Ficool

Chapter 202 - Permintaan yang Lebih Kejam dari Api

Sore itu, di dalam toko buku yang tenang namun terasa menyesakkan, Mina berdiri beberapa langkah dari seorang pria yang duduk santai di dekat rak buku. Dan saat mata Mina menangkap wajah pria itu dengan jelas, rasa kesal yang sempat ia tahan seketika meledak. Pria itu adalah Hayato. 

Tanpa membuang waktu, Mina langsung berjalan cepat menghampirinya.

Mina:

"Apa maksud dari pesanmu sebelumnya?"

Hayato yang melihat Mina datang dengan wajah penuh amarah tidak sedikit pun terlihat gentar. Ia justru mengangkat pandangan dengan santai, seolah pertemuan itu hanyalah obrolan biasa di sore hari.

Hayato:

"Aku tidak punya maksud terselubung."

"Aku hanya ingin kau membantuku untuk dekat dengan seseorang."

Ucapan itu justru membuat amarah Mina makin membara.

Mina:

"Mengapa aku harus menuruti permintaanmu?"

Hayato tersenyum tipis. Senyum yang tenang, namun justru terasa lebih menjijikkan di mata Mina karena ia tahu pria di depannya sedang bermain dengan hidup orang lain.

Hayato:

"Kau tidak akan bisa menolak permintaanku ini."

"Karena kalau kau menolaknya…"

"…nasib kedua orang tuamu di luar sana akan sama seperti rumahmu."

Mendengar itu, mata Mina sontak membesar.

Tubuhnya menegang.

Amarah, ketakutan, dan kebencian bercampur menjadi satu hingga membuat dadanya sesak.

Tanpa pikir panjang, Mina maju satu langkah dan langsung meraih kerah baju Hayato. Tangannya mencengkeram kuat hingga kain di dada Hayato tertarik.

Mina:

"Jadi kau orang yang membakar rumahku?"

"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?"

"Apa kau belum cukup hanya menghancurkanku saja tanpa harus melibatkan orang tuaku?!"

Suasana toko buku seketika berubah tegang.

Beberapa pengunjung yang sedari tadi hanya mencuri pandang mulai panik. Dua atau tiga orang seperti ingin mendekat untuk melerai, namun mereka berhenti saat melihat Hayato lebih dulu mengangkat satu tangannya pelan—memberi isyarat bahwa semuanya baik-baik saja.

Hayato tidak melawan. Ia hanya membiarkan Mina mencengkeram kerahnya sembari menatapnya dengan mata yang dingin.

Hayato:

"Ingat perkataanku."

"Aku akan membuatmu menerima sepuluh kali lipat dari apa yang aku terima."

"Dan aku akan membuat ayahmu bertekuk lutut di hadapanmu."

"Jadi kalau kau tidak ingin itu terjadi…"

"…lakukan permintaanku."

Mina menggertakkan gigi. Ia tahu ia sedang tidak berdaya. Bukan karena ia takut pada dirinya sendiri, melainkan karena sekarang Hayato sudah menjadikan ayah dan ibunya sasaran.

Dengan suara yang masih gemetar oleh amarah, Mina bertanya:

Mina:

"Siapa orang yang ingin kau dekati?"

Hayato yang menangkap perubahan itu tahu Mina sudah tidak bisa bergerak bebas. Ia lalu mengangkat tangan Mina dari kerah bajunya, merapikan pakaiannya sendiri, dan menjawab dengan nada seolah semuanya sederhana.

Hayato:

"Orang itu adalah seseorang yang sudah kau kenal."

Mina menatapnya dengan jijik.

Mina:

"Cukup basa-basinya."

"Sebut saja siapa dia."

Hayato menatap Mina lurus-lurus.

Hayato:

"Orang itu adalah Natsumi."

Mina membeku.

Untuk sesaat, semua suara di toko buku itu seolah menjauh.

Di kepalanya, nama itu menggema berulang kali.

Mina (dalam hati):

Natsumi…?

Kenapa harus dia…?

Apa yang sedang Hayato rencanakan…?

Namun Mina tahu ia tidak bisa menunjukkan kebingungannya terlalu lama di depan Hayato.

Ia memaksa wajahnya tetap dingin.

Mina:

"Untuk alasan apa aku harus melakukan itu?"

Hayato menjawab dengan santai, bahkan terlalu santai untuk sesuatu yang begitu menjijikkan.

Hayato:

"Tujuannya bukan urusanmu."

"Yang kuinginkan hanya satu."

"Kau harus membuat Natsumi jatuh ke tanganku."

"Bagaimana caranya, aku tidak peduli."

"Selama Natsumi menjadi milikku seutuhnya."

Mina menatapnya lama.

Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik badan dan mulai melangkah pergi.

Namun tepat sebelum benar-benar meninggalkan Hayato, Mina berhenti.

Ia tidak menoleh penuh. Hanya memalingkan wajah sedikit ke samping, cukup agar suaranya terdengar jelas.

Mina:

"Akan kucoba."

"Tapi dengan satu syarat."

"Kalau kau sampai menyentuh kedua orang tuaku dalam hal ini…"

"…aku tidak akan segan membawa kau dan keluargamu musnah bersamaku."

Setelah mengatakan itu, Mina kembali melangkah pergi tanpa menunggu jawaban.

Di belakangnya, Hayato hanya tersenyum.

Senyum yang tenang, penuh keyakinan, seolah ia sedang melihat seekor burung yang tetap berada dalam sangkar walaupun tampak terbang menjauh.

Hayato:

"Percuma, Mina…"

"Kau tidak akan bisa lari dari genggamanku."

"Sejauh apa pun kau pergi…"

"Dan sekeras apa pun kau mencoba…"

"…karena kau masih memiliki kelemahan yang tidak bisa kau abaikan."

---

Di luar toko buku, kedua orang tua Mina masih menunggu di dalam mobil.

Sang ibu duduk dengan tangan saling menggenggam di pangkuannya, wajahnya penuh kekhawatiran. Sang ayah juga tidak jauh berbeda, meski ia berusaha terlihat lebih tenang.

Beberapa menit yang berlalu terasa terlalu lama.

Akhirnya sang ibu tidak tahan dan bersuara pelan.

Ibu Mina:

"Yah… apakah Mina baik-baik saja?"

"Kenapa dia menemui seseorang dengan wajah semarah itu…?"

Sang ayah menghela napas panjang.

Ayah Mina:

"Ayah juga khawatir."

"Tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa sekarang…"

"Kita hanya bisa mempercayai putri kita."

Sang ibu menunduk, namun justru menjadi makin cemas.

Ibu Mina:

"Lalu… bagaimana rencana kita selanjutnya, yah?"

Sang ayah baru saja hendak menjawab ketika pintu belakang mobil terbuka.

Mina masuk.

Ia duduk di kursi belakang, tepat di samping ibunya.

Begitu melihat putrinya kembali, sang ayah langsung menoleh dari kursi depan.

Ayah Mina:

"Mina, bagaimana?"

"Apa urusanmu sudah selesai?"

Sang ibu juga segera menghampiri dengan tatapan cemas.

Ibu Mina:

"Benar, nak."

"Apa kau terluka?"

Mina yang melihat kekhawatiran kedua orang tuanya, memaksa bibirnya membentuk senyum kecil.

Senyum itu tampak wajar di luar, tetapi terlalu tipis untuk benar-benar disebut tenang.

Mina:

"Tidak apa-apa, yah… bu…"

"Mina baik-baik saja."

"Tadi hanya bertemu teman sekolah…"

"Dia ingin meminta tolong untuk belajar."

"Tapi Mina sudah bilang tidak bisa membantu saat ini."

Mina mengatakannya dengan begitu lancar.

Begitu lancar hingga kedua orang tuanya memilih percaya.

Mereka tidak menyadari bahwa di balik senyum dan jawaban tenang itu, Mina sedang menekan sesuatu yang berat sendirian.

Mina (dalam hati):

Maafkan Mina, ayah... ibu...

Mina tidak bisa jujur.

Tapi kalau kebohongan ini bisa membuat kalian tetap aman...

maka Mina akan memikulnya sendiri.

Beberapa saat kemudian, sang ayah mencoba mengubah suasana.

Ayah Mina:

"Kalau begitu… bagaimana kalau malam ini kita pergi makan ke restoran kesukaanmu?"

Sang ibu yang mendengar itu ikut setuju. Ia memandang Mina dengan senyum yang lebih hangat.

Namun Mina justru kembali cemas.

Mina:

"Tidak perlu, ayah…"

"Kita sedang dalam keadaan seperti ini."

"Lebih baik kita makan di tempat sederhana saja."

Sang ayah tersenyum tipis.

Ayah Mina:

"Jangan khawatir soal uang."

"Ayah masih punya cukup untuk kita bertahan hidup."

"Dan untuk masalah kantor atau keluarga Hayato…"

"…ayah akan carikan solusi lain."

"Jadi kau tidak perlu merasa tertekan."

"Karena kita akan menghadapinya bersama-sama."

Kalimat itu membuat pertahanan Mina runtuh lagi.

Air matanya jatuh.

Ia menunduk, tidak mampu menyembunyikannya.

Sang ibu yang melihat itu langsung memeluk Mina ke dalam pelukannya.

Ibu Mina:

"Kenapa kau menangis lagi, nak?"

"Kau harus senang…"

"Karena kau masih punya kami yang akan tetap peduli pada putri kami."

Namun justru karena itulah Mina semakin sedih.

Ia membiarkan tubuhnya jatuh ke pelukan ibunya, lalu menangis tanpa suara.

Mina (dalam hati):

Maafkan Mina, ibu… ayah…

Mina tidak tahu harus berbuat apa…

Mina tidak tahu bagaimana membalas semua kebaikan kalian…

Andaikan Mina lebih kuat…

mungkin Mina bisa melindungi kalian dari ancaman keluarga Hayato…

Tapi Mina tidak mampu…

Sang ibu mengelus lembut kepala putrinya.

Ibu Mina:

"Jangan bersedih, nak…"

"Kamu harus kuat."

"Kalau suatu hari nanti ayah dan ibu tidak bisa selalu ada di sisimu..."

"...kamu harus tetap jadi gadis yang kuat."

Sang ayah di depan menambahkan dengan nada rendah namun tegas:

Ayah Mina:

"Benar, Mina."

"Kau harus jadi putri ayah yang kuat."

"Agar suatu hari nanti…"

"…kau bisa berdiri kokoh sendiri setelah ayah dan ibu tiada."

Mendengar itu, Mina justru menangis lebih keras.

Bukan hanya karena sedih.

Tapi karena di dalam mobil kecil itu, di antara ayah dan ibu yang masih berusaha tegar, ia sadar satu hal—

apa pun yang terjadi nanti, ia harus menanggung sesuatu yang jauh lebih kejam daripada sekadar rasa sakit hatinya sendiri.

Sang ayah akhirnya menyalakan mobil.

Tanpa banyak kata lagi, mereka pergi dari sana menuju suatu tempat—

tempat yang mungkin bisa membuat Mina berhenti menangis, meski hanya untuk malam itu.

More Chapters