Ficool

Chapter 137 - Bab 137: "Penjahat Hatiku" — Kencan Kedua di Kota Veyra

Siang itu, Nyra dan Garm kembali berjalan berdua di Kota Veyra—kencan kedua mereka.

Garm seperti serigala besar yang baru menemukan "rumah" setelah bertahun-tahun tersesat. Matanya selalu mengikuti Nyra—bukan seperti orang lapar yang mengincar mangsa, tapi seperti seseorang yang takut kehilangan sesuatu yang terlalu berharga.

Dan karena itu… ia jadi berlebihan.

Setiap kali Nyra menoleh ke arah sebuah kios kecil, Garm sudah bergerak.

Garm:

"Mau itu?"

Nyra:

"Tidak."

Garm:

"Yang itu?"

Nyra:

"Tidak."

Garm:

"Kalau yang itu—"

Nyra menatapnya datar. Tatapan rubah yang bening tapi tajam, seperti bisa menembus sampai niat terdalam.

Nyra:

"Garm."

"Jangan."

"Berlebihan."

Garm langsung menegakkan badan, seperti prajurit yang ditegur komandan.

Garm:

"…Baik."

Nyra menghela napas, lalu menambahkan pelan, nadanya tidak marah—lebih seperti orang yang tidak terbiasa menerima perhatian.

Nyra:

"Aku bukan perempuan yang bisa dibeli dengan barang."

"Kalau kamu terus begitu… aku malah tidak nyaman."

Garm menelan ludah, lalu mengangguk sungguh-sungguh.

Garm:

"Aku mengerti."

"Maaf."

"Aku cuma… terlalu senang."

Nyra tidak menjawab panjang. Tapi bibirnya melengkung kecil, tanda ia menerima.

—Tempat Makan Sederhana

Saat jam makan siang tiba, Garm sempat menunjuk restoran yang terlihat lebih mewah.

Nyra langsung menggeleng.

Nyra:

"Tidak."

"Aku pilih yang itu."

Ia menunjuk tempat makan sederhana yang ramai, hangat, dan murah—sesuai kebiasaannya.

Garm tidak protes. Ia mengikuti.

Begitu duduk dan memesan, mereka menunggu makanan. Garm menatap Nyra dengan senyum yang terlalu jelas, terlalu puas, terlalu… "jatuh."

Nyra menyipitkan mata.

Nyra:

"Kenapa kamu lihat aku begitu?"

"Kayak lihat penjahat saja."

Garm bersandar sedikit, matanya menyala jahil.

Garm:

"Memang benar."

"Aku sedang melihat penjahat."

Nyra mengernyit.

Nyra:

"Hah?"

Garm mencondongkan tubuh, suaranya dibuat dramatis.

Garm:

"Penjahat hatiku."

Nyra membeku setengah detik.

Lalu pipinya memerah.

Nyra:

"…Dasar."

"Kamu memang cuma bisa menggombal."

Garm tertawa kecil, lalu suaranya pelan—lebih jujur daripada gombal.

Garm:

"Aku serius."

"Dulu… aku cuma bisa melihatmu dari jauh."

"Aku takut kalau aku mendekat, kamu akan menganggapku sama seperti pria lain."

Nyra menatap meja, tidak menyela.

Garm:

"Tapi sekarang… setelah kamu menerima perasaanku—"

"aku bisa melihatmu lebih dekat."

"Dan aku makin yakin… kamu memang cantik."

"Bukan cuma wajahmu."

"Cara kamu bertahan hidup… itu yang paling cantik."

Nyra menahan napas, lalu menatapnya dengan mata rubah yang tajam—menilai, memastikan tidak ada kepalsuan.

Nyra:

"Kamu belum 'memiliki' aku, ya."

"Kita baru jadian beberapa hari."

"Jadi kamu harus membuat aku tidak berpaling."

Garm terdiam, lalu matanya membesar.

Garm:

"Itu… tugas?"

Nyra mengangguk kecil, berusaha tegas, tapi suaranya ada rasa malu.

Nyra:

"Tugas kamu."

Garm mendadak tersenyum lebar—seperti baru dapat misi yang paling ia sukai.

Garm:

"Baik."

"Aku akan kerjakan."

"Aku akan bikin kamu… yakin untuk tetap di sisiku."

Nyra:

"G-Garm…"

Garm:

"Bukan dengan memaksa."

"Tapi dengan membuatmu yakin… bahwa aku bisa jadi rumah yang aman."

Nyra memalingkan wajah. Tapi senyumnya terlihat jelas.

—Pertanyaan Tentang Masa Lalu

Makanan datang. Mereka mulai makan.

Namun di tengah suasana hangat itu, Garm tiba-tiba bertanya—pelan, hati-hati.

Garm:

"Kanna bilang… dulu kamu sering dijauhi orang desa."

"Itu benar?"

Sendok Nyra berhenti.

Ia menaruhnya pelan.

Matanya menunduk.

Hening.

Garm panik seketika.

Garm:

"Maaf—!"

"Kalau kamu tidak mau cerita, tidak usah!"

"Aku janji nggak akan tanya lagi."

Nyra mengangkat kepala. Menatap Garm yang panik itu.

Lalu ia menggeleng perlahan.

Nyra:

"Tidak apa."

"Aku cuma kaget… kamu dengar itu dari adikku."

Ia menarik napas.

Nyra:

"Kisahku bukan kisah yang bahagia, Garm."

Garm diam, menunggu—tanpa memaksa.

Nyra mulai bercerita.

Nyra:

"Benar."

"Di desa dulu… banyak orang menjauhiku."

"Karena aku punya kelebihan."

Garm menatapnya.

Nyra:

"Ilusi… itu biasa untuk rubah."

"Tapi aku juga bisa merasakan kebohongan."

"Dan itu membuat orang takut."

Ia menelan ludah, suaranya tetap stabil, tapi ada luka yang jelas.

Nyra:

"Orang-orang ingin keluargaku diusir."

"Katanya aku pembawa sial."

"Katanya aku akan menghancurkan desa karena 'membongkar' wajah asli mereka."

Garm mengepal tangan di bawah meja, marah—bukan pada Nyra, tapi pada dunia yang tega melakukan itu.

Nyra:

"Orang tuaku… dan Kanna… percaya itu anugerah."

"Mereka satu-satunya yang tidak takut padaku."

"Itu yang membuatku ingin jadi kuat."

"Aku ingin melindungi mereka."

Nyra menatap lantai sejenak, lalu suaranya menipis.

Nyra:

"Tapi takdir… tidak memberi waktu."

Garm menahan napas.

Nyra:

"Puluhan monster menyerbu desa."

"Mereka membunuh semua penduduk… termasuk orang tuaku."

"Aku dan Kanna… hanya bisa lari."

"Kami bahkan tidak tahu kami lari ke mana."

"Sampai akhirnya kami tiba di Veyra."

Garm menatap Nyra seperti ingin memeluk, tapi ia menahan diri—tak mau membuat Nyra merasa rapuh.

Nyra melanjutkan.

Nyra:

"Sejak itu… aku menyembunyikan kelebihanku."

"Aku berpura-pura cuma bisa ilusi kecil."

"Yang tahu kemampuan asliku… hanya Kanna, dan atasanku."

Garm mengangguk perlahan.

Garm:

"…Jadi itu alasan kamu selalu bisa tahu orang berbohong."

Nyra:

"Iya."

"Dan itu alasan aku menjaga jarak."

"Aku lelah melihat kepalsuan."

Garm menatapnya—matanya hangat, tidak ada nafsu, tidak ada niat buruk.

Garm:

"Terima kasih… sudah cerita."

Nyra tidak menjawab dengan kata-kata.

Tapi ekspresinya mengatakan: aku percaya kamu.

—Ke Dunia Manusia

Garm bertanya pelan, mencoba mencari topik lain.

Garm:

"Karena kelebihan itu… kamu juga ditugaskan ke Dunia Manusia?"

Nyra mengangguk.

Nyra:

"Benar."

"Ada insiden monster energi anomali."

"Aku disuruh menyelidiki."

Saat Nyra mengatakan "Dunia Manusia," Garm sempat membeku sesaat.

Nyra menyadarinya.

Nyra:

"Garm?"

"Ada apa?"

"Kamu memikirkan sesuatu?"

Garm refleks menjawab terlalu cepat.

Garm:

"Tidak ada apa-apa."

Nyra menatapnya tajam.

Nyra:

"Garm."

"Kamu lupa apa yang aku bilang kemarin?"

Garm langsung pucat.

Ia menunduk, menghela napas.

Garm:

"…Maaf."

Lalu ia mengaku.

Garm:

"Aku memang tahu sesuatu."

"Tapi… sebelum aku bicara, aku harus dengar detail tugasmu dulu."

"Aku tidak mau salah."

"Aku tidak mau… mengkhianati orang yang sudah menyelamatkanku."

Nyra mengangguk, paham arti "hutang nyawa."

Nyra:

"Baik."

"Aku ceritakan."

Mereka menghabiskan makanan, lalu Garm membayar. Setelah itu, mereka berjalan menuju rumah Nyra.

Di jalan, suasana jadi canggung—karena percakapan sudah menyentuh hal serius.

Garm melirik tangan Nyra yang berjalan di sebelahnya.

Ia menelan ludah.

Lalu, dengan keberanian yang ia kumpulkan, ia menggenggam tangan Nyra.

Nyra terkejut sebentar.

Kemudian… jemarinya membalas pelan.

Senyumnya muncul, kecil, tapi hangat.

Nyra:

"Kalau begini… jangan gemetar."

"Aku tahu."

Garm:

"…Aku gugup."

Nyra:

"Aku juga."

—"Rei"—Nama yang Mengunci Segalanya

Di rumah, Nyra menyiapkan minuman. Mereka duduk di ruang makan.

Nyra mulai bercerita dengan rapi—seperti laporan, tapi tetap dengan rasa hati-hati.

Nyra:

"Tugas itu untuk menyelidiki monster berenergi anomali yang belum lama ini muncul di dunia manusia."

"Di kilas balik… aku melihat orang-orang berjubah memanggil monster itu dari celah dimensi."

"Mereka berkata… 'ini sudah cukup'."

"Dan saat aku mencoba melihat wajah mereka… energiku ditolak."

"Salah satu dari mereka… seperti melihatku balik."

"Aku takut. Jadi aku memutus."

Garm menelan ludah.

Nyra melanjutkan.

Nyra:

"Dari investigasi itu… ada satu nama yang terus muncul."

"Seorang manusia tanpa kekuatan."

"Dan yang paling aneh… justru dia yang memusnahkan monster itu."

Garm menatapnya.

Nyra menyebutkan nama itu.

Nyra:

"Ia bernama Rei."

Dada Garm serasa ditarik.

Ia tidak berkata apa-apa, tapi Nyra melihat perubahan di mata Garm.

Nyra:

"Jadi… apa yang kamu sembunyikan dariku, Garm?"

Garm menarik napas panjang.

Garm:

"Aku punya… teman."

"Seorang manusia… di ujung Hutan Terlarang."

"Dia mungkin tahu… jawaban yang kamu cari."

Nyra menahan napas.

Nyra:

"Di ujung Hutan Terlarang…?"

"Kenapa kamu tidak bilang dari awal?"

Garm menunduk.

Garm:

"Aku tidak pantas memberitahukan itu sembarangan."

"Aku sangat menghormati dia."

"Dia menyelamatkanku dari kematian saat bertugas."

Nyra tidak memaksa.

Nyra:

"Kalau begitu… tolong."

"Katakan padanya… aku perlu tahu."

"Atasanku menduga dalangnya orang yang punya kekuasaan."

"Kalau itu benar… ini bisa menghancurkan banyak hal."

Garm terdiam sejenak, menimbang dua hal yang sama-sama penting baginya: kepercayaan Nyra… dan rahasia Rei.

Garm mengangguk.

Garm:

"Baik."

"Aku akan tanya saat aku kembali ke sana."

"Terima kasih… sudah percaya."

Nyra menatapnya, lalu berkata pelan:

Nyra:

"Aku lebih suka kamu jujur, Garm."

"Itu yang membuatku… tertarik."

Garm langsung mengangkat kepala.

Garm:

"Berarti kamu tidak akan berpaling dariku?"

Nyra memalingkan wajah, malu.

Nyra:

"Bukan begitu…"

"Tapi… tidak salah juga."

"Pokoknya… jangan bohong."

Lalu, dengan wajah serius yang tiba-tiba "seram"—Nyra menatap Garm tajam.

Nyra:

"Dan jangan selingkuh."

"Kalau tidak… aku akan anggap kamu tidak pantas memegang kepercayaan siapa pun—termasuk temanmu itu."

Garm membeku seperti kena sihir.

Garm:

"A-Aku janji!"

"Aku tidak akan seperti itu!"

"Karena… hanya kamu satu-satunya wanita yang membuatku jatuh hati."

Nyra menahan senyum.

Nyra:

"Bagus."

—Menjemput Kanna— Candaan dan "Lamaran" yang Terlalu Cepat

Setelah berbincang cukup lama, Nyra mengajak Garm pergi menjemput Kanna siang itu.

Nyra:

"Baiklah, ayo kita jemput Kanna."

Garm:

"Hmm"

Mereka pergi menjemput Kanna. Di depan sekolah, murid-murid sudah mulai keluar. Kanna muncul bersama dua temannya—satu elf dan satu beastkin.

Teman Elf:

"Kanna… kakakmu sudah jadian sama pria itu?"

Kanna mengangkat dagu bangga.

Kanna:

"Benar!"

"Ka Garm pacar kakakku!"

"Jangan rebut, ya!"

Teman Beastkin tertawa.

Teman Beastkin:

"Tenang… siapa juga yang mau bersaing sama kakakmu yang cantik begitu."

Tak lama Kanna sampai ke mereka, langsung memperhatikan tangan Nyra yang sedang bergandengan dengan Garm.

Kanna:

"Wah~"

"Sudah maju ya."

"Kanna nggak sabar Ka Nyra nikah sama Ka Garm!"

Nyra memukul kepala Kanna pelan.

Nyra:

"Jangan bicara sembarangan."

"Lihat sekitarmu."

Kedua teman Kanna malah tertawa.

Kanna mengadu ke Garm seperti biasa.

Kanna:

"Ka Garm, bela aku—"

Garm mencoba menenangkan Nyra.

Nyra:

"Jangan memanjakan dia, Garm."

Garm menatap Nyra, lalu keluar kalimat yang membuat suasana berhenti sebentar:

Garm:

"…Memang kamu tidak mau aku jadi suamimu, Nyra?"

Nyra membeku.

Pipi Nyra memerah.

Nyra:

"Bukan begitu!"

"Ini… terlalu cepat."

"Aku belum siap."

Garm menghela napas dramatis, tapi senyumnya hangat.

Garm:

"Tidak apa."

"Aku masih punya tugas."

"Membuatmu yakin… sebelum aku melamar."

Nyra memukul dada Garm pelan.

Nyra:

"Bodoh."

"Kamu cuma bisa menggombal…"

Kanna dan teman-temannya tertawa pelan melihat Nyra malu.

Garm akhirnya berhenti bercanda, mengajak pulang.

—Perpisahan Sore — "Pelindung" di Kening

Sesampainya di rumah, Garm berpamitan.

Garm:

"Besok… aku mungkin pergi."

"Aku mau minta izin bicara pada temanku."

Nyra menahan napas, dadanya terasa aneh—tidak suka mendengar kata "pergi."

Nyra:

"…Hati-hati."

Garm mendekat.

Dengan gerakan pelan, ia mencium kening Nyra.

Garm:

"Ini… sebagai pelindungmu."

"Selama aku tidak ada."

Nyra terpaku.

Lalu menutup wajahnya sedikit—malu, tapi senang.

Nyra:

"…Pergilah."

"Dan… kembali."

Garm tersenyum.

Garm:

"Aku pasti kembali."

Dan sore itu, di Kota Veyra, Nyra baru sadar…

Bukan hanya dia yang memberi "rumah" pada Kanna.

Sekarang… dia juga mulai punya rumah untuk hatinya sendiri.

More Chapters