan berlutut. Keringat dingin menetes dari dagunya, membasahi lantai kayu. Ia bisa merasakan sesuatu bergerak di balik inti batinnya—bukan miliknya, bukan pula asing sepenuhnya.

Seperti bayangan yang menempel terlalu lama.

"Apa… sebenarnya kau ini…" gumamnya, suaranya gemetar.

Tidak ada jawaban.

Hanya tarikan itu, terus-menerus, sabar, seolah tahu bahwa cepat atau lambat… ia akan menurut.

Di luar, angin malam berembus lebih dingin.

Jiu Yue akhirnya bersandar pada dinding, menahan diri agar tidak bangkit dan berjalan keluar begitu saja. Ia menutup mata, mengurung gejolak itu sedalam mungkin.

Panasnya perlahan surut.

Namun tidak hilang.

Ia tahu—dengan keyakinan yang membuat dadanya sesak—

ini bukan kejadian sekali.

--

Malam itu bulan menggantung tinggi.

Cahayanya jatuh miring ke lembah utara, menyelimuti bebatuan dan kabut tipis dengan warna perak pucat. Di punggung tebing tertinggi, satu sosok berdiri diam—jubahnya nyaris menyatu dengan bayangan malam.

Shi Liu.

Ia tidak bergerak, tidak bernapas berlebihan. Seluruh perhatiannya tertuju ke satu titik jauh di bawah—bukan lokasi fisik, melainkan resonansi.

"Jaraknya cukup," gumamnya.

Ia mengangkat tangan.

Tidak membentuk segel rumit.

Tidak memanggil formasi.

Shi Liu hanya melepaskan energinya.

Namun energi itu tidak menyebar.

Ia mengerucut.

Mengunci.

Lalu mencengkeram.

Di udara malam, sesuatu yang tak terlihat bergetar—seperti senar yang ditarik terlalu kencang. Energi itu langsung mengarah ke satu hal saja:

pecahan jiwa miliknya.

Tarikan itu brutal, tanpa kompromi. Bukan undangan, melainkan perintah mutlak dari sumber asalnya.

Di paviliun kecil di sisi pemukiman, Jiu Yue tersentak.

Panas di dadanya meledak.

Ia terjatuh dari kursi, napasnya tercekat saat sensasi terbakar itu menjalar cepat, lebih ganas dari malam-malam sebelumnya. Kali ini bukan pusaran—melainkan tarikan lurus dan keras, seolah sesuatu sedang dicabut dari dalam dirinya.

"A—apa ini…!"

Ia menekan dada dengan kedua tangan. Inti batinnya bergejolak liar, jalur energi yang biasanya patuh kini terbuka paksa. Rasa panas berubah menjadi nyeri tajam, membuat lututnya menghantam lantai.

Tarikan itu jelas.

Bukan ilusi.

Bukan gangguan internal.

Ada energi dari luar yang sedang menariknya.

Ke utara.

Ke lembah.

Jiu Yue bisa merasakannya dengan sangat jelas—arahnya, tekanannya, bahkan ritmenya. Setiap denyut tarikan membuat tubuhnya condong sedikit ke arah jendela, seolah gravitasi telah berubah.

Ia menggertakkan gigi, berusaha bangkit.

"Kau tidak bisa…" bisiknya, entah pada siapa.

Namun tarikan itu tidak berhenti.

Di dadanya, sesuatu bergerak—pecahan jiwa yang selama ini diam kini meronta, berusaha keluar dari penyangga tubuhnya. Rasa panas berubah menjadi dingin menusuk, tanda bahwa keseimbangan internalnya mulai runtuh.

Jiu Yue tersandung keluar paviliun.

Cahaya bulan menyinari wajahnya yang pucat. Angin malam terasa berat, seolah seluruh udara di sekitarnya ikut ditarik ke satu arah yang sama.

Ia menoleh ke utara.

Dan di kejauhan—di punggung lembah yang terendam cahaya bulan—ia merasakan kehadiran itu.

Tidak melihatnya.

Tidak mendengarnya.

Namun ia tahu.

Seseorang di sana

sedang menarik sesuatu dari dalam dirinya.

Di atas lembah, Shi Liu menurunkan tangannya sedikit.

Tarikan itu kini stabil.

"Respons tercapai," katanya datar.

"Tubuh penyangga masih bertahan."

Ia menatap ke arah paviliun jauh di bawah, mata tajam memantulkan cahaya bulan.

"Datanglah," ucapnya pelan.

"Dengan kakimu sendiri… atau ditarik seluruhnya."

Tarikan itu menguat satu tingkat.

Dan Jiu Yue—dengan napas terengah dan tubuh yang nyaris tak patuh lagi—melangkah ke arah lembah, tanpa tahu bahwa setiap langkahnya membawa mereka semakin dekat pada benturan yang tidak bisa dihindari.

—--

More Chapters