Ficool

Chapter 788 - Dua Tekanan yang Bertabrakan

Di tengah Konstelasi Draco... Suasana semakin mencekam. Tyrannons berdiri terpaku di atas kapal utamanya. Tatapannya bergantian mengarah kepada Storm dan Maxtis. Ia menghela napas pelan. "...Ini tidak seharusnya terjadi."

Awalnya... Ia mengira dirinya yang akan berhadapan langsung dengan Maxtis. Namun keadaan berubah begitu cepat. Kini justru Storm dan sang jenderal utama Kekaisaran yang saling berhadapan. Rea dan Astralon juga hanya bisa menyaksikan. Mereka dapat merasakan tekanan yang terus meningkat di antara kedua petarung itu.

Di sisi lain... Storm masih menggenggam Pedang Ashura yang mengarah lurus kepada Maxtis. Tatapannya tidak menunjukkan sedikit pun keraguan. "Aku tidak peduli bagaimana Kekaisaran memandang Bumi," ucap Storm. "Tapi jangan pernah meremehkan manusia. Bukan ras yang menentukan kekuatan seseorang. Melainkan tekadnya."

Maxtis menyipitkan mata. Aura di sekeliling tubuhnya mulai berubah menjadi lebih berat. "Dan kau..." katanya dengan suara dalam. "Tidak perlu mengungkit para dewa." Raut wajahnya berubah dingin. "Itu bukan urusanmu." Kekalahan yang pernah ia alami di tangan para dewa galaksi masih menjadi luka yang belum sepenuhnya hilang. Bagi Maxtis... Ucapan Storm telah menyentuh harga dirinya sebagai seorang petarung.

Tanpa sepatah kata lagi... Keduanya mulai melepaskan aura masing-masing.

*Wuuummm...! *

Aura merah milik Storm menyelimuti ruang angkasa di sekitarnya. Sementara itu, aura gelap yang pekat memancar dari tubuh Maxtis, memenuhi wilayah di belakang armada Kekaisaran. Dua tekanan luar biasa saling bertabrakan. Gelombang energi menyebar ke segala arah. Bongkahan asteroid yang tersisa di Konstelasi Draco bergetar hebat. Kapal-kapal dari kedua armada ikut berguncang meski sistem penstabil telah diaktifkan. Seluruh Konstelasi Draco kembali bergetar oleh benturan dua kekuatan besar.

Tak satu pun dari mereka yang melancarkan serangan. Mereka hanya saling menatap. Menunggu siapa yang akan mengambil langkah pertama.

Tyrannons mengepalkan tangannya. "Kalau terus seperti ini... Pertempuran besar tidak akan bisa dihindari."

Di samping Storm... Napstylea segera melangkah maju. "Storm," panggilnya. Tidak ada jawaban. Ia mencoba sekali lagi. "Tenangkan dirimu. Kita tidak datang untuk memulai perang." Namun Storm tetap memandang Maxtis. Aura merah di sekeliling tubuhnya terus berdenyut. Napstylea dapat merasakan bahwa emosi Storm semakin sulit diredam. Hal itu membuatnya semakin khawatir. Bukan karena ia meragukan kekuatan Storm. Melainkan karena ia tahu... Sekali pertarungan antara Storm dan Maxtis benar-benar dimulai... Konstelasi Draco yang telah rusak akibat pertempuran sebelumnya mungkin tidak akan mampu menahan dampaknya.

Di kejauhan... Seluruh armada Kekaisaran dan Pemberontak tetap bersiaga.

More Chapters