Ficool

Chapter 4 - Kemanusiaan

Selesai makan malam, Rafka langsung masuk ke kamarnya.

Suasana rumah kecil itu sudah mulai tenang, namun dari luar jendela terdengar dengung samar kendaraan malam bercampur kilauan cahaya kota futuristis yang tidak pernah benar-benar tidur.

Langit malam kebiruan membentang di balik kaca jendela, diterangi pantulan hologram iklan raksasa yang bergerak perlahan di antara gedung-gedung tinggi.

Kamarnya sendiri jauh dari kata modern mewah seperti kebanyakan kamar remaja di kota ini.

Ruangan itu sederhana, bahkan terasa agak kuno untuk ukuran dunia mereka.

Dinding kamarnya dicat hijau kusam dengan beberapa bagian yang mulai memudar dimakan usia.

Tidak ada layar hologram canggih memenuhi ruangan seperti kamar anak-anak orang kaya, tidak ada asisten AI pribadi, proyektor virtual, atau furnitur otomatis.

Yang ada justru rak kayu tua yang sedikit miring di sudut ruangan yang di atasnya, penuh tumpukan majalah seolah hampir roboh.

Majalah ARMOR edisi lama memenuhi rak, meja belajar, bahkan lantai dekat tempat tidur. Beberapa sampulnya terlipat dan menguning di sudut karena terlalu sering dibaca.

Selain itu ada pula berbagai ensiklopedia tebal dengan sampul keras yang tampak usang.

Tentang Kesatria, tentang Lamia, tentang sejarah ARMOR, tentang teknologi Anima Drive.

Di meja belajarnya tergeletak buku-buku mengenai kedirgantaraan.

Pesawat tempur, armada perang udara, bahkan ada poster lama pesawat tempur generasi awal yang ditempel miring di dinding dekat lemari.

Kamarnya terasa seperti campuran antara ruang belajar seorang kutu buku dan markas kecil penggemar militer retro.

Kipas angin meja tua masih berdengung pelan di sudut ruangan, bunyi mekanisnya kontras dengan dunia di luar yang sudah hampir sepenuhnya otomatis.

Di dekat tempat tidur, sebuah radio lama berbentuk kotak masih tersimpan rapi di atas meja kecil. Entah masih berfungsi atau tidak, tetapi Rafka tidak pernah membuangnya karena itu peninggalan ayahnya.

Kasurnya pun sederhana, tidak terlalu besar. Seprai birunya sedikit kusut karena kebiasaannya menjatuhkan diri begitu saja setelah lelah seharian.

Namun meski tampak sempit dan kuno, kamar itu terasa hangat dan hidup. Juga sangat mencerminkan dirinya.

Rafka berjalan mendekati jendela lalu menatap keluar.

Pemandangan di luar sangat bertolak belakang dengan isi kamarnya karena kota futuristis membentang seluas matanya memandang.

Gedung-gedung tinggi dipenuhi garis cahaya neon berwarna biru dan putih, jalur kendaraan melayang terlihat seperti aliran cahaya tipis yang bergerak teratur di antara bangunan-bangunan raksasa.

Drone pengantar barang beterbangan rendah dalam jalur yang rapi, robot pembersih berjalan perlahan di trotoar, kendaraan otomatis meluncur nyaris tanpa suara di jalanan.

Semua bergerak begitu efisien dan teratur sehingga suasana malam anehnya terasa sunyi padahal sebenarnya masih begitu hidup.

Tidak ada suara klakson, tidak ada raungan mesin kasar, tidak ada teriakan pedagang kaki lima seperti kota-kota zaman dulu.

Yang terdengar hanyalah dengung halus mesin listrik dan suara angin malam yang menyelinap di sela gedung pencakar langit.

Sementara kamar Rafka sendiri terasa seperti sisa masa lalu yang tertinggal diam di tengah dunia yang terus bergerak maju.

Setelah lama mematung memandangi keluar jendela, Rafka akhirnya menjatuhkan tubuhnya ke kasur. "Capek banget."

Kasur tipis itu langsung berdecit pelan begitu punggungnya menghantam permukaan empuk yang mulai kehilangan bentuknya dimakan usia.

Laki-laki itu sepertinya merasakan tubuhnya terasa jauh lebih berat dibanding biasanya, seolah seluruh tenaga dan pikirannya terkuras habis dalam satu hari yang terasa lebih panjang daripada satu minggu penuh.

Ia membiarkan dirinya tenggelam di atas seprai kusut berwarna biru gelap sambil menatap kosong langit-langit kamar.

Kipas angin tua di sudut ruangan masih berputar pelan sambil mengeluarkan bunyi dengung mekanis yang monoton, bamun bahkan suara itu kalah ramai dibanding isi kepalanya sendiri.

Hari ini terlalu gila, terlalu mendadak, dan terlalu tidak masuk akal.

Ia mengangkat tangan kirinya perlahan seolah lengannya sendiri ikut kelelahan setelah semua kejadian hari ini.

Matanya menatap cincin merah berbentuk kepala Garuda yang masih melingkar di jari tengahnya.

Agni, kekuatan yang dalam satu hari telah mengubah seluruh hidupnya.

Pantulan cahaya lampu kamar membuat permukaan merah metalik cincin itu terlihat hidup. Sesekali ukiran di permukaannya memantulkan kilau tipis seperti bara api yang belum benar-benar padam.

Kilau merah itu menari kecil di pupil matanya sampai-sampai terasa memiliki sesuatu yang benar-benar hidup di dalamnya.

Rafka memandangi benda itu lama sekali, seolah berharap semakin lama ia melihatnya, semakin masuk akal semua yang telah terjadi.

Namun hasilnya justru kebalikannya.

Sebab semakin ia memandang cincin itu, semakin terasa tidak nyata seluruh kejadian hari ini.

Pagi tadi ia masih siswa SMA biasa yang nyaris terlambat sekolah. Masih sibuk berlari sambil panik karena takut dihukum guru piket, masih mengeluh soal pelajaran matematika, masih menjadi anak biasa yang hidupnya hanya berkutat antara sekolah, ARMOR, dan begadang mencari artikel terbaru Kesatria.

Lalu sekarang?

Dirinya menjadi bagian dari ARMOR

Kesatria sungguhan, dan bahkan bukan Kesatria biasa.

Kesatria Mitologi Agni.

Dan semuanya terjadi hanya dalam satu hari.

"Apa ada hidup orang yang berubah secepat ini?” gumamnya lirih.

Pikirannya dipenuhi berbagai potongan kejadian yang terus berputar tanpa henti.

Lamia, makhluk besar mengerikan yang pertama kali ia lihat dari jarak sedekat itu. Raungan monster tersebut tentu masih terasa jelas di telinganya.

Kemudian pertarungan pertamanya.

Api merah dari pedangnya sampai ledakan panas saat serangannya mengenai tubuh Lamia.

Wajah-wajah panik warga di sekitarnya, hingga cahaya kamera ponsel yang merekam dirinya.

Lalu Ayu.

Sosok gadis berzirah putih yang tiba-tiba menyeretnya ke dalam semua ini.

Kapten Rangga, markas Pasukan Ke-4, pelukan besar pria sangar itu.

Semua terasa terlalu cepat sampai otaknya sendiri belum sempat mengejar semuanya.

Rafka memiringkan tubuh sambil terus menatap cincin itu. "Gila banget," gumamnya pelan.

Tangan laki-laki kemudian bergerak kecil mencoba menyentuh ukiran kepala Garuda di permukaan cincin. "Hidupku sepenuhnya berubah karena kau. Apa kau benar-benar memilihku karena kita cocok? Apakah ... jiwa dan tekad kita memang selaras?"

Rafka menghela napas berat. "Aku masih berpikir ...," lanjutnya "ini curang banget. Orang lain berjuang mati-matian bahkan menangisi impiannya karena gagal ...," Ia menutup sebagian wajahnya menggunakan tangan kanan sambil tertawa kecil hambar. "tapi aku?"

Ia lalu teringat ucapan Ayu sebelumnya yang ternyata juga masuk ARMOR tanpa mengikuti jalur seleksi normal.

Mereka berdua sama-sama masuk lewat "jalur khusus". Namun tetap saja rasanya aneh.

Kenapa dirinya juga?

Dari sekian banyak orang di dunia, kenapa Agni memilihnya?

Matanya menatap cincin merah itu sekali lagi sehingga pupil matanya memantulkan cahaya merah tipis dari permukaan logam cincin tersebut. "Takdir?" gumamnya sambil menatap langit-langit kamar. "Takdir, ya? Apa itu mungkin untuk laki-laki membosankan sepertiku?"

Rafka mendengus pelan. "Terserahlah."

Otaknya sudah terlalu lelah untuk memikirkan teori besar malam ini. Tubuhnya terasa berat dan kelopak matanya mulai perlahan turun.

Namun tepat sebelum tidur, pikirannya kembali melayang pada satu sosok, ayahnya.

Ia membayangkan bagaimana reaksi ayahnya jika masih hidup dan melihat dirinya sekarang.

Rafka tersenyum kecil samar. "Ayah ...," gumamnya lirih. "aku berhasil jadi Kesatria, nih. Apa Ayah bangga?"

***

Beberapa hari berlalu sejak kejadian itu dan hidup Rafka berubah drastis. Hal paling mustahil yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya akhirnya terjadi adalah menjadi dekat dengan gadis seperti Ayu.

Sekarang mereka sering terlihat bersama di sekolah. Berjalan berdampingan di lorong, duduk mengobrol ketika waktu istirahat atau pulang bersama sepulang sekolah.

Dan tentu saja itu mengundang kekacauan besar.

Rafka bisa merasakan tatapan orang-orang setiap hari.

Tatapan menusuk, tatapan iri, tatapan penuh kebingungan.

Terutama dari para siswa laki-laki.

"Hei, itu si Rafka lagi sama Ayu!"

"Serius, aku masih nggak percaya."

"Dia sebenarnya siapa, sih?"

"Bukannya dia hanya anak antisosial?"

"Katanya dia bahkan nggak pernah nongkrong bersama teman kelasnya."

"Terus kenapa sekarang malah dekat sama Ayu?"

Bisikan-bisikan itu terus terdengar di mana-mana. Di lorong, di kantin, di perpustakaan, di toilet, bahkan saat dirinya baru tiba di depan gerbang masuk.

Rafka bisa mendengarnya hampir setiap hari.

Dan jujur saja, laki-laki merasa itu menyakitkan. Ia merasa seperti mendadak menjadi musuh bersama kaum laki-laki di sekolah.

Tatapan mereka terasa seperti ribuan jarum kecil yang menusuk punggungnya setiap kali ia berjalan bersama Ayu.

Padahal dirinya sendiri masih bingung bagaimana semua ini bisa terjadi. Apalagi Ayu dikenal sebagai "bintang sekolah" karena cantik, pintar, atletis, berkepribadian kalem, dan terasa misterius.

Popularitasnya sangat jauh di atas Rafka yang selama ini lebih mirip figuran yang biasanya hanya sekadar kebetulan lewat.

***

Saat ini mereka sedang berjalan santai di lorong sekolah setelah jam pelajaran selesai ditemani cahaya matahari siang yang masuk melalui jendela panjang di sisi koridor, memantulkan warna keemasan lembut di lantai putih mengilap.

Beberapa murid langsung menoleh begitu melihat mereka lewat. Ada yang berbisik, ada yang terang-terangan melotot ke arah Rafka, bahkan beberapa siswi tampak saling menyenggol sambil menahan senyum penasaran.

"Ayu," panggil Rafka pelan.

Gadis itu menoleh. Rambut cokelatnya bergoyang kecil mengikuti gerakan kepala. "Hmm?"

"Kau itu ternyata terkenal ya di sekolah?" Rafka tertawa garing sambil menggaruk tengkuknya dengan ekspresi canggung.

Ia lantas melirik beberapa siswa laki-laki yang langsung pura-pura membuang muka begitu tatapan mereka bertemu. "Apa kau tidak … risih digosipi karena akhir-akhir ini sering bersamaku?"

Ayu tidak langsung menjawab melainkan menatapnya dalam diam.

"Bukan bermaksud buruk! Maksudku ...," kata Rafka cepat sambil mengibaskan tangan panik. "kau itu sangat populer di sekolah ini. Biasanya orang-orang populer suka menjaga image, kan?"

Ayu memandang mata Rafka beberapa detik. Tatapannya tenang, tetapi terasa sangat fokus. Lalu akhirnya dengan santai berkata, "Kenapa aku harus risih? Aku suka bersamamu."

Rafka langsung membeku sepersekian detik bersamaan dengan jantungnya yang sempat berhenti bekerja.

Sementara Ayu melanjutkan dengan nada biasa saja, "Bahkan sebenarnya aku sama sekali tidak peduli pada mereka semua."

Gadis itu kemudian itu berkacak pinggang. Wajah datarnya berubah sedikit sombong dengan cengiran tipis di sudut bibirnya. "Populer di sekolah?" katanya santai lalu sedikit mengangkat dagu. "Asal kamu tahu, aku lebih dari itu."

Rafka berkedip bingung. "Hah?"

Ayu menunjuk dirinya sendiri menggunakan ibu jari. "Waktu itu memang pertama kalinya aku benar-benar bertarung di kota, jadi identitasku selama ini belum diketahui."

Kepalanya menoleh ke sekeliling dengan cepat. "Tapi kalau kamu mencari tahu tentang Kesatria Putih ...," katanya pelan. "itu aku."

Rafka langsung berhenti berjalan. Matanya membelalak. "Oh, itu kau, Ayu?" katanya, suaranya refleks meninggi karena terlalu kaget.

Beberapa murid di sekitar spontan menoleh.

Ayu langsung menarik lengan seragam Rafka pelan. "Pelan sedikit."

"Kalau Kesatria Putih aku tahu!" kata Rafka yang terlanjur antusias. "Katanya dia Kesatria yang sudah banyak menyelesaikan misi rahasia, kan?"

Matanya berbinar seperti anak kecil melihat tokoh idolanya muncul langsung di depan mata. "Hebat banget!" gumamnya terbata namun tulus.

Ayu tampak sedikit memalingkan wajahnya yang samar-samar memerah.

Dengan penuh semangat Rafka mengepalkan tangannya. "Sudah seperti Kesatria Naga saja!"

Ayu langsung diam. Tanpa sadar bahunya menegang sedikit.

Sementara Rafka yang masih terlalu antusias sama sekali tidak menyadarinya. "Apa mungkin Kesatria Naga itu juga kau, Ayu?" lanjutnya.

Ayu tersentak kecil dan halus namun cukup jelas jika diperhatikan. "Kesatria Naga?" ulangnya, suaranya terdengar sedikit goyah. "Aku?" Ia tertawa kecil. "Itu ... kejauhan."

Gadis itu langsung berbalik sambil tetap berkacak pikejauha "Hahaha." Tawanya terdengar kering dan dipaksakan.

Lucunya, wajah datarnya kini terlihat sedikit panik. "Iya," lanjutnya cepat. "Kejauhan."

***

Hari itu, mereka berdua sedang berada di taman kecil di area sekolah saat waktu istirahat.

Taman itu berada agak jauh dari keramaian kantin utama sehingga suasananya jauh lebih tenang dibanding bagian sekolah lainnya.

Sebuah jalur batu putih membelah taman kecil tersebut, dikelilingi rerumputan rapi dan beberapa pohon rindang yang sengaja ditanam untuk mengurangi panas dari Matahari Kembar.

Meski begitu, udara siang tetap terasa sedikit panas. Cahaya dua matahari jatuh menembus sela dedaunan, membentuk bercak-bercak terang di atas tanah dan bangku taman.

Di kejauhan terdengar samar suara murid-murid yang sedang beristirahat dalam gelak tawa, suara langkah kaki, dan dentingan alat makan dari kantin, serta sesekali dengung halus drone pengantar makanan terdengar melintas rendah di antara gedung sekolah.

Rafka dengan seragamnya yang sedikit berantakan karena kebiasaan buruknya duduk santai di bangku kayu panjang sambil memandangi langit, tangannya bertumpu di sandaran bangku.

Ekspresinya mungkin tampak santai, tetapi sebenarnya pikirannya tidak benar-benar tenang.

"Ternyata benar ...," gumamnya pelan dalam sambil menatap langit biru terang. "hidupku benar-benar belok terlalu tajam." Tatapannya perlahan turun ke tangan kirinya, ke cincin merah Agni yang melingkar tenang di jarinya.

Benda kecil itu adalah impian terbesar sekaligus sumber kegelisahan terbesarnya saat ini. Karena semakin ia memikirkannya, semakin muncul pertanyaan yang terus menghantui kepalanya.

"Apa aku benar-benar pantas menggunakan ini?" bisiknya tanpa sadar.

Di sampingnya, Ayu duduk diam, namun sejak tadi ia beberapa kali mencuri pandang ke arah Rafka saat laki-laki itu sedang tidak melihatnya.

Angin siang menggerakkan rambut cokelatnya perlahan. Beberapa helainya menari kecil menutupi sebagian wajahnya sebelum akhirnya tersapu kembali oleh angin.

Ayu memerhatikan profil wajah Rafka beberapa detik.

Cara laki-laki itu memandangi langit, cara dirinya terlihat santai meski sebenarnya sering gugup, dan cara ia selalu terlihat sedikit kebingungan menghadapi hidupnya sendiri.

Ayu memalingkan wajah pelan sebelum ketahuan sedang menatap namun beberapa detik kemudian ia kembali meliriknya lagi.

"Hei, Rafka," panggil Ayu akhirnya, lembut, hampir seperti berbisik. "Aku dapat informasi."

Rafka langsung menoleh. Ekspresinya seketika berubah fokus dan sedikit serius. "Informasi?"

Ayu sedikit menurunkan volume suaranya lagi sambil melirik keadaan sekitar, "Ada beberapa Lamia muncul di dekat sini."

Tubuh Rafka refleks menegang, jantungnya juga langsung berdetak sedikit lebih cepat.

Ini pertama kalinya mereka membahas misi atau Lamia di sekolah.

Dan meskipun ia masih pemula, mendengar keberadaan Lamia tetap membuat tubuhnya otomatis siaga. Bahkan seketika terasa sensasi panas samar di cincin Agni seolah ikut bereaksi kecil.

Rafka tanpa sadar menunduk melihat tangan kirinya.

Cincin merah itu masih melingkar tenang di jarinya. Kendati demikian, entah kenapa setiap kali mendengar Lamia disebutkan, tubuhnya langsung seperti ikut bersiap bertarung.

Ia berdeham kecil, berusaha terlihat tenang. "Apa kita perlu menghadapi mereka?" tanyanya pelan.

Ayu menatapnya sedikit lama sebelum menggeleng pelan. "Tidak." Lalu kembali menatap ke kejauhan. Matanya mengikuti drone kecil yang melintas di langit sekolah. "Papa bilang sudah ada Kesatria lain di sana."

Perasaan Rafka langsung campur aduk antara lega serta sedikit kecewa yang entah sadar atau tidak muncul begitu saja.

Laki-laki itu menyandarkan tubuh ke bangku sambil mengembuskan napas panjang. "Oh ... begitu."

Di satu sisi ia ingin bertarung lagi, ingin membuktikan apakah dirinya benar-benar layak menggunakan Agni, membuktikan kemenangan pertamanya waktu itu bukan sekadar keberuntungan.

Apalagi sejak menggunakan zirah merah itu, ada bagian kecil dalam dirinya yang mulai ketagihan pada sensasi bertarung.

Sensasi panas api Agni, sensasi terbang, serta sensasi kekuatan luar biasa yang mengalir di seluruh tubuhnya.

Namun di sisi lain juga sadar dirinya masih sangat baru. Dan sesuai perintah Kapten Rangga, mereka tidak boleh sembarangan bertindak tanpa instruksi resmi.

Ayu meliriknya diam-diam. "Kamu kecewa?" tanyanya tiba-tiba.

Rafka sedikit tersentak. "Hah?"

"Kamu kelihatan ingin bertarung," kata Ayu.

Rafka tertawa kecil malu. "Ketahuan, ya?"

Ayu mengangguk kecil. "Kamu gampang dibaca."

"Begitukah?" Rafka tertawa garing sambil menggaruk pipi. "Tapi ya ...," Ia menghela napas kecil. "aku merasa ... sedikit penasaran."

Ayu memiringkan kepalanya, mendelik bingung. "Penasaran?"

"Rasanya aneh," ungkap Rafka sambil menatap telapak tangannya sendiri. "Sejak menjadi Agni, aku jadi merasa seperti harus melakukan sesuatu setiap kali mendengar ada Lamia."

Ayu diam mendengarkan.

"Padahal dulu waktu cuma bisa lihat berita atau tayangan di TV, aku cuma sebatas berpikir, ‘wah keren’. Tapi sekarang ... rasanya berbeda," lanjut Rafka sembari mengepalkan tangannya perlahan. "Rasanya ... jadi lebih nyata."

Angin kembali berembus pelan melewati taman meniup beberapa dedaunan kering.

Ayu memandangi wajah Rafka beberapa saat. Lalu tanpa sadar sudut bibirnya terangkat tipis. "Aku senang."

"Apa?" Rafka refleks menoleh. "Kenapa?"

"Kamu serius memikirkan semua ini," jawab Ayu.

Rafka tertawa kecil. "Tentu aku harus serius. Menjadi Kesatria itu impianku. Aku memang masih bingung dengan yang terjadi akhir-akhir ini, tapi aku tidak boleh menolak atau lari darinya."

Ayu menatapnya datar beberapa detik. Lalu terdengar suara tawa kecil sangat pelan darinya.

Rafka sontak menyergah, "Kau barusan tertawa?"

Ayu langsung kembali memasang wajah datar. "Tidak."

"Jelas-jelas iya!" labrak Rafka.

"Perasaanmu saja," dalih Ayu.

Rafka menggeleng keras. "Tidak! Aku jelas mendengarmu tertawa! Apa yang lucu? Aku?"

Ayu lalu diam-diam memalingkan wajah sedikit agar Rafka tidak melihat sudut bibirnya yang masih terangkat tipis.

Beberapa detik kemudian Ayu kembali berbicara, "Ada kemungkinan kita akan mulai mendapat tugas resmi sebentar lagi. Mungkin tingkat Walpurgis lagi."

Rafka langsung kembali serius. "Eh? Secepat itu? Aku juga? Kenapa?"

“Karena kamu juga pengguna Zirah Mitologi sepertiku," jelas Ayu singkat.

"Ada perasaan tidak sabar, sih." Rafka menggigit pelan bibir bawahnya. "Tapi aku masih merasa seperti anak magang.” gumamnya lemas.

Ayu menoleh kepadanya. Tatapannya lembut dan ekspresi yang sulit ditebak artinya. "Tapi Agni memilihmu."

Rafka seketika terdiam.

Untuk beberapa detik, ia hanya memandang Ayu tanpa tahu harus menjawab apa.

"Soal itu ... aku ... masih nggak ngerti kenapa,” katanya akhirnya sambil tertawa kecil hambar. "Aku bahkan nggak melakukan sesuatu yang hebat."

Rafka menunduk pelan menatap telapak tangannya sendiri. "Aku senang mendapat kekuatan yang hebat, tapi seharusnya masih banyak orang yang lebih pantas dibanding aku."

Ayu memerhatikan wajah Rafka selama beberapa detik kemudian tatapannya perlahan turun ke cincin Agni di jari Rafka lalu kembali naik menatap wajah laki-laki itu.

"Mungkin karena ...," ucap Ayu pelan. “Agni tahu kamu orang yang baik.”

Rafka langsung salah tingkah. Wajahnya spontan memanas. "Apa sih tiba-tiba?" gerutunya malu sambil menggaruk pipi.

Ayu tetap menatapnya tanpa mengalihkan pandangan. "Kamu memang baik," tegasnya.

"Hei, jangan ngomong serius begitu dong ...," katanya sambil buru-buru memalingkan wajah. "aku jadi malu." Ujung telinganya mulai memerah.

Ia mencoba tertawa kecil untuk menutupi rasa gugupnya, tetapi gagal total. Namun beberapa detik kemudian, senyum canggung di wajahnya perlahan memudar.

Tatapan laki-laki itu menurun, kini terasa kosong. "Tapi ...," katanya, suaranya mengecil pelan. "katamu aku baik?"

Angin kembali berembus melewati taman.

Rafka menggenggam kedua tangannya perlahan. "Entahlah." Ia tertawa kecil yang terdengar pahit. "Terkadang ...," lanjutnya pelan, "aku merasa ada sisi dalam diriku yang menurutku ... bukan di jalur yang bisa dibilang baik."

Ayu terdiam.

Rafka masih menatap ke bawah. "Waktu melawan Lamia kemarin ...," katanya lirih, "aku memang takut namun aku juga tahu betul Lamia itu musuh umat manusia."

"Tapi di saat yang sama ...," Laki-laki lalu mengerutkan kening kecil seolah bingung pada dirinya sendiri. "aku juga merasa bersemangat. Sensasi membunuh makhluk hidup itu ... terasa sangat gila."

Ia menatap tangannya lagi, seolah masih bisa merasakan panas api Agni di sana. "Karena itulah, jujur saja ...," sambungnya, suaranya makin pelan, "itu membuat aku takut dengan diriku sendiri. Sampai membuatku mempertanyakan apa itu kemanusiaan."

Beberapa detik suasana menjadi hening.

Hanya suara angin dan samar keramaian sekolah yang terdengar dari kejauhan.

Lalu Ayu perlahan memalingkan pandangannya ke depan lagi. "Seperti itulah manusia, Rafka."

Gadis itu kemudian menunduk sedikit sambil melanjutkan pelan, "Manusia bukan makhluk yang sepenuhnya baik. Kadang kita takut, kadang kita egois, kadang kita malah menikmati sesuatu yang seharusnya membuat kita takut."

Ia berhenti sejenak. Lalu melirik Rafka dari sudut matanya. "Tapi menurutku ... orang yang masih takut pada sisi buruk dirinya sendiri justru belum benar-benar menjadi orang jahat."

Ayu tersenyum samar sambil tetap menatap lurus ke depan. "Menurutku, itulah arti dari kemanusiaan."

More Chapters