Ficool

Chapter 3 - memasak di dunia lain

Tiba-tiba, seorang dwarf dengan tubuh yang kekar dan rambut coklat muncul dari dalam goa. Dia langsung menyodorkan tombaknya ke arah Akai, mata yang kasar penuh waspada. "Henti! Apa maksudmu datang ke tempat kita, manusia?!"

Akai tidak ingin hubungan dengan dwarf buruk dari awal. Dia mengangkat tangan kedua untuk menunjukkan bahwa dia tidak berniat menyerang. "Santai, aku tidak jahat ko. Aku kesini ingin meminta tolong sama kalian."

"Haaa, manusia ingin minta tolong? Katakan tujuan mu!" ujar dwarf itu dengan suara yang keras, masih tidak melepaskan tombaknya.

"Aku ingin kalian membuatkan aku kuali dan panci untuk aku memasak."

"Haaa, manusia kau ingin kita membuat kuali dan panci HANYA untuk memasak? Hahahahaha, tidak! Kita tidak akan membantu manusia semudah itu!" dwarf itu tertawa terbahak-bahak, tapi matanya masih waspada.

"Dengarkan aku," kata Akai dengan suara tenang tapi tegas. "Aku akan bayar kalian dengan makanan yang aku buat. Kalian bayarkan aku dengan barang yang aku minta—supaya adil, tidak ada yang rugi dalam kerja sama ini."

Mendengar itu, dwarf ragu mengambil tindakan. Dia memandang Akai dari atas ke bawah, seolah memikirkan. "Bagaimana jika kau yang buat kita makanan terlebih dulu? Jika enak, aku akan membuatkan barang yang kau minta."

Kedua belah pihak sepakat. Akai dan Dori pun keluar dari goa untuk mencari hewan liar yang akan dijadikan makanan.

Setelah 30 menit berjalan di sekitar goa, Dori tiba-tiba berhenti, telinga runcingnya bergerak cepat. "Akai, aku mendengar suara hewan yang sedang tidur. Jaraknya sekitar 10 meter dari sini!"

Mereka pergi melihat hewan apa yang di dengar Dori. Sesampainya di sana, Akai melihat babi hutan yang sedang tidur di bawah pohon—ukurannya sangat besar, sebesar kereta kecil, dengan gading yang tajam di hidungnya.

Dori kaget, wajahnya memucat. "Katanya kita cari yang lain saja deh..." ujarnya sambil khawatir akan keselamatan Akai.

"Santai, aku akan selamat." Akai langsung maju dengan langkah pelan, memegang kerambitnya erat.

Tapi babi hutan mempunyai insting tajam—dia langsung bangun ketika Akai mendekat, lalu menyerang dengan cepat. Akai melompat ke atas kepala babi hutan dengan kelincahan luar biasa, lalu langsung menyerang mata kirinya dengan kerambit. Srakk! Darah memancar dari mata babi itu, yang mulai mengamuk.

Akai ingin menyerang mata kanannya, tapi babi hutan sudah menabrak pohon dengan kekuatan besar—membuat Akai hilang keseimbangan, meskipun kerambitnya masih menancap di muka babi.

"Dori mengejar Akai, sempat khawatir. "Akai, hati-hati!" teriaknya.

Akai cepat naik lagi ke kepala babi, lalu menusuk mata kanannya dengan tepat. Sekarang babi hutan sudah buta, mengamuk sembarangan. Akai mengarahkan babi itu untuk menabrak batu besar di kejauhan. Sebelum menabrak, Akai melompat dari kepala babi dengan cepat. Bruumm! Babi hutan langsung jatuh karena tabrakan yang keras.

Akai menghampiri babi itu, lalu menusuk kerambitnya tepat ke jantungnya—membuatnya mati seketika. Dia mengambil daging dan lemak babi yang segar, sedangkan Dori melihatnya dengan mata lebar—lalu langsung muntah karena tidak tahan dengan aroma darah dan daging yang segar.

"Apa kau tidak tahan aroma darah?" tanya Akai dengan suara lemah.

"Iya..." jawab Dori sambil menutupi hidungnya.

Akai mengunakan akar pohon untuk mengikat daging babi, lalu mencuci tangan di sungai terdekat. "Ayo, kita pulang."

Mereka berjalan kembali ke goa dwarf. Di tengah jalan, Akai bertemu dengan buah yang tumbuh di pohon—bentuknya bulat, warna hijau tua. "Ini buah apa?" tanyanya ke Dori.

"Itu buah airnya asin banget. Kami para elf tidak suka dengan buah itu."

Akai kepikiran. Garam... dia berpikir sendiri. Buah ini bisa jadi pengganti garam untuk memasak. Dia mengambil beberapa buah itu dan menyimpannya.

Beberapa langkah lagi, dia melihat ubi jalar yang tumbuh di semak dan mengambil 5 bijinya. "Itu tumbuhan racun loh! Warnanya saja sudah meyakinkan!" kata Dori dengan khawatir.

"Nanti kau akan merasakannya baru kau ketagihan."

"Tidak, aku tidak akan memakannya!"

"Iya iya, nanti kita lihat apa kau masih berani bilang gitu atau tidak."

Sesampainya di tempat tinggal dwarf, Akai langsung memasak untuk mereka. Dia merebus ubi jalar yang diambilnya. "Apa yang kau rebus itu?" tanya salah satu dwarf yang mendekat.

"Ini makan yang rasanya enak."

"Bener kah? Boleh aku coba?"

"Sabar, belum mateng."

Setelah beberapa menit, makan sudah siap. Akai menyiapkan daging babi yang dimasak dengan buah asin dan ubi jalar. Mereka semua ragu akan masakan Akai. "Apa kau menaruh racun?" tanya pemimpin dwarf.

"Tidak, mana mungkin aku menaruh racun. Jika tidak percaya, aku akan makan 1 potong daging dan 1 ubi untuk membuktikan."

Akai langsung memakannya, melihat semua dwarf dengan tatapan tegas. "Lihat, tidak ada racun. Jika ada, aku sudah mati sekarang juga."

Pemimpin dwarf pun berani mencoba. Sesudah memakan satu gigitan, matanya langsung bersinar. "Wahh, enak banget! Aku belum merasakan makanan seenak ini seumur hidup!"

"Ini tanaman apa sih? Mengapa begitu enak? Kau menambahkan apa di dalam masakan mu?"

"Pelan-pelan selesaikan makanan mu dulu baru kau tanya."

Setelah semua dwarf selesai makan, mereka kenyang banget. "Ahh, akhirnya kenyang... aku mau tidur dulu. Selamat malam!" ujar pemimpin dwarf sambil menguap.

"Haaaaaaa, apa kau ingin tidur?!" teriak Akai dengan suara yang dingin, membuat semua dwarf kaget. "Aku sudah capek-capek memasak, mencari hewan, dan kau ingin tidur? Buat aku barang yang aku inginkan, cepat pak tua!"

"Woiiii, jika kau tidak membuatkan sekarang juga, kau yang akan menjadi makanan selanjutnya!" dia lanjut, sambil menjilati kerambitnya dengan lidah dan muka penuh nafsu membunuh.

"Iya iya ko! Aku akan membuatnya! Aku cuma bercanda ko! Janji adalah janji!" pemimpin dwarf tertawa paksa, kakinya mulai gemetar.

1 jam kemudian, dwarf sudah selesai membuat kuali dan panci untuk Akai—bahkan menambahkan kerambit baru. "Aku cuma meminta mu membuat kuali dan panci, mengapa kau membuat kerambit dan memberikannya padaku?" tanya Akai.

"Itu untuk rasa terima kasih karena telah membuatkan aku makanan seenak itu."

"Baiklah, aku pergi dulu."

"Mengapa tidak bermalam sini dulu? Para manusia lagi ingin membunuh para elf, aku tidak tau kapan mereka akan menyerang."

"Jadi aku harus pulang dengan cepat. Baiklah, sampai jumpa lagi."

Akai dan Dori melanjutkan perjalanan pulang, sambil menarik nafas lega. Setelah mereka pergi, pemimpin dwarf berkata kepada teman-temannya: "Aku melihat dirinya seperti monster yang sedang menantikan kapan aku mati. Jika dia kembali, semua jangan membuat dia marah. Kita harus berteman dengan dia."

Setelah 2 hari perjalanan pulang yang panjang dan melelahkan, Akai dan Dori akhirnya kembali ke desa para elf.

Akai langsung bertemu dengan Jack di bengkelnya. "Sudah dapat apa yang kau ingin?" tanya Jack.

"Iya, sudah." Akai menunjukkan kuali dan panci baru. "Aku akan memasak, apa kau tidak ingin makan sesuatu?"

"Kalo begitu, buat aku kentang rebus saja. Aku ingin makan yang sederhana."

"Baiklah." Akai langsung membuat tempat untuk memasak dan merebus kentang untuk Jack. "Ini kentangnya."

Setelah Jack memakan, Akai berkata: "Aku butuh minyak dan kecap. Siapa yah yang bisa membuatnya?"

"Coba kau bilang ke Hana. Dia mungkin bisa membuatnya."

"Hana di mana? Dia sedang ada di rumahnya, di samping ratu elf?"

"Iya, itu dia."

Akai langsung pergi mencari Hana. Sebelum dia mengetuk pintu, tiba-tiba terdengar ledakan! Hana sedang melakukan eksperimen yang salah. Akai membuka pintu dengan cepat dan mengecek kondisi Hana.

"Siapa kau?" tanya Hana dengan wajah yang bercahaya abu.

"Aku Akai."

"Oh, Akai yah! Baru tiba langsung nemu aku pingsan? Itu kan!"

"Yah, terserah kau mau bilang aku apa. Ku dengar dari Jack kau bisa membuat minyak goreng. Boleh kau membuat untuk ku? Aku ingin memasak makanan."

Mendengar kata "makanan", Hana langsung bahagia. "Bisa! Tapi tidak ada bahan nya nih."

"Aku akan mencari bahannya."

More Chapters