Beberapa detik berlalu setelah ucapan Storm.
Tidak ada yang berbicara.
Xyros masih menatapnya.
Kemudian...
"Hehehe..."
Senyum muncul di wajah Xyros.
"Hahaha..."
Tawanya semakin keras.
"HAHAHAHAHA!"
Suara Xyros menggema ke seluruh aula.
Beberapa prajurit Kekaisaran terlihat bingung.
Tyrannos mengangkat alis.
Maxtis justru tersenyum kecil.
Xyros akhirnya menurunkan tombak air kosmiknya.
"Menarik."
Ia tertawa sekali lagi.
"Benar-benar menarik."
Xyros menatap Storm dari ujung kepala hingga kaki.
"Jadi selama ini dugaanku tidak salah."
Storm tetap diam.
Xyros berkata,
"Kekuatanmu terlalu besar untuk disebut sebagai kekuatan manusia biasa."
Ia menunjuk Storm dengan tombaknya.
"Bahkan aku tidak yakin batas kekuatanmu masih berada pada tingkatan manusia."
Maxtis langsung tertarik.
"Seberapa kuat menurutmu?"
Xyros melirik Maxtis.
"Cukup kuat untuk membuat seseorang seperti Xelkor memperhatikannya."
Kemudian Xyros kembali menatap Storm.
"Dan aku ingin melihat sendiri seberapa jauh kekuatanmu dapat berkembang."
Storm tidak menjawab.
Xyros lalu menyarungkan tombaknya.
Kemudian...
Ia mengulurkan tangan kepada Storm.
"Apa kau tertarik ikut denganku."
Napstylea sedikit terkejut.
"Apa maksudmu?"
"Andromeda."
Aula kembali hening.
Xyros tersenyum.
"Datanglah bersamaku ke galaksi Andromeda."
Ia berjalan beberapa langkah.
"Di sana kau akan melihat sesuatu yang tidak pernah kau temukan di Bima Sakti."
Xyros mengangkat tangannya.
"Galaksi Andromeda."
"Galaksi raksasa yang menjadi galaksi terbesar di Local Group."
Tatapannya penuh keyakinan.
"Dan aku menjamin satu hal."
"Ras-ras yang hidup di sana..."
Xyros berhenti.
"...jauh lebih kuat daripada kebanyakan ras yang kau kenal di Bima Sakti."
Mata beberapa orang langsung melebar.
Tyrannos tersenyum.
"Lebih kuat?"
"Jauh lebih kuat."
Maxtis tertawa kecil.
"Kalau begitu terdengar menarik."
Aryes justru terdiam.
Ia memahami arti tawaran tersebut.
Andromeda bukan sekadar tempat lain untuk dikunjungi.
Itu adalah galaksi yang sangat luas.
Dunia yang berbeda.
Peradaban yang berbeda.
Ras-ras yang belum pernah mereka temui.
Dan sekarang...
Storm mendapat kesempatan untuk melihatnya secara langsung.
Napstylea memandang Storm.
Ia tahu bahwa tawaran tersebut sangat besar.
Bahkan bagi seorang penjelajah luar angkasa sekalipun...
Pergi ke Andromeda adalah kesempatan luar biasa.
Namun Storm hanya menatap Xyros.
Beberapa detik.
Lalu...
"Maaf."
Xyros sedikit mengernyit.
"Apa?"
"Aku menolak."
Semua orang membeku.
Tyrannos menoleh cepat.
Maxtis berhenti tersenyum.
Aryes memandang Storm.
Napstylea juga terdiam.
Xyros sendiri terlihat tidak percaya.
"Kau menolak?"
Storm mengangguk.
"Aku tidak mengatakan Andromeda tidak menarik."
Ia menatap ke arah jendela besar aula.
Di luar sana, Planet Urco Tastarius terlihat begitu luas.
"Justru aku ingin melihatnya."
Storm menarik napas perlahan.
"Tapi bukan sekarang."
Xyros menatapnya beberapa saat.
"Apa kau takut melawan ras dari Ansdromeda?"
Storm terdiam.
Kemudian jawabannya keluar dengan suara rendah.
"Aku membutuhkan waktu."
Storm menundukkan wajah.
"Untuk berpikir."
Keheningan kembali memenuhi aula.
Storm mengepalkan tangannya.
"Aku baru kehilangan seseorang."
Napstylea menatapnya.
Ia tahu siapa yang dimaksud.
Arabels.
Storm melanjutkan.
"Dan sejak saat itu..."
Tatapannya menjadi kosong.
"Aku terus memikirkan satu hal."
"Apakah aku bisa mencegahnya?"
Tidak ada jawaban.
Storm memandang telapak tangannya.
"Kalau aku lebih kuat..."
"Kalau aku bisa mengalahkan lawanku lebih cepat..."
"Mungkin semuanya akan berbeda."
Napstylea menunduk.
Ia tidak menyela.
Storm tidak menyalahkan siapa pun.
Ia bahkan tidak menyalahkan dirinya sendiri secara langsung.
Namun ada sesuatu yang terus mengganggunya.
Perasaan bahwa kekuatannya selalu datang terlambat.
Storm kemudian berkata,
"Aku tidak ingin kehilangan orang lain yang kukenal."
Xyros mendengarkan tanpa berkata-kata.
"Karena itu..."
Storm menatap lurus ke depan.
"Aku merasa harus menjadi lebih kuat."
"Melawan musuh yang lebih kuat."
"Mengalahkan mereka sebelum mereka mengambil seseorang lagi dariku."
Aura Storm telah sepenuhnya menghilang.
Tidak ada Ice Emperor.
Tidak ada Ashura.
Hanya seorang pemuda yang berdiri dalam keheningan aula.
Namun kalimat berikutnya membuat Xyros memahami keputusannya.
"Aku tidak pergi ke Andromeda untuk mencari kekuatan."
Storm menatap Xyros.
"Aku ingin memahami diriku sendiri terlebih dahulu."
Xyros terdiam.
Kemudian senyum kecil muncul di wajahnya.
"Begitu rupanya."
Ia mengambil kembali tombaknya.
"Kalau begitu aku tidak akan memaksamu."
Xyros berbalik.
"Tapi ingat, Storm Realms."
Ia berhenti di tengah langkah.
"Galaksi Andromeda akan tetap menunggumu."
Storm tidak menjawab.
Xyros melanjutkan,
"Dan jika suatu hari kau datang..."
Ia menoleh sedikit.
"...aku akan menunjukkan kepadamu dunia yang bahkan belum pernah kau bayangkan."
Setelah mengatakan itu, Xyros berjalan menjauh.
Tyrannos memandang Storm.
"Kau benar-benar menolak kesempatan sebesar itu."
Storm hanya menjawab singkat.
"Aku hanya terlalu kuat."
Maxtis tertawa pelan.
"Kalau aku mendapat tawaran seperti itu, aku mungkin langsung pergi."
Storm tidak merespons.
Napstylea kemudian berdiri di sampingnya.
Ia tidak mengatakan apa pun.
Hanya tetap berada di sana.
Storm menatap keluar jendela.
Di balik atmosfer Urco Tastarius...
Langit luas membentang.
Jauh di luar sana terdapat Bima Sakti.
Dan jauh lebih jauh lagi...
Andromeda.
Sebuah galaksi raksasa yang suatu hari mungkin akan menjadi tujuan Storm.
Namun untuk saat ini...
Storm belum ingin pergi.
Ia masih memiliki sesuatu yang harus diselesaikan.
Bukan dengan musuh.
Bukan dengan kekuatan.
Melainkan dengan dirinya sendiri.
