Ficool

Chapter 8 - Putaran roda pembalik kelas crypto yang kejam

Di apartemen kecil di pinggiran Jakarta, Andi duduk sendirian di lantai ruang tamu yang gelap. Layar laptop masih menyala, menunjukkan grafik crypto yang merah membara—semua modal hilang. 200 juta rupiah, tabungan keluarga, pinjaman bank, bahkan emas kawin Maya yang dijual diam-diam. Semua lenyap gara-gara "Akademi Crypto Elite" yang menjanjikan surga keuntungan.

Maya masuk pelan, tangannya memegang tagihan listrik yang sudah telat dua bulan. Matanya bengkak. "Andi… anak-anak tadi nangis tanya kenapa listrik mati lagi. Aku nggak bisa jawab apa-apa."

Andi menatap istrinya, suaranya serak seperti orang kehilangan jiwa. "Maya… aku hancurkan kita. Aku pikir akademi itu jalan pintas. Mereka bilang 'strategi anti-rugi', 'profit 1000%'. Aku percaya, Sayang. Aku ingin kasih kalian hidup enak, rumah besar, sekolah internasional… tapi sekarang? Kita cuma punya hutang dan tangisan anak-anak."

Maya jatuh berlutut di depannya, memegang kedua tangan suaminya yang dingin. "Andi… aku takut sekali. Rentenir telepon tadi sore, bilang kalau besok nggak bayar, mereka datang ke sini. Aku takut mereka ambil apa yang tersisa. Aku takut anak-anak kita tidur di jalan. Kamu bilang ini investasi halal, aman… tapi sekarang kita di ujung tanduk. Aku percaya kamu, tapi ini… ini terlalu sakit, Andi. Sakit banget."

Andi menangis tersedu, kepalanya tertunduk hingga menyentuh lantai. "Aku bodoh, Maya. Aku bodoh banget. Aku merasa ditipu habis-habisan. Akademi itu scam! Mereka ambil uang kursus, suruh beli coin sampah, lalu hilang.

Aku merasa seperti sampah sekarang. Aku gagal jadi suami. Aku gagal jadi ayah. Maafkan aku… maafkan aku… kalau bisa aku balikin waktu, aku nggak akan sentuh crypto lagi. Tapi sekarang? Kita mau makan apa besok? Kita mau tidur di mana kalau rumah disita?"

Maya memeluknya erat, air mata mereka bercampur di bahu satu sama lain. "Andi… jangan bilang gitu. Kita masih punya satu sama lain. Kita masih punya anak-anak. Tapi aku nggak bohong… aku lelah, Sayang.

Aku lelah nangis setiap malam. Aku lelah pura-pura kuat di depan anak-anak. Tolong… cari jalan keluar. Apa pun caranya. Aku percaya kamu bisa bangkit lagi."

Malam itu, Andi tak tidur. Dia ingat pesan Dedi: "Coba m9win, bro. Slotnya lagi gacor. Bisa balikin modal lo." Andi bergumam sendiri, "Ya Allah… hamba tahu ini dosa. Tapi keluarga hamba di ambang kehancuran. Ampuni hamba… izinkan hamba selamatkan mereka."

Dengan tangan gemetar, dia daftar di m9win, setor 500 ribu terakhir dari jual jam tangan peninggalan ayahnya. Slot berputar. Putaran 15 Kalah. Putaran ke 30 Kalah lagi. Andi menangis pelan. "Sudah… cukup. Ini akhirnya." Tapi bayangan Maya yang menangis, anak-anak yang lapar, membuatnya tekan tombol sekali lagi. "Satu kali terakhir… Ya Tuhan, tolong…"

Layar bergetar hebat. Simbol berbaris sempurna—MAXWIN! 250 juta rupiah!

Andi terjatuh ke belakang, menangis keras seperti anak kecil. "Allahu Akbar! Allahu Akbar! Terima kasih… terima kasih, Ya Rabb!" Dia berlari ke kamar, membangunkan Maya dengan pelukan erat. "Maya! Bangun! Kita selamat! Kita menang besar! Modal crypto balik… lebih dari cukup!"

Maya terbangun kaget, lalu melihat wajah suaminya yang basah air mata bahagia. "Andi… beneran? Ini bukan mimpi?"

Andi memeluknya lebih erat, suaranya pecah penuh emosi. "Beneran, Sayang. Ini mukjizat. Aku janji, Maya… mulai sekarang aku nggak akan lagi ambil risiko gila. Aku bakal kerja keras, halal, buat kita. Maafkan aku atas semua air mata yang aku buat.

Maafkan aku yang pernah bikin kamu takut kehilangan segalanya. Aku janji… aku janji akan jadi suami dan ayah yang lebih baik. Kita mulai dari nol lagi, tapi bareng. Kita bangun mimpi baru… yang nggak bikin kita nangis lagi."

Maya menangis bahagia, mencium kening suaminya berulang-ulang. "Andi… aku nggak pernah berhenti percaya sama kamu. Meski kita jatuh ke dasar neraka, aku tetap pegang tangan kamu. Sekarang… sekarang kita naik lagi. Bersama. Alhamdulillah… atas rahmat-Nya yang nggak pernah habis."

Beberapa bulan kemudian, hutang lunas, bisnis kecil Andi mulai jalan, anak-anak kembali tersenyum. Di teras malam, Andi memeluk Maya sambil menatap bintang. "Dari kegelapan terdalam, kita dapat cahaya. Terima kasih udah nggak ninggalin aku, Sayang."

Maya tersenyum, suaranya lembut tapi penuh kekuatan. "Aku nggak akan pernah ninggalin kamu, Andi. Karena di saat semua hilang… yang tersisa cuma kita. Dan itu sudah lebih dari cukup."

Mereka berpelukan di bawah langit Jakarta yang mulai cerah—akhir dari badai, awal dari harapan baru.

More Chapters