Ficool

Chapter 767 - Kemenangan

Di antara puing-puing bintang yang hancur, Storm terus melaju. Wujud Xyrares Vonalys diselimuti api kosmik yang membentang seperti ekor komet. Kecepatannya begitu tinggi hingga jejak cahayanya melintasi ruang angkasa dalam sekejap.

Di hadapannya... Zyron terus terbang menjauh. Keenam sayap naganya dikepakkan sekuat tenaga. Ia tidak lagi memikirkan kemenangan. Ia hanya ingin keluar dari jangkauan kekuatan mengerikan yang kini mengejarnya. Tetapi... Storm tidak berniat membiarkannya lolos.

Dalam sekejap, ia melesat dengan kecepatan cahaya. Jarak yang membentang di antara mereka terus menyusut. Storm mengangkat kedua pedang api kosmiknya. Meskipun Zyron masih berada sangat jauh, Storm tetap mengayunkan kedua pedang itu dengan kekuatan penuh.

*SYRAAAK! *

Dua lintasan tebasan raksasa melesat menembus ruang angkasa. Api kosmik membentuk dua sabit cahaya yang terus mengejar Zyron, seolah memiliki kehendaknya sendiri. Zyron segera menoleh. Tatapannya dipenuhi keterkejutan. "Mustahil..."

Ia langsung membuka rahangnya. Aura naga ungu berkumpul dengan cepat hingga membentuk semburan energi yang luar biasa besar. "RAAAAGH!!" Semburan itu meluncur lurus menuju dua tebasan Storm.

Sesaat kemudian... *DUAAAAARRR!! *

Namun hasilnya jauh di luar dugaan. Dua tebasan api kosmik tidak berhenti. Tidak pula melemah. Keduanya justru membelah semburan aura naga itu menjadi dua bagian. Gelombang energi ungu terpecah dan menghilang ke dalam kehampaan. Mata Zyron membelalak. "Tidak mungkin...!"

Sebelum sempat menghindar... Kedua tebasan itu telah tiba.

*SYAAAT! *

Dalam satu lintasan yang bersih, kedua pedang energi Storm menebas leher naga raksasa tersebut. Untuk sesaat... Ruang angkasa menjadi sunyi. Kemudian tubuh Zyron kehilangan keseimbangannya. Kepalanya terpisah dari tubuhnya. Tubuh naga raksasa itu perlahan melayang tanpa kendali, lalu jatuh menuju kehampaan ruang angkasa. Aura ungu yang selama ini memenuhi Konstelasi Draco ikut memudar.

Pertarungan telah berakhir.

---

Storm mengangkat tangannya. Dua pedang api kosmik yang tadi melesat di kejauhan kembali ke sisinya, berputar sebelum akhirnya kembali berada dalam genggamannya. Ia menatap tubuh naga raksasa yang kini tak lagi bergerak. Tidak ada sorak kemenangan. Tidak ada kata-kata. Hanya keheningan yang menyelimuti medan pertempuran.

---

Di dalam Ginga Stars —

Arabels terpaku di depan layar. Ia baru saja menyaksikan akhir pertarungan itu. "...Storm..." Suara gadis itu bergetar. Ia tidak menyangka Storm mengakhiri duel tersebut tanpa sedikit pun keraguan. Pikiran yang mengganggunya pun muncul. "Jangan-jangan... Dalam wujud itu... Storm sudah kehilangan kendali atas dirinya?"

Di sampingnya, Proxi segera menjawab. "Tuan Storm tidak kehilangan kendali."

Arabels menoleh. Robot itu menampilkan hasil analisis terbaru. "Pembacaan aktivitas mental Storm menunjukkan kondisi yang stabil. Storm tidak sedang dikendalikan oleh entitas di dalam dirinya."

Arabels masih tampak ragu. "Tapi kekuatan itu... Dia membunuh Zyron tanpa ragu."

Proxi mengangguk pelan. "Storm hanya meminjam kekuatan dari entitas yang bersemayam di dalam alam bawah sadarnya. Kesadaran utama tetap berada pada Storm. Seluruh keputusan yang diambil selama pertarungan berasal dari dirinya sendiri." Robot itu melanjutkan. "Entitas itu tidak mengambil alih tubuh Storm. Hubungan mereka hanyalah peminjaman kekuatan, bukan pengambilalihan kesadaran."

Mendengar penjelasan itu, Arabels mengembuskan napas lega. Syukurlah... Storm masih tetap menjadi dirinya sendiri. Kekuatan luar biasa yang baru saja menghancurkan naga dari Konstelasi Draco tidak mengubah siapa dirinya.

Di luar sana, Storm masih berdiri dalam wujud Xyrares Vonalys, memandang sunyi ke arah tubuh Zyron yang kini melayang tanpa kehidupan di antara puing-puing konstelasi. Kemenangan telah diraih.

More Chapters