Ficool

Chapter 3 - Chapter 3. Situasi (1)

Aku terus membaca buku itu, saat aku asik membaca tiba-tiba ada suara langkah kaki di belakangku dan suara rantai terhempas di lantai. Mendengar itu aku tersentak aku menoleh kebelakang tetapi tidak ada apa-apa. aku menutup buku itu dan menaruh nya kembali ke rak buku.

Pa! tiba-tiba seseorang memukul kepala bagian belakang ku.

"kenapa kau membaca itu?!."

Aku terkejut dan menoleh kebelakang, aku melihat pria dengan lingkaran hitam di bawah matanya dan rantai di tangan dan kaki nya. Pria itu tersenyum menyeramkan dan membuatku merasa takut, aku melangkah mundur dan terjatuh ke tanah.

Pria itu tersenyum, "kenapa kau membaca itu? Kau menganggu tidur ku saja."

Pria itu mengarahkan tangannya ke arah ku, cahaya biru muncul dari tangannya cahaya di tangannya langsung mengarah ke arah ku, "aaaah!" Aku berteriak ketakutan cahaya menyilaukan mataku dan menelan kesadaranku pandanganku menjadi gelap.

...

"Ahhh!" Aku tersadar kembali di rumah sakit, dengan nafas terengah-engah dan keringat dingin membasahi tubuhku. Aku melihat sekeliling ruangan, cahaya matahari telah menerangi ruangan. Aku menghela nafas panjang dan menenangkan diri.

"Apa itu tadi? Apakah itu mimpi."

Aku mengalihkan pandanganku ke layar handphonen di atas meja dan melihatnya jam sudah menunjukkan pukul 7:30 pagi. Lalu aku mengamati ponsel itu.

" sungguh aneh dunia ini juga memiliki Handphone seperti ini."

"Dunia ini sangat mirip dengan bumi tetapi lebih berbahaya dan banyak makhluk seperti monster, iblis dan semacamnya lah itu sungguh mengerikan, padahal aku hanya menjalani kehidupan sehari-hari ku yang kosong dan hampa tanpa tujuan. Bahkan saat aku mati aku malah ke dunia lain yang di penuhin dengan hal-hal berbahaya, ahhh kehidupan ku selalu saja sial, yah setidaknya sekarang hidup ku memiliki tantangan."

Aku tertawa mencela diri sendiri. Lalu aku mulai berpikir keras.

"tunggu, jika tadi itu nyata berarti orang itu yang memanggil jiwa ku kedunia ini? Ahhh! Sialan kupikir jiwa ku akan pergi ke surga."

Aku menghela nafas terus berpikir apakah aku bisa bebas dan pergi dari dunia ini, aku menggigit bibirku.

Aku kembali menatap handphone itu dan membuka sandi ponsel itu dengan fragmen ingatan Raven. Lalu aku menelusuri informasi yang ada di dalam handphone. foto-foto Raven dengan keluarga dan teman-temannya. aku lalu melihat pesan yang muncul di ponsel itu dan membacanya.

"Kehancuran dunia sudah dekat dan kiamat akan datang. Apa sebenarnya yang terjadi."

Saat aku ingin melihat pengirim pesan itu tiba-tiba pesan itu menghilang, aku terus mencari pesan itu namun tidak bisa menemukannya.

"Hah kenapa kenapa pesan itu tiba-tiba menghilang? Siapa sebenarnya yang mengirimkan pesan itu."

Aku terus berpikir dan berpikir. Tunggu jangan bilang orang itu ingin mengunakan ku untuk menghancurkan dunia ini? Atau menyelamatkan dunia?Pikiran ku menjadi liar.

Apapun alasannya aku hanya ingin pergi dan terbebas dari dunia ini. Aku harus mencari cara nya tidak mungkin aku harus bunuh diri kan? Agar bisa terbebas dari dunia ini, tidak pokoknya aku harus mencari caranya.

Aku memikirkan rencana ke depannya, tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekati kamarku. Dan seseorang mengetuk pintu.

"siapa?"

Dan suara seorang wanita menjawab, "ini aku kaela." Segera pintu pun terbuka dan seseorang masuk itu tidak lain adalah kaela adiknya Raven.

"Apakah kau sudah lumayan"?.

Aku tersenyum dan berkata "Ya Aku baik-baik saja ayo kita pulang".

Kami pun keluar dari rumah sakit menunggu di stasiun kereta bawah tanah. Segera kereta bawah tanah yang panjang muncul dan berhenti di depan kami, kami pun masuk ke dalam kereta, kereta itu di penuhi dengan orang-orang, kami menemukan tempat duduk di dekat jendela dan segera duduk.

Suasana menjadi canggung

"Ngomong-ngomong apakah kau tidak pergi ke sekolah hari ini"? Aku bertanya untuk memecahkan keheningan.

"Hari ini sekolah libur jadi aku tidak pergi ke sekolah". Jawab kaela. "Dan Damian akan pulang ke rumah malam ini".

"Akhirnya dia pulang juga dia selalu sibuk dan tidak punya waktu untuk pulang dan makan di rumah".

Segera kereta pun berhenti di depan stasiun. Aku dan kaela pun turun dari kereta, dan harus berjalan kaki lima belas menit untuk sampai ke rumah mereka, lima belas menit kemudian kami pun sampai di depan rumah, rumah itu tidak terlalu besar tetapi juga tidak terlalu kecil.rumah itu hanya memiliki tiga kamar tidur yang agak sempit dan satu kamar mandi.

Kami pun memasuki rumah. "Senang bisa kembali ke rumah". kata ku ,karna fragmen ingatan dari Raven rumah ini terlihat familiar bagiku.

"Kalian berdua jarang pulang ke rumah, dan aku harus mengurus rumah ini sendirian. nah karena kau sudah pulang ayo bantu aku membersihkan rumah." Kami pun membersihkan rumah bersama.

Setelah itu kami pun sibuk dengan urusan masing-masing. Kaela pergi ke luar, sedangkan aku hanya berada di rumah. Aku memasuki kamar Raven, kamar itu tidak besar dan agak sempit. Terdapat meja dan kursi di sebelah tempat tidur, meja itu di penuhi dengan buku-buku, Buku-buku itu di penuhi dengan simbol-simbol aneh. Dan cara mempelajari sihir dan mantra-mantra aneh. Raven yang asli ini suka membaca buku, sama dengan aku, aku juga suka membaca. Aku merasa Raven ini agak mirip dengan ku.

"Jika saja dia punya kebiasaan menulis buku harian aku pasti bisa mendapatkan informasi tentang dunia ini, dan cara untuk terbebas dari dunia ini."

Aku membuka buku itu dan membacanya satu persatu. Aku tidak keluar sampai sore, hanya membaca buku seharian, dan Waktu berlalu begitu cepat, dan malam pun akan segera tiba.

Hari pun semakin gelap, dan matahari pun menghilang di gantikan dengan bulan yang bersinar terang. Setelah selesai membaca aku menunju kamar mandi dan mandi. Setelah itu aku hanya duduk di sofa ruang tamu dan menunggu Damian dan Kaela pulang, saat aku merenung banyak pikiran yang muncul dipikiranku.

Setelah beberapa saat terdengar suara langkah kaki dan seseorang membuka pintu, dan masuk "Ah akhirnya bisa pulang ke rumah juga, hey Raven ternyata kau sudah pulang."

Itu tidak lain adalah Damian. Dia bekerja sebagai penyihir yang bertugas untuk menjaga kota agar aman dari mahluk humanoid.dia selalu lembur hingga tidak punya waktu untuk pulang.

"Ah akhirnya kau pulang ke rumah juga setelah sekian lama". Kata ku.

"Haha aku sangat sibuk akhir-akhir ini jadi tidak punya waktu untuk pulang, ngomong-ngomong dimana kaela?"

"Aku di sini", kaela tiba-tiba muncul di belakang Damian. Dia membawa makanan di tangannya.

Mori dan Damian terkejut melihat Kaela yang tiba-tiba muncul. "huh kau memang suka sekali mengejutkan orang". Kata Damian.

"Tumben sekali kau membeli makanan di luar". Aku bertanya.

"Aku sedang malas masak, udah ayo kita makan". Jawab kaela.

Mereka pun makan malam dengan makanan sederhana, dan saling mengobrol.

"Raven apakah kau sudah sembuh"?

"Ya aku hanya sedikit pusing."

"Lebih baik kau mencari pekerjaan yang tidak berbahaya dan aman saja".

"Aku tidak apa-apa dan aku suka pekerjaan ku, ini adalah pekerjaan pahlawan."

Aku tersenyum berpura-pura menjadi seperti Raven.

Mendengar jawaban ku Damian dan Kaela saling memandang dan menggelengkan kepala nya. Damian bersandar dan berkata, "Kau memang keras kepala."

"Tapi pekerjaan mu juga berbahaya."

"Karna ini adalah pekerjaanku lalu kenapa kau mengikuti ku."

"Aku tidak mengikuti mu seperti kata kau ini adalah pekerjaan ku."

Damian hanya diam dan tidak bisa menjawab. Dia menasehatiku tetapi dirinya sama saja.

Lalu aku mengalihkan percakapan.

"Lalu bagaimana denganmu kaela apa rencana mu setelah lulus sekolah ini?"

"Aku ingin menjadi dokter seperti ibu dan menyelamatkan nyawa banyak orang banyak". Jawab kaela.

Setelah selesai makan kami memasuki kamar masing-masing dan bersiap untuk tidur.

Beberapa saat kemudian, ada serangkaian ketukan pintu yang cepat dan kuat.

Aku terkejut dan duduk tegak dan mendengarkan suara itu.

Knock, knock!

Knock!

Ketukan itu semakin keras dan bergema di ruang dan lorong yang kosong.

Ah siapa si, aku merasa kesal aku tidak bisa tidur sama sekali. Aku membuka pintu kamar dan keluar, tetapi Tidak ada siapa-siapa. Aku pergi ke ruang tamu dan mencoba mendengarkan suara ketukan itu.

Setelah beberapa saat, suara ketukan kembali terdengar dan suara yang tajam terdengar.

"ini aku Adam dari kepolisian."

Kepolisian.... Ketika mendengar suara itu kepala ku terasa sakit. fragmen ingatan Raven samar-samar muncul di benakku.

Dia adalah inspektur, dan Kapten tim kepolisian penyihir tempat Raven bekerja. Dia adalah pria yang lembut namun tegas, dan kuat.

Kenapa orang ini malam-malam seperti ini, dan kenapa Damian dan Kaela tidak terbangun, dan tidak bisa mendengarkan ketukan keras itu.

Aku sedang memikirkan tentang penyebab kematian Raven, pemilik asli tubuh ini dan bahaya yang mungkin dia hadapi. Mendengar itu aku kembali ke kamar membuka laci dan mengeluarkan pistol, dan bergegas menuju pintu dan menjawab dengan waspada.

"Oke, aku akan segera membuka pintu."

Aku menyembunyikan pistol di saku celanaku,

Dan aku dengan hati-hati membuka pintu. Di luar pintu berdiri tiga polisi berseragam hitam putih dengan dasi panjang.

Aku tersenyum dan berkata, "ada perlu apa?."

Inspektur polisi itu menjawab dengan suara tajam, "ada hal yang harus kami selidiki, dan kami harus menanyakan sesuatu padamu."

Aku tersenyum dan berkata, "ayo kita bicarakan di dalam."

Polisi itu menggelengkan kepalanya, "tidak, tidak perlu ini tidak akan lama." Kata polisi itu. Dia lalu berkata, "apa yang terjadi saat itu? Mahluk apa yang kalian Lawan?" Tanya polisi itu dengan nada tegas. Aku menjadi guguk dan menelan ludah.

"aku benar-benar tidak ingat apapun, yang ku ingat adalah aku sudah ada di rumah sakit." Aku mengatakan yang sebenarnya. Karna anehnya tidak ada ingatan Raven tentang kejadian itu.

"Tolong jujur kepada kami." Kata polisi itu.

"Aku mengatakan yang sebenarnya."

"Tolong ikut dengan kami sebentar, kami harus memastikan kebenarannya, dan menyelidiki yang sebenarnya terjadi." Jawab polisi itu.

Kedua polisi di samping, segera mendekati mori dan memborgolnya. "Maaf kau harus ikut Dengan kami" kata salah satu polisi itu, dia terlihat seumuran dengan Raven, dia memiliki rambut hitam pendek mata coklat dan berwajah tampan.

Aku mengenal orang ini melalui ingatan-ingatan Raven yang terus muncul di benakku, dia adalah teman masa kecil dan teman dekat Raven, Ren aster.

"Tunggu Sebentar aku akan mengunci pintu dulu"

"Baik tapi jangan mencoba untuk kabur" kata Ren. Dia melepaskan borgol Dari tangan ku.

Aku berbalik dan mengunci pintu, dia ingin melarikan diri tetapi tidak berani melakukan nya.

Setelah itu tangan ku kembali di borgol, dan mereka berjalan menuruni tangga, bulan bersinar terang di langit menyinari kegelapan malam.

Setelah beberapa saat mereka tiba di sebuah mobil berwarna hitam, dan aku masuk kedalam mobil bersama para polisi. Selama perjalanan mori hanya diam dan tenggelam dalam kedalaman pikiran nya, suana canggung pun terjadi.

Mobil itu melaju di jalan yang sunyi dan gelap di bawah bulan bulat, tak lama kemudian mobil itu berhenti di sebuah rumah yang gelap dan hanya di terangi oleh obor api. Rumah itu terlihat menyeramkan dan di penuhi dengan suara Gelap.

"Ayo ikuti aku kalian tetap di mobil" kata inspektur polisi itu. Mori hanya mengaguk dan mengikuti inspektur polisi kedalam rumah yang terlihat menyeramkan itu.

Saat sampai di depan pintu inspektur itu mengetuk pintu tiga kali, dan suara lembut seorang wanita terdengar, "silahkan masuk."

Inspektur polisi itu pun membuka pintu secara perlahan dan menyebabkan bunyi berderit, dan masuk di ikuti oleh ku. Bagian rumah itu gelap dan hanya di terangi lampu gantung di dindingnya di penuhi dengan lukisan-lukisan menyeramkan seperti mahluk humanoid zombie sedang memakan bagian dalam perutnya, dan lukisan mahluk-mahluk menyeramkan lainnya.

Melihat itu aku menelan seteguk air liurnya, beberapa saat kemudian ada seseorang wanita muda mengenakan jubah penyihir, Duduk di sofa wanita itu terlihat Masi muda dan cantik dengan rambut hitam panjang dan mata biru, terlihat seumuran dengan Raven sekitar 20an. Penyihir itu bernama mordane.

Wanita itu tersenyum dan menyuruh mereka duduk "silahkan duduk. Apa yang bisa saya bantu" Wanita itu bertanya kepada inspektur polisi.

"Selamat malam nona mordane, ini adalah Raven Evans bisakah kau mendapatkan sesuatu darinya."

Modane segera mengalihkan pandangan kepada ku.

Apa yang akan terjadi setelah ini? Apakah rahasia dan identitas ku akan terbongkar?. Aku merasa takut dan tidak berdaya.

Mordane tersenyum dan berkata kepada ku, "jangan khawatir aku tidak akan melakukan hal yang kasar kepada mu atau membunuh mu, lagipula kau bukan musuh ku. Ini akan sedikit menyakitkan tetapi tidak membahayakan mu."

Inspektur polisi di sebelah nya tertawa dan berkata kepada ku, "jangan takut kami tidak akan menyakiti mu."

"Mari kita mulai" kata mordane dia mengambil botol di atas meja, botol itu di penuhi dengan air berwarna biru tua, dia menuangkan air itu kedalam gelas, saat air itu masuk kedalam gelas air itu mengeluarkan asap.

"Silahkan minum ini" kata mordane.

"Aku akan melepaskan borgol nya" inspektur polisi disebelah nya melepaskan borgol dari tangan mori.

Aku mengambil gelas dan menatap cairan aneh itu, dan menelan ludah, aku dengan ragu-ragu meminum cairan itu dengan satu tegukan, saat cairan itu masuk ke tenggorokan ku aku merasa pusing, dan pandangan ku menjadi gelap.

Saat aku membuka mata aku berada di kegelapan yang di penuhi dengan kabut tebal, "dimana aku?".

Tiba-tiba suara serak seseorang terdengar, "ini adalah alam bawah sadarnya mu." Seseorang muncul dari kegelapan, orang itu berambut hitam dan memiliki lingkaran hitam di bawah matanya, dan ada rantai di tangan dan kakinya. Orang itu adalah Raven.

"Serahkan kepada ku aku akan mengambil alih tubuh ku agar rahasia ku tidak terbongkar." Kata Raven.

Setelah beberapa saat Raven mengambil alih kesadaran tubuhnya dan membuka matanya.

Mordane terus mengucapkan mantra sihir kepada Raven, tetapi Raven masih mempertahankan kesadarannya Dan Sama sekali tidak terpengaruh.

"Katakanlah apa yang terjadi saat itu dan mahluk apa yang kalian Lawan?". Kata mordane.

Raven memegang kepala nya dan menjawab, a " "a aku tidak ingat apapun yang aku ingat adalah aku sudah terbaring di rumah sakit."

Mordane terus menanyakan sesuatu tetapi Raven sama sekali tidak terpengaruh.

Mordane menghela napas dan berkata "Oke ini akan berakhir disini, kau boleh pergi." Suara nya mengema.

Setelah beberapa saat kemudian penglihatan Raven kembali normal, dan rasa sakit kepala nya menghilang.

Untunglah aku tepat waktu dan sering melatih kesadaran diriku agar tidak terpengaruh oleh sihir. Gumam Raven, dia menghela nafas lega dan bertanya, "eh apakah sudah selesai?."

"Jadi kau tidak menemukan apapun?." Tanya inspektur polisi itu kepada mordane.

Mordane menghela nafas dan menjawab, "biasanya mantra ini sangat akurat tetapi aku tidak bisa menemukan apapun."

"Kalau begitu kami akan pulang," kata inspektur polisi itu.

Setelah beberapa saat mereka meninggalkan rumah itu.

...

"Sekarang kau boleh pulang kerumah tetapi ingatlah jangan mengatakan hal ini kepada orang lain."

Raven menjadi tenang dan bertanya, "kapten, apa yang sebenarnya terjadi waktu itu? Aku benar-benar tidak ingat."

Inspektur polisi itu menghela nafas dan berkata, "jangan khawatir kami akan menyelidiki kasus ini , dan kau boleh kembali bekerja besok jika kau sudah sehat."

Setelah mengatakan itu inspektur polisi itu berbalik, menuju mobilnya.

Inspektur polisi itu, membuka kaca mobilnya dan berkata, "jagalah dirimu sendiri." Setelah mengatakan itu mobilnya pergi dan semakin menjauh.

Raven menghela nafas panjang dan kembali ke rumah, dan memasuki kamarnya tiba-tiba kepala nya terasa sakit dan tubuhnya terasa lemas, "sudah ku duga ini tidak bisa bertahan lama," gumamnya, dia terjatuh ke tempat tidur dan pingsan tak sadarkan diri.

More Chapters