Ficool

Chapter 23 - Chapter 23 – Seen, But Not Really There

Ponselku menyala di atas meja.

Namanya muncul.

Status: online.

Aku membeku. Kursorku berkedip di laptop, tapi jari-jariku hanya melayang. Haruskah aku mengetik? Akhirnya aku menghapus lagi. Aku menatap layar terlalu lama, berharap—sial, aku bahkan tidak tahu apa yang kuharapkan

Keberadaannya secara daring bukan berarti dia benar-benar ada di sana. Aku sudah tahu itu sekarang.

Aku mengunci layar dan bersandar di kursi. Kafe itu berisik, tetapi terasa sepi. Dengungan mesin kopi dan obrolan orang-orang hanyalah suara latar.

"Fokus, Arga…" gumamku.

Laptop itu terbuka. Linimasa kosong. Tenggat waktu sudah dekat, tetapi pikiranku terus melayang padanya.

Ponselku bergetar.

Bukan dia. Hanya obrolan grup. Aku tersenyum tipis. Sama sekali tidak lucu

Satu jam kemudian, saya melihat lagi. Statusnya hilang. Offline.

"Tentu saja," gumamku.

Aku menarik napas dalam-dalam, meraih ponselku, dan membiarkannya jatuh kembali ke meja. Bunyi gedebuk kecil itu terdengar keras di telingaku.

"Argh…"

Aku keluar dari kafe dan berdiri di trotoar yang ramai. Sepeda motor, mobil, orang-orang… semuanya bergerak ke suatu tempat. Aku hanya berdiri di sana

Lalu ponselku bergetar lagi.

Panggilan masuk.

Namanya.

Aku mengangkatnya tanpa berpikir. "Halo?"

"Eh… hai," katanya, sedikit terengah-engah. "Maaf… baru sempat menelepon."

"Tidak apa-apa," jawabku. Singkat dan sederhana.

Hening. Terlalu lama untuk terasa normal. Aku bisa mendengar napasnya dari sisi lain.

"Kamu sibuk?" akhirnya dia bertanya.

"Tidak," jawabku jujur.

"Oh…" Satu kata. Tapi terasa sangat jauh.

"Kamu lelah?" tanyaku.

"Ya… kuliah, praktikum, tugas. Banyak sekali," dia terkekeh pelan. "Kau tahu kan bagaimana rasanya."

Aku hanya mengangguk di ujung telepon.

Panggilan itu berakhir tanpa janji apa pun. Aku menatap layar yang gelap. Bayanganku tampak lelah—lebih tua dari usiaku.

Di malam hari, aku membuka buku catatan kecilku. Ada catatan-catatan lama yang belum kuhapus. Aku menulis perlahan:

"Kita masih bersama… tapi mengapa aku merasa sangat kesepian?"

Tinta sedikit luntur, tapi aku membiarkannya saja. Aku menutup buku catatan itu.

Aku berbaring, lampu dimatikan, ponsel di dadaku. Layarnya berkedip sekali lagi.

Sebuah notifikasi muncul. Bukan darinya.

Aku memejamkan mata.

Kami belum putus. Aku tahu itu.

Tapi itu pun tidak utuh.

Dan entah kenapa, berada di antara keduanya… terasa lebih menyakitkan daripada sebuah akhir yang sesungguhnya.

More Chapters