Di dalam Dimensi Ashura. Ruang hampa kembali dipenuhi ledakan demi ledakan. Sejak berubah ke wujud naga sejatinya, Zyron tidak lagi menahan kekuatannya. Tubuh naga raksasa dengan enam sayap itu bergerak melintasi lautan merah, meninggalkan jejak aura ungu yang merobek ruang di belakangnya.
*DUAARRR!! *
Salah satu ayunan cakarnya menghancurkan gugusan energi merah yang melayang di sekitar Storm. Ledakan besar memenuhi dimensi. Storm segera melesat ke samping. Armor Ashura mengeluarkan semburan pendorong merah yang membuatnya lolos beberapa saat sebelum cakar Zyron menghantam tempat ia berada.
Belum sempat menarik napas... Ekor naga raksasa itu sudah berputar dengan kecepatan luar biasa.
*BOOOOM!! *
Storm mengangkat keenam lengan Armor Ashura sebagai pelindung. Benturan keras membuat tubuhnya terpental jauh menembus lautan energi merah. "Ugh..." Suara Storm terdengar berat dari balik helmnya. Beberapa indikator di dalam Skycrimson mulai berkedip.
Meski demikian, ia kembali menstabilkan posisinya. Tatapannya tetap tertuju kepada Zyron. Naga raksasa itu melayang dengan keenam sayapnya terbentang lebar. Setiap kepakan sayap menciptakan gelombang aura yang mengguncang seluruh Dimensi Ashura.
"Kau adalah lawan yang kuat," suara Zyron bergema. "Dalam keadaan seperti ini. Manusia sepertimu masih mampu bertahan."
Storm tidak menjawab. Ia mengatur napasnya perlahan. Ia menyadari kenyataan yang tidak bisa diabaikan. Dalam wujud naga, kekuatan Zyron meningkat jauh melampaui perkiraannya. Bahkan efek Dimensi Ashura yang terus menyerap energi lawannya belum cukup untuk memperlambat serangan-serangan naga itu secara signifikan.
Tetapi Storm belum berniat menyerah. Ia mengepalkan tangannya. "Aku tidak boleh lengah... Satu kesalahan saja... Pertarungan ini akan berakhir."
---
Zyron kembali mengepakkan sayapnya. Tubuh naga raksasa itu menghilang dari pandangan. Storm langsung melebarkan matanya. "Cepat sekali!" Naluri bertarungnya bereaksi lebih dulu. Tanpa berpikir panjang, ia memutar tubuhnya dan melesat ke samping. Hanya sepersekian detik kemudian...
*DUAAARRR!! *
Zyron muncul tepat di tempat Storm tadi berada. Cakar naga raksasa itu merobek ruang merah hingga membentuk retakan energi yang memanjang. Storm berhasil menghindar. Namun ia tidak memiliki kesempatan untuk membalas. Zyron terus menyerang tanpa memberi jeda. Cakar. Ekor. Tebasan sayap. Semburan aura naga. Semua datang silih berganti dengan kecepatan yang luar biasa.
Storm hanya bisa bertahan. Ia menghindar. Menangkis. Lalu kembali menghindar. Sesekali ia melepaskan serangan balasan berupa bilah-bilah energi merah dari keenam lengan Armor Ashura. Namun semuanya berhasil dipatahkan oleh sisik naga atau dihancurkan oleh aura ungu milik Zyron.
---
Di kejauhan, Ginga Stars terus memantau jalannya pertarungan. Arabels menggenggam erat sandaran kursinya. "Storm..." bisiknya dengan penuh kecemasan. Di sampingnya, Proxi terus memperbarui data pertempuran. "Target Storm masih mampu bertahan. Namun peluang untuk melakukan serangan balik masih sangat rendah."
Di medan pertempuran, Storm kembali menghindari semburan aura naga yang melintas di samping tubuhnya. Gelombang energi itu terus melaju hingga menghantam dinding Dimensi Ashura, memunculkan riak merah yang menyebar ke segala arah.
Storm menghentikan lajunya sejenak. Ia menatap lurus ke arah Zyron. Keringat mulai membasahi wajahnya di balik helm. Meski berada di bawah tekanan yang luar biasa, sorot matanya tidak berubah. Ia tahu... Jika lengah sedikit saja, ia tidak akan memiliki peluang untuk melawan. Karena itu, ia memilih terus bertahan sambil mencari celah sekecil apa pun.
Sementara di hadapannya, Zyron kembali membuka keenam sayapnya. Mata naga itu bersinar terang.
