Ficool

Chapter 5 - AWAL MUKA kehancuran kerajaan

Kabut pagi masih menggantung tipis di atas halaman manor keluarga Berlo saat para pelayan dan penjaga berdiri dalam barisan kacau. Wajah-wajah pucat dipenuhi ketakutan, seolah siapa pun bisa diseret kapan saja.

Di tengah halaman, sang Captain berdiri dengan tangan di belakang punggung, sorot matanya dingin dan tajam. Di depannya, seorang pelayan tua berlutut dengan tubuh gemetar hebat.

"Kau."

Suara Captain terdengar berat dan menekan.

"Kau pelayan pertama yang melihat mayat Tuan Muda Berlo, benar?"

Pelayan itu menunduk cepat.

"Y-ya, Captain..."

"Jam berapa kau menemukannya sudah mati?"

Pelayan itu menelan ludah susah payah.

Keringat dingin mulai turun di pelipisnya.

"S-saya datang untuk memanggil Tuan Muda seperti biasa... sekitar jam sembilan pagi, Captain..." suaranya bergetar.

"Tapi beliau tidak membuka pintu..."

Captain menyipitkan mata.

"Lalu?"

"S-saya menunggu di depan kamar selama satu jam penuh..." jawab pelayan itu dengan napas tersengal.

"Namun Tuan Muda tetap tidak keluar... saya pikir beliau hanya sedang marah atau belum ingin diganggu..."

Suasana di halaman menjadi semakin sunyi.

"Dan setelah itu?" tanya Captain, kali ini lebih tajam.

Pelayan tua itu langsung menundukkan kepala lebih dalam hingga dahinya hampir menyentuh tanah.

"A-akhirnya saya memberanikan diri untuk masuk, Captain..."

Tenggorokannya tercekat.

"Dan... saya melihat beliau sudah... sudah mati..."

Beberapa pelayan perempuan langsung menutup mulut, menahan isak. Para penjaga saling berpandangan dengan ekspresi suram.

Captain menatap pria itu beberapa saat sebelum akhirnya mengalihkan pandangan ke kerumunan pelayan lain.

"Apakah ada yang mendengar sesuatu tadi malam?"

Tak ada yang menjawab.

Tak ada yang berani mengangkat kepala.

Namun setelah beberapa detik yang mencekam, seorang pelayan muda berusia sekitar lima belas tahun perlahan mengangkat tangannya.

Tangannya gemetar hebat.

"A-aku..."

Semua mata langsung tertuju padanya.

Captain memandangnya tajam.

"Bicara."

Pelayan muda itu menunduk, wajahnya pucat seperti kertas.

"K-kemarin malam... aku mendengar suara Tuan Muda..."

"Suara apa?"

Ia menelan ludah.

"Suara... histeris, Captain..."

Kerumunan langsung berdesis pelan. Wajah para pelayan lain berubah semakin tegang.

Captain melangkah mendekat.

"Lanjutkan."

Anak itu terlihat hampir menangis.

"A-aku mendengar beliau seperti berteriak...

jadi aku sempat mengetuk pintunya dan menanyakan keadaannya..."

"Tapi... suara itu tiba-tiba menghilang begitu saja..."

"Dan?" desak Captain.

"A-aku ingin masuk..." suara bocah itu makin mengecil,

"tapi aku takut... Tuan Muda akan memarahiku..."

Kalimat itu membuat suasana menjadi beku.

Mata Captain langsung berubah gelap.

Dalam dua langkah cepat, ia berdiri tepat di depan bocah itu.

"Kenapa kau tidak melaporkan kejadian itu kepada prajurit yang berjaga?"

Pelayan muda itu langsung jatuh berlutut.

"A-ampun, Captain... a-aku salah... aku benar-benar takut..."

Captain mendadak mencengkeram leher bocah itu dan mengangkatnya sedikit dari tanah.

Pelayan-pelayan lain langsung tersentak ketakutan.

"Jadi aku harus memaafkanmu?" suara Captain rendah, penuh ancaman.

"Tuan Muda Berlo mati di kamarnya, dan kau memilih diam karena takut dimarahi?"

Bocah itu meronta lemah, wajahnya memerah dan napasnya tersendat.

"A-ampun... a-ampun..."

Captain menatapnya dengan jijik.

"Apa kau tahu apa yang akan terjadi jika orang tua Tuan Muda mengetahui bahwa seorang pelayan bodoh sepertimu lalai dalam tugasnya?"

Bocah itu tak mampu menjawab. Air mata mulai mengalir dari matanya.

Captain mempererat cengkeramannya.

"Dan jika aku gagal menemukan pembunuhnya..."

ia menunduk sedikit, suaranya menjadi lebih dingin,

"maka akulah yang akan diturunkan dari jabatanku."

Pelayan muda itu kini benar-benar kehabisan napas. Tubuh kecilnya melemah, kedua tangannya berusaha mencengkeram pergelangan tangan Captain.

Namun sebelum keadaan menjadi lebih buruk, salah satu prajurit senior melangkah maju.

"Sudah, Captain."

Captain melirik ke arahnya dengan kesal.

Prajurit itu menundukkan kepala sedikit, tapi tetap berbicara.

"Jika kita terus berurusan dengan bocah itu, pembunuhnya akan semakin jauh kabur."

Ia menatap pelayan muda yang hampir pingsan itu dengan dingin.

"Lebih baik kita fokus pada pembunuhnya daripada membuang waktu pada bocah lemah itu."

Captain terdiam sesaat.

Lalu dengan dengusan kasar, ia melempar tubuh pelayan muda itu begitu saja ke arah taman samping halaman.

Bruk!

Tubuh kecil itu jatuh ke tanah rumput dengan batuk-batuk hebat, nyaris tak bisa bernapas.

Captain menatapnya seolah melihat sampah.

"Jika aku menemukan pembunuh Tuan Muda..."

Ia meludah ke tanah di dekat bocah itu.

"Maka setelah itu, aku juga akan membunuhmu."

Pelayan muda itu hanya bisa gemetar sambil memegangi lehernya.

Captain berbalik tanpa rasa belas kasihan.

"Kita pergi."

Dengan satu perintah itu, para prajurit langsung bergerak.

Sepatu besi mereka menghantam batu halaman manor, meninggalkan gema keras saat mereka mulai menyebar ke seluruh penjuru kerajaan.

Mereka akan mencari ke desa, pasar, penginapan, perbatasan, hutan, dan lorong-lorong kota.

Tidak ada tempat untuk bersembunyi.

Sementara itu, jauh dari manor Berlo, di sebuah rumah makan kecil di pinggir jalan—

seorang pemuda bernama Akai sedang duduk santai sambil menikmati sarapannya.

Di hadapannya ada semangkuk sup hangat, roti kasar, dan secangkir teh hitam yang mulai mendingin.

Suasana pagi di kedai itu cukup ramai.

Beberapa pedagang, kusir, dan rakyat biasa tampak sedang sarapan sambil berbicara pelan. Namun pagi itu, satu topik memenuhi seluruh ruangan.

Kematian Tuan Muda Berlo.

"Kau dengar belum?"

bisik seorang pria paruh baya di meja sebelah.

"Tuan Muda Berlo mati dibunuh."

Akai tidak menoleh. Ia tetap menyendok makanannya perlahan, seolah tidak terlalu peduli.

Namun telinganya tetap mendengarkan.

"Aku dengar prajurit kerajaan sedang mencari pembunuhnya ke mana-mana,"

sahut pria lain.

"Seluruh akses keluar-masuk diperiksa."

Seorang wanita yang duduk dekat jendela ikut menyela.

"Dan katanya..." ia menurunkan suara,

"siapa pun yang berhasil menemukan pembunuhnya akan diberi hadiah seribu koin platinum."

Ucapan itu langsung membuat beberapa orang di dalam kedai terdiam.

Seribu koin platinum.

Jumlah yang begitu besar hingga terasa seperti mimpi.

Bagi para bangsawan, itu mungkin hanya angka kecil.

Tapi bagi rakyat jelata...

itu adalah jumlah yang bisa mengubah hidup mereka selamanya.

Seseorang tertawa sinis dari sudut ruangan.

"Hah. Untuk keluarga bangsawan seperti Berlo, uang sebanyak itu tak ada artinya."

Seorang pria kurus yang sedang minum menambahkan sambil mendecakkan lidah.

"Lagipula, Tuan Muda Berlo juga terkenal terlalu sombong."

Beberapa orang langsung melirik cemas ke sekeliling, takut ada telinga prajurit yang mendengar.

Namun pria itu tetap bicara dengan nada berani.

"Selalu mengandalkan statusnya sebagai bangsawan. Menindas orang kecil,

menghina rakyat, bertindak seolah dunia miliknya."

Ia mendengus.

"Bukankah itu karma?"

Wanita di dekat jendela langsung berbisik pelan.

"Jangan bicara terlalu keras. Kalau ada prajurit yang mendengar, kita semua bisa celaka."

Pria itu mengangkat bahu.

"Aku hanya mengatakan apa yang semua orang pikirkan."

Akai akhirnya berhenti makan.

Sendoknya terdiam di atas mangkuk.

Tatapannya tetap tenang, tapi ada sesuatu yang tak bisa dibaca di balik sorot matanya.

Di luar, suara langkah prajurit mulai terdengar semakin dekat.

Mereka sedang menyisir satu per satu bangunan di kota.

Dan entah kenapa—

suasana di dalam kedai itu tiba-tiba terasa jauh lebih dingin.

More Chapters