Ficool

Chapter 56 - Gerbang Ketedral Retak

Dataran tinggi itu sunyi. Terlalu sunyi.

Tak ada angin, tak ada suara, bahkan langkah mereka tak menghasilkan gema.

Di hadapan mereka berdiri sebuah bangunan raksasa yang seakan terbuat dari cahaya retak—Ketedral Retak, pusat dari Fraktura.

Dindingnya seperti kaca pecah yang menahan cahaya dari dalam, namun setiap retakan memancarkan bayangan, bukan sinar.

---

Desahan yang Memanggil

Lied merasakan sesuatu menarik pikirannya ke dalam.

Suara lirih, serupa bisikan dari ribuan orang, menyelusup ke dalam pikirannya.

> "Akhir… awal… pilih satu…"

Dia berusaha menepisnya, tapi tatapan Elira menunjukkan bahwa ia juga mendengar hal yang sama.

Kael menggenggam tombaknya lebih erat, matanya gelisah. "Tempat ini mencoba menulis ulang kita sebelum kita masuk."

---

Kekuatan yang Menatap Balik

Terra-∞ menghentikan mereka tepat di gerbang.

> "Hati-hati. Di sini, kalian bukan pengunjung—kalian adalah halaman kosong yang siap diisi."

Gerbang itu tidak terbuat dari logam atau batu, melainkan dua lembar cahaya yang bertabrakan, menciptakan percikan narasi murni.

Di tengah percikan itu, Lied melihat sesuatu… sebuah mata raksasa, tanpa kelopak, menatap langsung ke jiwanya.

---

Ujian Pertama

Begitu mereka melangkah melewati gerbang, lantai di bawah kaki berubah menjadi lautan kata-kata yang bergerak, huruf-huruf berjatuhan ke dalam kegelapan.

Setiap kata yang menghilang membuat potongan memori mereka terasa kabur—nama tempat, wajah orang, bahkan tujuan mereka.

Elira berteriak, "Jangan biarkan kata-kata itu menyentuhmu!"

Namun satu huruf hitam sempat menyentuh lengan Lied, membuatnya melihat kilasan masa depan—dirinya yang sendirian, tanpa tim, berdiri di tengah kehampaan.

---

Sang Penulis yang Pecah

Di ujung lorong cahaya retak, sesosok berdiri.

Tubuhnya setengah manusia, setengah tinta, dan wajahnya selalu berubah setiap kali mereka berkedip—kadang tersenyum lembut, kadang kosong, kadang penuh amarah.

> "Selamat datang di Fraktura… rumah bagi narasi yang dibuang. Aku Eidvar."

Matanya berkilau seperti tinta bercampur bintang, dan dari suaranya, jelas bahwa ia mengetahui mereka jauh sebelum pertemuan ini.

More Chapters