Ficool

Chapter 799 - Kenangan yang Tertinggal

Di balkon Istana Urco Tastarius... Oreons berdiri memandang hamparan galaksi yang membentang luas. Tatapannya kosong. Meski angin malam berembus pelan, pikirannya masih dipenuhi oleh satu nama. Tyrannons.

Di sampingnya... Yllarxa bersandar pelan pada bahu Oreons. Keduanya terdiam. Tidak ada percakapan. Hanya keheningan yang menemani mereka.

Namun, perlahan... Ingatan lama kembali memenuhi benak Yllarxa.

---

Beberapa tahun yang lalu...

Di halaman latihan istana. Suara benturan pedang terus bergema.

*Clang! *

Yllarxa terengah-engah sambil menggenggam pedang latihannya. Di hadapannya berdiri Rangers. Seperti biasa... Wajah sang jenderal tetap datar. "Ayo bangkit. Yllarxa Nightllets," ucap Rangers singkat.

Yllarxa kembali menyerang. Namun setiap ayunan pedangnya selalu ditepis dengan mudah. Perbedaan kemampuan mereka terlalu jauh. Beberapa saat kemudian... Yllarxa menghentikan langkahnya. Napasnya memburu. "Aku masih belum bisa mengenai Kak Rangers..." gumamnya pelan.

Saat itulah... Terdengar suara langkah kaki. "Kalau begitu... Biar aku yang menggantikannya." Yllarxa menoleh. Senyum kecil langsung muncul di wajahnya. "Tyrannons."

Pemuda itu berjalan santai sambil membawa pedangnya. Ia berhenti di depan Rangers. "Aku ingin bertarung."

Rangers menatap muridnya itu beberapa saat. Kemudian menganggukkan kepala. "Silakan."

Tanpa aba-aba lagi... Keduanya langsung bergerak.

*Claaang! *

Benturan pertama menghasilkan gelombang angin yang jauh lebih besar dibanding latihan Yllarxa sebelumnya. Tyrannons menyerang tanpa ragu. Rangers membalas dengan tenang. Pedang mereka terus beradu. Tebasan demi tebasan memenuhi arena latihan. Yllarxa hanya bisa terpaku. Pertarungan mereka jauh lebih cepat. Jauh lebih sengit. Rangers sama sekali tidak mengurangi kekuatannya hanya karena lawannya adalah murid sendiri. Sebaliknya... Ia terus menekan Tyrannons. Tetapi Tyrannons juga tidak menyerah. Ia mampu menangkis. Menghindar. Lalu kembali menyerang. Pertarungan berlangsung cukup lama. Sampai akhirnya... Pedang Tyrannons terpental. Rangers menghentikan pedangnya tepat di depan leher pemuda itu. "...Kalah," ucap Rangers singkat.

Tyrannons tertawa. "Seperti biasa ya. Aku tetap belum bisa mengalahkan Guru."

Rangers menyarungkan pedangnya. "Teruslah berlatih. Itu saja."

Setelah latihan selesai... Tyrannons berjalan menghampiri Yllarxa. Ia tersenyum seperti biasanya. "Yllarxa."

Gadis itu menatapnya. "Ada apa?"

Tyrannons terdiam beberapa saat. Entah mengapa... Sorot matanya saat itu terasa berbeda. "Kalau suatu hari nanti... Aku sudah tidak berada di istana lagi..." Yllarxa memiringkan kepalanya. "...Tetaplah menjadi dirimu sendiri. Jangan berubah hanya karena keadaan."

Yllarxa mengangguk sambil tersenyum. "Aku janji."

Saat itu... Ia sama sekali tidak memahami maksud perkataan Tyrannons.

---

Ingatan itu perlahan memudar. Yllarxa kembali menatap hamparan galaksi. Matanya sedikit berkaca-kaca. Itulah terakhir kalinya ia berbicara dengan Tyrannons sebagai bagian dari istana. Tak lama setelah hari itu... Tyrannons meninggalkan Urco Tastarius. Ia menentang Kekaisaran. Dan sejak saat itu... Seluruh galaksi mengenalnya sebagai pemimpin pemberontak.

Banyak orang membencinya. Banyak pula yang ingin menangkapnya. Yllarxa mengetahui satu hal. Tidak semua penghuni istana membenci Tyrannons. Masih ada pelayan. Prajurit. Bahkan beberapa pejabat yang diam-diam merasa sedih atas kepergiannya. Hanya saja... Tak seorang pun mampu melakukan apa pun. Karena para penguasa galaksi telah menetapkan satu keputusan. Tyrannons bukan lagi pewaris takhta. Ia adalah musuh Kekaisaran. Dan sebagai pemimpin pemberontak... Suatu hari nanti, ia harus dikalahkan.

Yllarxa menundukkan kepalanya. Dalam hatinya, ia masih berharap. Semoga suatu hari nanti... Mereka dapat bertemu kembali tanpa harus saling menghunus pedang.

More Chapters