Ficool

Chapter 41 - Chapter 41

🔥 CHAPTER 41 — "Tatapan Dewa Es, Benteng Es Abadi, & Inti Es Dewa"

---

❄️ ADEGAN PEMBUKA — KETIKA CAHAYA BIRU MENELAN SELURUH HUTAN

Cahaya biru yang keluar dari mata Dewa Es menghancurkan udara, membekukan ruang seperti kaca retak.

Damien merasakan tulang-tulangnya bergetar, tapi ia tidak mundur.

Rex pingsan berdiri.

Hana menggigit bibirnya, tak bisa bergerak.

Lyanna menahan napas, tubuhnya terseret beberapa sentimeter ke arah retakan langit itu.

Daranya… garis keturunan Frostveil… merespon panggilan sang Dewa.

Damien meraung pelan.

Damien:

"Jangan sentuh dia."

Mata Dewa Es menyala lebih terang…

---

❄️ ADEGAN 1 — KEDATANGAN SEUTUHNYA: DEWA ES TERKUAT DUNIA TERENDAH

Sosok perlahan membesar dari balik retakan.

Bukan tubuh lengkap—hanya proyeksi kekuatan, namun bahkan itu cukup untuk membuat Core Formation seperti Sirel gemetar sampai lututnya menyentuh tanah.

Nama: Aurelius Frostmourn

Gelar: Dewa Es Tertinggi — Penguasa Frostveil

Tipe: Entitas Paling Kuat di Dunia Terendah

Kekuatan: Tidak Bisa Diukur

Sirel menunduk ekstrem.

"Yang mulia… ini kehormatan—!"

Aurelius tidak memandangnya.

Tatapannya hanya tertuju pada dua makhluk: Lyanna dan Damien.

Suara Aurelius terdengar seperti ribuan pecahan es yang bergesekan.

Aurelius:

"Putri kedua… waktumu telah tiba."

Lyanna terseret pelan ke langit, matanya melebar ketakutan dan bingung.

"Damien…!"

Damien maju satu langkah.

Seluruh hutan bergetar.

"Kalau kau tarik dia—aku bakar dunia esmu."

Rex teriak jauh di belakang:

"BROOOO ITU DEWA—PILIH KATA-KATA LU!!"

Aurelius akhirnya memandang Damien.

Dan dunia seketika… sunyi.

---

⚡ ADEGAN 2 — KOSMIK DAMIEN MELAWAN TEKANAN DEWA

Aurelius menurunkan tekanan kekuatan.

Tanah retak sepanjang kilometer.

Pohon-pohon berubah menjadi serpihan es.

Hana berteriak:

"DAMIEN! MATI KALAU KAU PAKSA—"

Namun petir Damien menyala seperti bintang runtuh.

Matanya berubah hitam-ungu pekat, garis petir berdansa di kulitnya.

Damien (datar):

"Dia milik kelompokku. Kalau kau bawa dia tanpa izin—aku akan mencarik kembali kepalamu nanti."

Aurelius terdiam sesaat.

Lalu… tersenyum samar—atau sesuatu yang mirip senyum.

Aurelius:

"Kau menarik. Tapi kau bukan ancaman… belum."

Jari es Dewa itu menunjuk Damien.

Berlian energi biru seukuran bola golf terbang ke arahnya.

Hana panik:

"ITU INTI ES!! BIOLOGI DARI ES TERTINGGI!! BRO, TANGKAP JANGAN DIMAKAN!!"

Inti itu masuk ke dada Damien tanpa izin.

—WUUUM—

Mata Damien melebar.

Petir kosmiknya bertemu energi es ilahi.

Suara Misterius mendadak teriak:

> "BOCAH!! ITU INTI ES DEWA!!

SIMPAN!! JANGAN DIPAKAI SEKARANG!!

ITU BAHAN TERBAIK UNTUK BONEKA HIDUP PERTAMAMU!!"

Damien terhuyung tapi berhasil menstabilkan tubuh.

---

❄️ ADEGAN 3 — DEWA ES MENYERET LYANNA

Aurelius menatap Lyanna lagi.

Tatapannya jauh lebih lembut—tapi tetap menakutkan.

Aurelius:

"Putriku… kembali ke Benteng Es Abadi. Garis darahmu bangkit, dan dunia ini tidak akan membiarkanmu berlalu begitu saja."

Lyanna mencoba melawan aura yang menariknya.

"Tidak! Aku—aku belum mau pergi! Aku belum—"

Seketika es berbentuk rantai membelit tubuhnya.

Lyanna menjerit tertahan.

Damien melangkah maju, siap melompat.

Aurelius mengangkat tangannya.

Aurelius:

"Jangan bodoh, anak petir.

Kau belum layak menantangku."

Lyanna memandang Damien, mata bergetar, penuh rasa takut kehilangan.

Lyanna:

"Aku… akan kembali… jadi jangan mati…"

Dalam sekejap—

Semuanya membeku.

Retakan langit menelan Lyanna dan Dewa Es.

—KRAAAK—

Retakan menutup.

Keheningan kembali.

Damien berdiri tak bergerak.

Petir menjalar liar di tubuhnya.

Rex:

"Bro… lo gapapa?"

Damien:

"…Aku akan menjemputnya.

Tak peduli seberapa tinggi benteng es itu."

Suara Misterius tertawa kecil.

> "Heh. Bagus.

Kalau kau ingin menantang Dewa Es…

kita harus mulai mengumpulkan lebih banyak inti.

Boneka hidupmu harus mencapai peringkat legenda kalau ingin membuka jalan menuju Frostveil."

Damien mengepalkan tangan.

Inti Es Dewa berdenyut di dadanya, memberi sensasi dingin menusuk tulang.

Damien:

"Baik.

Aurelius Frostmourn… simpan putrimu sementara.

Di chapter seratus nanti… aku akan datang menghancurkanmu."

Kilatan petir hitam-ungu menari di udara.

---

🔥 ADEGAN PENUTUP — ARAH BARU

Rex dan Hana berdiri di samping Damien, melihat hutan yang setengah hancur.

Hana:

"Jadi… langkah pertama?"

Damien menatap ke horizon.

"Cari inti—sebanyak mungkin.

Boneka hidupku baru level dasar."

Suara Misterius terdengar senang.

> "Bocah, perjalananmu baru dimulai.

Dunia ini tidak tahu ada dunia di atasnya.

Tapi kau akan membuat semua dunia itu… berlutut nanti."

Damien tersenyum tipis.

Damien:

"Aku akan kejar Lyanna.

Tidak peduli berapa banyak dewa yang harus kubunuh."

—END CHAPTER 41—

More Chapters