Ficool

Chapter 3 - Aku Direkrut? Jalur Khusus itu Apa?

Ayu menjelaskan bahwa zirah merah tadi bernama Agni, model Garuda.

Rafka langsung menatap cincin di jarinya penuh takjub. Model Garuda? batinnya.

Tentu dia bingung, bahkan orang yang selalu update seperti dirinya saja belum pernah mendengarnya sebelumnya.

Apa ini model baru? pikir Rafka. Kenapa aku bisa menggunakannya?

"Hei." Sebuah tangan tiba-tiba menepuk pundaknya.

Rafka refleks menoleh.

Dua orang pria berjas hitam berdiri di belakangnya dengan tatapan tajam nan serius yang membuat aura keduanya itu langsung terasa berbeda dibanding warga biasa.

"Kamu yang mengaktifkan dan mengendalikan zirah merah tadi, bukan?" tanya seorang pria.

Rafka menelan ludah. "Sepertinya benar ... itu aku." Ia tertawa kecil canggung. "Eh ... Anda siapa ya?" tanyanya sambil menahan gemetar.

Seluruh otot tubuhnya kini terasa menegang seolah baru saja dilempar ke tengah badai tanpa persiapan.

Telapak tangannya dingin, sementara jantungnya berdetak sangat keras sampai rasanya memekakkan telinga sendiri.

Di hadapannya, pria-pria berjas hitam tadi masih berdiri dengan ekspresi serius yang sulit ditebak.

Dari sudut matanya, Rafka bisa melihat Ayu juga sedang berbicara dengan pria lain yang mengenakan setelan serupa.

Keduanya terlihat seperti agen rahasia, atau penculik profesional, bahkan bisa jadi keduanya sekaligus.

"Tidak masalah, bukan?" kata Ayu, suaranya terdengar tenang seperti biasa.

Ayu melirik sekilas ke arah Rafka sembari melipat kedua tangannya. "Lagi pula zirah Agni sudah menemukan Kesatria yang cocok dengannya," imbuhnya, masih dengan nada bicara datar, tidak gugup, tidak takut, tidak panik.

Sementara Rafka di sisi lain hampir kehilangan separuh nyawanya hanya karena berdiri di tempat itu.

Pembicaraan mereka terdengar mirip dengan yang sedang ia alami sekarang. Tentang zirah Agni dan cincin Garuda, lalu tentang dirinya.

"Aduh ...," desah Rafka sembari melirik cincin merah di jarinya. "apa sebaiknya aku lepas saja?" Tangannya lantas buru-buru mencoba mencabut cincin itu dari jari tengah tangan kirinya.

Namun, tidak bergerak.

"Hah?" Ia menarik lebih kuat, namun percuma. Rafka mulai panik. "Eh? Loh? Gawat!" gumamnya.

Dia mencoba lagi berkali-kali sampai jarinya memerah sendiri namun cincin itu sama sekali tidak bergeser sedikit pun.

Dan seketika ia teringat sesuatu, bahwa sekali dipakai oleh orang yang cocok, maka cincin Anima Drive tidak akan bisa dilepaskan sembarangan.

Wajahnya langsung pucat. "Wah, habislah aku."

Sementara itu, dua pria berjas hitam tadi saling menatap beberapa detik lalu mengangguk bersamaan, gerakan kecil itu justru terasa jauh lebih menyeramkan bagi Rafka dibanding teriakan.

"Ikut kami." Salah satu pria langsung menggenggam lengannya.

Rafka refleks menegang. Kabur? Mana mungkin!

Kondisinya sekarang benar-benar mirip buronan yang baru tertangkap aparat keamanan. Bedanya, ia bahkan tidak tahu kesalahan apa yang sebenarnya baru saja ia lakukan.

Dengan langkah lemas dan pasrah, Rafka akhirnya mengikuti mereka bersamaan di dalam kepalanya mulai muncul berbagai bayangan mengerikan.

Interogasi, penjara, percobaan rahasia. Bahkan penghapusan ingatan.

"Tenang saja," bisik Ayu di sampingnya. "Kamu akan baik-baik saja."

Laki-laki itu refleks menghela napas lega.

Namun Ayu melanjutkan dengan nada datar, "Mungkin."

"MUNGKIN?!" Rafka hampir berteriak keras, kalau saja situasinya tidak semenegangkan ini.

Bagaimana mungkin ia bisa tenang? Baru beberapa menit lalu ia masih siswa SMA biasa yang baru pulang setelah ujian akhir.

Lalu tiba-tiba diberi cincin Kesatria oleh gadis misterius, mengalahkan Lamia tingkat Walpurgis, menggunakan zirah kelas atas yang tidak diketahui.

Dan sekarang dibawa pria-pria berjas hitam yang tampak seperti anggota organisasi rahasia.

Mana ada orang waras yang bisa tenang, Ayu!

***

Sekarang Rafka duduk di dalam mobil hitam berukuran besar. Interiornya yang sunyi terasa begitu mencekiknya.

Ayu duduk di sampingnya dengan tenang seperti sedang menikmati perjalanan wisata biasa.

Sementara Rafka masih sibuk berkeringat dingin sambil terus mencoba melepas cincin merah di jarinya.

Tetapi tetap tidak bisa. Cincin itu sama sekali tidak bergerak.

"Kenapa ini lengket banget, sih?!" gumamnya panik. "Copot, dong! Ayolah, mustahil aku terpilih oleh kekuatan sehebat ini!"

Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil nyaris tanpa suara.

Para pria berjas hitam duduk diam dengan ekspresi serius. Tidak ada penjelasan atau sekadar obrolan ringan.

Yang terdengar hanya suara mesin kendaraan dan detak jantung Rafka sendiri.

Lima belas menit terasa seperti lima belas tahun sampai akhirnya mobil berhenti.

***

"Kita sampai," ucap Ayu sembari membuka pintu mobil lebih dulu.

Rafka turun perlahan. Lalu matanya langsung membulat lebar, napasnya pun spontan tercekat. "Ini ...?"

Di hadapannya berdiri bangunan dengan lambang ARMOR terpampang besar di bagian depan.

Markas Pasukan Ke-4 ARMOR.

Tempat yang selama ini hanya ia lihat di berita, dokumenter, dan artikel internet.

Ternyata dia bukan dibawa ke kantor polisi atau tempat interogasi, melainkan ke salah satu markas para Kesatria.

Tempat impiannya sejak kecil.

"Ayo, Rafka. Ikuti aku." Ayu melangkah lebih dulu menuju pintu masuk utama. "Kita akan masuk ke dalam."

Gadis itu kali ini entah kenapa terasa berbeda, caranya berbicara sekarang terdengar seperti pemandu wisata yang sedang mengajak pengunjung berkeliling.

Rafka menoleh ke belakang.

Para pria berjas hitam tadi entah kapan sudah menghilang.

Ia celingukan mencari mereka yang benar-benar sudah tidak ada. "Serem banget ...!" gumamnya pelan.

Ini tempat yang sejak dulu selalu ingin ia datangi. Namun bukan sebagai tersangka penggunaan cincin Kesatria ilegal, dirinya ingin datang sebagai Kesatria resmi.

Sebagai anggota ARMOR sungguhan.

"Rafka! Ayo cepat!" panggil Ayu dari depan. Gadis itu sudah berjalan cukup jauh meninggalkannya.

Begitu Rafka menginjakkan kaki lebih dalam ke markas, pikirannya langsung dipenuhi bayangan masa lalu.

Ayahnya.

Ia teringat kecelakaan tiga tahun lalu.

Tubuh ayahnya yang tertimpa reruntuhan material, suasana rumah sakit, dan tangisan ibunya.

Semua kenangan itu muncul begitu saja tanpa aba-aba.

Langkah Rafka perlahan melambat. Dan tanpa sadar, air mata mulai jatuh dari matanya.

Kepalanya lantas cepat-cepat menunduk. "Aduh." Tangannya buru-buru menyeka pipi. "Tidak boleh begini." Ia menggigit bibir pelan.

Bisa-bisanya aku menangis di tempat yang selama ini paling ingin kudatangi, pikirnya.

"Ayu! Tunggu!" serunya cepat sambil mempercepat langkah. "Nanti aku nyasar!"

Ayu menoleh sebentar sebelum kembali berjalan.

Mereka berdua menyusuri lorong panjang markas.

Lampu putih terang memenuhi langit-langit dan suara langkah kaki bergema pelan.

Beberapa anggota yang lewat menghentikan aktivitas mereka hanya untuk melirik ke arah Rafka.

Atau lebih tepatnya melihat cincin merah di jarinya.

Rafka langsung salah tingkah. "Kenapa semuanya lihat-lihat begitu, sih? Aku benar-benar akan dieksekusi ya di sini?"

"Kita akan masuk ke sini," kata Ayu sambil berhenti di depan sebuah pintu besar. Gadis itu menoleh sedikit. "Ingat, tetap tenang."

Gadis itu kemudian menunjuk dirinya sendiri kecil. "Seperti aku."

Rafka hampir ingin protes. Pasalnya tentu saja mudah bagi Ayu berkata begitu karena ekspresinya memang nyaris selalu datar.

Sedangkan dirinya? Ia sudah gemetaran seperti daun diterpa badai sejak tadi.

Ayu mendorong pintu itu perlahan.

Begitu pintu terbuka, ruangan luas langsung terlihat.

Beberapa orang berseragam petinggi ARMOR berdiri di dalam.

Aura mereka terasa berat, tegas, dan sungguh mengintimidasi.

Begitu menyadari kedatangan Ayu dan Rafka, semuanya langsung menoleh bersamaan.

"Ayu!" Seorang pria bertubuh tegap berseru keras. "Apa maksudmu membawa cincin Garuda tanpa izin?!" sergahnya, suara beratnya memenuhi ruangan.

Pria itu memiliki tubuh tinggi besar dengan sorot mata tajam penuh wibawa. Dan dirinya adalah kapten dari Pasukan Ke-4 ARMOR, Rangga.

Rafka langsung membeku di tempat, matanya melebar.

Ia tahu betul siapa pria itu, semua orang pun tentunya juga tahu.

Melihat sosok sebesar Kapten Rangga dari jarak sedekat ini saja sudah terasa seperti mimpi.

"Apa salahnya?" balas Ayu tanpa takut sedikit pun. "Lagi pula zirah Agni sudah menemukan Kesatria yang cocok dengannya."

Rafka melongo seketika sebab gadis ini benar-benar berani membantah seorang kapten ARMOR langsung di depan wajahnya.

"Kalau itu aku, pasti sudah muntah," bisiknya.

Namun hal paling mengejutkan justru terjadi setelahnya.

Kapten Rangga menghela napas panjang lalu mengusap kepala Ayu pelan. "Ya ampun, kamu ini ...!" gerutunya. "Ekspresimu itu mirip sekali dengan dia, dan sifat keras kepala serta beranimu itu jelas dari aku."

Pria bertubuh besar itu akhirnya menggeleng pasrah. "Dasar. Buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya!"

Rafka berkedip perlahan dua kali. Eh? Tunggu. Jangan-jangan ...? batinnya.

Ia langsung menatap Ayu dan Kapten bergantian. "Mereka keluarga?!"

"Jadi kamu ya bocah yang berhasil mengaktifkan zirah Agni?" Kapten Rangga mendekati Rafka. "Namamu siapa?"

Tubuh Rafka langsung menegang sempurna. "Rafka," jawabnya terbata. "Rafka Absyari."

Dan seketika ekspresi Kapten berubah. "Rafka ... Absyari?" Mata beliau membesar. "Kamu anak Herdi?"

Rafka ikut terkejut lantas mengangguk ragu. "Iya."

Kemudian tiba-tiba, tubuh besar Kapten Rangga langsung memeluknya erat.

Saking eratnya Rafka hampir kehilangan napas.

"Maaf ...," ucap Kapten dengan suara bergetar. "maaf ... aku benar-benar minta maaf."

Rafka membeku seketika.

"Aku tidak bisa menyelamatkan ayahmu tiga tahun lalu ..." lanjutnya pelan. "aku kapten yang buruk." Pria itu menunduk. "Herdi adalah teknisi terbaik dan sahabat kami yang luar biasa. Aku benar-benar menyesal terlambat datang."

Rafka terdiam beberapa saat lagi lalu perlahan menggeleng. "Tidak ...," jawabnya pelan terbata. "kematian Ayah bukan salah Anda."

Dan saat itu juga, ia baru teringat sesuatu.

Tiga tahun lalu ada seorang pria asing yang juga memeluknya seperti ini saat pemakaman ayahnya.

Dan sekarang ia sadar, pria itu adalah Kapten Rangga.

Beberapa detik kemudian Kapten melepaskan pelukannya. Namun ekspresi kagum masih jelas terlihat di wajah beliau. "Tapi aku benar-benar tidak menyangka," katanya sambil menepuk-nepuk pundak Rafka kuat-kuat. "Putra Herdi ternyata bisa mengaktifkan Zirah Mitologi."

"Belum lagi itu Agni!" Kapten tertawa kecil tak percaya. "Aku sempat berpikir kamu bakal meneruskan bakat ayahmu jadi mekanik!"

Rafka menatap cincin merah di jarinya.

Zirah Mitologi. Tentu saja dia tahu apa itu Zirah Mitologi. Itu adalah zirah spesial dengan kekuatan jauh di atas Anima Drive biasa. Jumlahnya pun sangat sedikit.

Seharusnya hanya ada sembilan di seluruh dunia dan tiap markas ARMOR di negara ini pasti memiliki setidaknya satu pengguna Zirah Mitologi.

Artinya, Agni adalah zirah kesepuluh. Dan sekarang zirah itu memilih dirinya.

"Jadi ...," Kapten Rangga kembali bersuara. "kamu mau bergabung dengan ARMOR, bukan?"

Rafka terdiam sesaat, lalu mengangguk mantap. "Mau!"

Kapten tersenyum puas.

Namun salah satu petinggi di belakangnya tampak tak langsung setuju. "Kapten, bagaimana dengan zirah Agni itu?" tanyanya serius. "Kita tidak bisa memberikannya begitu saja pada anak itu."

Rafka langsung menunduk sedikit, paham maksud pria tersebut.

Lagi pula semua ini terasa terlalu mendadak.

Namun Kapten Rangga hanya mendengus kecil. "Percuma mengambil paksa cincin itu," katanya santai. "Setiap zirah Anima Drive hanya bisa digunakan satu orang."

Ia kini melirik Rafka lalu ke cincin merah di jarinya. "Dan Agni sepertinya sudah menemukan rekan sejiwanya."

Pria tadi akhirnya terdiam, tak bisa membantah.

Kapten Rangga menepuk pundak Rafka lagi. "Kalau begitu, selamat datang di Pasukan Ke-4, Rafka!" Kemudian tersenyum lebar. "Anggap saja kamu masuk lewat jalur khusus."

"Maaf ...," Rafka mengangkat tangan pelan. "saya belum lulus SMA ... dan saya juga merasa tidak enak masuk tanpa ikut seleksi."

Ia menunduk canggung. Rasanya tidak adil."

Kapten tertawa kecil. "Seleksi jadi tidak penting kalau kamu langsung cocok dengan cincin Garuda itu." Pria itu menunjuk cincin merah di jari Rafka.

Kepalanya menoleh sesaat ke arah Ayu. "Kalau tidak salah kamu seumuran dengan Ayu. Sebentar lagi kamu juga akan lulus, kan?”

Rafka terdiam.

"Dan satu lagi," lanjut Kapten sambil menyilangkan tangan. "Jangan terlalu kaku di pasukanku. Sopan memang penting. Tapi kamu kelihatannya terlalu serius sekaligus gampang gugup."

Pria itu lalu tertawa kecil. "Rileks saja. Anggap kami teman atau keluargamu," tambahnya. Lalu tatapannya menjadi serius sembari menyilangkan kedua tangannya. "Apa kamu masih mau menolaknya?"

Rafka langsung panik, menggeleng cepat. "Tidak! Bukan begitu!" Ia buru-buru berdiri tegap. "Baiklah ... aku menerimanya." Lalu dengan gugup ia memberi hormat. "Terima kasih banyak!"

Tepuk tangan langsung memenuhi ruangan.

Ayu ikut bertepuk tangan kecil sambil diam-diam tersenyum.

Beberapa bahkan bersiul keras menggoda yang membuat Rafka langsung memerah total.

"Sekarang pulanglah dulu," kata Kapten Rangga sambil tersenyum. "Biarkan kami mengurus sisanya." Lantas menoleh kembali ke Ayu. "Selanjutnya Ayu yang akan memberi tahu semuanya."

Rafka mengangguk cepat. Lalu sekali lagi memberi hormat sebelum berjalan keluar ruangan.

Pikirannya seketika kacau, semua terasa terlalu cepat dan terlalu bagus untuk menjadi kenyataan.

Pagi tadi dirinya masih siswa SMA biasa yang baru selesai ujian namun sekarang akan segera menjadi Kesatria di Markas Pasukan Ke-4 ARMOR dengan cara paling tidak masuk akal yang pernah ia bayangkan.

More Chapters