Keheningan di aula belum juga pecah.
Tyrannos masih berdiri di hadapan Oreons.
Aryes berada beberapa langkah di belakangnya.
Maxtis bersandar santai sambil memperhatikan keadaan.
Sementara Storm...
Tetap diam.
Namun sejak tadi, ada seseorang yang tidak pernah melepaskan pandangannya dari Storm.
Xyros Sealactive.
Utusan dari Andromeda itu berdiri di sisi aula.
Tatapannya tajam.
Ia mengamati setiap gerakan Storm.
Tidak ada keraguan di wajahnya.
Seolah-olah ia sedang memastikan sesuatu.
Kemudian...
Xyros bergerak maju.
Tak.
Satu langkah.
Tak.
Langkah kedua.
Beberapa prajurit Kekaisaran langsung waspada.
Xyros berhenti beberapa meter dari Storm.
Tangannya bergerak menuju punggungnya.
SRAK!
Sebuah tombak muncul.
Tombak itu memiliki bilah transparan yang berputar seperti pusaran air, tetapi di dalamnya terdapat cahaya bintang.
Air kosmik.
Energi khas milik Xyros.
Ujung tombaknya diarahkan kepada Storm.
Suasana aula berubah seketika.
Tyrannos langsung memegang gagang pedangnya.
Maxtis mengangkat alis.
Aryes menatap Xyros dengan serius.
"Di larang membuat pertarungan di aula istana."
Namun Xyros tidak mengalihkan pandangan.
"Jangan bergerak."
Di sisi lain aula...
Leo perlahan berdiri.
Aura besar mulai keluar dari tubuhnya.
Beberapa prajurit Kekaisaran bahkan mundur selangkah.
Namun sebelum Leo melakukan apa pun—
"Leo."
Sebuah suara tenang terdengar.
Libra memasuki aula.
Jubahnya bergerak perlahan ketika ia berjalan.
Kain hitam masih menutupi kedua matanya.
Golden Scale berada di tangannya.
Libra berjalan mendekati Leo.
Kemudian mengangkat satu tangan.
"Berhenti."
Leo menoleh.
"Dia mengarahkan senjata."
"Aku tahu."
Libra tetap tenang.
"Namun belum ada serangan."
Leo terdiam.
Perlahan auranya mereda.
Libra kemudian menatap ke arah Xyros.
"Biarkan dia berbicara."
Namun seseorang sudah lebih dulu bergerak.
Napstylea.
Ia melangkah maju dan berdiri tepat di depan Storm.
Armor peraknya memantulkan cahaya aula.
Ia tidak menghunuskan senjata.
Namun posisinya jelas.
Ia melindungi Storm.
Napstylea menatap Xyros dengan serius.
"Turunkan tombakmu."
Xyros tidak menjawab.
"Dia bukan ancaman."
Xyros akhirnya berbicara.
"Itulah yang belum bisa kupastikan."
Napstylea mengepalkan tangannya.
"Storm baru saja melewati pertempuran besar."
Tatapannya menjadi lebih tajam.
"Dia tidak membutuhkan pertarungan baru."
Storm yang berdiri di belakangnya hanya memandang Napstylea.
Tidak mengatakan apa pun.
Beberapa detik berlalu.
Kemudian Xyros menarik napas.
"Aku tidak datang untuk mencari masalah."
"Kalau begitu turunkan senjatamu."
"Aku tidak bisa."
Napstylea terdiam.
Xyros kemudian menatap Storm.
"Karena aku datang membawa informasi dari Andromeda."
Suasana aula kembali hening.
"Namanya..."
Xyros berhenti sejenak.
Kemudian mengucapkannya.
"Xelkor Infinites."
Beberapa orang langsung menunjukkan reaksi.
Namun sebagian besar masih tidak mengetahui siapa sosok tersebut.
Xyros melanjutkan.
"Dia dikenal sebagai..."
"Sang Pembawa Petaka."
Oreons menyipitkan mata.
"Xelkor?"
Xyros mengangguk.
"Dia bukan penguasa sebuah planet."
"Bukan pula pemimpin sebuah kerajaan."
"Dan bukan ancaman yang hanya berasal dari satu galaksi."
Xyros menggenggam tombaknya lebih erat.
"Xelkor dapat berpindah dari satu alam semesta ke alam semesta lainnya."
Aula langsung sunyi.
Maxtis yang sebelumnya tampak bosan kini memperhatikan dengan serius.
Xyros melanjutkan.
"Dia sedang mencari seseorang."
Tatapannya kembali tertuju kepada Storm.
"Storm Realms."
Napstylea langsung menoleh.
Storm tetap diam.
Xyros kemudian berkata,
"Jika dugaanku benar..."
"Xelkor sedang mencari dirimu."
Storm akhirnya mengangkat wajah.
Tatapannya tetap tenang.
"Aku?"
"Ya."
Xyros mengarahkan ujung tombaknya sedikit lebih tinggi.
"Dan sebelum dia tiba di alam semesta ini..."
"Aku berniat menghentikanmu lebih dahulu."
Beberapa prajurit langsung memperkuat formasi.
Tyrannos menarik pedangnya sedikit dari sarung.
Srek.
Oreons mengangkat tangan.
"Tidak ada yang bergerak."
Tyrannos berhenti.
Oreons memandang Xyros.
"Dia adalah utusan Andromeda."
Kaisar itu menghela napas.
"Aku tidak memiliki alasan untuk mencampuri keputusan seorang utusan yang membawa peringatan."
Yllarxa tampak tidak setuju.
"Yang Mulia..."
Oreons menggeleng.
"Biarkan."
Xyros kemudian menatap Storm.
"Jika kau memang orang yang dicari Xelkor, maka keberadaanmu akan membawa bencana."
Storm akhirnya berbicara.
Suaranya datar.
"Aku tidak tahu siapa Xelkor."
Xyros sedikit terkejut.
Storm melanjutkan.
"Aku bahkan tidak tahu mengapa dia mencariku."
Ia melangkah maju.
Napstylea segera menoleh.
"Storm..."
Storm melewatinya.
Napstylea tidak menghalangi.
Storm berdiri beberapa meter di hadapan Xyros.
Kemudian...
Energi mulai muncul di sekeliling tubuhnya.
Udara di aula mendadak turun suhunya.
KRRRKK...
Lantai di sekitar kaki Storm mulai tertutup lapisan es.
Aura biru pucat menyelimuti tubuhnya.
Namun bukan hanya itu.
Di balik aura es tersebut...
Energi merah menyala muncul.
Dua kekuatan berbeda.
Dua bentuk kekuatan yang pernah digunakan Storm dalam pertempuran melawan para naga.
Ice Emperor.
Dan...
Ashura.
Keduanya muncul secara bersamaan.
Aura Storm semakin besar.
Es menyebar di lantai.
Energi merah berputar di udara.
Jubah beberapa orang berkibar karena tekanan energi.
Para prajurit Kekaisaran langsung terpaku.
Maxtis tersenyum.
"Heh..."
"Jadi begitu."
Tyrannos menatap Storm tanpa berkedip.
Leo juga diam.
Libra mengangkat wajahnya sedikit.
Seolah dapat merasakan perubahan energi tersebut meskipun matanya tertutup.
Storm menatap Xyros.
Tatapannya menunjukkan keyakinan.
"Aku tidak tahu siapa Xelkor."
Aura es dan api kosmik semakin kuat.
"Tapi jika dia memang mencariku..."
Storm mengepalkan tangannya.
"Biarkan dia datang."
Kemudian ia mengucapkan kalimat yang membuat seluruh aula terdiam.
"Namaku Storm Realms."
Aura Ice Emperor dan Ashura meledak ke seluruh ruangan.
BOOOM!
Namun tidak ada satu pun benda yang hancur.
Energi itu hanya memenuhi aula seperti badai yang tertahan.
Storm berdiri di tengah cahaya biru dan merah.
Lalu berkata,
"Dan akulah orang yang akan mengalahkan Xelkor."
Hening.
Tidak ada seorang pun yang langsung menjawab.
Xyros terdiam.
Ia memandang Storm seolah baru saja menemukan jawaban atas sesuatu yang selama ini dicarinya.
Xelkor bukan entitas biasa.
Ia adalah sosok yang dapat melintasi batas alam semesta.
Seseorang yang menjadikan multiverse sebagai tempat perjalanannya.
Ancaman yang tidak dapat dihadapi hanya dengan sebuah armada.
Namun sekarang...
Xyros melihat sesuatu yang berbeda.
Storm bukan manusia biasa.
Kekuatan yang keluar dari tubuhnya saja sudah cukup untuk membuat seluruh aula merasakan tekanannya.
Dan jika ramalan tentang Xelkor memang benar...
Mungkin pertemuan antara keduanya bukanlah sesuatu yang bisa dihindari.
Melainkan sesuatu yang memang akan terjadi.
Xyros perlahan menurunkan tombaknya.
Napstylea memperhatikan Storm dari belakang.
Tyrannos menyeringai kecil.
Maxtis justru terlihat semakin tertarik.
Sementara Oreons tetap duduk di singgasananya.
Dan di dalam keheningan aula Istana Urco Tastarius...
Satu nama mulai terukir dalam pikiran semua orang.
Storm Realms.
Orang yang mungkin akan menjadi lawan terakhir Sang Pembawa Petaka.
