Ficool

Chapter 769 - Armada Pemberontak Tartanos

Di dalam kokpit Ginga Stars, Proxi menghentikan analisisnya. Lampu di kedua matanya berkedip cepat. "Gelombang energi telah terkonfirmasi."

Arabels segera menoleh. "Apa yang terjadi?"

Sebelum Proxi sempat menjawab, seluruh jendela pengamatan di kokpit memancarkan cahaya yang sangat terang. Storm yang masih duduk lemah di kursi pilot perlahan mengangkat kepalanya.

Di luar sana... Ruang hampa yang sebelumnya sunyi kini dipenuhi kilatan cahaya. Satu. Lalu puluhan. Kemudian ratusan. Ruang di sekitar Konstelasi Draco beriak akibat pembukaan gerbang lompatan antarbintang. Dari balik cahaya itu, armada-armada perang mulai bermunculan. Kapal-kapal tempur berukuran raksasa memenuhi angkasa. Mereka membentuk formasi yang begitu rapi hingga menyerupai dinding baja yang membentang di antara bintang-bintang.

Proxi segera memperbesar tampilan layar. "Identifikasi armada... Berhasil. Armada Pemberontak Tartanos."

---

Di kapal perang utama...

Seorang pemuda berdiri di haluan dengan jubah hitam yang berkibar perlahan. Pedang panjang berada dalam genggamannya. Tatapannya tenang, tetapi penuh wibawa. Tyrannons. Pemimpin Pemberontak Tartanos. Putra Kaisar Galaksi, Oreons. Matanya mengamati kehancuran yang memenuhi Konstelasi Draco. Sisa-sisa bintang yang hancur masih berpendar di sekelilingnya.

Tak lama kemudian... Dua gerbang lompatan kembali terbuka. Armada kedua muncul. Lambang Konstelasi Orion terukir pada setiap kapal perang mereka. Di dek utama berdiri seorang pemuda berambut hitam dengan zirah kerajaan berwarna biru tua. Astralon. Pangeran dari Kerajaan Betelgeuse. Tatapannya langsung mengarah kepada Tyrannons. "Sepertinya kita datang tepat waktu," ujarnya melalui saluran komunikasi. Tyrannons hanya menganggukkan kepala.

Gerbang ketiga pun terbuka. Armada berikutnya memasuki Konstelasi Draco. Lambang Cepheus menghiasi seluruh kapal mereka. Di bagian depan kapal utama berdiri seorang gadis berambut panjang yang mengenakan pakaian kerajaan berwarna putih. Ia tidak banyak berbicara. Sorot matanya tenang. Tapi tidak sekali pun ia mengalihkan pandangannya dari arah Tyrannons. Gadis itu adalah... Rea. Putri Kerajaan VV Cephei. Ia tetap diam, memperhatikan pemimpin pemberontakan itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Seluruh armada akhirnya berkumpul. Ratusan kapal perang memenuhi ruang angkasa yang telah porak-poranda.

---

Storm memperhatikan semuanya dari dalam Ginga Stars. "Armada sebanyak itu..." gumamnya pelan.

Di sisi lain, Tyrannons mengaktifkan saluran komunikasi yang terhubung kepada kedua armada sekutunya. Astralon langsung bertanya. "Jadi... Apakah kita akan memulai operasi berikutnya?"

Tyrannons menggeleng pelan. "Jangan gegabah." Jawaban itu membuat Astralon dan Rea memperhatikannya. "Aku membawa kalian ke Konstelasi Draco bukan untuk memulai pemberontakan." Tyrannons mengarahkan pandangannya ke kejauhan, ke arah wilayah tempat ras naga bermukim. "Kita akan bertarung. Kita akan mengasah kekuatan kita. Menghadapi para naga yang mendiami konstelasi ini."

Astralon menyilangkan kedua tangannya. "Apa semacam persiapan sebelum perang besar?"

"Benar," jawab Tyrannons singkat. "Setelah itu... Kita akan melanjutkan rencana pemberontakan. Tapi kali ini... Dengan kekuatan yang jauh lebih besar."

Keheningan menyelimuti saluran komunikasi. Rea tetap tidak berkata apa-apa. Namun ia memahami maksud Tyrannons. Pemimpin mereka tidak ingin terburu-buru. Ia mengetahui dengan sangat jelas seberapa mengerikannya kekuatan Kekaisaran Galaksi.

Tyrannons kemudian melanjutkan. "Jangan pernah meremehkan mereka. Bahkan satu jenderal utama kekaisaran... belum tentu mampu kita kalahkan jika bertarung sekarang."

Astralon menghela napas pelan. Ia memang pernah mendengar reputasi para jenderal utama. Masing-masing adalah monster yang mampu mengubah jalannya peperangan seorang diri. Menghadapi salah satu dari mereka saja sudah merupakan tantangan besar. Karena itulah Tyrannons memilih menahan diri. Ia tidak ingin mempertaruhkan seluruh pasukannya dalam pertempuran yang belum siap mereka hadapi.

---

Di dalam Ginga Stars, Proxi terus mengamati armada-armada yang baru tiba. "Analisis selesai. Tidak terdeteksi pola serangan menuju Ginga Stars. Mereka tampaknya memiliki tujuan lain."

Storm memandang ke arah armada pemberontak yang memenuhi langit Konstelasi Draco.

More Chapters