Ficool

Chapter 6 - Bakso dan Air Mata Keberuntungan

Di pinggiran Jakarta yang bau asap knalpot dan comberan, Budi mendorong gerobak baksonya setiap pagi dengan bahu yang sudah bungkuk. Usia 45 tahun, tapi rasanya sudah 70. "Bakso panas! Kuah mantap!" teriaknya rutin, suaranya serak karena terlalu sering berteriak melawan bising kota. Tapi malam hari, saat gerobak sudah ditutup, dia duduk di trotoar, menatap langit kelabu. "Ya Allah… sampai kapan aku begini?" gumamnya pelan, air mata jatuh tanpa suara.

Di rumah kontrakan kecil yang dindingnya retak-retak, Siti menyambutnya dengan senyum lelah. "Masuk dulu, Mas. Makan malam sudah siap," katanya lembut. Tapi Budi tahu, "siap" itu cuma nasi sama telur dadar tipis. andi, anak perempuan mereka yang kurus, batuk-batuk di sudut kamar. Andi, si kecil, memeluk kaki ayahnya. "Pa, besok aku ujian. Tapi buku matematikaku bolong-bolong…"

Budi memeluk Andi erat-erat, suaranya bergetar. "Papa usaha, Nak. Papa janji." Tapi saat anak-anak tidur, dia dan Siti duduk di teras gelap. "Ti… rentenir tadi telepon lagi. Besok harus bayar lima juta. Kalau nggak, gerobak diambil," bisik Budi, kepala tertunduk. Siti memegang tangannya, air mata mengalir. "Mas… aku takut. Aku takut kita kehilangan segalanya. Aku cuma pengen anak-anak sehat, pengen kita bisa umroh bareng… pengen sujud di Ka'bah, minta ampun sama Allah atas semua dosa kita." Budi memeluk istrinya, dadanya sesak. "Aku juga pengen, Ti. Tapi dagang bakso sehari cuma cukup buat makan. Hutang numpuk kayak gunung. Aku… aku merasa gagal jadi suami, gagal jadi bapak."

Malam itu hujan deras. Budi pulang basah kuyup, dagang sepi. Di warung kopi, Asep mendekat. "Bud, lo keliatan hancur banget. Coba deh main di m9win. Slot mahjong lagi gacor. Gue kemarin maxwin, bro. Bayar hutang langsung lunas." Budi menggeleng keras. "Judi, Sep? Gue nggak mau! Ayah gue dulu hancur gara-gara judi. Gue janji sama diri sendiri nggak bakal kayak gitu!" Asep tertawa kecil. "Ini beda, Bud. Sekali coba aja. Demi keluarga lo."

Sepanjang malam Budi gelisah. Dia duduk di samping tempat tidur andi yang batuk terus. "Pa… aku sakit lagi…" bisik andi lemah. Budi memegang tangan kecil itu, menangis. "Papa cari obat ya, Nak. Papa janji." Tapi dompetnya kosong. Siti terbangun, memeluk suaminya dari belakang. "Mas… lakuin apa yang harus dilakuin. Aku percaya sama kamu. Kita sudah terlalu lama menderita."

Dengan tangan gemetar, Budi ambil ponsel bututnya. Di kamar sempit yang hanya diterangi lampu neon redup, dia daftar di m9win. Setor 200 ribu terakhir—uang untuk belanja besok. "Ya Allah… ampuni hamba. Ini demi anak-istri hamba," doanya sambil air mata menetes ke layar. Slot mahjong berputar. Kalah. Kalah lagi. "Sudah cukup! Ini salah!" jeritnya dalam hati. Tapi bayangan andi yang batuk, Andi yang nangis minta buku, Siti yang bermimpi umroh—semua muncul bergantian. "Satu kali lagi… satu kali lagi saja…"

Layar tiba-tiba bergetar gila-gilaan. Musik kemenangan menggelegar. Ubin mahjong berbaris sempurna—MAXWIN! Angka melonjak: 50 juta rupiah. Budi terduduk di lantai, menangis keras hingga dadanya sesak. "Allahu Akbar! Allahu Akbar!" teriaknya pelan, takut membangunkan anak-anak. Siti terbangun, berlari keluar. "Mas! Kenapa?!" Budi memeluk istrinya erat, suaranya pecah. "Ti… kita menang. Kita menang besar. Hutang lunas. andi bisa berobat. Dan… dan kita bisa umroh sekeluarga!" Siti menangis di pelukannya, tak bisa bicara, hanya mengucap syukur berulang-ulang.

Keesokan harinya, rentenir datang dengan muka sangar. Budi berdiri tegak, menyerahkan uang tunai. "Ini semua hutang saya plus bunga. Ambil, dan jangan pernah datang lagi." Rentenir terbelalak, tak berkata apa-apa, lalu pergi.

Beberapa bulan kemudian, di bandara Soekarno-Hatta, keluarga kecil itu berdiri dengan pakaian ihram putih bersih. Andi memegang tangan ayahnya, matanya berbinar. "Pa… ini beneran kita mau ke Mekkah?" Budi tersenyum, air mata menggenang lagi. "Iya, Nak. Papa janji kan dulu? Papa tepati." andi memeluk ibunya. "Ma… aku nggak batuk lagi. Aku sehat sekarang." Siti menatap Budi, suaranya bergetar penuh cinta. "Mas… terima kasih. Kamu nggak cuma selamatkan kita dari hutang. Kamu selamatkan mimpi kita."

Di depan Ka'bah, Budi sujud panjang. "Ya Allah… hamba pernah ragu. Hamba pernah hampir putus asa. Tapi Engkau tunjukkan jalan. Terima kasih atas rahmat-Mu yang tak pernah habis." Air matanya membasahi sajadah.

Kembali ke Jakarta, gerobak bakso masih ada di tempat yang sama. Tapi kini Budi mendorongnya dengan senyum tulus. Dia tetap membuka aplikasi m9win di sela waktu istirahat nya. Pelajaran itu sudah cukup: di saat terdalam kegelapan, doa, perjuangan, dan sedikit keberanian bisa membawa cahaya yang tak pernah diduga.

More Chapters