Ficool

Chapter 61 - Chapter 61

──────────────────────────

🔥 CHAPTER 61 — "Jalan Tinju Berdarah, Latihan Neraka Damien, & Lyanna Kabur dari Rumah… Lagi"

──────────────────────────

Angin pagi di dasar lembah terasa dingin, namun dingin itu tidak ada apa-apanya dibandingkan suasana latihan Damien.

Rex tergeletak seperti mayat. Hana duduk sambil memeluk lutut sambil menangis. Zura berdiri tapi seluruh tubuhnya gemetar.

Damien berdiri di depan mereka, santai, dengan tangan di saku.

> "Bangun. Kita baru mulai."

Rex merangkak. "Tadi itu BARU PEMANASAN?!"

Damien menatapnya datar. "Kalau pemanasan membuatmu ingin mati, bagaimana kau mau hidup di Warisan Dewa Tinju?"

Kael Arclight muncul di kepala Damien, berteriak:

> "SIALAN, KAUKAN BUNUH TEMAN-TEMANMU—" Suara Misterius menimpali: "Biarkan saja. Latihan keras memperkuat fondasi."

Damien mengabaikan keduanya.

──────────────────────────

🔥 Latihan Tinju Berdarah ala Damien Valtreos

──────────────────────────

Damien menepuk tanah.

"Latihan hari ini sederhana."

Rex langsung pucat.

"Tidak ada kata 'sederhana' dalam kamusmu, bro."

Damien mengangkat satu jari.

> "Pertama. Lari 2 kilometer sambil membawa batu 30 kilo."

Hana teriak: "ITU BUKAN LARI. ITU TEROR."

Zura hanya mengangguk patuh.

Damien mengangkat jari kedua.

> "Kedua. Pukulan jarak dekat—1000 kali."

Rex teriak: "Aku bukan mesin bor!!"

Damien menaikkan jari ketiga.

> "Ketiga… sparring denganku. Tanpa teknik."

Rex langsung pingsan berdiri.

Hana: "Dia KO bahkan sebelum mulai."

Damien menepuk pipi Rex biar bangun.

> "Jangan mati dulu. Aku butuh kalian hidup sampai kompetisi."

──────────────────────────

🔥 Lyanna di Rumah Keluarga Frostveil — Drama Besar

──────────────────────────

Sementara itu, di Kastil Frostveil…

Lyanna duduk di tempat tidur besarnya, wajah masih pucat tapi sudah jauh lebih baik.

Eris Valenia (ibunya) masuk membawa sup panas.

"Minumlah. Kau butuh tenanga."

Lyanna menghirup supnya sambil gelisah.

"Ibu… aku harus kembali ke Damien. Dia—"

Eris menyipitkan mata. "Tidak. Kau baru selamat dari mati."

Lyanna mengalihkan tatapan. "…Tapi Damien juga butuh aku."

Eris menghela napas panjang. "Aku tahu kau menyukai anak itu."

Lyanna memerah parah.

"A-Aku tidak—"

Eris mengangkat alis. "Muka merahmu berteriak sebaliknya."

Sebelum Lyanna bisa jawab, pintu terbuka.

Arcelian Frostveil masuk dengan aura dingin.

"Kau tidak boleh keluar selama seminggu. Ini perintah ayah."

Lyanna langsung gelisah. "…Seminggu…? Damien mungkin sudah latihan gila sekarang…"

Arcelian duduk, menatapnya dengan tatapan kakak protektif super sombong.

"Dia tidak akan mati kalau kau tidak ada."

Lyanna cemberut. "Justru AKU yang harus pastikan dia tidak mati!"

Dalam 20 detik…

Lyanna sudah memutuskan.

Dia bangun, mengambil tas kecil, membuka jendela.

Eris langsung berdiri. "Jangan bilang—"

Lyanna sudah melompat keluar jendela sambil teriak:

> "AKU BALIK KE DAMIIIEEEENNNNNN—!!"

Arcelian menutup wajahnya. "Aku… aku malu jadi kakaknya."

──────────────────────────

🔥 Kembali ke Damien — Aura Bahaya Datang

──────────────────────────

Damien sedang memeriksa perkembangan Zura dan Hana ketika angin tiba-tiba berubah dingin.

Rex menunjuk langit: "BRO… ITU ADA METEOR BIRU DATANG LAGI—"

Damien tidak menoleh. Dia tahu aura itu.

Dan benar saja—

DUAAARRR!!

Lyanna jatuh tepat di depan Damien sambil tersungkur.

"AKU BALIK!!"

Damien menatapnya tanpa ekspresi. "…Kau kabur lagi?"

Lyanna tersenyum bangga. "Tentu!"

Rex: "Ini keluarga apa sih… suka terjun bebas dari langit."

Hana: "Ini keluarga Frostveil. Tidak ada yang waras."

Damien mendekati Lyanna. Dia memeriksa denyut nadi dan energi Lyanna dengan memegang pergelangannya.

> "Kau lumayan pulih. Tapi kau harus latihan teratur, bukan memaksakan diri."

Lyanna mengangguk manis. "Aku ikut latihanmu… tapi tolong jangan sampai mati…"

Damien tersenyum tipis.

> "Aku tidak membunuh orang yang ingin berjalan di sampingku."

Lyanna langsung memerah dan hampir pingsan lagi.

──────────────────────────

🔥 Akhir Chapter — Ancaman Baru Muncul

──────────────────────────

Tepat ketika mereka mulai latihan, angin bergetar.

Zura refleks menghunus pedang. Rex jatuh panik. Hana mundur.

Lyanna memucat.

Damien mengangkat kepala.

Dari kejauhan, tiga sosok berjubah hitam muncul.

Aura mereka gelap, penuh niat membunuh.

Rex gemetar. "A-anjiir… ini organisasi busuk itu lagi…"

Hana: "Mereka nemuin kita secepat ini?!"

Sosok paling depan menyeringai.

"Kami datang menjemput gadis Frostveil…

Sebelum ibu dan kakaknya tiba."

Damien melangkah maju.

> "Kalau kalian mau menyentuh Lyanna…"

"…lewati mayatku dulu."

Mata Damien bersinar biru tajam.

Aura Core Formation 2 meledak seperti badai.

Suara Misterius berbisik:

> "Hoh… darahmu mulai mendidih. Bagus… pertarungan besar pertama sedang menunggu."

──────────────────────────

🔥 END CHAPTER 61

──────────────────────────

More Chapters