Ficool

Chapter 798 - Jenderal yang Kembali ke Istana

Suasana aula utama Kekaisaran kembali berubah ketika dua sosok memasuki ruangan. Yang pertama berjalan dengan santai sambil memutar-mutar pedang di tangannya. Ia bahkan menguap seolah tidak memiliki beban sedikit pun. Rhythm Armedeus. Jenderal utama yang baru saja menaklukkan Konstelasi Ursa Major tanpa perlu mengangkat pedangnya dalam pertempuran besar.

Rhythm menjatuhkan dirinya ke sebuah kursi kosong. "Ah... Akhirnya bisa istirahat," katanya sambil memainkan pedangnya dengan santai.

Tak lama kemudian... Suara gesekan logam bergema di lantai aula. *Grrrkk... * Seorang pria bertubuh kekar berjalan sambil menyeret pedang raksasa di belakangnya. Bekas luka di tubuhnya menjadi bukti banyaknya peperangan yang telah ia lalui. Ia adalah... Thraxor. Jenderal utama yang sebelumnya menumbangkan Asgard, pelindung Konstelasi Aquila.

Thraxor menghentikan langkahnya. "Hmph. Misinya terlalu mudah." Ia menyandarkan pedang raksasanya ke bahu. "Aku berharap misi berikutnya lebih menantang. Bahkan kalau harus melawan leluhur suatu konstelasi sekalipun."

Ucapan itu membuat beberapa petinggi galaksi menelan ludah. Tak seorang pun berani menyela. Di saat sebagian besar jenderal masih menjalankan tugas di berbagai wilayah... Rhythm dan Thraxor justru sudah kembali ke istana seolah lebih menikmati suasana di sana.

Oreons memandang kedua jenderal itu. Kemudian ia mengembuskan napas pelan. Keputusan Rangers memang benar. Kalau salah satu dari mereka dikirim ke Draco... Kemungkinan besar peperangan di sana justru akan semakin besar.

Oreons akhirnya mengangguk. "Aku setuju." Ia menoleh kepada Rangers. "Rapat ini kuserahkan kepadamu. Aku ingin ke balkon sebentar. Aku perlu menenangkan pikiranku."

Rangers hanya menganggukkan kepala. Tanpa berkata apa-apa lagi... Oreons berjalan meninggalkan aula. Yllarxa segera menyusul dan menggenggam lengan sang kaisar. Ia tersenyum lega. Setidaknya... Thraxor maupun Rhythm tidak dikirim menuju Konstelasi Draco. Yllarxa yakin, jika salah satu dari mereka datang ke sana... Perang yang sudah besar akan menjadi jauh lebih mengerikan.

---

Setelah Oreons menghilang dari aula... Rangers memandang ke arah pintu yang telah tertutup. Ia mendecih pelan. Dalam hati ia tahu alasan sebenarnya. Oreons bukan hanya ingin menenangkan pikirannya. Sang kaisar juga sedang menghindari dua jenderalnya yang hampir pasti akan meminta misi baru. Dan dugaan itu langsung terbukti.

Rhythm mengangkat tangannya dengan santai. "Hei Rangers. Ada tugas tambahan?"

Thraxor ikut melangkah maju. "Kalau ada musuh yang lebih kuat... Serahkan padaku. Aku mulai bosan."

Rangers memejamkan matanya beberapa saat. Kesabarannya mulai menipis. Perlahan... Aura emas yang sangat besar keluar dari tubuhnya.

*Wuuusshhh...! *

Tekanan itu memenuhi seluruh aula. Udara seolah menjadi jauh lebih berat. Rhythm yang masih duduk langsung menghentikan gerakan tangannya. Sementara Thraxor memandang Rangers dengan serius.

Rangers membuka matanya. Tatapannya tetap dingin. "Aku tidak punya tugas untuk kalian." Suaranya tenang. Namun dipenuhi wibawa. "Kalau kalian benar-benar menganggur... Pergilah ke Akademi Kekaisaran. Jadilah guru. Latih para prajurit muda. Daripada duduk santai tanpa melakukan apa pun."

Rhythm menggaruk kepalanya sambil tersenyum kecut. "Jadi guru, ya..."

Thraxor hanya menghela napas panjang. Meski sedikit kecewa, keduanya memilih diam. Tidak ada satu pun dari mereka yang ingin berdebat dengan Rangers. Karena mereka tahu... Saat Jenderal Terkuat itu berbicara dengan nada seperti itu, keputusannya sudah tidak dapat diganggu gugat.

More Chapters