Ficool

Chapter 138 - Bab 138: "Langkah yang Terlalu Cepat" — Garm Kembali ke Hutan Terlarang

Sore itu, Garm tak mau menunggu lebih lama.

Begitu pamit dari Nyra, ia langsung menuju penginapannya—mengambil barang-barang yang ia tinggalkan, merapikan perlengkapan seperlunya, lalu memanggil kereta kuda sihir yang biasa dipakai para petualang lintas-kota.

Tujuannya jelas: Kota Aurelith, kota elf yang menjadi jalur utama menuju pos perbatasan Hutan Terlarang.

Di dalam kereta, Garm duduk diam menatap keluar jendela. Angin menabrak kaca, cahaya sore menyelinap di antara pepohonan, dan untuk pertama kalinya sejak lama… pikirannya bukan soal tugas.

Melainkan soal satu nama.

Garm (dalam hati):

Tunggu aku, Nyra…

Aku pasti kembali.

Aku cuma… harus dapat izin.

Kereta melaju dua jam. Saat roda berhenti, Garm sudah berdiri lebih dulu sebelum kusir sempat menyapa.

—Kota Aurelith— Pos Perbatasan

Aurelith menyambut dengan bangunan-bangunan putih berukir, jalan batu bersih, dan udara yang terasa… rapi. Namun Garm tak punya waktu untuk menikmati itu semua.

Ia bergegas menuju pos penjagaan yang mengarah ke Hutan Terlarang.

Salah satu penjaga elf menatapnya tajam, lalu memeriksa kartu identitas yang Garm sodorkan.

Penjaga Elf:

"Nama."

"Tujuan masuk."

Garm:

"Garm. Guild. Urusan darurat."

Penjaga elf melihat capnya—bukan cap biasa. Ia mengembalikan kartu itu dengan gerakan cepat.

Penjaga Elf:

"Lewat."

"Tapi jangan lama. Sore begini… pergerakan di dalam hutan tidak stabil."

Garm mengangguk sekali. Setelah melewati pos pemeriksaan, Garm langsung melesat masuk ke Hutan Terlarang.

—Hutan Terlarang— Sore yang Berubah

Garm berlari selama hampir dua jam.

Kecepatan serigala—napas stabil, langkah ringan, telinga tajam menangkap suara ranting patah di kejauhan. Ia sudah mengenal ritme hutan ini. Ia tahu kapan angin membawa bau bahaya… dan kapan hening terasa "terlalu" hening.

Lalu…

Ia berhenti.

Tidak karena lelah.

Tapi karena instingnya menjerit.

Garm memfokuskan pendengaran. Hutan mendadak seperti menahan napas.

Dua detik berlalu.

Dan—seketika sebuah serangan melesat dari samping.

Garm menghindar refleks.

Tanah tempat ia berdiri tadi terbelah—bekas jejak seperti cakar raksasa.

Matanya seketika membesar.

Di antara bayangan pepohonan… muncul beberapa sosok yang bentuknya "salah".

Bukan monster biasa.

Bukan pula makhluk liar hutan.

Tapi monster anomali.

Garm mengumpat pelan.

Garm:

"Sial… kenapa harus sekarang…?"

Ia menilai cepat. Jumlahnya terlalu banyak. Dan aura mereka memancarkan niat membunuh yang begitu jelas.

Garm menggertakkan gigi.

Garm (dalam hati):

Aku harus menghindar…

Aku tidak bisa melawan mereka.

Garm mengubah arah untuk mencari jalan lain.

Langkahnya meledak—cepat, zigzag, memanfaatkan pepohonan untuk memotong jalur. Ia mengecoh arah, melompat melewati batu, berputar lewat semak tebal.

Tapi monster itu… tetap mengejar.

Bukan seperti hewan yang tertipu insting.

Mereka tidak mengejar seperti hewan liar.

Mereka mengejar seperti sesuatu yang sudah diberi nama target.

Garm mempercepat, keringat mulai dingin.

Sepuluh menit berlalu.

Ia tahu. Ia merasakannya.

Pelariannya sia-sia jika begini terus.

Dan benar saja—

Sebuah serangan dari samping menyapu.

Garm sempat mengangkat tangan untuk menangkis.

Cakar itu menghantam.

Tubuhnya terpental, berguling di tanah. Nyeri panas meledak di lengannya.

Saat ia berdiri setengah berlutut, ia melihat darah mengalir dari bekas cakaran di lengan—lukanya dalam.

Garm menggertakkan gigi, napasnya berat.

Ia mencoba mundur… tapi—

Ia berhenti.

Saat menoleh ke sekeliling,

ia sadar beberapa monster sudah mengepungnya.

Garm menelan ludah.

Garm:

"…Tch."

Ia tidak bisa lari lagi.

Ia mengangkat posisi bertarung.

—Pertarungan yang Tidak Seimbang

Saat Garm sadar ia tak bisa lagi melarikan diri, para monster itu serempak menyerbunya.

Garm menghindari satu, memutar tubuh, meninju—namun pukulannya terasa seperti menembus udara kosong.

Seperti memukul ruang hampa.

Tapi saat monster menyerang balik…

Setiap hantaman mereka terasa seperti batu besar menghantam tulang.

Garm terpukul mundur, menahan sakit. Ia melawan lagi. Menangkis. Menggigit bibir sampai berdarah.

Namun tubuhnya mulai kalah.

Darah mulai memenuhi napasnya.

Dan di antara kabur penglihatannya…

Bayangan Nyra—senyum kecilnya, tatapan tajamnya, genggaman tangan hangatnya—muncul di kepala Garm seperti pelindung terakhir.

Garm (dalam hati):

Jadi ini… yang disebut bayangan kematian…

Nyra… maafkan aku…

Aku bahkan belum sempat jadi seseorang yang pantas berdiri di sisimu.

Mungkin aku tidak akan bisa kembali…

…Maaf aku tidak bisa menuntaskan tugasku…

…untuk membuatmu tidak berpaling dariku…

Kakinya goyah.

Napasnya putus-putus.

Lalu tubuhnya pun jatuh.

Garm kehilangan kesadaran—karena darah yang terlalu banyak keluar, tubuh yang sudah habis, dan pukulan yang tak lagi bisa ia tahan.

Langit sore di atas pepohonan terlihat berputar, menjauh.

Dan monster—perlahan—mendekat.

Salah satunya mengangkat lengan.

Cakar itu turun—

—"Tiga Jam dan Dua Pria"— Dunia Manusia, Mal yang Ramai

Dan jauh dari Hutan Terlarang, di dunia manusia yang bahkan tidak tahu nyawa seseorang sedang digantung pada detik yang sama…

mal masih dipenuhi suara tawa, musik toko, dan langkah kaki yang sibuk.

Rei dan Riku berdiri seperti dua tiang penyangga dengan kedua tangan penuh barang.

Sudah hampir tiga jam.

Riku menghela napas panjang.

Riku:

"Rei… aku rasa… ikut ujian sekolah lebih baik daripada ikut belanja begini."

Rei tertawa kecil, meski lengannya juga pegal.

Rei:

"Ya tapi… dengan begini kita bisa lihat mereka bahagia."

Riku menatap tumpukan barang.

Riku:

"Kita sudah begini hampir tiga jam, Rei…"

"Sekarang aku paham kenapa pria tidak boleh ikut wanita kalau mereka belanja."

Di kejauhan, Rika menoleh. Wajahnya senang—tapi begitu melihat Riku… ia sadar pacarnya benar-benar kelelahan.

Rika menghampiri cepat.

Rika:

"Sayang… kamu capek?"

"Sini… aku bantu."

Riku seketika membusungkan dada, sok kuat.

Riku:

"Tenang saja, sayang."

"Ini masalah kecil."

"Aku masih kuat."

"Kamu lanjut bersenang-senang aja."

Rika menatapnya sebentar… lalu berbalik ke para gadis lain.

Rika:

"Eh, ayo… kita sudahi belanjanya."

"Kayaknya para pria sudah mau tumbang."

Semua menoleh.

Baru sadar tangan Rei dan Riku benar-benar penuh.

Mereka akhirnya sepakat berhenti.

Para gadis mendekat sambil minta maaf, lalu—seolah baru tersadar—memasukkan semua barang mereka ke tas dimensi masing-masing.

Riku membeku.

Riku:

"…Tunggu."

"Kenapa kalian tidak masukkan dari tadi?!"

Airi tertawa kecil.

Airi:

"Kami lupa… terlalu senang."

Rei ikut tertawa, menyerahkan sisa barang.

Riku mendadak melangkah ke Rika dan memeluknya, seperti korban perang.

Riku:

"Aku lelah, sayang…"

Semua tertawa.

Aelria menoleh ke Rei.

Aelria:

"Kamu lelah?"

Rei:

"Tidak sama sekali."

"Ini masih ringan dibanding latihan Ravien pagi tadi."

Semua kaget.

Mereka pun akhirnya memutuskan makan siang bersama. Aelria bahkan menawarkan traktir—sebagai "permintaan maaf" karena para pria jadi kuli angkut.

Di restoran, sambil menunggu makanan, obrolan bergeser ke latihan.

Riku:

"Latihan apa sih, Rei?"

"Baru satu hari… kamu beda."

Rei:

"Aku cuma lari bolak-balik pantai… sepuluh kali."

"Aku juga masih sakit."

"Tapi sekarang… tubuhku mulai tahu rasanya dipaksa bangkit."

Riku:

"Tidak mungkin."

Aelria menambahkan dengan tenang:

Aelria:

"Bukan lari biasa."

"Dia pakai gelang pemberat."

"Satu gelang… 25 kg."

"Rei pakai satu di tiap tangan dan kaki."

"Total seratus kilo."

Airi menimpali:

Airi:

"Dan push up 100 kali."

"Sit up 100 kali."

Meja mendadak sunyi.

Rinna menoleh ke Seris.

Rinna:

"Ravien biasa begitu?"

Seris menjawab datar—seolah itu hal wajar.

Seris:

"Itu… ringan."

"Kak Lirya dulu melatih Kak Ravien… lebih ekstrem."

"Tiga gelang di tiap tangan dan kaki."

"Setiap hari."

Semua membayangkan sejenak… lalu bergidik.

Rika menutup mulut, setengah tidak percaya.

Rika:

"Pantas dulu… guru-guru saja tidak bisa menghentikan Ravien."

Riku menatap piring kosongnya, lalu menatap Rika.

Riku:

"…Kayaknya aku juga mau ikut latihan."

Rika langsung tegang.

Rika:

"Jangan maksa…"

Riku mengelus kepala Rika lembut.

Riku:

"Bukan buat gaya."

"Aku cuma… mau bisa melindungi kamu."

Rika tersipu.

Makanan pun datang. Mereka makan siang itu dengan tawa dan cerita, lanjut bermain arena permainan, lalu menonton bioskop, sampai sore menjelang malam.

Langkah mereka tetap ringan menuju hotel.

Tapi di tempat lain, pada jam yang sama… ada seseorang yang mungkin tak sempat pulang.

More Chapters